Hits
5505
Tanggal Dimuat: 2010/03/20
Ringkasan Pertanyaan
Apakah apabila seseorang tidak menangis tatkala berziarah ke kuburan para Imam Maksum As menunjukkan bahwa ziarahnya tidak dikabulkan?
Pertanyaan
Tatkala berziarah kuburan para Imam Maksum As khususnya Imam Ridha As, meski sebelum ziarah saya sangat merindukannya namun ketika saya memasuki pelataran pusara suci saya tidak merasakan sesuatu yang khusus. Saya merasakan ketenangan yang disertai dengan perasaan damai! Namun saya ingin merasakan sesuatu yang lain sehingga saya dapat menangis atau perasaan berkecamuk dan merasakan kehadiran Imam Ridha As. Namun perasaan tersebut tidak kunjung datang. Apakah hal ini menunjukkan lemahnya iman saya? Pada prinsipnya menangis tatkala berziarah tergolong sebagai keutamana dan pertanda diterimanya ziarah seseorang? Tolong berikan jawaban atas masalah ini karena sangat menyita perhatian saya.
Jawaban Global

Ziarah para Imam Maksum As memiliki beragam falsafah dan hikmah yang terkandung di dalamnya. Barang siapa yang secara tulus dan dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt (taqarrub) pergi berziarah maka ziarahnya akan diterima di sisi Allah Swt meski ia tidak begitu memperoleh manfaat dari ziarahnya dan air matanya tidak mengalir. Untuk memperoleh manfaat yang besar dari ziarah pusara para Imam Maksum As kiranya perlu memperhatikan dan mengamalkan beberapa poin berikut:

  1. Mengenal dan makrifat terhadap Imam As
  2. Kesucian batin
  3. Kesucian lahir
  4. Kesiapan ruh dan afeksi
  5. Ziarah dan berucap salam
  6. Salat di haribaan Allah Swt
  7. Berdoa dan munajat di haribaan Allah Swt
  8. Berikrar tulus dan menghamba di haribaan Allah Swt

 

Barang siapa yang mengamalkan adab-adab ini di hadapan pusara seorang Imam Maksum As dan memandangnya dirinya membutuhkan perhatian dan kepedulian Imam Maksum As maka tentu saja air mata akan mengalir kendati apabila air mata tidak luruh maka hal itu tidak dapat menjadi dalil bahwa ziarahnya tidak diterima.

Jawaban Detil

Program-program ritual Islam memiliki pengaruh dan manfaat yang banyak sedemikian sehingga seseorang dapat memanfaatkannya seukuran kapasitas dan kapabilitasnya.

Untuk dapat meraup manfaat yang banyak dari program-program ritual seperti ini maka setiap orang harus mengenal dan mengamalkan adab-adab dari program-program ritual ini.

Ziarah ke pusara para Imam Suci As memiliki falsafah-falsafah dan hikmah-hikmah yang tertimbun di dalamnya di antaranya adalah memperbaharui baiat kepada Imam Maksum, menjadikan mereka sebagai pemberi syafa’at (syafi’) di haribaan Ilahi, berperantara (tawassul) dan lain sebagainya.

Barang siapa yang secara tulus dan dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt (taqarrub) pergi berziarah maka ziarahnya akan diterima di sisi Allah Swt meski ia tidak begitu memperoleh manfaat dari ziarahnya dan air matanya tidak mengalir.

Untuk memperoleh manfaat yang besar dari ziarah pusara (haram) para Imam Maksum As kiranya perlu memperhatikan dan mengamalkan beberapa poin berikut:

  1. Mengenal dan makrifat terhadap Imam As

Barang siapa yang masuk pada sebuah mata air, maka ia dapat memperoleh manfaat dari mata air ini seukuran kapasitas yang dimilikinya dan peziarah yang datang kepada Imam Maksum As maka ia akan meraup manfaat dari ziarah yang dilakukannya, seukuran dengan pengenalan dan makrifatnya kepada Imam Maksum. Karena itu, sebelum segala sesuatu, kita tingkatkan kadar pengenalan dan makrifat kita kepada imam dan sebelum masuk ke perjamuan, kita harus mengenal karakter moral, perilaku, segala harapan  dan keinginan tuan rumah.

 

  1. Kesucian batin

Salah satu tipologi terbesar Ahlulbait As adalah kesucian dan kekudusan mereka dari segala dosa dan kekurangan. Mereka suka kalau para tamunya juga tersucikan dari dosa. Ada baiknya orang-orang yang datang berziarah kepada imam, sebelum memasuki haram, berusaha semaksimal mungkin untuk memperoleh kesucian dan kekudusan ruh. Sebagian noda manusia berkaitan dengan kelemahan dalam menjalankan kewajiban-kewajiban, memandang enteng puasa dan salat, mengerjakan sebagian perbuatan haram yang membuatnya harus bertaubat di haribaan Tuhan dan mengambil keputusan yang serius untuk menebus apa yang telah berlalu dan tidak melakukan dosa dan perbuatan-perbuatan maksiat lainnya di masa mendatang.

Bagian lainnya yang menyangkut pelbagai keternodaan dan kontaminasi dosa manusia adalah mengabaikan hak-hak orang lain, tidak menghormati kedua orang tua, melanggar hak saudara dan saudari, memutuskan hubungan kekerabataan dan silaturahmi, menggunakan harta anak-anak yatim, mengacuhkan hak-hak istri dan anak-anak dan sebagainya yang membuatnya harus bertaubat dari dosa-dosa seperti ini – di samping adanya rasa sesal dalam hati dan batin – hak-hak orang lain yang telah dilanggar harus ditebus dan memutuskan untuk memperoleh kerelaan orang-orang yang telah dilanggar haknya tersebut.

 

  1. Kesucian lahir

Pakaian dan badan suci merupakan salah satu adab amalan-amalan ritual dan karena haram para imam merupakan sebuah tempat yang disediakan untuk beribadah dan mengekspresikan penghambaan kepada Tuhan dan di hadapan imam, di hadapan seorang wali Allah, harus menjaga secara maksimal kesucian dan di samping itu, sebelum masuk ke haram imam, ia terlebih dahulu mandi (untuk ziarah) dan mengambil wudhu.

Mandi dilakukan dengan niat menyucikan diri dari segala noda dan kotoran dan juga dengan niat mempersiapkan diri untuk berziarah kepada imam dan bermunajat di haribaan Allah Swt.

 

  1. Kesiapan ruh dan afeksi

Di samping kesucian raga dan jiwa, sebagian amalan dianjurkan untuk mempersiapkan ruh peziarah untuk melakukan ziarah. Di antaranya adalah membantu orang-orang miskin dan menolong para peziarah lainnya. Salah satu jalan mempersiapkan ruh dan jiwa bagi mereka yang datang secara berkelompok pergi berziarah adalah menolong sesama teman sejalan dan menyiapkan kemudahan bagi para peziarah lainnya.

Terkait dengan kondisi-kondisi yang dialami oleh Imam Khomeini disebutkan bahwa tatkala masa mudanya beliau pergi berziarah ke pusara Imam Ridha As dengan sahabatnya, tatkala mereka pergi bersama ziarah, Imam Khomeini pulang lebih cepat dari yang lainnya ke kediaman tempat tinggal. Setibanya di tempat peristirahatan, Imam Khomeini membersihkan kamar dan menyiapkan makanan-makanan sehingga tatkala teman seperjalanannya pulang mereka melepas lelah dengan menyantap hidangan teh dan istirahat. Pelayanan kepada para peziarah dan sahabat-sahabat Imam Ridha As artinya sama dengan memberikan pelayanan kepada orang yang diziarahi itu sendiri (Imam Ridha As) dan merupakan jalan yang baik untuk menarik perhatian khusus Imam Ridha As.

 

  1. Ziarah dan berucap salam

Saat-saat yang paling menentukan pada masa ziarah adalah saat-saat peziarah setelah menunaikan adab-adab ziarah dan bersuci secara lahir dan batin, dengan niat tulus dan tujuan untuk menaati Allah Swt. Pada detik-detik syahdu seperti itu, ia dapat mengekspresikan kecintaannya kepada Ahlulbait As sambil berdiri atau duduk bersimpuh di hadapan pusaranya dengan menunaikan adab dan penghormatan.

Doa dapat dinyatakan dalam bahasa Indonesia dan juga dalam bahasa Arab. Sebaik-baik doa ziarah adalah doa ziarah yang diriwayatkan dari para Imam Maksum As seperti ziarah Aminullah atau ziarah Jâmi’ah Kabirah atau ziarah Khusus Imam Ridha As.

 

  1. Salat di haribaan Allah Swt

Setelah membaca doa dan ziarah Imam As, dianjurkan untuk mengerjakan dua rakaat salat sebagaimana dua rakaat salat Subuh. Salat hanyalah sebagai media untuk beribadah kepada Allah Swt dan melakukan taqarrub kepada-Nya namun ganjaran dan pahalanya dihadiahkan kepada imam yang diziarahi.

 

  1. Berdoa dan munajat di haribaan Allah Swt

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa doa dan bermunajat serta bermohon kepada Allah Swt supaya hajat-hajat dipenuhi merupakan ruh ibadah. Setelah ziarah dan salat, pikiran peziarah harus disiapkan secara sempurna untuk memohon supaya seluruh hajat yang dimiliki dipenuhi oleh Allah Swt.

Di hadapan Imam Maksum dan atmosfer spiritual pusara suci dan setelah pelbagai persiapan ruh dan spirit maka kedua tangan harus ditengadahkan menghadap ke langit – tempat turunnya rahmat Ilahi – dan sedemikian berdoa sehingga tidak menggangu orang lain, seluruh permintaan dan hajat yang dimiliki diungkapkan di haribaan Allah Swt dan Imam Maksum As. Karena ruang turunnya kemurahan dan rahmat Ilahi dalam suasana spiritual seperti ini tersedia.

 

  1. Berikrar jujur dan menghamba di haribaan Allah Swt

Di antara beberapa faktor yang dapat berpengaruh atas dikabulkannya doa-doa para peziarah adalah mengikat janji dengan Allah Swt di hadapan Imam Maksum untuk menjalankan seluruh kewajiban dan menjauhi segala dosa, memenuhi hak-hak orang lain dan berdoa supaya Imam Zaman segera muncul dan kaum Muslimin dapat meraih kemenangan di seluruh dunia.

Setiap peziarah mengetahui pada bidang keagamaan apa yang ia merasa kurang, misalnya ia mengentengkan salat, yang lainnya puasa dan ketiga dalam masalah hijab, kemuliaan dan keempat terkait dengan hak ayah, ibu, suami, anak-anak dan lain sebagainya…[1]

Barang siapa yang menjalankan adab-adab seperti ini di hadapan pusara suci Imam Maksum dan memandang dirinya memerlukan perhatian dan kepedulian Imam Maksum maka tentu saja air matanya akan luruh dan tumpah. Air mata dan tangisan pada waktu ziarah merupakan salah satu tanda perhatian sempurna pada makam Imam Maksum. Meski tidak mengalirnya air mata tidak dapat dijadikan sebagai dalil bahwa ziarah tidak diterima. [iQuest]

 

 


[1]. Diadaptasi dari Adab-adab Ziarah Imam Ridha As.

 

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits