Carian Terperinci
Pengunjung
13203
Tarikh Kemaskini 2011/12/19
Ringkasan pertanyaan
Apakah orang-orang beriman akan mendapat kenikmatan alam kubur dan orang-orang kafir akan dibalas dengan azab kubur?
soalan
Saya sentiasa mendengar setelah hari Kiamat, hari masyhar dan hari perhitungan, sebahagian dari manusia akan memasuki syurga sebagai ganjaran perbuatan baik mereka di dunia. Manakala sebahagian yang lain akan memasuki neraka sebagai hukuman atas perbuatan buruk mereka di dunia. Dengan kata lain, pada hari Kiamat, manusia akan memperolehi samada syurga atau neraka, dan kenikmatan atau azab bakal menjadi nasib mereka. Fokus pertanyaan saya bukan pada kenikmatan dan azab akhirat, namun lebih bertumpu tentang kenikmatan dan azab kubur yang akan diperolehi manusia sebelum hari Kiamat. Apakah pada saat itu, orang-orang beriman merasai kenikmatan alam kubur dan orang-orang kafir menerima azab alam kubur?
Dalam kitab Tafsir al-Kasyif, karya Allamah Muhammad Jawad Mughniyah, jil. 1, hal. 407 disebutkan sebuah perbahasan tentang azab kubur dengan judul perhitungan alam kubur di mana penyusunnya membahagi manusia menjadi empat bahagian setelah kematian. Saya mohon kepada anda menjelaskan ke-empat bahagian tersebut dengan jelas dan terperinci; khususnya kelompok ke-tiga dan ke-empat?
Bekenaan dengan kelompok ke-tiga, Syaikh Mufid berpendapat bahawa mereka adalah orang-orang masykuk, iaitu kehidupan setelah kematiannya diragukan. Apa maksud masykuk disini? Adapun dengan kelompok ke-empat, beliau berkata bahawa mereka adalah orang-orang yang tidak hidup, akan tetapi mereka mendiami alam kematian (amwat) hingga hari masyhar. Tolong jelaskan siapakah yang dimaksud dengan kelompok ke-empat ini? Syaikh Mufid menyandarkan pendapatnya ini pada riwayat daripada para Imam Maksum yang bersabda: "Tidak semua orang mati itu merasakan azab kubur .." Terima kasih.
Jawaban Global

Syaikh Mufid dalam kitab Awâil al-Maqâlat-nya, membahagikan manusia menjadi empat bahagian berdasarkan keyakinan dan amalan perbuatan mereka:

1.             Orang-orang beriman yang bertakwa

2.             Orang yang melakukan dosa tanpa iman dan penentang keras kepala

3.             Orang-orang beriman yang melakukan dosa besar dan tidak bertobat. Akan tetapi dosa mereka bukan kerana penentangan dan keras kepala melainkan kerana dorongan hawa nafsunya sehingga ia terjerumus melakukan perbuatan-perbuatan tercela.

4.             Orang-orang yang tidak memiliki visi (bashira) dan pengetahuan tepat tentang agama (mustad'afhin), baik secara zahir dari kalangan orang beriman atau orang kafir.

Berdasarkan sumber-sumber agama yang Syaikh Mufid miliki dan layak untuk di sandarkannya, beliau sampai pada kesimpulan dan meyakini bahawa dua kelompok pertama memiliki kehidupan barzakhi (meski yang pertama penuh kenikmatan dan yang kedua sarat dengan azab) dalam sebuah klasifikasi umum, berkenaan dengan kelompok pertama dan ke-dua. Kelompok ke-empat juga sudah tentu tidak memiliki kehidupan barzakhi, akan tetapi beliau tidak mampu sampai pada satu keyakinan terakhir. Oleh itu, beliau menyampaikan beberapa kemungkinan dan dengan ragu menjelaskan bahawa salah satu dari hal yang diragukan ini akan diperolehi oleh kelompok ketiga.

Jawaban Detil

Dalam al-Qur'an terdapat sebuah ayat yang secara tegas menjelaskan bahawa terdapat sebuah terminal antara kematian dan hari Kiamat yang disebut sebagai alam barzakh.[1] Hal-hal lain juga dapat ditemui pada kitab samawi ini yang menyebutkan orang-orang yang meninggal dunia dan belum sampai pada hari Kiamat atau melakarkan situasi mereka dalam ayat-ayat ini[2] di mana dari ayat ini dapat difahami tentang adanya alam barzakh.

Banyak riwayat yang dapat dijumpai pada sumber-sumber Syiah dan Sunni yang menjelaskan secara terperinci dan tepat tentang alam tersebut.[3]

Atas dasar ini, inti kewujudan alam barzakh harus dipandang sebagai sebuah kemestian. Walau bagaimana pun dalam hubungannya dengan hal-hal yang terperinci tentang makhluk di alam tersebut, ulama mencermati dan menganalisa berbagai pandangan dalam masalah ini dengan menggunakan sumber-sumber agama.

Syaikh Mufid, salah seorang ulama besar Syiah abad ke-4 dan 5 Hijriah (dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan agamawan seperti kehidupan alam barzakh) menyusun kitab Awâil al-Maqâlat dan sudah tentu jawapan-jawapan yang dibicarakan dalam kitab tersebut adalah kesimpulan (istinbâth) Syaikh Mufid atas ayat dan riwayat. Pandangan yang dilontarkannya merupakan pendapat peribadi Syaikh Mufid sendiri dan bukan pendapat seluruh komuniti Syiah.

Dengan pendahuluan ini, kami akan menjawab pertanyaan anda dan apa yang dinukil daripada kitab Tafsir al-Kâsyif, akan kami susuri langsung daripada kitab Awâil al-Maqâlat.[4]

Syaikh Mufid dalam kitab ini dengan menerima secara global tentang alam barzakh, beliau mengkaji keadaan orang-orang di alam barzakh (isthmus). Beliau berkata: Kita dapat mengkaji keadaan orang-orang pasca kematian pada salah satu dari empat kelompok di bawah ini:

Pertama: Mereka yang hidup berada dalam kenikmatan dan berada di sekeliling para imam. Kedua: Mereka yang hidup merasakan penderitaan dan azab (kubur). Kita masih belum mengetahui nasib kelompok ketiga secara tepat dan bagaimanakah kehidupan barzakh mereka. Sebenarnya masih belum pasti apakah mereka ini menjalani menjalani kehidupan barzakhi atau tidak? Yang terakhir pula kelompok ke-empat meliputi orang-orang yang tidak menjalani kehidupan barzakhi dan antara dunia dan akhirat, mereka tidak hidup dan tidak merasakan apa pun. Kemudian Syaikh Mufid menghurai dan menganalisa empat kelompok di atas secara tertib seperti berikut:

1.             Orang-orang yang di dunia, memiliki visi (bashira) sempurna dalam mengenal dirinya, menunaikan dengan baik seluruh kewajiban Ilahiah-Nya maka ia akan hidup di alam barzakh dan merasai berbagai kenikmatan yang dianugerahkan Tuhan kepadanya.

2.             Orang-orang yang di dunia memilih sikap keras kepala terhadap mazhab yang hak; ertinya walau pun mereka memiliki kemampuan untuk mengenali kebenaran atau bahkan telah mengenalinya, namun dengan berbagai kenikmatan material dan duniawi, mereka bangkit menentangnya dan secara berterusan terjerumus dalam lubuk dosa dan maksiat. Orang-orang seperti ini juga akan merasakan penderitaan dan siksaan kubur di alam barzakh setelah kematian.

3.             Ada juga orang-orang yang meyakini agama yang benar namun ia tetap melakukan dosa-dosa besar. Tetapi perbuatan dosa-dosa besar yang dilakukan bukan kerana keras kepala dan menentang atau juga menganggap perbuatan-perbuatan dosa tersebut halal dan doblehkan. Hal itu dilakukan kerana syahwat dan dorongan hawa nafsu. Apabila orang-orang seperti ini tidak bertaubat sebelum datangnya kematian bagaimanakah nasib mereka di alam barzakh kelak? Syaikh Mufid dalam menjawab pertanyaan ini berkata situasi orang-orang seperti ini tidak jelas bagi kita. Kita juga sangsi perlakuan apa yang akan Tuhan berikan kepada mereka atau:

3.1.         Mereka ditahan di alam barzakh dan akan mendapatkan azab, sehingga dengan azab ini, mereka mendapatkan hukuman setimpal atas perbuatan buruk mereka. Oleh kerana mereka memikul hukuman-hukuman di alam kubur dan barzakh maka setelah itu mereka akan suci dari azab neraka dan akan menuju syurga.

3.2.         Atau orang-orang ini tidak memiliki kehidupan barzakhi dan perhitungan catatan amal perbuatan mereka ditangguhkan hingga hari kiamat dan Allah (s.w.t) berdasarkan kehendak dan ketentuan-Nya, sebahagian daripada mereka yang dianggap layak untuk mendapatkan azab akan dikirim ke neraka. Manakala kelompok yang lain mendapatkan keampunan dan rahmat-Nya serta dibebaskan dari hukuman.

Pada akhirnya, Syaikh Mufid menyimpulkan bahawa kita, dengan memperhatikan ayat dan riwayat yang ada di hadapan kita, tidak dapat mengetahui dengan tepat keadaan mereka. Nampaknya Tuhan ingin menyembunyikan persoalan tersebut dari kita.

4.             Dua kelompok lain yang termasuk orang-orang yang secara zahir beriman dan sama sekali tidak memiliki pengetahuan tentang agama dan juga orang-orang yang tidak beriman di mana kekufuran mereka bukan kerana sikap keras kepala dan penentangan, tetapi disebabkan tidak ada ruang budaya, pengetahuan, pengenalan agama bagi mereka. Dengan kata lain, mereka lalui hidupnya dalam kelemahan kebudayaan. Menurut Syaikh Mufid kedua kelompok ini tidak memiliki kehidupan barzakhi dan sama sekali tidak hidup dan tidak merasakan apa-apa di antara kematian mereka hingga hari kiamat.

Untuk mendapatkan ringkasan dari apa yang diyakini oleh Syaikh Mufid, anda dipersilakan menelaah kembali jawapan global di atas dan dalam pada itu, kami katakan kepada anda bahawa klasifikasi yang disebutkan di atas adalah inferensi personal Syaikh Mufid dan boleh jadi, ulama Syiah lainnya, memiliki inferensi lain dari ayat dan riwayat dan secara natural menjelaskan pendapat-pendapat ijtihadi mereka masing-masing. Demikian juga, dalam hubungannya dengan kehidupan antara (terminal) atau alam barzakh; Anda dapat merujuk pada pertanyaan-pertanyaan lainnya yang terdapat pada laman web ini.[5] []



[1].  "Dan di hadapan mereka terdapat alam Barzakh sampai hari mereka dibangkitkan." (Qs. Al-Mukminun [23]:100)

[2]. "Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki, mereka dalam keadaan gembira disebabkan kurniaan Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan kurniaan yang besar daripada Allah, dan bahawa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman." (Qs. Ali Imran [3]:169-171); (Akhirnya mereka membunuhnya dan) dikatakan (kepadanya), “Masuklah ke surga.” Ia berkata, “Alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui, . apa yang menyebabkan Tuhan-ku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan.” (Qs. Yasin [36]:26-27)

[3].  Sebagai contoh, Muhammad Baqir Majlisi, Bihâr al-Anwâr, jil. 6, hal. 202 dan seterusnya, Muassasah al-Wafa, Beirut, 1404 Q; Qurthubi, al-Jâmi' li Ahkâm al-Qur'ân, jil. 13, hal. 150, Intisyarat-e Nashir Khusru, Teheran, 1364 S.  

[4].  Syaikh Mufid, Awâil al-Maqâlat, hal. 75-76, Konferensi Syaikh Mufid, Qum, 1413 H.  

[5]. Di antaranya adalah pertanyaan-pertanyaan 3891 (Site: 4160), 3813 (Site: 4283), 4905 (site: 5684)

Terjemahan pada Bahasa Lain
Opini
Sila masukkan nilai
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Sila masukkan nilai
Sila masukkan nilai

Kategori

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits

Jejaring