Advanced Search
Hits
8164
Tanggal Dimuat: 2011/10/22
Ringkasan Pertanyaan
Keunggulan apa yang terdapat pada madrasah-madrasah dan sistem-sistem religius dan non-religius?
Pertanyaan
Saya ini mencari tahun kriteria apa yang dapat digunakan untuk memilah madrasah-madrasah dan sistem-sistem religius dan non-religius? Sehingga dapat ditempatkan pada tingkatan-tingkatan lebih tinggi dan lebih rendah?
Jawaban Global

Pertama-tama kiranya kita perlu mengingatkan bahwa kemiripan asli antara agama Islam dan agama-agama samawi lainnya yang belum mengalami penyimpangan adalah pengukuhan tauhid dan monoteisme di muka bumi dan membebaskan manusia dari penghambaan selain Tuhan. Hal ini sebagaimana yang ditegaskan dalam al-Qur’an, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thagut.”

Apabila kita memandang kemiripan ini satu bahkan agama Kristen dan Yahudi dengan seruan tauhid dan monotheisme para nabi seperti Isa As dan Musa As dengan prinsip-prinsip Ilahinya yang jauh dari distrosi maka agama-agama ini memiliki keunggulan atas ajaran-ajaran dan maktab-maktab non-religius. Meski pada setiap masa, sebagian pengikut agama-agama Ilahi ini, karena tidak mengindahkan prinsip-prinsip pertama ajaran agamanya sedemikian sehingga mereka melakukan distorsi atas kitab Taurat dan Injil. Dan pada akhirnya, mereka membuat agama-agama ini mirip dengan maktab-maktab non-religius.

Keunggulan terpenting dan nilai maktab dan sistem religius atas non-religius adalah membangunkan fitrah kemanusiaan dan mengaktualisasi segala potensi kesempurnaan moril yang terpendam dalam dari manusia. Dengan kata lain, menyiapkan ruang bagi perubahan secara gradual dalam diri manusia untuk melintasi dari alam potensial menuju alam aktual berdasarkan asas-asas dan nilai-nilai valid agama.

Jawaban Detil

Pertama-tama kiranya kita perlu mengingatkan bahwa kemiripan asli antara agama Islam dan agama-agama samawi lainnya yang belum mengalami penyimpangan adalah pengukuhan tauhid dan monoteisme di muka bumi dan membebaskan manusia dari penghambaan selain Tuhan. Hal ini sebagaimana yang ditegaskan dalam al-Qur’an, “ Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah tagut.” (Qs. Al-Nahl [16]:36)

Apabila kita memandang kemiripan ini satu bahkan agama Kristen dan Yahudi dengan seruan tauhid dan monotheisme para nabi seperti Isa As dan Musa As dengan prinsip-prinsip Ilahinya yang jauh dari distrosi maka agama-agama ini memiliki keunggulan atas ajaran-ajaran dan madrasah-madrasah non-religius. Meski pada setiap masa, sebagian pengikut agama-agama Ilahi ini, tidak mengindahkan prinsip-prinsip pertama ajaran agamanya sedemikian sehingga mereka melakukan distorsi atas kitab Taurat dan Injil. Dan pada akhirnya, mereka membuat agama-agama ini mirip dengan madrasah-madrasah non-religius.

Namun di antara agama-agama Ilahi, Islam memiliki universalitas yang mencakup ajaran-ajaran pada seluruh tingkatan hidup personal dan sosial umat manusia dalam rangka mencapai kebahagiaan. Serba meliputinya agama Islam pertanda luas dan menjuntainya cakupan ajarannya. Universalitas agama Islam seiring sejalan dengan tujuan penurunannya dari sisi Allah Swt.

Tujuan penurunan agama adalah sama dengan tujuan penciptaan manusia itu sendiri. Karena Allah Swt yang menciptakan manusia untuk satu tujuan maka Dia harus menyampaikan hukum-hukum, aturan-aturan praktis dan maarif supaya manusia dapat mencapai tujuan tersebut. Karena itu, Allah Swt mengirimkan pelbagai program dalam pelbagai tingkatan supaya dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia dan seluruh program yang bernama Islam ini dibawa oleh Nabi Muhammad Saw dan para khalifahnya untuk manusia.” [1]

Oleh itu, meski madrasah dan agama Islam memiliki lebih memiliki keunggulan dan universalitas atas agama-agama Ilahi lainnya. Namun secara umum, pelbagai keunggulan dan kriteria asasi yang dimiliki seluruh maktab dan agama Ilahi dari madrasah-madrasah dan ajaran-ajaran non-agamis karena tidak mengikuti salah satu prinsip dan metode agama-agama Ilahi serta sarat dengan penyimpangan seperti Liberalisme. Hal itu akan disinggung secara umum sebagian dari keunggulan dan perbedaan tersebut sebagaimana berikut ini:

 

A.     Keunggulan dan Perbedaan dalam Tujuan

Madrasah-madrasah (school of thoughts) dan sistem-sistem yang prinsip dan metode hidupnya tidak bersandar pada agama, seluruh perhatiannya terbatas secara eksklusif kepada dunia dan humanisme. Dengan kata lain, tujuan mereka yang paling utama adalah semata-mata menyediakan pelbagai kebutuhan hidup duniawi masyarakat dan manusia. [2] Mereka tidak memiliki tujuan yang lebih tinggi dari ini. Namun dalam sistem religius terdapat dua tujuan yang ingin dicapai. Pertama, memenuhi segala kebutuhan dan meraih kebahagiaan di dunia ini. Kedua, menyiapkan kebaikan dan kebahagiaan di akhirat yang abadi.

Tujuan terpenting madrasah dan agama Islam adalah:

Pertama: Pengukuhan tauhid dan monotheisme di muka bumi serta membebaskan manusia dari penghambaan terhadap selain Tuhan.

Kedua: Menciptakan masyarakat teladan dan ideal dengan menegakkan keadilan. Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya Kami telah mengutus para rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka kitab samawi dan neraca (pemisah yang hak dan yang batil dan hukum yang adil) supaya manusia bertindak adil. Dan Kami menciptakan besi. Pada besi ini terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia (supaya mereka memanfaatkannya) dan (juga) supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama) dan para rasul-Nya padahal ia tidak melihat-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (Qs. Al-Hadid [57]:25)

Masalah menegakkan keadilan sosial untuk menciptakan kesempurnaan kemuliaan manusia dan sampai kepada kesempurnaan dan kedekatan di sisi Allah Swt merupakan beberapa program tipikal dalam madrasah Islam. Sementara tiada satu pun school of thought yang non-religius, yang berusaha menciptakan ruang bagi perkembangan dan kemajuan sifat-sifat mulia manusia serta menciptakan ruang yang sesuai bagi kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat.

Ketiga: Membangunkan fitrah kemanusiaan dan mengaktualkan segala potensi kesempurnaan yang terpendam dalam diri manusia. Dengan kata lain, menyiapkan ruang bagi perubahan secara gradual dalam diri manusia untuk melintasi dari alam potensial menuju alam aktual berdasarkan asas-asas dan nilai-nilai valid agama.

 

B.     Perbedaan dalam Metode dan Kriteria Baik dan Buruk

Dalam mazhab-mazhab dan madrasah-madrasah non-religius, metode-metode dan program-program mereka, serta identifikasi baik dan buruk, dasarnya dirumuskan dan dipraktikan tanpa memperhatikan nilai-nilai dan prinsip-prinsip asasi agama dan wahyu. Sesuai dengan kepercayaan mereka, akal dengan sendirinya mampu mengidentifikasi baik dan buruk tanpa bantuan wahyu. Pandangan seperti ini lebih dikenal dalam ranah teologi moderen sebagai rasionalisme ekstrem. Atau sebagian dari mereka, kriteria dalam menentukan baik dan buruk adalah semata-mata afeksi dan perasaan manusia.

Adalah suatu hal yang pasti bahwa tidak mengindahkan nilai-nilai seperti ini akan mengakibatkan merajalelanya prinsip tujuan menghalalkan cara (the end justifies the mean) dalam perbuatan dan prinsip-prinsip etika akan diabaikan begitu saja.

Namun dalam agama Islam, tidak dibenarkan memanfaatkan kriteria-kriteria dan metode-metode yang tidak sesuai dengan moralitas dan kemuliaan Ilahi manusia serta bertentangan dengan nilai-nilai tinggi moral dan merusak kesempurnaan dan kebahagiaan abadi manusia. [3]

 

C.      Perspektif Dwi Dimensi Islam terhadap Manusia dalam Masalah Konstruksi Diri

Agama Islam sehubungan konstruksi diri, kesempurnaan dan kebahagiaan manusia memiliki dua pandangan bagi manusia di jalan ini. Kesuksesan manusia di jalan ini disandarkan pada hal dan pandangan tersebut. Hal ini merupakan realitas bahwa manusia di samping jasmani ia juga memiliki jiwa dan ruh. Manusia tidak boleh hanya dipandang jasmaninya dan dilalaikan ruhnya.

Al-Qur’an, sekaitan dengan penciptaan manusia, menyoroti kedua dimensi tipikal manusia, “Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah” (Qs. Al-Sajdah [32]: 7) Lalu, “Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari sari pati air yang hina (air mani).” (Qs. Al-Sajdah [32]:8) Demikianlah dimensi jasmani manusia. Sebagai kelanjutannya, al-Qur’an menyebutkan dimensi dan hakikat ruhaninya, “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan)-Nya,” (Qs. Al-Sajdah [32]:9)

Ruh Ilahi, unsur spiritual adalah unsur mulia dan abadi. Dalam pandangan Islam, unsur metafisikal akan tetap abadi pasca hancurnya badan dan akan menjalani kehiduan abadi, bahagia atau sengsara, sesuai dengan amal dan perbuatannya. Dari sini, antropologi Ilahi akan menjadi tampak nyata bahwa kesempurnaan manusia terletak pada kesempurnaan ruhani dan pada upaya mencapai sifat-sifat mulia kemanusiaan. [4] [IQuest]



[1] Untuk telaah lebih jauh, silahkan lihat indeks terkait, “Dalil-dalil Kebenaran Islam, Pertanyaan 6862 (Site: 6941) ; “Pelbagai Tipologi dan Keunggulan Islam atas Agama-agama Lainnya,” Pertanyaan 12304 (Site: 12069.

[2] . Silahkan lihat indeks, “Rakyat dan Pemerintahan Wilayah Fakih dan Keunggulannya atas Sistem Liberalisme,” Pertanyaan 14413 (Site: 14199)    

[3] . Silahkan lihat beberapa indeks terkait, “Peran Literatur-literatur Agama dalam Etika,” Pertanyaan 562 (Site: 615), “Etika Menyempurna dan Pelbagai Konsekuensinya,” Pertanyaan 563 (Site: 616); “Etika Berasaskan Agama,” Pertanyaan 7078 (Site: 7327)    

[4] . Silahkan lihat beberapa indeks terkait, “Kebahagiaan dan Kesempurnaan Manusia,” Pertanyaan 4504 (Site: 4794) ; “Agama dan Manusia,” Pertanyaan 9 (Site: 1239); “Keabadian Manusia dan Pengalaman Hidup di Dunia,” Pertanyaan 45 (Site: 281); “Manusia dan Kemuliaan,” Pertanyaan 48; “Hubungan Manusia, Agama dan Dunia,” Pertanyaan 11472 (Site: 11437)  

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Apakah seorang laki-laki kafir meludahi Nabi Muhammad Saw, dan karenanya kemudian turun sebuah ayat al-Quran?
    7169 Tafsir 2015/05/13
    Terkait dengan pertanyaan tersebut, terdapat kisah dari para mufasir yang diyakini sebagai sebab turunnya ayat, «وَ یَوْمَ یَعَضُّ الظَّالِمُ عَلى‏ یَدَیْهِ یَقُولُ یا لَیْتَنِی اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبیلاً» “(ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata, “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil ...
  • Mengapa hanya sedikit kitab-kitab para Imam Maksum As yang sampai ke tangan kita?
    6147 Dirayah al-Hadits 2011/04/19
    Boleh jadi alasan mengapa para Imam Maksum As secara personal dan secara serius dan luas tidak menyusun kitab tertentu karena mereka mendahulukan yang lebih penting atas yang penting (taqdim al-aham min al-muhim) dan menyasar pada tujuan-tujuan pokok. Dalam hal ini, para Imam Maksum ...
  • Bagaimana pandangan Syiah tentang Imam Mahdi Ajf?
    11798 Teologi Lama 2009/07/11
    Karena pertanyaan di atas sangat universal dan meluas, hal ini telah mengantarkan kami untuk menyinggung sedikit tentang biografi, berita-berita gaib dan tanda-tanda kemunculan Imam Mahdi Ajf.Nama beliau adalah "mim-ha-mim-dal" dan memiliki berbagai julukan, yang di antaranya adalah Qaim, Shahibul 'Ashr, Shahibuz Zaman, dsb. ...
  • Apakah talak atau cerai itu tidak termasuk sebagai pelanggaran hak azasi manusia?
    3531 Talak 2013/05/26
    Talak atau cerai merupakan salah satu hak azasi manusia; karena pada kenyataannya dalam talak tidak ada satu pun hak seseorang yang dilanggar. Talak atau cerai merupakan salah satu solusi yang ditetapkan pada seluruh agama dan mazhab ketika suami dan istri, apa pun dalilnya, tidak lagi dapat melanjutkan ...
  • Mengapa manusia tidak boleh memikirkan tentang kedalaman penciptaan misalnya zat Allah Swt?
    42130 Teologi Lama 2012/03/05
    Salah satu masalah yang dianjurkan dalam al-Qur’an dan sebagian riwayat adalah supaya manusia memikirkan tentang penciptaan makhluk-makhluk Allah.[1] Adapun terkait dengan zat Allah Swt, manusia dilarang untuk memikirkannya. Seperti misalnya dalam sebuah hadis Rasulullah Saw bersabda, “Pikirkanlah tentang penciptaan Allah Swt, namun ...
  • Jika mata dan telinga mati, terbuka setelah kematian, lalu mengapa keduanya bertanya kepada yang lain setelah kematian?!
    19642 Teologi Lama 2009/06/22
    Terbukanya pandangan barzakhi setelah kematian merupakan sebuah perkara yang berlaku secara umum; artinya seluruh manusia ketika mengalami kematian, akan menyaksikan malaikat pencabut nyawa sesuai dengan amal perbuatannya. Mereka bercakap-cakap dan mendengar suaranya. Dan setelah kematian akan menjelma dan dalam bentuk terbatas dan sesuai dengan kehidupan barzakhi akan dihadirkan ...
  • Apa saja yang menjadi faktor penyebab meletusnya perang-perang Salib?
    28137 Sejarah 2013/01/14
    Terma perang-perang Salib (perang Salib I, II, III, dan IV) adalah sebuah rentetan perang yang terjadi sebagai akibat pengerahan pasukan perang Eropa yang dikomandoi oleh paus dan gereja Katolik antara tahun 1096 hingga 1291 M. Pengerahan pasukan ini dilakukan ke daerah Timur dan dunia Islam yang kemudian ...
  • Mengapa orang-orang Yahudi disebut sebagai Yahudi?
    6576 Teologi Lama 2012/02/18
    Terdapat perbedaan pendapat terkait dengan pemberian nama orang Yahudi sebagai Bani Israel. Sebagian mengatakan bahwa “yahud” berarti mendapat petunjuk dan sebabnya adalah karena kaum Nabi Musa As telah bertaubat atas penyembahannya terhadap sapi.
  • Apakah dalil-dalil yang diajukan Islam untuk mengadakan kerjasama?
    10001 Agama dan Budaya 2017/05/30
    Landasan dan falsafah saling membantu dan kerja sama kemasyarakatan dari perspektif al-Quran adalah karena manusia merupakan makhluk sosial dan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya di masyarakat, kepemilikan harta dan anugerah-anugerah Ilahi kepada masyarakat dan semua manusia, serta persoalan persaudaraan laki-laki dan perempuan seagama. Dari sisi bahwa manusia pada dasarnya ...
  • Apakah kalimat “Setiap Hari adalah Asyura dan Setiap Bumi adalah Karbala” itu adalah sebuah riwayat dan hadis? Sanad dan standar hadisnya bagaimana?
    12200 Para Maksum 2010/12/19
    Dalam teks-teks riwayat kami tidak menjumpai bukti yang menetapkan bahwa kalimat “Setiap Hari adalah Asyura dan Setiap Bumi adalah Karbala” (Kullu Yaumin Asyura wa Kullu Ardhin Karbala) ini merupakan sebuah hadis dari para Imam Maksum As.Namun redaksi kalimat ini ...

Populer Hits