Advanced Search
Hits
9170
Tanggal Dimuat: 2017/06/21
Ringkasan Pertanyaan
Apakah yang dimaksud dengan muqtashidun, sabiqun bil khairat dan dzalimullinafsihi pada ayat 32 surah Al-Fathir?
Pertanyaan
Bagaimanakah tafsir surah Al-Fathir ayat 32 dan apakah yang dimaksud dengan muqtashidun, sabiqun bil khairat dan dzalimullinafsihi?
Jawaban Global
Terkait dengan pembawa al-Quran setelah Nabi Muhammad Saw, Allah Swt  berfirman: “Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami.”
Para mufassir al-Quran menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan potongan ayat itu adalah umat Islam. Ada pula yang berpendapat bahwa mereka adalah para ulama sedangkan para Imam berada di barisan terdepan kelompok ini. Yang dimaksud dengan “Di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri” adalah kaum Muslimin yang berbuat dosa dan orang-orang yang yang mempunyai dosa besar. 
Jawaban Detil
Al-Quran berkenaan dengan para pembawa al-Quran setelah Nabi Muhammad Saw berfirman
«ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْکِتابَ الَّذِینَ اصْطَفَیْنا مِنْ عِبادِنا فَمِنْهُمْ ظالِمٌ لِنَفْسِه‏ وَ مِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَ مِنْهُمْ سابِقٌ بِالْخَیْراتِ بِإِذْنِ اللهِ ذلِکَ هُوَ الْفَضْلُ الْکَبیر»
“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (Qs Al-Fathir [35]: 32)
Pada sebagian riwayat, ayat ini ditafsirkan secara global:
Seseorang bertanya kepada Imam Shadiq tentang tafsir ayat ini, beliau menjawab: Orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri adalah orang-orang yang selalu menuruti hawa nafsunya sendiri, muqtashidun (pertengahan) adalah orang yang mengikuti putaran hatinya dan “sābiq” orang yang melupakan tujuan-tujuannya sendiri dan senantiasa mencari keridhaan Allah Swt.[1]
Imam Baqir As terkait dengan ayat ini bersabda: “Yang dimaksud dengan ‘al-Sabiqun bil khairat’ adalah Imam. Yang dimaksud dengan ‘muqtashidun’ adalah orang-orang yang mengenal Imam dan yang dimaksud dengan ‘dzalimun linafsih’ adalah orang-orang yang tidak mengenal Imam.’”[2]       
Dua riwayat ini dan riwayat-riwayat semacamnya adalah penjelasan-penjelasan atas ayat itu dan tidak bertentangan dengan pemahaman-pemahaman global tafsir serta merupakan personifikasi dalam penafsiran ayat ini. Sekarang kita akan mengkaji bagian-bagian dan persoalan-persoalan yang ada dalam ayat ini.
1. Makna Aurats
«ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْکِتابَ الَّذِینَ اصْطَفَیْنا مِنْ عِبادِنا»
Makna “aurats” pada ayat di atas adalah kepemimpinan berakhirnya hukum al-Quran bagi mereka.[3]
Terdapat beberapa riwayat mengenai makna bagian ayat ini:
Imam Ridha As hadir di majelis Makmun. Pada majelis itu hadir beberapa ulama dari Irak dan Khurasan. Katakan kepadaku makna akan ayat ini:
«ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْکِتابَ الَّذِینَ اصْطَفَیْنا مِنْ عِبادِنا...»
Para hadirin berkata: “Yang dimaksudkan oleh Allah Swt adalah semua umat manusia.” Makmun berkata: “Wahai Abal Hasan! Apakah pendapat Anda?” Imam Ridha As bersabda: “Aku tidak seakidah dengan mereka, namun menurutku, yang dimaksud oleh Allah Swt adalah itrah Nabi Muhammad Saw.”[4]
Imam Kazhim As terkait dengan bagian ayat ini bersabda: Kami adalah orang-orang yang dipilih oleh Allah Swt. Kamilah yang dipilih oleh Allah, untuk mewarisi al-Quran, kitab penjelas semua persoalan.[5]
Oleh itu, sebagian mufasir Syiah menggunakan ungkapan ayat ini hanya untuk Ahlulbait saja.[6] Namun bisa saja dimungkinkan bahwa riwayat ini hanya merupakan penjelasan secara terang dan bahwa Ahlulbait As adalah orang-orang yang berada di derajat awal dan apabila tidak, maka potongan ayat ini juga mencakupi kaum Muslimin lain, sebagaimana keyakinan sebagian mufassir.[7] Yang dimaksud dengan bagian ayat ini adalah umat Islam[8] dan para ulama[9] di mana hal ini tidak bertentangan dengan para Imam As karena para Imam berada di barisan terdepan kelompok ini.
 
2. Arti Zhalim
«فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ»
Di sini kita harus memperhatikan bahwa: Apabila bagian sebelum ayat hanya dimaknai dan berkaitan dengan para Imam As artinya selain mereka tidak termasuk, maka dhamir dalam ”faminhum” harus dikembalikan kepada seluruh manusia karena pasti bagian ayat ini tidak meliputi para Imam Maksum dari keluarga Nabi As.
Namun terkait dengan apakah yang dimaksud dengan orang-orang itu siapa, terdapat berbagai pendapat.[10] Sebagian dari para mufasir mengungkapkan orang-orang itu adalah orang-orang Islam yang berbuat dosa.[11] Sebagian yang lainnya adalah ungkapan yang agak dekat dengan ungkapan sebelumnya yaitu kaum Muslimin yang memiliki dosa besar.[12]
Meskipun demikian, dari beberapa ungkapan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa orang-orang yang berbuat dosa dan telah diampuni maka akan masuk surga.[13] Tentu saja syarat pengampunan itu adalah jika bertaubat.
 
3. Arti Muqtashid
«وَ مِنهم مُّقْتَصِدٌ»
Yang dimaksud dengan “muqtashidun” adalah orang-orang yang mengerjakan amal saleh namun juga berbuat dosa. Mereka berada dalam kategori “muqtashidun” dan “sabiqun bil khairat”[14]
 
4. Makna Sabiq bil Khairat
«وَ مِنهم سَابِقُ بِالْخَیراتِ بِإِذْنِ اللهِ ذَالِکَ هُوَ الْفَضْلُ الْکَبِیر»
“Sabiq bil khairat” atau lebih dahulu berbuat kebaikan adalah orang-orang yang terlebih dahulu berbuat kebaikan dari pada orang lain. Dari sisi bahwa segolongan manusia memiliki kedudukan lebih dekat dengan Allah Swt, maka ia dengan ijin-Nya lebih dahulu mengerjakan kebaikan dari pada dua golongan yang lainnya karena memiliki imāmah[15] dimana Ahlulbait As adalah orang-orang yang paling sempurna di antara manusia-manusia lainnya.[16] [iQuest]

[1] Syaikh Shaduq, Ma’āni al-Akhbār, Periset: Ghafari, Ali Akbar, hal. 104, hal. 194, Qum, Daftar Intisyarat Islami, cet. 1, 1403.
[2] Kulaini, Muhammad bin Ya’qub, Al-Kāfi, Periset: Ghifari, Ali Akbar, Akhundi, Muhammad, jil. 1, hal. 214, Tehran, Dar al-Kitab Islamiyah, cet. 4, 1407; Ester Abadi, Ali, Ta’wil Ayāt al-Dhāhir fi Fadhāil al-Itrah al-Thāhirah, Periset: Ustadlu, Husain, hal. 471, Qum, Muasasah al-Nasyar al-Islami, cet. 1, 1409 H.
[3] Syaikh Thusi, Muhammad bin Hasan, Al-Tebyān fi Tafsir al-Quran, Mukadimah: Syaikh Agha Buzurg Tehrani, Periset: Qushair Amili, Ahmda, jil. 8, hal. 429, Beirut, Dar Ihya al-Tsurats al-Arabi, tanpa tahun.
[4] Syaikh Shaduq, ”Uyun Akhbar al-Ridha As, Periset dan Editor: Lajurdi, Mahdi, jil. 1, hal. 229, Tehran, Nasyar Jahan, Cet. 1, 1378 H.
[5] Shafar, Muhammad bin Hasan, Bashair al-Darajāt fi Fadzāil Ali Muhammad Saw, Periset dan Editor: Kuce Baghi, Muhsin bin Abas Ali, jil. 1, hal. 48, Qum, Maktabah Ayatullah al-Mar’asyi Najafi, cet. 2, 1404.
[6] Thabarsi, Fadhl bin Hasan, Majma’ al-Bayān fi Tafsir al-Qurān, Mukadimah: Balaghi Muhammad Jawad, jil. 8, hal. 638, Tehran, Nashir Khosro, cet. 3, 1372; Faidz Kasyani, Mula Muhsin, Tafsir al-Sāfi, Periset: A’lami, Husain, jil. 4, hal. 238, Tehran, Intisyarat al-Shadr, cet. 2, 1415 H.
[7] Makarim Syirazi, Nashir, Tafsir Nemuneh, jil. 18, hal. 261, Tehran, Dar al-Kitab al-Islamiyah, cet. 1, hal. 1374 S.
[8] Ibnu Katsir Damisyqi, Ismail bin Amru, Tafsir al-Qurān al-Adzim, Periset: Syasuddin, Muhammad Husain, jil. 6, hal 484, Beirut, Dar al-Kitab Ilmiyah, Mansyurat Muhammad Ali Baidhun, cet. 1, 1419 H, Balkhi, Maqatil bin Sulaiman, Tafsir Maqātil bin Sulaiman, Periset: Syahatah, Abdullah Mahmud, jil. 3, hal. 558, Beirut, Dar Ihya al-Turats, cet. 1, 1423 H.
[9] Alusi, Sayid Mahmud, Ruh al-Maāni fi Tafsir al-Qurān al-Adzim, ‘Athiyah, Ali Abdul Bari, jil. 11, hal 368, Beirut, Dar al-Kitab al-Ilmiyah, cet. 1, 1415; Syaukani Muhammad bin Ali, Fath al-Qadir, jil. 4, hal. 400, Damisy, Beirut, Dar Ibnu Katsir, Dar al-Alam al-Tayib, cet. 1, 1414 H.
[10] Silahkan lihat: Thabari, Muhammad bin Jarir, Jāmi’ al-Bāyān fi Tafsir al-Quran, jil. 22, hal. 89-90, Beirut, Dar al-Ma’rifah, cet. 1, 1412 H.
[11] Fahr al-Razi, Muhammad bin Umar, Mafātih al-Ghaib, jil. 26, hal. 239, Beirut, Dar Ihya al-Tsurats al-Arabi, cet. 3, 1420 H.
[12] Tafsir al-Maqātil Sulaimān, jil. 3, hal. 558.
[13] Ta’wil al-Ayāt al-Dhāhir fi Fadhāil al-Itrah al-Thāhirah, hal. 471; Zamakhsyari, Majmu Al-Kasyāf an Haqāiq Ghawāmish al-Tanzil, jil. 3, hal. 612, Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, cet. 3, 1407 H.
[14] Husaini Syirazi, Sayid Muhammad, Tabyin al-Qurān, hal. 450, Beirut, Dar al-Ulum, cet. 2, 1423 H.
[15] Thabathabai, Sayid Muhammd Husain, Al-Mizān fi Tafsir al-Qurān, jil. 17, hal. 46, Qum, Daftar Intisyarat Islami, cet. 5, 1417 H.
[16]  Qumi, Ali bin Ibrahim, Tafsir al-Qumi, Periset dan Editor: Musawi Jazairi, Sayid Tayib, jil. 2, hal. 209, Qum, Dar al-Kitab, cet. 3, 1404 H.
Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Apakah dalam Islam kita juga terdapat bab yang disebut sebagai wudhu irtimasi?
    4071 بیشتر بدانیم 2013/04/20
    Wudhu irtimasi artinya adalah seseorang membenamkan wajah dan tangannya dalam air dengan niat wudhu dengan memperhatikan tata-cara wudhu dari atas ke bawah; adapun untuk mengusap kepala dan kaki dengan air wudhu, (Anda) dalam membasuh tangan secara irtimasi (dibenamkan) harus disertai dengan niat wudhu tatkala tangan dikeluarkan dari ...
  • Hingga batasan manakah aktifitas dan kinerja akal dalam Islam dan pada bidang apa akal dapat dimanfaatkan?
    11431 Kalam Jadid 2009/09/08
    Akal merupakan fakultas yang paling bernilai yang dianugerahkan Tuhan pada  wujud manusia. Akal yang dianugerahkan tersebut memiliki tingkatan dan derajat:1.     Akal praktis  yang aktifitasnya adalah mencerap dan mengenal pelbagai realitas dan penilaian atasnya.2.     Akal teoritis  yang merupakan fakultas ...
  • Apakah selain maksum dapat menjadi personifikasi dan obyek luaran (mishdaq) khalifatullah?
    3131 انسان و خلافت الاهی 2013/11/25
    Sebelum membahas siapa saja yang menjadi personifikasi dan obyek luaran khalifatullah kiranya perlu kita uraikan terlebih dahulu siapakah khalifatullah itu dan sifat apa saja yang harus disandang oleh seorang khalifatullah. Pada batin kata khilâfah dan pengganti terpendam makna ini bahwa khilâfah tampak pada mustakhlif ‘anhu (pengganti darinya) ...
  • Bagaimanakah hukumnya mengolok2 org yg non Muslim
    2902 Menggunjing, Menghina dan Memata-matai 2014/12/10
    Perbuatan seperti ini tidak layak dilakukan karena akhlak Islam menuntut pemeluknya untuk dapat hidup berdampingan secara damai dan tenang dengan non Muslim yang ada di sekitarnya. Hidup berdampingan meniscayakan hubungan yang layak dan tentu saja berdasarkan ajaran-ajaran al-Quran[i] seorang Muslim dapat memperlakukan musuh-musuh Islam ...
  • Apa makanan dan pakaian Imam Zaman Ajf?
    4675 Teologi Lama 2010/09/20
    Imam Mahdi hidup sebagaimana orang lain hidup. Beliau hidup secara normal dan biasa. Adapun yang disebutkan dalam riwayat bahwa Imam Mahdi Ajf mencukupkan diri dengan makanan dan pakaian pada tataran minimal. Nu’mani dalam kitab Ghaibat meriwayatkan dari Imam Shadiq dan Imam Ridha As ihwal ...
  • Apa yang harus dilakukan dan berdayaguna sehingga kita dapat menyatukan ilmu dan amal?
    10294 Akhlak Praktis 2009/12/12
    Prinsip-prinsip Islam menegaskan bahwa ilmu dan pengetahuan akan bermakna dan bermanfaat tatkala disertai dengan amal kebaikan. Namun demikian kita menyaksikan bahwa sebagian orang berilmu memandang enteng dalam mengerjakan amal saleh. Boleh jadi hal ini bersumber dari pelbagai dalil. Di antara ...
  • Mengapa kita harus belajar bahasa Arab?
    10281 Ulumul Quran 2011/06/20
    Bahasa Arab dikenal sebagai bahasa kitab abadi Ilahi yaitu al-Qur’an dan warisan berharga Islam yaitu kitab-kitab hadis, sejarah dan tafsir. Bahasa ini memiliki beberapa karakteristik tipikal seperti keragaman dalam ungkapan, keluasan bahasa, kefasihan dan ekspresif dalam menyampaikan pesan-pesannya.Dan yang terpenting salat kita dan demikian juga doa-doa yang diriwayatkan dari ...
  • Pada ayat manakah dari ayat-ayat al-Quran yang menegaskan pentingnya menjaga amana? Apakah makna menjaga amanah itu mencakup memberikan pekerjaan-pekerjaan dan posisi-posisi sosial kepada ahlinya?
    9665 فضایل اخلاقی 2013/12/24
    Salah satu ajaran penting al-Quran adalah masalah amanah. Dalam sumber-sumber Islam (al-Quran dan Hadis) banyak terdapat anjuran untuk menjaga amanah dan bersikap amanah. Kadar penegasan masalah amanah ini melebih penegasan hukum-hukum yang lain. Signifikansi ini kemudian menjadi lebih kental lantaran masalah ini tidak berbeda pada manusia baik ...
  • Saya ingin meminta penjelasan tentang biografi Anas bin Harits, salah seorang syahid Karbala?
    3891 Ahlulbait As dan Para Sahabat 2015/02/14
    Walaupun sahabat Imam Husain As termasuk sahabat-sahabat pilihan para Imam Maksum As, sebagaimana ketika Imam Husain As berkata-kata kepada para sahabat dan penolong setianya pada malam Asyura, “Aku tidak mengenal sahabat yang lebih baik dan lebih utama dari pada para sahabatku”[1] namun kita tidak ...
  • Bagaimana kita dapat memperoleh rahasia kesehatan badan?
    9203 Kalam Jadid 2011/11/20
    Hukum natural yang ditetapkan oleh Allah Swt menandaskan bahwa tiada satu pun manusia yang akan hidup abadi di dunia ini. Dan berdasarkan selaksa dalil, salah satu dari hukum natural tersebut adalah hilangnya keselamatan dan kesehatan badan pada diri manusia. Ketetapan yang berlaku adalah bahwa manusia akan meninggalkan dunia ...

Populer Hits