Hits
7098
Tanggal Dimuat: 2012/03/14
Ringkasan Pertanyaan
Mengapa Syaikh Kulaini Ra tidak memperlihatkan kitab al-Kâfi itu kepada Imam Zaman Ajf?
Pertanyaan
Mengapa Syaikh Kulaini Ra yang menulis kitab al-Kâfi pada masa deputi ketiga tidak memperlihatkan kitab tersebut kepada Imam Zaman Ajf?
Jawaban Global

Terdapat dua pandangan di antara para ulama sehubungan dengan pertanyaan apakah Syaikh Kulaini memperlihatkan kitab al-Kâfi kepada Imam Zaman Ajf atau tidak:

  1. Sebagian ulama berpendapat bahwa kitab al-Kâfi telah diperlihatkan kepada Imam Zaman Ajf dan Imam bersabda, “al-Kâfi kâfi lisyiatina” (Kitab al-Kâfi telah mencukupi bagi Syiah kami).[1]
  2. Sebagian ulama lainnya berkata kitab al-Kâfi tidak diperlihatkan kepada Imam Zaman Ajf. Mereka berkata, alasan mengapa Syaikh Kulaini tidak memperlihatkan kitab al-Kâfi kepada Imam Zaman Ajf  karena beliau memiliki beberapa jalan terkait dengan validitas hadis-hadis yang dimasukkan ke dalam kitabnya. Sebagai contoh misalnya:
  1. Hadis-hadis Kafi dikumpulkan dari Ushûl Arba’ Miah (Empat Ratus Kitab Asli) oleh para sahabat para Imam Maksum sesuai dengan perintah para Imam Maksum dan diperlihatkan kepada imam pada setiap zaman dan pada hakikatnya Syaikh Kulaini Ra menulis hadis-hadis tersebut bab per bab dan sekumpulannya dihimpun dalam kitab bernama al-Kafi. Mendiang Shâhib Ma’âlim (Hasan bin Zainuddin) berkata, “Kulaini Ra mengumpulkan hadis-hadis dalam kitabnya dari Ushul Arba’amiah dimana validitas hadis-hadis tersebut disepakati secara ijma.”[2]
  2. Hadis-hadis kitab al-Kâfi memiliki banyak indikasi dan dalil yang menunjukkan validitasnya. Hasan bin Zainuddin berkata, “Hadis-hadis kitab-kitab arba’ah (Al-Kâfi, al-Tahdzib, al-Ishtibshâr, Man La Yahdhuruh al-Faqih) sesuai dengan ucapan ulama disertai dengan indikasi-indikasi yang menunjukkan tiadanya perubahan pada hadis-hadis yang dinukil dari kitab-kitab orisinil.”[3]
  3. Kulaini pada pendahuluan kitab al-Kâfi menyebut hadis-hadis yang dinukil dalam kitabnya dengan ungkapan bil atsar al-shahihah yang menunjukkan bahwa beliau yakin terhadap validitas hadis-hadis tersebut.[4]
  4. Kulaini mengumpulkan hadis-hadis ini sebagai jawaban atas orang yang berada dalam kebingungan dalam mencari hadis-hadis sahih[5] dimana jawaban ini menuntut supaya beliau hanya harus menulis riwayat-riwayat yang diyakini validitasnya dan keluarannya dari para Imam Maksum As kalau tidak demikian maka kebingungan mereka akan semakin bertambah yang tentu saja hal ini bertentangan dengan penjelasan ulama tentang kedudukan dan derajat Syaikh Kulaini; karena beliau adalah salah seorang yang dalam tuturan Syaikh Abbas Qummi, Syaikh besar dan patut dipercaya, Muhammad bin Ya’qub Kulaini tempat bernaung dan berlindung para fakih, ahli hadis dan mufti seluruh firkah dan mazhab Islam serta penyebar mazhab Syiah pada masa ghaibat Imam Keduabelas.”[6]

Jelas bahwa tugas seseorang yang memangku jabatan sebagai marja para juris adalah mengeluarkan orang lain dari kondisi kebingungan bukan malah menambah kebingungan pada mereka. [iQuest]

 

 


[1]. Muhammad bin Ya’qub Kulaini, Penerjemah: Sayid Jawad Mustafawi, Ushûl al-Kâfi, jil. 1, Muqaddimah, hal. 7, Kitab Purusyi ‘Ilmiyah Islamiyah, Cetakan Pertama, Teheran. [Demikian juga tentangnya, silahkan lihat, Mamaqati, Tanqih al-Maqâl, 3/202; Muhammad Shadiq Bahr al-‘Ulum, Dalil al-Qadhâ al-Syar’i, 3/131; Husain Ali Mahfuzh, Muqaddamah, hal. 25; untuk melihat pandangan ulama Syiah silahkan lihat, Abu Ali Hairi, Muntahah al-Maqâl, hal. 298 yang menolak anggapan bahwa kitab tersebut telah diperlihatkan kepada Imam Zaman Ajf, meski secara implisit menyatakan bahwa kitab tersebut mendapat sokongan dari Imam Zaman Ajf. Namun demikian, Ali bin Thawus, seorang alim yang memiliki kecendrungan Akhbari, karena ditulis pada masa para deputi khusus Imam Zaman Ajf, kitab al-Kafi memiliki nilai standar tertentu dan meyakini bahwa hal-hal yang ditulis dalam kitab tersebut tentu telah diteliti dan ditimbang (oleh para deputi Imam Zaman Ajf). Silahkan lihat, Ibnu Thawus, Kasyf al-Mahajjah, hal. 220.

[2]. Ali Namazi Syahrudi, al-A’lâm al-Hâdiyah al-Rafî’ah fi I’tibâr al-Kutub al-Arba’ah al-Manî’ah, hal. 140, Muassasah Nasyr Islami, 1425 H.  

[3]. Ibid, hal. 139.  

[4]. Ibid.  

[5]. Muhammad bin Ya’qub Kulaini, Penerjemah: Sayid Jawad Mustafawi, Ushûl al-Kâfi, jil. 1, Muqaddimah, hal. 5.  

[6]. Ibid, hal. 8.  

 

 

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Apakah bisa mendekati istri jika ia baru selesai haidh tapi belum mandi?
    1363 Waktu dan Tempat Bersenggama 2015/04/18
    Ketika istri suci dari haidh, sebagian hal-hal yang tidak boleh ia lakukan[1] atau haram[2] akan menjadi mubah baginya. Seperti: cerai dan jima yang dilakukan segera setelah ia suci dari haidh tanpa mandi terlebih dahulu, yaitu suaminya bisa menceraikannya atau bisa mendekatinya.
  • Apa yang dimaksud dengan spiritualisme hakiki dan spiritualisme emosional?
    6922 Akhlak Praktis 2009/06/02
    Orang-orang yang memiliki kecendrungan terhadap spiritualitas dan keimanan pada umumnya kecendrungan mereka adalah kecendrungan yang mengikut perasaan dan emosi jiwa. Artinya orang-orang ini menemukan kecendrungan terhadap maknawiyat dan spritualitas dengan mengikut pada ayah dan ibu, lingkungan atau di bawah pengaruh dorongan afeksi dan perasaannya, atau berdasarkan kejadian-kejadian seperti ...
  • Apakah harta yang dijadikan sebagai modal dikenai khumus?
    3720 Hukum dan Yurisprudensi 2010/03/08
    Berikut ini adalah fatwa para marja agung taklid terkait dengan khumus harta yang dijadikan sebagai modal:Apabila ada seseorang yang menyediakan modal, dan jika ia menyerahkan khumus modal tersebut, ia tidak dapat menjalankan usahanya. Dan dengan modal itu pula ia ingin membiayai hidupnya. Pertanyaannya adalah apakah khumus modal ini ...
  • Bagaimana tata cara pelaksanaan ibadah salat nafilah malam itu?
    7990 Salat Malam dan Nafilah Harian 2012/05/16
    Salat malam merupakan salah satu ibadah dan salat yang mengandung banyak keutamaan. Salat ini dikerjakan setelah tengah malam dan jauh dari segala bentuk riya dan pamer. Salat malam ini terdiri dari sebelas (11) rakaat. Delapan rakaat dikerjakan dalam dua rakaat-dua rakaat, seperti salat Subuh, namun dikerjakan dengan ...
  • Apa yang dimaksud dengan khatam shalawat? Dan bagaimanakah inti pelaksanaanya?
    10425 Akhlak Praktis 2011/09/11
    Khatam bermakna mengakhiri segala pekerjaan yang memiliki awal dan akhir. Khatam shalawat juga bermakna sedemikian yaitu membaca semenjak awal dan akhir sebuah amalan shalawat. Apabila seseorang membaca al-Qur’an semenjak awal hingga akhir maka perbuatannya itu disebut sebagai menamatkan al-Qur’an atau dengan ungkapan lain mengkhatamkan al-Qur’an. ...
  • Bagaimana keberadaan Imam Mahdi Ajf dan kemunculannya dapat dibuktikan melalui al-Quran?
    7149 Imam Mahdi dalam al-Quran 2013/08/15
    Pertama harus diketahui bahwa al-Quran hanya membicarakan persoalan-persoalan secara umum dan universal, sedangkan uraian dan penjelasannya terdapat pada sunnah dan riwayat. Dengan memperhatikan hal ini, terdapat dua kelompok ayat-ayat al-Quran yang dapat digunakan untuk membuktikan keberadaan dan kemunculan Imam Mahdi Ajf: Ayat-ayat yang menjelaskan tentang ...
  • Bagaimana menghilangkan pikiran-pikiran buruk dan memperbaiki hubungan dengan Tuhan?
    39197 Akhlak Praktis 2011/03/05
    Hubungan senantiasa bersifat mutual dan dua arah. Hubungan kita dengan Tuhan bersumber dari kita yang terkadang putus atau redup; akan tetapi Dia senantiasa bersama kita di mana pun kita berada. Allah Swt berfirman, “Dia-lah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa. Kemudian Dia bersemayam ...
  • Siapakah Suhaib Rumi itu? Apakah ia termasuk pecinta Ahlulbait As? Apakah ia menerima imamah Sayyidina Ali As?
    5242 Sejarah Para Pembesar 2011/08/06
    Suhaib bin Sinan aslinya adalah orang Irak dan salah seorang penduduk di pinggiran Dajlah dekat Mousul. Ayah dan pamannya merupakan salah satu petinggi Kisra atas wilayah Ubullah. Pada satu peperangan Romawi dan Iran, Suhaib menjadi tawanan orang-orang Romawi. Ia diboyong ke Roma dan besar di tempat itu. Karena besar ...
  • Apakah melakukan bunuh-diri meski sekedar mengancam pun sesuai dengan qadha dan qadar Ilahi?
    32815 Teologi Lama 2010/01/09
    Agar masalah ini menjadi jelas, pertama ada beberapa redaksi yang harus dipahami dengan baik, yaitu: "qadha", "qadar", "takdir" dan "qada Ilahi". Selanjutnya kami akan menjelaskan masalah qadha dan qadar. Qadar  artinya adalah ukuran, takdir bermakna mengukur (menakar) dan qadha berarti menetapkan ...
  • Pada beberapa ayat al-Quran terdapat perintah untuk menaati Allah Swt dan Rasulullah Saw. Apa yang dimaksud dengan ketaatan di sini?
    103841 ارتباط انسان و خدا 2013/12/25
    Sehubungan dengan titah untuk menaati dan mematuhi Allah Swt, terdapat sebelas ayat dengan beberapa penyebutan seperti berikut: ﴿أَطیعُوا اللَّهَ وَ أَطیعُوا الرَّسُول﴾، ﴿أَطیعُوا اللَّهَ وَ الرَّسُول﴾ ¸﴿وَ أَطیعُوا اللَّهَ وَ رَسُولَه﴾ “Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul”, “Taatlah kepada Allah dan Rasul”, “Dan taatlah kepada ...

Populer Hits