Advanced Search
Hits
10171
Tanggal Dimuat: 2017/05/30
Ringkasan Pertanyaan
Apakah dalil-dalil yang diajukan Islam untuk mengadakan kerjasama?
Pertanyaan
Berdasarkan ayat “tolong menolong” mengapa kita harus mengadakan kerja sama antara orang yang satu dengan yang lainnya?
Jawaban Global
Landasan dan falsafah saling membantu dan kerja sama kemasyarakatan dari perspektif al-Quran adalah karena manusia merupakan makhluk sosial dan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya di masyarakat, kepemilikan harta dan anugerah-anugerah Ilahi kepada masyarakat dan semua manusia, serta persoalan persaudaraan laki-laki dan perempuan seagama.
Dari sisi bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial dan sangat banyak kebutuhan-kebutuhannya terpenuhi di masyarakat, oleh itu, manusia harus bekerja sama dengan orang lain di masyarakat. Kehidupan manusia tergantung dari keterlibatannya dalam kehidupan kemasyarakatannya dengan orang lain.
Asas agama Islam adalah hidup bersama dan hubungan seseorang dengan masyarakat karena seorang individu memiliki keterbatasan. Oleh itu, manfaat-manfaat yang diperoleh dari masyarakat, tidak pernah sebanding manfaat-manfaat yang diperoleh dari individu karena keterbatasannya.
Oleh itu, agama Islam memerintahkan kepada pengikutnya dalam mengerjakan pekerjaan-pekerjaan baik selalu bekerja sama dengan orang lain dan ketika individu-individu bekerja sama dan memiliki hubungan kemasyarakatan, spirit persatuan yang berhembus dalam anatomi mereka akan menjaga mereka dari perpecahan, sehingga Islam sangat memandang penting keikutsertaan dalam masyarakat.
Allah Swt dalam al-Quran berfirman:
«وَ تَعاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَ التَّقْوى‏ وَ لا تَعاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَ الْعُدْوان»
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”  (Qs Al-Maidah [5]: 2)
Tak diragukan lagi bahwa di dalam setiap masyarakat, terdapat orang-orang yang fakir dan miskin, orang-orang yang tidak memiliki kemampuan bekerja dan pendapatannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka. Dengan memperhatikan bahwa menurut sudut pandang agama Islam, semua manusia adalah makhluk Allah Swt dan semua kekayaan pada dasarnya kepunyaan-Nya, maka kita harus memenuhi kebutuhan-kebutuhan individu-individu ini dalam batasan yang memungkinkan dan dapat diterima. Masalah ini membuktikan betapa pentingnya menjalin kerja sama dengan sesama individu dalam masyarakat.
Jelaslah bahwa apabila diantara manusia dalam sebuah masyarakat memiliki semangat kerjasama yang besar, maka hal itu menjadi modal dalam kemajuan materi dan spiritual masyarakat karena kerjasama dan saling tolong menolong adalah sarana yang tepat untuk kemajuan dan perkembangan semua sisi dimasyarakat.
Oleh itu, Islam lebih mengedepankan pekerjaan yang dilakukan secara bersama-sama dari pada yang dilakukan secara individu karena pekerjaan yang dilakukan bersama-sama memiliki kepastian dan kekuatan lebih dan karena kekuatan individu terkumpul maka akan tercipta kekuatan besar sehingga pekerjaan-pekerjaan yang susah akan menjadi mudah. Imam Shadiq As terkait dengan hal ini bersabda: “Siapa yang tidak mengupayakan kemajuan  pekerjaan kaum muslimin, maka ia bukanlah seorang Muslim.”[1]
Bantuan dan partisipasi aktif dan tulus dalam pekerjaan baik dan memiliki kegunaan dalam masyarakat wajib bagi setiap Mukmin dan seseorang yang tidak peka terhadap kemajuan kaum Muslimin, walaupun hanya seorang Muslim saja, dan hanya memikirkan dirinya sendiri saja, maka sejatinya ia tidak mengindahkan maksud ayat yang menekankan adanya tolong menolong antara manusia yang satu dengan yang lainnya.
Tentu saja, maksud ayat yang dimaksud adalah seperti hadis yang telah disebutkan dan bukan berarti bahwa seseorang dengan penilaiannya sendiri turut campur tangan dalam urusan kaum Muslimin karena urusan kaum Muslimin berada di tangan hakim Islami. Apabila setap orang memaksakan akidahnya sendiri dan setiap mereka berfikir kemaslahatan dan ingin memaksakan kehendaknya, maka akan terjadi kekacauan.
Perlu diperhatikan bahwa yang dimaksudkan Islam adalah adanya kerja sama dalam pekerjaan-pekerjaan yang baik dan berguna bagi masyarakat sedangkan pekerjaan-pekerjaan yang menyebabkan tersebarnya kerusakan dan kebatilan dan dosa, bukan hanya tidak baik bekerja sama dalam hal itu, namun hal itu juga dilarang. Ayat al-Quran juga melarang bentuk kerja sama dalam berbuat dosa dan permusuhan.
«وَ لا تَعاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَ الْعُدْوان».
“Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”  (Qs Al-Maidah [5]: 2) [2]
Perlu diperhatikan bahwa kerja sama dan saling tolong menolong dalam masyarakat tidak hanya terbatas pada pemberian uang dan sedekah kepada para fakis dan miskin, namun merupakan suatu ajaran asli yang bersifat global dan sangat luas, mencakup persoalan kemasyarakatan, hak-hak, akhlak dan lainnya. Sebagai contoh bekerja sama dengan lembaga-lembaga tertentu untuk menyiapkan pernikahan dan pembentukan keluarga bagi para pemuda dan pemudi merupakan salah satu contoh nyata dalam kerja sama kemasyarakatan.
«وَ أَنْکِحُوا الْأَیامى‏ مِنْکُمْ وَ الصَّالِحینَ مِنْ عِبادِکُمْ وَ إِمائِکُمْ...»
Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang saleh dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan.(Qs Al-Nur [32]: 32)
Salah satu prinsip dan falsafah kerja sama sosial menurut al-Quran adalah kepemilikan harta dan anugerah Ilahi kepada masyarakat dan orang-orang.
«وَالْأَرْضَ وَضَعَهَا لِلْأَنَامِ»
Dan Allah telah menciptakan bumi untuk manusia.”  (Qs Al-Rahman [55]: 10)
Harta-harta yang kita miliki pada dasarnya berasal dari Allah Swt.
«وَآتُوهُم مِّن مَّالِ اللَّهِ الَّذِی آتَاکُمْ»
“Dan berikanlah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang telah Dia karuniakan kepadamu.” (Qs Nur [24]: 33)
Dalil lain bahwa kerja sama penting bagi kita adalah persoalan persaudaraan antara sesama umat Islam.
«إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ»[3]
Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara.” (Qs Hujurat [49]: 10)
Kaum Muslimin dari sisi bahwa antara yang satu dengan yang lainnya bersaudara, maka antara yang satu dan yang lainnya harus menjalankan hak untuk menunaikan hak saudaranya yang lain.
Imam Shadiq As bersabda: “Bertakwalah kepada Allah terkait dengan saudara Muslimmu yang fakir karena mereka memiliki hak yang harus kau tunaikan.” [4]
Dalam berbagai hadis dianjurkan untuk memperhatikan saudara-saudara seagamanya.
Berbuat baiklah kepada saudaramu, baik ketika dalam keadaan senang maupun susah. [5]
Berilah makanan kepada para fakir dan miskin karena mereka adalah saudara kalian. [6]
Perintah ini sangat ditekankan sehingga al-Quran berkenaan dengan harta dan benda yang dimiliki oleh orang-orang yang mempunyai kemampuan supaya memperhatikan orang-orang yang memerlukan.
«وَ فی‏ أَمْوالِهِمْ حَقٌّ لِلسَّائِلِ وَ الْمَحْرُوم»
Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian. (Qs Al-Dzariyat [51]: 19)
Oleh itu, apabila bagian dari kekayaan seseorang diberikan kepada orang-orang yang tidak memiliki kemampuan secara ekonomi, pada dasarnya ia telah memberikan bagian dan menunaikan hak mereka.
Kerja sama di bidang sosial dan pemenuhan kebutuhan para fakir miskin merupakan masalah yang sangat mendapat perhatian khusus dari para pemimpin agama. Imam Ali As memerintahkan kepada kaum Muslimin supaya menjadikan fuqara dan orang-orang yang miskin sebagai kawan kerja sama dalam kehidupannya. [7]
Imam Ali, di samping memberikan bantuan harta kepada orang-orang miskin, juga melindungi lapisan masyarakat bawah dan menjadikan hal itu sebagai program pokok selama beliau memimpin. Beliau dalam surat mandat yang diberikan kepada Malik Asytar memberi tanggung jawab bahwa ia tidak boleh melalaikan golongan masyarakat lemah dan supaya menyediakan kebutuhan mereka. [8][iQuest]
 

[1] Kulaini, Muhammad bin Ya”qub, Kāfi, Periset dan Editor: Ghafari, Ali Akbar, Ahundi, Muhammad, jil. 2, hal. 164, Tehran, Dar al-Islami, cet. 4, 1407 H.
[2] Silahkan lihat: Makarim Syirazi, jil. 4, hal. 250, Dar al-Kitab Islamiyah, Tehran, 1373 S.
[4]  Kāfi, jil. 8, hal. 8.
«فَاتَّقُوا اللَّهَ فِی إِخْوَانِکُمُ الْمُسْلِمِینَ الْمَسَاکِینِ فَإِنَّ لَهُمْ عَلَیْکُمْ حَقّا»
 
[5] Ibid, jil. 8, hal. 8.  
«وَ الْبِرِّ بِالْإِخْوَانِ فِی الْعُسْرِ وَ الْیُسْرِ»
 
[6]  As’ari Qumi, Ahmad bin Muhammad bin Isa, Al-Nawādir, hal. 18, Qum, Madrasah al-Imam al-Mahdi Ajf, cet. 1 1408 H.
«وَ أَطْعِمُوا الْفُقَرَاءَ وَ الْمَسَاکِینَ مِنْ إِخْوَانِکُم»
 
[7] Syaikh Thusi, Muhammad bin Husain, Nahj al-Balāghah, Periset: Subhi Saleh, hal. 438, Qum, Hijrat, cet. 1, 1414 H.
«وَ فُقَرَاءِ الْمُسْلِمِینَ أَشْرِکُوهُمْ فِی مَعِیشَتِکُم»
[8] Sayid Radhi, Muhammad bin Husain, Nahj al-Balāghah, Periset: Subhi Saleh, hal. 438, Qum, Hijrat, cet. 1, 1414 H.
«ثُمَّ اللَّهَ اللَّهَ فِی الطَّبَقَةِ السُّفْلَى»
 
Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Dengan memperhatikan cara wudhu Ahlusunnah, apa makna kata "ila" yang terdapat pada ayat wudhu? Sehubungan dengan hal ini, lalu bagaimana wudhu yang dipraktikkan Nabi Saw?
    8704 Sirah 2009/12/08
    Mengenai kata "ila" yang terdapat pada ayat wudhu, sebenarnya hanyalah untuk menjelaskan kadar dan batas-batas basuhan, bukan menjelaskan tentang tatacara membasuh. Artinya bahwa ayat tersebut menjelaskan kadar dan batas tangan yang mesti dibasuh dalam berwudhu hingga ke siku. Kata "ila" di sini bermakna ghayat (sampai, batas akhir) bagi anggota yang ...
  • Mengapa kita harus mengerjakan salat?
    5965 Filsafat Hukum 2011/09/15
    Allah Swt adalah Zat yang tidak membutuhkan secara absolut dan sama sekali tidak memiliki kekurangan, kelemahan dan kebutuhan pada entitas-Nya. Sebaliknya seluruh ciptaan dan makhluk membutuhkan Allah Swt. Dari sisi lain, Allah Swt adalah Mahapengasih dan Mahapemurah kepada seluruh hamba-Nya. Dia mencintai seluruh hamba-Nya. Dia menciptakan semesta dan segala karunia ...
  • Pertanyaan apa saja yang akan diajukan pada 7 pos jembatan shirath?
    9256 Teologi Lama 2012/08/21
    Pada pos pertama yang akan ditanyakan adalah tentang wilayah dan kecintaan kepada Ali bin Abi Thalib dan Alu Rasulullah Saw. Pada pos kedua yang ditanya adalah masalah salat, pos ketiga tentang zakat, pos keempat ihwal puasa, pos kelima berkaitan dengan haji, pos keenam berhubungan dengan jihad dan ...
  • Tolong jelaskan tentang penafsiran ayat “Dialah yang Pertama dan Akhir, Lahir dan Batin” itu?
    26586 Tafsir 2013/11/27
    Dalam al-Quran, Allah Swt diperkenalkan sebagai berikut: «هُوَ الْأَوَّلُ وَ الاَخِرُ وَ الظَّاهِرُ وَ الْبَاطِنُ وَ هُوَ بِکلُ‏ِّ شىَ‏ْءٍ عَلِیمٌ». “Dia-lah Yang Maha Awal dan Yang Maha Akhir, Yang Maha Lahir dan Yang Maha Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs al-Hadid [57]:3) Sehubungan dengan ...
  • Apakah yang dimaksud dengan taghut dalam al-Quran?
    15090 Tafsir 2015/07/23
    Thaghut berasal dari asal kata “thagha” dan “thaghu” artinya melewati dan naik dari batasan yang dikenal, diterima dan sikap seimbang. Raghib berkata melewati batas dalam kemaksiatan.[1] Sebagian ahli bahasa berkata bahwa thaghut adalah sighah mubalaghah (hiperbola) seperti kata “malakut” dan “jabarut” yang berbentuk kata ...
  • Apakah taklid tidak bertentangan dengan pesan Kitab Suci, “Tiada paksaan dalam beragama?” Mengapa Imam Ali As mencela perbedaan dalam fatwa?
    5386 Filsafat Hukum 2010/11/08
    Kebanyakan orang tidak memiliki kemampuan untuk sampai pada tingkatan keilmuan sehingga ia mampu memanfaatkan sumber-sumber utama (Al-Qur’an dan Sunnah) meski dengan belajar, meneliti dan melakukan jihad ilmu apatah lagi tanpa belajar, meneliti dan melakukan jihad ilmu untuk menjalankan hukum-hukum Ilahi dan menunaikan taklifnya. Lantaran ...
  • Bagaimana keadaan ruh seseorang yang telah meninggal, namun lambat dalam penguburan jenazahnya?
    66216 Teologi Lama 2012/01/21
    Berdasarkan firman Allah Swt dalam al-Qur’an kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Allah Swt menyimpan ruh orang-orang yang telah meninggal dalam alam yang khusus dan tidak akan menimbulkan kerusakan sedikit pun apabila orang tersebut terlambat dikuburkan. ...
  • Kenapa terjadi banyak kerusakan (fasâd) dalam negara-negara Islam?
    9363 Akhlak Teoritis 2009/05/18
    Menurut pandangan al-Qur`an faktor menyebar luasnya kerusakan dalam masyarakat-masyarakat Islam disimpulkan dalam satu kalimat yaitu tiadanya keimanan kepada Allah Swt dan tiadanya penentangan terhadap “thâghut” (segala sesuatu yang tidak terkait dengan Allah Swt dan tidak memiliki warna Ilahi). Sebaliknya, iman kepada Allah Swt dan menentang “thâghut” (secara ...
  • Bagaimana saya dapat mengingatkan perilaku istri yang tidak benar?
    6847 Akhlak Praktis 2012/04/15
    Poin yang Anda kemukakan dalam pertanyaan adalah bahwa Anda saling mencintai satu sama lain dan Anda ingin menjadi istri terbaik bagi suami Anda, Anda harus senantiasa berlaku demikian sehingga urusan-urusan lainnya mengikut nantinya. Dalam kehidupan rumah tangga, atmosfer yang mendominasi haruslah ketenangan, ketulusan, persahabatan, kecintaan, ...
  • Apa yang dimaksud dengan hubûth (turunnya) Nabi Adam dari Surga?
    16966 Teologi Lama 2009/10/22
    "Hubûth " bermakna turunnya sesuatu atau seseorang dari tempat yang tinggi (nuzul) dan lawan katanya adalah shu'ûd (naik). Dan terkadang juga bermakna hulul (masuknya) sesuatu atau seseorang pada suatu tempat. Pembahasan hubûth-nya Adam dan apa makna hubûth (turun) ini pada tataran pertama bergantung pada bagaimana kita memaknai surga yang didiami ...

Populer Hits