Advanced Search
Hits
242136
Tanggal Dimuat: 2009/10/08
Ringkasan Pertanyaan
Apakah Nabi Adam merupakan orang kedelapan yang hidup di muka bumi?
Pertanyaan
Apakah ada hadis dan riwayat yang menyebutkan bahwa Adam adalah orang kedelapan yang hidup di muka bumi? Sembari menjelaskan hal ini, tolong Anda terangkan siapa saja tujuh orang sebelum Nabi Adam itu? Apakah terdapat nabi di antara mereka? Apakah mereka adalah orang-orang pintar?
Jawaban Global

Berdasarkan ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini.

Kedua: Sebelum Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia yang disebut sebagai “insan atau Nsnas” kendati kita tidak memiliki informasi yang akurat terkait dengan hal-hal detilnya,  tipologi personal dan model kehidupan mereka.

Karena itu, mungkin saja tatkala penciptaan Adam juga masih terdapat beberapa orang dari generasi sebelumnya sebagaimana sebagian ulama menyebutkan hal ini dalam menjelaskan pernikahan anak-anak Adam.

Kami tidak menjumpai teks-teks agama yang menetapkan bahwa Adam adalah manusia kedelapan di muka bumi. Benar bahwa terdapat beberapa riwayat yang menjelaskan bahwa generasi Nabi Adam adalah setelah tujuh periode dan tujuh generasi semenjak penciptaan Adam. Namun boleh jadi riwayat-riwayat ini tengah menyinggung banyaknya periode-periode masa lalu.

Syaikh Shaduq dalam al-Khishâl, meriwayatkan dari Imam Baqir As yang bersabda, “Allah Swt semenjak menciptakan bumi, menciptakan tujuh alam yang di dalamnya (kemudian punah) dimana tidak satu pun dari alam-alam ini berasal dari generasi Adam Bapak Manusia dan Allah Swt senantiasa menciptakan mereka di muka bumi dan mengadakan generasi demi generasi dan alam demi alam muncul hingga akhirnya, menciptakan Adam Bapak Manusia dan keturunannya berasal darinya.

Adapun terkait dengan pertanyaan apakah mereka juga merupakan nabi atau nabi-nabi dan termasuk sebagai manusia-manusia pintar atau tidak? Kita tidak menemukan penjelasan tentang hal ini dalam ayat-ayat al-Quran dan riwayat-riwayat. Namun mengingat bahwa mereka sama dengan kita, manusia (atau Nisnas) maka dari sisi ini kita serupa dengan mereka. Dan tentu saja mereka memiliki kecerdasan dan sangat boleh jadi dapat dikatakan bahwa untuk membimbing mereka diutuslah nabi atau nabi-nabi kepada mereka.

Jawaban Detil

Dengan memanfaatkan al-Quran dan riwayat-riwayat secara pasti dapat dikatakan bahwa sebelum Nabi Adam terdapa generasi atau beberapa generasi yang mirip dengan manusia  disebut sebagai “insan atau bangsa Nisnas” meski terkait dengan hal-hal detilnya,  tipologi personal dan model kehidupan mereka, kita tidak memiliki informasi yang akurat.

Allamah Thabathabai berkata, “Dalam sejarah Yahudi disebutkan bahwa usia jenis manusia semenjak diciptakan hingga kini tidak lebih dari tujuh ribu tahun lamanya...namun para ilmuan Geologi meyakini bahwa usia genus manusia lebih dari jutaan tahun lamanya. Mereka menyuguhkan sejumlah argumen untuk dari fosil-fosil yang menyebutkan bahwa terdapat peninggalan manusia-manusia pada fosil-fosil tersebut. Di samping itu, mereka juga membeberkan dalil-dalil skeleton (tengkorak) yang telah membatu milik manusia-manusia purbakala yang usianya masing-masing dari fosil dan skeleton itu ditaksir, berdasarkan kriteria-kriteria ilmiah, kira-kira lebih dari lima ratus ribu tahun. Demikian keyakinan mereka. Namun dalil-dalil yang mereka suguhkan tidak memuaskan. Tidak ada dalil yang dapat menetapkan bahwa fosil-fosil ini adalah badan yang telah membatu milik nenek moyang manusia-manusia hari ini. Demikian juga tidak ada dalil yang dapat menolak kemungkinan ini bahwa tengkorak-tengkorak yang telah membatu ini berhubungan dengan salah satu dari periode manusia-manusia yang hidup di muka bumi, karena boleh jadi demikian adanya, dan boleh jadi tidak. Artinya periode kita manusia-manusia boleh jadi tidak bersambung dengan periode-periode fosil-fosil yang telah disebutkan, bahkan boleh jadi berhubungan degan manusia-manusia yang hidup di muka bumi sebelum penciptaan Adam Bapak Manusia (Abu al-Basyar) dan kemudian punah.  Demikian juga kemunculan manusia-manusia yang kepunahannya berulang, hingga setelah beberapa periode tibalah giliran generasi manusia masa kini.[1]

Karena itu, dapat disimpulkan bahwa terdapat manusia sebelum penciptaan Adam dan setelah manusia Adam ditemukan kemudian malaikat ditugaskan untuk sujud kepadanya.[2]

Hanya saja al-Quran tidak menyebutkan secara tegas tentang proses kemunculan manusia di muka bumi, apakah kemunculan jenis makhluk ini (manusia) di muka bumi terbatas hanya pada periode sekarang yang kita hidup di dalamnya, atau periode-periode yang banyak dan periode kita manusia-manusia sekarang ini merupakan periode terakhir?

Kendati mungkin sebagian ayat al-Quran menengarai bahwa sebelum penciptaan Adam As terdapat manusia-manusia yang hidup dimana para malaikat dengan ingatan pikiran mereka tentang manusia, bertanya kepada Allah Swt, “Apakah Engkau akan menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan di dalamnya dan menumpahkan darah” [3] dimana dapat disimpulkan dari ayat ini bahwa terdapat masa yang telah berlalu sebelum penciptaan Nabi Adam.[4]

Namun terdapat beberapa riwayat dari para Imam Ahlulbait As yang sampai kepada kita menegaskan bahwa sebelum generasi ini, terdapat generasi-generasi sebelumnya yang telah punah dan riwayat-riwayat ini menetapkan periode-periode manusia sebelum periode yang ada sekarang ini.

Sebagai contoh kami akan menyebutkan sebuah hadis berikut ini:

Penyusun Tafsir Ayyasyi meriwayatkan dari Hisyam bin Salim dan Hisyam bin Salim dari Imam Shadiq As yang bersabda, “Apabila malaikat-malaikat tidak melihat makhluk-makhluk bumi sebelumnya, yang menumpahkan darah lantas dari mana mereka dapat berkata, “Apakah Engkau akan menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan di dalamnya dan menumpahkan darah?”[5]

Adapun sehubungan dengan apakah Adam merupakan manusia kedelapan di muka bumi ini harus dikatakan bahwa kami tidak menjumpai teks-teks agama yang menetapkan bahwa Adam adalah manusia kedelapan di muka bumi. Benar terdapat beberapa riwayat yang menjelaskan bahwa generasi Nabi Adam setelah tujuh periode dan tujuh generasi semenjak penciptaan Adam. Namun boleh jadi riwayat-riwayat ini tengah menyinggung banyaknya periode-periode masa lalu. Misalnya Syaikh Shaduq dalam al-Khishâl, meriwayatkan dari Imam Baqir As yang bersabda, “Allah Swt semenjak menciptakan bumi, menciptakan tujuh alam yang di dalamnya (kemudian punah) dimana tidak satu pun dari alam-alam ini berasal dari generasi Adam Bapak Manusia dan Allah Swt senantiasa menciptakan mereka di muka bumi dan mengadakan generasi demi generasi dan masing-masing, alam demi alam muncul hingga akhirnya, (Allah Swt) menciptakan Adam Bapak Manusia dan keturunannya berasal darinya.[6]

Boleh jadi riwayat-riwayat ini dengan memperhatikan riwayat-riwayat lainya yang menetapkan periode-periode yang banyak pada masa silam, tengah menyinggung tentang banyaknya periode pada masa silam; misalnya Syaikh Shaduq dalam kitab Tauhid mengutip riwayat dari Imam Shadiq As yang bersabda, “Kalian mengira bahwa Allah Swt tidak menciptakan manusia lain selain kalian. Bahkan (Allah Swt) menciptakan ribuan ribuan Adam dimana kalian adalah generasi terakhir Adam dari generasi-generasi Adam (lainnya).”[7]

Demikian juga dalam al-Khisâl diriwayatkan dari Imam Shadiq As yang bersabda, “Allah Swt menciptakan dua belas ribu alam yang masing-masing (dari dua belas ribu itu) lebih besar dari tujuh petala langit dan tujuh petala bumi. Tiada satu pun dari penghuni satu alam pernah berpikir bahwa Allah Swt menciptakan alam lainya selain alam (yang ia huni).”[8]

Akan tetapi sebagaimana yang Anda perhatikan riwayat terakhir menyinggung tentang penciptaan alam-alam dan boleh jadi alam-alam tersebut berada di luar planet bumi dan kita dapat memandang riwayat-riwayat yang menyebutkan tentang tujuh periode sebelumnya di muka bumi itu tidak bertentangan satu sama lain

Namun (dengan asumsi adanya manusia-manusia sebelum Adam) apakah tatkala penciptaan Nabi Adam As manusia dari generasi manusia-manusia sebelumnya masih tersisa?

Dengan memperhatikan beberapa indikasi bukan mustahil bahwa pada masa penciptaan Adam terdapat orang-orang dari generasi-generasi sebelumnya yang masih tersisa dan tengah mengalami kepunahan. Artinya mereka masih tetap ada (pada masa penciptaan Adam) sebagaimana disebutkan oleh sebagian ulama.[9] Salah satu ulama kontemporer terkait dengan pernikahan anak-anak Adam berkata, “Di sini juga terdapat kemungkinan lain bahwa anak-anak Adam menikah dengan manusia-manusia yang tersisa dari generasi sebelum Adam karena sesuai dengan riwayat Adam bukanlah manusia pertama yang hidup di muka bumi. Penelitian ilmiah manusia hari ini menunjukkan bahwa genus manusia kemungkinan telah hidup di muka bumi semenjak beberapa juta tahun sebelumnya, padahal sejarah kemunculan Adam hingga masa sekarang ini tidak terlalu lama (kurang lebih 7000 tahun). Karena itu kita harus menerima bahwa sebelum Adam terdapat manusia-manusia lainnya yang hidup di muka bumi yang tatkala kemunculan Adam tengah mengalami kepunahan. Apa halangannnya anak-anak Adam menikah dengan manusia dari salah satu generasi sebelumnya yang masih tersisa?”[10]

Tentu saja tidak terdapat keraguan bahwa Nabi Adam adalah manusia pertama dari generasi yang ada sekarang ini.

Al-Quran nampaknya menegaskan bahwa generasi yang ada sekarang ini berasal dari ayah dan ibu yang berujung pada satu ayah (bernama Adam) dan satu ibu (yang dalam beberapa riwayat dan Taurat bernama Hawa) dan kedua manusia ini adalah ayah dan ibu seluruh manusia. Demikian juga ayat-ayat berikut menyokong makna ini, “Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari sari pati air yang hina (air mani).” (Qs. Al-Sajdah [32]:8); “Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, “Jadilah” (seorang manusia) , maka jadilah dia.” (Qs. Ali Imran [3]:59); “(Ingatlah) ketika Tuhan-mu berfirman kepada malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan penciptaannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)-Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.” (Qs. Shad [38]:71 & 72)

Seperti yang Anda saksikan ayat-ayat yang telah dikutip memberikan kesaksian bahwa sunnah Ilahi menjamin lestarinya generasi manusia melalui pembuahan sperma namun penciptaan dengan sperma ini terjadi setelah dua orang dari jenis ini (manusia sekarang ini) diciptakan dari tanah liat dan Dia menciptakan Adam kemudian setelah Adam istrinya yang diciptakan dari tanah liat (dan setelah memiliki badan dan alat-alat reproduksi, Allah menciptakan anak-anaknya dengan menciptakan sperma pada badan Adam dan istrinya). Karena itu, tidak terdapat keraguan bahwa generasi manusia (sekarang ini) berujung pada Adam dan istrinya berdasarkan bentuk lahir ayat-ayat yang disebutkan di atas.[11]

Adapun pertanyaan berikutnya apakah di antara generasi tersebut terdapat seorang nabi? Apakah mereka juga termasuk orang-orang yang memiliki intelegensia? Kita tidak menemukan penjelasan tentang hal ini dalam ayat-ayat al-Quran dan riwayat-riwayat. Namun mengingat bahwa mereka sama dengan kita, manusia (atau Nisnas) maka dari sisi ini kita sama dengan mereka. Dan tentu saja mereka memiliki intelegensia dan kecerdasan serta sangat boleh jadi dapat dikatakan bahwa untuk membimbing mereka diutuslah nabi atau nabi-nabi kepada mereka. [iQuest]

 

 

Indeks Terkait:

Nabi-nabi Jin Sebelum Penciptaan Manusia, Pertanyaan 792 (Site: 851)

 


[1]. Muhammad Husain Thabathabai, terjemahan Persia Tafsir al-Mizân, jil. 4, hal. 222, Penerjemah Sayid Muhammad Baqir Musawi Hamadani, Intisyarat Jami’ah Mudarrisin Hauzah Ilmiah Qum, Qum, 1374 S, Cetakan Kelima.  

[2]. Ibid, jil. 16, hal. 389.  

[3]. (Qs. Al-Baqarah [2]:30)

[4]. Muhammad Husain Thabathabai, Terjemahan Persia Tafsir al-Mizan, jil. 4, hal. 222 dan 223.  

[5]. Allamah Majlisi, Bihâr al-Anwâr, jil. 11, hal. 117, Muassasah al-Wafa, Beirut, Libanon, 1404 H.

Syaikh Shaduq, al-Khishâl, jil. 2, hal. 652, Hadis 54.  

[6]. Diadaptasi dari Pertanyaan 2999 (Site: 3297)    

[7]. Syaikh Shaduq, Tauhid, jil. 2, hal. 277, Cetakan Teheran.

[8]. Al-Khishâl, jil. 2, hal. 639, Hadis 14, Diadaptasi dari Pertanyaan 516 (Site: 563)

[9].  Bagaimanapun tadinya kita (pada masa-masa sebelumnya) tidak memiliki informasi dan referensi ketika para Imam Syiah berkata-kata tentang manusia pra Adam (Bapak Manusia) yang berasal dari manusia-manusia yang telah menjadi fosil. Namun mengingat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi hari ini, nilai ucapan-ucapan seperti ini akan dipahami lebih baik dan akan lebih mudah memahamkan kepada kita tentang hubungan mereka dengan dunia metafisika.

[10]. Nasir Makarim Syirazi, Tafsir Nemune, jil. 3, hal. 247, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Teheran, 1374 S, Cetakan Pertama; Silahkan lihat, Ya’qub Ja’fari, (Tafsir) Kautsar, jil. 2, hal. 349.

[11]. Muhammad Husain Thabathabai, Terjemahan Persia Tafsir al-Mizân, jil. 4, hal. 224 dan 225.

 

 

 

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Apa maksud dari redaksi doa ini, “Assalamu ‘alaika Ya HujjataLlah La Takhfa”?
    11071 Teologi Lama
    Redaksi doa “Assalâmu ‘alaika Ya HujjataLlâh Lâ Takhfâ” merupakan penggalan dari salah satu ziarah Imam Zaman Ajf yang disebutkan dalam buku-buku hadis dan doa.[1] Sehubungan dengan makna doa tersebut terdapa dua kemungkinan sebagai berikut: Imam Zaman Ajf adalah hujjah Allah ...
  • Bagaimana adab pinjam-meminjam dalam Islam?
    61461 Akhlak Praktis
    Dalam ajaran-ajaran agama kita terdapat adab-adab dan syarat-syarat ketika kita memberikan pinjaman kepada saudara-saudara mukmin. Adab-adab dan syarat-syarat tersebut adalah sebagai berikut:1.     Memberikan pinjaman ...
  • Benarkah bahwa salat ghufailah mengandung sebuah keutamaan sehingga siapa pun yang melaksanakannya maka ia mendapat ampunan termasuk Yazin bin Muawiyah?
    7162 Dirayah al-Hadits
    Hadis semacam ini tidak ditemukan dalam kitab-kitab hadis primer manapun dan bahkan kami tidak menemukan konteks riwayat seperti ini dalam kitab-kitab hadis. Di samping itu terdapat beberapa hal yang dapat dikritiki atas hadis ini: Tidak adanya kesesuaian antara kejahatan dan bentuk serta cara taubat darinya.
  • Bagaimanakah padang masyhar itu?
    6050 Teologi Lama
    Padang masyhar atau kiamat dari sisi substansi keberadaannya berbeda dengan padang bumi sebagaimana derajat eksistensial kiamat berbeda dengan alam tabiat dan dunia. Adanya bagian-bagian yang berubah yang terdapat pada benda duniawi berbeda dengan tingkatan wujud-wujud kiamat. Atas dasar itu, orang-orang yang meyakini ma’âd jasmani menyatakan ...
  • Bagaimana al-Quran yang ayat-ayatnya saling menafikan (nafi) dan menyesuaikan (ta’dil) dapat menjadi panduan abadi manusia?
    16248 Ulumul Quran
    Al-Qur’an sesuai dengan kesaksiannya merupakan sebuah kitab universal, dzikru lil ‘alâmin” dan tidak terkhusus pada ruang dan waktu atau umat tertentu, “nadzîrân lilbasyar.” Allah Swt sedemikian menata kandungan dan pengetahuan-pengetahuan al-Qur’an sehingga mampu menjawab seluruh kebutuhan manusia sepanjang perjalanan sejarah. Dalam hal ini, manusia dapat ...
  • Apakah salat-salat harian itu dapat dikerjakan dua kali?
    2593 Serba-serbi
    Setelah salat dikerjakan dengan benar dan sah tidak haram mengerjakannya dua kali namun tidak memiliki alasan yang dapat diterima syariat lain halnya kalau dimungkinkan terdapat kekurangan dalam salat atau salatnya tadinya dikerjakan sendirian lalu ingin mengerjakannya secara berjamaah dimana dalam hal ini tidak ada masalah mengerjakannya.
  • Ada sebuah hadis yang berbunyi bahwa Rasulullah Saw telah memenggal kepala setan. Seberapa terpercayakah hadis ini? Lalu bagaimana dengan waswas setan?
    10892 ابلیس و شیطان
    Apa yang disinggung dalam pertanyaan di atas adalah apa yang pernah dinukil pada beberapa literatur hadis kita, yang merupakan tafsiran dari ayat “yaum ma’lum” (hari yang telah ditentukan). Penjelasannya begini: Dari al-Quran dapat dipahami bahwa setan pernah diusir dari sisi Allah Swt. Lalu setan meminta tenggang waktu ...
  • Apa batasan dan kriteria keharaman dan kenajisan minuman beralkohol menurut fikih Ja’fari?
    12660 Hukum dan Yurisprudensi
    Alkohol putih dan medis yang merupakan alkohol murni dan banyak digunakan pada praktik-praktik kedokteran adalah suci. Kecuali alkohol tersebut diambil dari khamar atau bir dimana dalam hal ini alkohol tersebut adalah najis. Adapun bahan pembersih yang lainnya yang mengandung alkohol dan banyak digunakan pada pusat-pusat medis adalah suci. Demikian ...
  • Apakah kiamat yang akan terjadi adalah kiamat jasmani atau ruhani?
    6692 معاد و قیامت
    Meski terdapat banyak dalil akal menunjukkan tentang kemestian terjadinya hari kebangkitan dan adanya dunia lain selain kehidupan dunia ini, namun bagaimana dan proses terjadinya hari kebangkitan, apakah yang akan terjadi kelak itu adalah kebangkitan (ma’âd) ruhani atau ruhani dan jasmani? Apakah dengan menerima kebangkitan jasmani maka jasmani ...
  • Apakah ruh dan jin dapat menggangu manusia?
    17677 روح و نفس
    Informasi yang kita miliki ihwal jin sangat terbatas. Namun kita dapat menggunakan riwayat bahwa jin sebagaimana manusia memiliki taklif dan tanggung jawab serta ragam keyakinan. Sebagian mereka adalah jin yang taat dan sebagian lainnya pembangkang. Kendati jin dari sudut pandang pemikiran sangat lemah namun dari sisi ...

Populer Hits