Advanced Search
Hits
16795
Tanggal Dimuat: 2010/11/08
Ringkasan Pertanyaan
Siapakah yang pertama kali menjadi mujtahid? Dan sebelum mencapai derajat ijtihad kepada siapakah ia bertaklid?
Pertanyaan
Siapakah yang pertama kali menjadi mujtahid? Dan sebelum mencapai derajat ijtihad kepada siapakah ia bertaklid?
Jawaban Global

Dalam agama Islam ijtihad merupakan salah satu tema penting dan memiliki latar belakang historis. Dalam perspektif Syiah, ijtihad mulai berkembang pada masa para Imam Maksum As di kalangan para sahabat mereka. Semangat dan praktik ijtihad tersebut telah memunculkan banyak perubahan dan kemajuan dalam Syiah. Rasulullah Saw mengutus sebagian sahabat seperti Mush’ab bin Umair dan Muadz bin Jabal ke negeri-negeri sekitar untuk berdakwah dan mengajarkan hukum-hukum agama. Rasulullah Saw bersabda, “Jauhilah mengeluarkan fatwa tanpa ilmu yang dapat mengundang laknat para malaikat.”

Perkara ini mengindikasikan bahwa memberikan fatwa dari mufti dan juris (fakih) dan konsekuensinya taklid dan mengikuti fatwa tersebut dari sisi masyarakat juga telah mengemuka pada masa Rasulullah Saw. Merujuk kepada fakih pasca wafatnya Rasulullah Saw terus berlanjut sebagaimana sebelumnya hingga mencapai zaman keemasannya dan bersemi pada masa Imam Baqir As dan Imam Shadiq As.

Tidak terbilang juris yang digembleng dan dididik pada madrasah dua imam besar ini. Di antara juris tersebut adalah Abu Bashir, Yunus bin Abdurrahman dan Aban bin Taghlib.

Pada masa para Imam Maksum As karena mudahnya akses kepada para Imam Maksum dan terbatasnya masalah-masalah yang dihadapi, masyarakat dapat bertanya langsung kepada mereka. Dan sejatinya sebelum seseorang mencapai derajat ijtihad, ia bertaklid kepada para Imam Maksum As. Namun pada masa-masa itu sendiri para Imam Maksum As juga yang memberikan izin kepada beberapa orang alim untuk melakukan praktik ijtihad dan mengeluarkan fatwa.

Jawaban Detil

Syiah menerima ijtihad yang bermakna inferensi (istinbâth) hukum-hukum syariat dari nash-nash, lahiriyah al-Qur’an dan Sunnah. Jenis ijtihad semacam ini telah menyebar semenjak masa Imam Maksum As di kalangan para sahabat para imam. Bahkan pada masa Rasulullah Saw sendiri ijtiihad telah dipraktikan oleh sebagian sahabat Rasulullah Saw. Misalnya Rasulullah Saw mengutus sebagian sahabat seperti Mush’ab bin Umair dan Muadz bin Jabal untuk pergi ke daerah-daerah sekitar melakukan dakwah dan mengajarkan hukum-hukum agama. Rasulullah Saw bersabda, “Hindarilah mengeluarkan fatwa tanpa ilmu yang dapat mengundang laknat para malaikat (ke atas kalian).”[1]

Perkara ini mengindikasikan bahwa memberikan fatwa dari mufti dan juris (fakih) dan konsekuensinya taklid dan mengikuti fatwa tersebut dari sisi masyarakat juga telah mengemuka pada masa Rasulullah Saw. Merujuk kepada fakih pasca wafatnya Rasulullah Saw terus berlanjut sebagaimana sebelumnya hingga mencapai zaman keemasannya dan bersemi pada masa Imam Baqir As dan Imam Shadiq As.

Tidak terbilang juris yang digembleng dan dididik pada madrasah dua imam besar ini.[2] Mereka menyebar di kota-kota dengan maksud menghidupkan dan mengjarkan hukum-hukum agama. Banyak masyarakat yang dahaga akan pengetahuan-pengetahuan dan hukum-hukum Ilahi yang bermukim di tempat yang jauh dari para Imam Maksum mendatangi murid-murid dua imam besar itu dan bertanya tentang masalah-masalah yang dihadapi kepada mereka. Dengan perantara murid-murid ini masyarakat melepaskan dahaganya dari samudera ilmu para Imam Maksum As yang tidak terbatas. Inilah yang disebut seabgai taklid dan dilakukan oleh masyarakat ketika itu. Berikut ini beberapa contoh dari praktik taklid dan ijtihad yang dilakukan masyarakat pada masa para Imam Maksum As:

1.     Imam Baqir As bersabda kepada Aban bin Taghlib: “Duduklah di masjid Madinah dan berikanlah fatwa untuk masyarakat. Karena aku suka orang-orang sepertimu di kalangan Syiahku.”[3]

2.     Muadz bin Muslim, salah seorang sahabat Imam Shadiq As, tanpa mendapatkan izin dari imam memberikan fatwa di masjid Jami’. Tatkala berita ini sampai kepada Imam Shadiq As, beliau memotivasi dan menyokongnya."[4]

3.     Syu’aib ‘Aqrqauqi berkata, “Saya berkata kepada Imam Shadiq As: “Terkadang kami ingin bertanya dan memecahkan masalah agama yang kami hadapi (dan kami tidak memiliki akses kepada Anda karena kejauhan atau [Anda] berada dalam kondisi taqiyyah..) Katakanlah kepada siapa kami harus merujuk dan menerima ucapannya? Imam Shadiq As menjawab, “’Alaikum bil Asadi ya’ni Aba Bashir” (Engkau dapat merujuk kepada Abu Bashir).[5]

4.     Hasan bin Ali Yaqtin berkata, “Aku berkata kepada Imam Ridha As, “Saya tidak dapat bertanya kepada Anda (secara langsung) ketika berhadapan dengan setiap persoalan agama yang saya hadapi. Apakah Yunus bin Abdurrahman itu orang tsiqah (dapat dipercaya) dan jujur dan saya dapat menerima jawaban terhadap masalah-masalah agama yang saya hadapi? Imam Ridha As bersabda, “Iya.”[6]

5.     Imam Mahdi Ajf dalam tauqi’-nya (surat yang ditandatangi) yang terkenal itu menulis kepada Ishaq bin Ya’qub, sebagai sebuah kaidah umum, seperti ini:

“Dalam pelbagai peristiwa yang terjadi maka merujuklah kepada para perawi hadis kami (para juris) mereka adalah hujjahku bagi kalian dan aku adalah hujjah Tuhan bagi mereka.”[7]

 

Berdasarkan tauqi’ ini dan beberapa riwayat lainnya menguatkan masalah merujuk kepada juris (fakih) pada masa ghaibat kubra dan memunculkan dua terma “ijtihad” dan “taklid.” Para juris dan mujtahid jâmi’ al-syarâit (memiliki pelbagai persyaratan) memikul tanggung jawab untuk menjawab dan mengeluarkan fatwa bagi setiap persoalan kekinian yang dihadapi masyarakat dan mengisi kekosongan serta memberikan solusi atas persoalan tiadanya akses langsung masyarakat kepada para Imam Maksum As. Persoalan ini hingga kini terus berlanjut dan demikian seterusnya. Sebagaimana Syaikh Thusi berkata, “Aku mendapatkan Syiah Imamiyah semenjak masa Imam Ali As hingga kini (abad kelima Hijriah) senantiasa mendatangi para juris mereka dan bertanya tentang hukum-hukum dan ibadah kepada mereka. Para fukaha tersebut memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut dan dengan fatwa para fukaha menunjukkan jalan kepada mereka.”[8]

Karena itu, ijtihad memiliki bentangan sejarah yang panjang semenjak dulu pada masa Imam Maksum As hingga kini di pelbagai Hauzah Ilmiah Syiah. Sebelum itu, masyarakat bertanya langsung kepada para Imam Maksum As terkait dengan pelbagai persoalan yang mereka hadapi. Para Imam Maksum As dalam menjelaskan hukum-hukum syariat kepada masyarakat menjelankan fungsinya sebagai imam. Demikian juga menjelaskan kaidah-kaidah umum dan menjawab pertanyaan-pertanyaan para sahabat dan mengajarkan ihwal bagaimana melakukan istinbâth hukum-hukum khusus dari kaidah umum kepada mereka.[9]

Karena itu, pertama-tama para mujtahid sebelum menggondol derajat ijtihad mereka bertaklid kepada para Imam Maksum As. Pada masa-masa setelah itu, orang-orang yang telah belajar dan memiliki potensi memberikan jawaban kepada masyarakat atas masalah-masalah syariat dengan memanfaatkan ucapan-ucapan dan riwayat-riwayat para Imam Maksum As.

Demikianlah model permulaan ijtihad yang kemudian mengalami perkembangan dan kemajuan. Dan pada sebuah tingkatan pada masa ghaibat, ulama dengan memanfaatkan riwayat yang melimpah dan menerapkan kaidah-kaidah yang mereka pelajari dari para Imam Maksum dalam berhadapan dengan hukum-hukum syariat. Karena seluruh masalah yang dibutuhkan telah terrefleksi dalam riwayat-riwayat para maksum. Pada tingkatan selanjutnya, seiring dengan kemajuan ilmu dan luasnya kebutuhan-kebutuhan yang belum dijelaskan dalam riwayat dan para mujtahid memberdayakan masalah-masalh tersebut dari hal-hal umum dan bersifat mutlak dari ayat-ayat dan riwayat-riwayat. Secara perlahan perkembangan ijtihad hari-demi-hari semakin pelik. Dewasa ini ruang lingkup ijtihad sangat luas dan menjuntai. [IQuest]

 

Untuk telaah lebih jauh Anda dapat merujuk pada sistematika pelbagai pelajaran Kharij Usul Ustad Hadawi Tehrani.[10]



[1]. Wasâil al-Syiah, jil. 27, bab 4 dan 7.  

[2]. Sejarawan menulis Imam Shadiq memiliki empat ribu murid yang datang dari pelbagai penjuru negeri untuk menimba ilmu dari Imam Shadiq As. Silahkan lihat, Haidar Asad, al-Imâm al-Shâdiq wa Madzâhib al-Arba’ah, jil. 1, hal. 69.  

[3]. Wasâil al-Syiah, jil. 17, bab 11.

«اجلس فی مسجد المدینة و افت الناس فانی احب ان اری فی شیعتی مثلک»

[4]. Wasâil al-Syiah, jil. 27, hal. 148.  

[5]. Wasâil al-Syiah, jil. 27, hal. 142.

«ربما احتجنا ان نسأل عن الشی فمن نسأل»

[6].  Ibid. 

«لا اکاد اصل الیک اسألک عن کل ما احتاج الیه من معالم دینی. افیونس بن عبد الرحمان ثقة آخذ منه ما احتاج الیه من معالم دینی فقال نعم»

[7].  Ibid. 

«... و اما الحوادث الواقعة فارجعوا فیها الی رواة حدیثنا فانهم حجتی علیکم و انا حجة الله علیهم»

[8]. Syaikh Thusi, al-Iddat fi Ushûl al-Fiqh, hal. 731. Pursesy-ha wa Pasukha-ye Danesyjuyan, hal-hal. 42,43, 44.  

[9]. Misalnya lihat, Syaikh Thusi, al-Istibshâr, jil. 1, hal. 77-78.

[10].  Kitâb-e Awwal, Falsafe-ye ‘Ilm Ushûl Fiqh, Daftar-e Awwal: ‘Ilm Ushûl az Âghâz tâ Imrûz, hal-hal. 22-38.

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Apakah kita dapat melanggar aturan-aturan pemerintahan Islam berdasarkan fatwa marja taklid?
    5237 Hukum dan Yurisprudensi
    Berdasarkan pendapat seluruh fakih (juris) dan marja taklid agung dinyatakan bahwa wajib hukumnya mematuhi aturan-aturan yang berlaku dalam pemerintahan Republik Islam Iran.[1]Apabila semenjak sekarang ini Anda bertindak berdasarkan aturan dan hukum yang berlaku, maka perbuatan-perbuatan Anda di masa ...
  • Apa hukumnya menyimpan patung yang bersambung dengan cermin, tempat lilin dan boneka di rumah?
    7129 Hukum dan Yurisprudensi
    Patung-patung terdiri dari dua bagian:1.     Patung-patung makhluk hidup2.     Patung-patung makhluk non-hidup. Ayatullah Bahjat Ra berkata, “Masalah membuat ...
  • Apakah terdapat dalil jelas, terang dan standar yang menerima atau menolak adanya reinkarnasi?
    6461 Teologi Lama
    Masalah reinkarnasi atau hulul dalam Islamic school of thouhgt karena meniscayakan beberapa hal seperti pengingkaran surga, neraka dan hari kiamat, dipandang sebagai sebuah masalah yang tertolak. Tertolaknya dan invaliditas konsep ini dapat dijumpai dan dikaji pada jawaban-jawaban yang ada pada site ini. Karena itu, pada kesempatan ini kami hanya akan ...
  • Apakah haram mengkonsumsi permen karet-permen karet yang mencantumkan nama Sugar Alcohol dalam kemasannya?
    10363 Hukum dan Yurisprudensi
    Kantor Ayatullah Agung Khamenei (Mudda Zhilluhu al-‘Ali):Apabila alkohol yang digunakan adalah alkohol yang memabukkan dan aslinya cair, mengikut prinsip ihtiyath, maka alkohol tersebut adalah najis dan apabila (Anda) ragu maka alkohol tersebut dihukum suci. Kantor Ayatullah Agung Siistani (Mudda Zhilluhu al-‘Ali):Tidak ada masalah ...
  • Apakah menablighkan agama (mengajarkan dan membimbing non-Muslim dan lain sebagainya) diwajibkan bagi setiap Muslim?
    9453 Akhlak Praktis
    Islam adalah sebuah agama global, universal, paling sempurna dan paling akhir dari agama-agama yang pernah diturunkan Allah Swt. Atas dasar itu, seluruh manusia, dari mana pun suku dan bangsanya, harus mengenal agama ini. Satu-satunya jalan untuk memperkenalkan ajaran membina manusia ini kepada bangsa-bangsa lain adalah ...
  • Apakah dibenarkan melakukan transaksi jual-beli air buah Tahiti via internet?
    5492 Hukum dan Yurisprudensi
    Apabila yang Anda maksud adalah hukum transaksi jual-beli dari sisi kehalalan dan keharaman jenis buah ini maka jawaban para Marja Agung Taklid adalah sebagai berikut:Kantor Ayatullah Agung Khamenei (Mudda Zhilluhu al-‘Ali):Pada dasarnya tidak ada masalah.Kantor Ayatullah Agung Siistani (Mudda Zhilluhu al-‘Ali):Tidak ada halangan (untuk mengkonsumsinya) ...
  • Dimanakah pedang Dzulfiqar Imam Ali As sekarang ini?
    40425 Tipologi dan Keunggulan Sifat
    Dzulfaqar dengan fatha “fa” dan kasra-nya (Dzulfiqar) merupakan nama dari pedang Rasulullah Saw.[1] Sehubungan dengan alasan penamaan pedang ini disebutkan bahwa lapisannya berasal dari duri yang pendek dan tinggi seperti tulang-tulang spinal manusia.[2] Kisah Dzulfiqar berasal dari salah satu ...
  • Apa makna ‘tamatstsala ruh’ yang disebutkan pada kisah Hadrat Maryam As?
    9567 Tafsir
    Secara leksikal dan teknikal, ‘tamatstsala’ memiliki makna di antaranya adalah berdiri di depan seseorang, tergambarnya sesuatu bagi seseorang, seperti menjadi sesuatu, dan membayangkan. Maksud ‘tamatstsala’ pada ayat di atas adalah bahwa: Malaikat menjelma menyerupai seorang manusia ketika menemui dan ...
  • Mengapa al-Quran dikumpulkan tidak berdasarkan urutan pewahyuan?
    64092 شیعه و قرآن
    Tiada satu pun instruksi yang datang dari Rasulullah Saw terkait dengan pengumpulan al-Quran berdasarkan urutan wahyu yang sampai di tangan kita sekarang ini. Pengumpulan al-Quran dilakukan dalam beberapa periode. Imam Ali As mengumpulkan al-Quran berdasarkan urutan pewahyuan namun pada akhirnya karena pengumpulan para khalifah bersifat ...
  • Apa warna sorban Nabi Saw dan para Imam Maksum As?
    25115 Para Maksum
    Di masa kekinian, banyak dari umat dan kelompok manusia memiliki pelbagai tanda dan alamat yang dengan perantara tanda atau alamat tersebut mereka saling mengenal dan menjalin hubungan antara satu dengan yang lain. Begitu pula dengan para Sayid dengan mengikut pada datuknya yang mengenakan sorban ...

Populer Hits