Advanced Search
Hits
15126
Tanggal Dimuat: 2017/06/21
Ringkasan Pertanyaan
Apakah yang dimaksud dengan muqtashidun, sabiqun bil khairat dan dzalimullinafsihi pada ayat 32 surah Al-Fathir?
Pertanyaan
Bagaimanakah tafsir surah Al-Fathir ayat 32 dan apakah yang dimaksud dengan muqtashidun, sabiqun bil khairat dan dzalimullinafsihi?
Jawaban Global
Terkait dengan pembawa al-Quran setelah Nabi Muhammad Saw, Allah Swt  berfirman: “Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami.”
Para mufassir al-Quran menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan potongan ayat itu adalah umat Islam. Ada pula yang berpendapat bahwa mereka adalah para ulama sedangkan para Imam berada di barisan terdepan kelompok ini. Yang dimaksud dengan “Di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri” adalah kaum Muslimin yang berbuat dosa dan orang-orang yang yang mempunyai dosa besar. 
Jawaban Detil
Al-Quran berkenaan dengan para pembawa al-Quran setelah Nabi Muhammad Saw berfirman
«ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْکِتابَ الَّذِینَ اصْطَفَیْنا مِنْ عِبادِنا فَمِنْهُمْ ظالِمٌ لِنَفْسِه‏ وَ مِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَ مِنْهُمْ سابِقٌ بِالْخَیْراتِ بِإِذْنِ اللهِ ذلِکَ هُوَ الْفَضْلُ الْکَبیر»
“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (Qs Al-Fathir [35]: 32)
Pada sebagian riwayat, ayat ini ditafsirkan secara global:
Seseorang bertanya kepada Imam Shadiq tentang tafsir ayat ini, beliau menjawab: Orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri adalah orang-orang yang selalu menuruti hawa nafsunya sendiri, muqtashidun (pertengahan) adalah orang yang mengikuti putaran hatinya dan “sābiq” orang yang melupakan tujuan-tujuannya sendiri dan senantiasa mencari keridhaan Allah Swt.[1]
Imam Baqir As terkait dengan ayat ini bersabda: “Yang dimaksud dengan ‘al-Sabiqun bil khairat’ adalah Imam. Yang dimaksud dengan ‘muqtashidun’ adalah orang-orang yang mengenal Imam dan yang dimaksud dengan ‘dzalimun linafsih’ adalah orang-orang yang tidak mengenal Imam.’”[2]       
Dua riwayat ini dan riwayat-riwayat semacamnya adalah penjelasan-penjelasan atas ayat itu dan tidak bertentangan dengan pemahaman-pemahaman global tafsir serta merupakan personifikasi dalam penafsiran ayat ini. Sekarang kita akan mengkaji bagian-bagian dan persoalan-persoalan yang ada dalam ayat ini.
1. Makna Aurats
«ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْکِتابَ الَّذِینَ اصْطَفَیْنا مِنْ عِبادِنا»
Makna “aurats” pada ayat di atas adalah kepemimpinan berakhirnya hukum al-Quran bagi mereka.[3]
Terdapat beberapa riwayat mengenai makna bagian ayat ini:
Imam Ridha As hadir di majelis Makmun. Pada majelis itu hadir beberapa ulama dari Irak dan Khurasan. Katakan kepadaku makna akan ayat ini:
«ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْکِتابَ الَّذِینَ اصْطَفَیْنا مِنْ عِبادِنا...»
Para hadirin berkata: “Yang dimaksudkan oleh Allah Swt adalah semua umat manusia.” Makmun berkata: “Wahai Abal Hasan! Apakah pendapat Anda?” Imam Ridha As bersabda: “Aku tidak seakidah dengan mereka, namun menurutku, yang dimaksud oleh Allah Swt adalah itrah Nabi Muhammad Saw.”[4]
Imam Kazhim As terkait dengan bagian ayat ini bersabda: Kami adalah orang-orang yang dipilih oleh Allah Swt. Kamilah yang dipilih oleh Allah, untuk mewarisi al-Quran, kitab penjelas semua persoalan.[5]
Oleh itu, sebagian mufasir Syiah menggunakan ungkapan ayat ini hanya untuk Ahlulbait saja.[6] Namun bisa saja dimungkinkan bahwa riwayat ini hanya merupakan penjelasan secara terang dan bahwa Ahlulbait As adalah orang-orang yang berada di derajat awal dan apabila tidak, maka potongan ayat ini juga mencakupi kaum Muslimin lain, sebagaimana keyakinan sebagian mufassir.[7] Yang dimaksud dengan bagian ayat ini adalah umat Islam[8] dan para ulama[9] di mana hal ini tidak bertentangan dengan para Imam As karena para Imam berada di barisan terdepan kelompok ini.
 
2. Arti Zhalim
«فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ»
Di sini kita harus memperhatikan bahwa: Apabila bagian sebelum ayat hanya dimaknai dan berkaitan dengan para Imam As artinya selain mereka tidak termasuk, maka dhamir dalam ”faminhum” harus dikembalikan kepada seluruh manusia karena pasti bagian ayat ini tidak meliputi para Imam Maksum dari keluarga Nabi As.
Namun terkait dengan apakah yang dimaksud dengan orang-orang itu siapa, terdapat berbagai pendapat.[10] Sebagian dari para mufasir mengungkapkan orang-orang itu adalah orang-orang Islam yang berbuat dosa.[11] Sebagian yang lainnya adalah ungkapan yang agak dekat dengan ungkapan sebelumnya yaitu kaum Muslimin yang memiliki dosa besar.[12]
Meskipun demikian, dari beberapa ungkapan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa orang-orang yang berbuat dosa dan telah diampuni maka akan masuk surga.[13] Tentu saja syarat pengampunan itu adalah jika bertaubat.
 
3. Arti Muqtashid
«وَ مِنهم مُّقْتَصِدٌ»
Yang dimaksud dengan “muqtashidun” adalah orang-orang yang mengerjakan amal saleh namun juga berbuat dosa. Mereka berada dalam kategori “muqtashidun” dan “sabiqun bil khairat”[14]
 
4. Makna Sabiq bil Khairat
«وَ مِنهم سَابِقُ بِالْخَیراتِ بِإِذْنِ اللهِ ذَالِکَ هُوَ الْفَضْلُ الْکَبِیر»
“Sabiq bil khairat” atau lebih dahulu berbuat kebaikan adalah orang-orang yang terlebih dahulu berbuat kebaikan dari pada orang lain. Dari sisi bahwa segolongan manusia memiliki kedudukan lebih dekat dengan Allah Swt, maka ia dengan ijin-Nya lebih dahulu mengerjakan kebaikan dari pada dua golongan yang lainnya karena memiliki imāmah[15] dimana Ahlulbait As adalah orang-orang yang paling sempurna di antara manusia-manusia lainnya.[16] [iQuest]

[1] Syaikh Shaduq, Ma’āni al-Akhbār, Periset: Ghafari, Ali Akbar, hal. 104, hal. 194, Qum, Daftar Intisyarat Islami, cet. 1, 1403.
[2] Kulaini, Muhammad bin Ya’qub, Al-Kāfi, Periset: Ghifari, Ali Akbar, Akhundi, Muhammad, jil. 1, hal. 214, Tehran, Dar al-Kitab Islamiyah, cet. 4, 1407; Ester Abadi, Ali, Ta’wil Ayāt al-Dhāhir fi Fadhāil al-Itrah al-Thāhirah, Periset: Ustadlu, Husain, hal. 471, Qum, Muasasah al-Nasyar al-Islami, cet. 1, 1409 H.
[3] Syaikh Thusi, Muhammad bin Hasan, Al-Tebyān fi Tafsir al-Quran, Mukadimah: Syaikh Agha Buzurg Tehrani, Periset: Qushair Amili, Ahmda, jil. 8, hal. 429, Beirut, Dar Ihya al-Tsurats al-Arabi, tanpa tahun.
[4] Syaikh Shaduq, ”Uyun Akhbar al-Ridha As, Periset dan Editor: Lajurdi, Mahdi, jil. 1, hal. 229, Tehran, Nasyar Jahan, Cet. 1, 1378 H.
[5] Shafar, Muhammad bin Hasan, Bashair al-Darajāt fi Fadzāil Ali Muhammad Saw, Periset dan Editor: Kuce Baghi, Muhsin bin Abas Ali, jil. 1, hal. 48, Qum, Maktabah Ayatullah al-Mar’asyi Najafi, cet. 2, 1404.
[6] Thabarsi, Fadhl bin Hasan, Majma’ al-Bayān fi Tafsir al-Qurān, Mukadimah: Balaghi Muhammad Jawad, jil. 8, hal. 638, Tehran, Nashir Khosro, cet. 3, 1372; Faidz Kasyani, Mula Muhsin, Tafsir al-Sāfi, Periset: A’lami, Husain, jil. 4, hal. 238, Tehran, Intisyarat al-Shadr, cet. 2, 1415 H.
[7] Makarim Syirazi, Nashir, Tafsir Nemuneh, jil. 18, hal. 261, Tehran, Dar al-Kitab al-Islamiyah, cet. 1, hal. 1374 S.
[8] Ibnu Katsir Damisyqi, Ismail bin Amru, Tafsir al-Qurān al-Adzim, Periset: Syasuddin, Muhammad Husain, jil. 6, hal 484, Beirut, Dar al-Kitab Ilmiyah, Mansyurat Muhammad Ali Baidhun, cet. 1, 1419 H, Balkhi, Maqatil bin Sulaiman, Tafsir Maqātil bin Sulaiman, Periset: Syahatah, Abdullah Mahmud, jil. 3, hal. 558, Beirut, Dar Ihya al-Turats, cet. 1, 1423 H.
[9] Alusi, Sayid Mahmud, Ruh al-Maāni fi Tafsir al-Qurān al-Adzim, ‘Athiyah, Ali Abdul Bari, jil. 11, hal 368, Beirut, Dar al-Kitab al-Ilmiyah, cet. 1, 1415; Syaukani Muhammad bin Ali, Fath al-Qadir, jil. 4, hal. 400, Damisy, Beirut, Dar Ibnu Katsir, Dar al-Alam al-Tayib, cet. 1, 1414 H.
[10] Silahkan lihat: Thabari, Muhammad bin Jarir, Jāmi’ al-Bāyān fi Tafsir al-Quran, jil. 22, hal. 89-90, Beirut, Dar al-Ma’rifah, cet. 1, 1412 H.
[11] Fahr al-Razi, Muhammad bin Umar, Mafātih al-Ghaib, jil. 26, hal. 239, Beirut, Dar Ihya al-Tsurats al-Arabi, cet. 3, 1420 H.
[12] Tafsir al-Maqātil Sulaimān, jil. 3, hal. 558.
[13] Ta’wil al-Ayāt al-Dhāhir fi Fadhāil al-Itrah al-Thāhirah, hal. 471; Zamakhsyari, Majmu Al-Kasyāf an Haqāiq Ghawāmish al-Tanzil, jil. 3, hal. 612, Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, cet. 3, 1407 H.
[14] Husaini Syirazi, Sayid Muhammad, Tabyin al-Qurān, hal. 450, Beirut, Dar al-Ulum, cet. 2, 1423 H.
[15] Thabathabai, Sayid Muhammd Husain, Al-Mizān fi Tafsir al-Qurān, jil. 17, hal. 46, Qum, Daftar Intisyarat Islami, cet. 5, 1417 H.
[16]  Qumi, Ali bin Ibrahim, Tafsir al-Qumi, Periset dan Editor: Musawi Jazairi, Sayid Tayib, jil. 2, hal. 209, Qum, Dar al-Kitab, cet. 3, 1404 H.
Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Apa isi surat Muawiyah yang berisi ancaman kepada Kaisar Roma? Apakah surat ini adalah kebijakan yang tepat dari Muawiyah untuk mencegah meletusnya perang?
    6377 Perang-perang Imam Ali As
    Pernyataan seperti ini disebutkan pada sebagian literatur riwayat dan non riwayat sebagai berikut: “Tatkala Muawiyah sibuk berperang dalam perang Shiffin, ia mendapatkan informasi bahwa kaisar Roma tengah menabuh genderang perang di Suriah. Ia mengirim surat yang bernada ancaman kepada kaisar Roma dan buntutnya, orang-orang Roma berdamai dengan ...
  • Islam dan Teori Pemikiran Sistematis
    11404 Kalam Jadid
    Islam adalah agama pamungkas dan agama paling sempurna yang pernah diturunkan untuk manusia. Karena itu, kita, pada setiap ranah kehidupan manusia, baik personal atau pun sosial, mengharapkan adanya sikap yang dapat ditunjukkan dan dijadikan panduan dari agama ini. Teori pemikiran sistematis Islam adalah sebuah teori moderat tentang inklusifitas agama ...
  • Apa pandangan Islam terkait dengan perang pada bulan-bulan haram?
    15926 Tafsir
    Berdasarkan sebagian ayat dan riwayat yang ada, Islam tidak hanya melarang perang pada bulan-bulan Haram (Dzulqaidah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab) bahkan bersikap keras terhadapnya sehingga tidak ada orang yang berpikir untuk berperang pada bulan-bulan tersebut sehingga pada ayat yang menjadi obyek pertanyaan, perang pada bulan-bulan haram dipandang ...
  • Apakah Rasulullah Saw bermuka masam ketika melihat seorang fakir di antara para orang kaya?
    11085 Kemaksuman
    Empat ayat pendahuluan surah ‘Abasa secara umum merupakan penjelas bahwa Allah Swt tengah menegur dan menyalahkan seseorang pada ayat-ayat ini; berdasarkan kronologi ayat ini, di sini orang atau orang-orang kaya dan hartawan lebih memiliki prioritas atas seorang buta yang mencari kebenaran, namun siapakah orang yang tengah dicela dan ...
  • Tolong Anda sebutkan dalil-dalil ihwal kemungkinan terjadinya Kiamat?
    14446 Teologi Lama
    Masalah ma’âd (hari akhir) dan kiamat dari sudut pandang signifikansinya merupakan salah satu masalah terpenting agama dan Islam setelah masalah tauhid sedemikian sehingga lebih dari sepertiga ayat-ayat al-Qur’an diturunkan berhubungan dengan ma’âd dan kiamat. Dalil-dalil penetapan dan pembuktian hari Kiamat terbagi menjadi dua bagian. Dalil rasional dan dalil referensial: ...
  • Apakah ruh dan jin dapat menggangu manusia?
    14781 روح و نفس
    Informasi yang kita miliki ihwal jin sangat terbatas. Namun kita dapat menggunakan riwayat bahwa jin sebagaimana manusia memiliki taklif dan tanggung jawab serta ragam keyakinan. Sebagian mereka adalah jin yang taat dan sebagian lainnya pembangkang. Kendati jin dari sudut pandang pemikiran sangat lemah namun dari sisi ...
  • Apa makna tauhid dalam penciptaan (khâliqiyat)?
    9712 Teologi Lama
    Tauhid dalam penciptaan artinya bahwa tiada satu pun pencipta dalam dunia keberadaan selain Allah Swt. Seluruh kontingen (mumkinât) dan entitas yang ada di alam semesta, karya dan perbuatan-perbuatan mereka, bahkan manusia dan seluruh ciptaan-ciptaan dan temuan-temuan secara hakiki, tanpa basa-basi, adalah makhluk Allah Swt. Apa yang ada ...
  • Disebutkan bahwa di alam barzakh terdapat penyempurnaan ilmu, namun tidak ada penyempurnaan amal. Apakah hal ini bisa dijelaskan oleh filsafat?
    14456 Filsafat Islam
    Penyempurnaan di alam barzakh bisa diterima dengan berpijak kepada al-Quran dan hadis-hadis sahih. Hal ini juga dikaji dalam koridor Filsafat serta banyak lagi hal yang dibahas terkait dengan masalah alam barzakh (isthmus) dalam Filsafat. Poin pertama yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah tidak ada ...
  • Bagaimana hukumnya memperalat jin, arwah dan sekelompok setan?
    8555 Hukum dan Yurisprudensi
    Hubungan dan menggunakan secara keilmuan dan praktik arwah dan para jin serta setan dalam istilah leksikal dan teknikal fikih disebut sebagai sihir.[i] Sesuai dengan dalil-dalil Al-Qur’an, riwayat dan fikih, sihir tidak mendatangkan kemaslahatan dan kebaikan bagi manusia dunia dan akhirat.Al-Qur’an memandang penyihir sebagai ...
  • Apakah teori world line bertentangan dengan keberadaan dan keabadian ruh (minimal setelah kematian)?
    6254 Teologi Lama
    Melalui salah satu dari website, saya mendapatkan informasi atas kesiapan Anda untuk menjawab masalah-masalah filsafat, oleh karena itu di sini saya akan mengajukan beberapa pertanyaan berikut:1.   

Populer Hits