Advanced Search
Hits
3607
Tanggal Dimuat: 2012/03/05
Ringkasan Pertanyaan
Apakah Hamadah itu berkejenis kelamin pria atau wanita? Dan bagaimanakah sosok kepribadiannya?
Pertanyaan
Apakah Hamadah itu berjenis kelamin pria atau wanita? Dan bagaimanakah sosok kepribadiannya?
Jawaban Global

Dalam literatur-literatur Rijal (biografi periwayat) disebutkan terdapat dua orang wanita yang bernama Hamadah; pertama adalah Hamadah binti Raja dan yang kedua adalah Hamadah binti al-Hasan. Nampaknya kedua orang ini pada hakikatnya adalah satu orang. Wanita ini adalah salah seorang sahabat Imam Shadiq As. Syaikh Kulaini dan Syaikh Shaduq menukil riwayat-riwayat dari Imam Shadiq As dengan perantara Hamadah.[1]

Mendiang Najasyi menyebutkan Ziyad bin Isa bin Abu Ubaidah Khazai sebagai saudara Hamadah dan Syaikh Thusi memperkenalkan Raja bin Ziyad sebagai saudaranya. Karena itu, di samping nama saudaranya menjadi obyek perbedaan juga nama ayahnya.

Dengan memperhatikan perbedaan ini mungkin dapat dikatakan bahwa terdapat dua sosok yang bernama Hamadah. Namun sebagaimana yang telah dijelaskan, secara lahir dari redaksi Najjasyi dapat disimpulkan bahwa hanya ada satu orang Hamadah.

Dalam memecahkan perbedaan ini dikatakan bahwa:[2] Nama Abu Ubaidah Khadzai; Ziyad bin Abi Raja (bukan Raja bin Ziyad) dan nama Abi Raja adalah Mundzir atau Ziyad.

Dengan demikian, Hamadah adalah binti Abi Raja bukan binti Raja. Oleh itu nama ayahnya tidak sesuai dengan apa yang disebutkan dalam Rijal Najjasyi dan juga tidak sesuai dengan Rijâl Syaikh Thusi; sebagaimana nama saudaranya sesuai dengan pendapat Najjasyi dan tidak sesuai dengan pendapat Syaikh Thusi; artinya Hamadah adalah putri Abi Raja dan saudari Ziyad bin Abi Raja; namun harap diperhatikan bahwa tidak satu pun dari para ahli Rijal mengatakan bahwa nama ayah Abu Ubaidah adalah Abi Raja, ada kemungkinan bahwa Hamadah dan Abu Ubaidah adalah saudara-saudari dari satu ibu. [iQuest]

 


[1]. Mausu’at al-Imam al-Khui, Mu’jam al-Rijâl al-Hadits, jil. 23, hal. 188, Muassasah al-Ihya Atsar al-Imam al-Khui, 1417 H.  

[2]. Silahkan lihat, Muhsin Amin ‘Amili, A’yân al-Syiah, jil. 6, hal. 224, Dar al-Ta’aruf, Beirut, 1406 H.

 

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat

Menu

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits

Jejaring