Advanced Search
Hits
7273
Tanggal Dimuat: 2016/07/04
Ringkasan Pertanyaan
Bagaimana pandangan kaum Khawarij terhadap Muawiyah? Apakah mereka juga mengadakan perlawanan terhadap pemerintahan yang lain?
Pertanyaan
Mengapa Khawarij tidak menerima pemerintahan Muawiyah? Bagaimana pandangan mereka terhadap pemerintahan Muawiyah?
Jawaban Global
Kaum Khawarij tidak pernah menganggap bahwa Muawiyah berada dalam pihak yang benar. Mereka, meskipun berlawanan dengan Imam Ali dan bahkan berkeyakinan atas kekafiran kepada Imam Ali, namun mereka tidak pernah menerima Muawiyah dan berkeyakinan akan kemelencengan Muawiyah dan batilnya ia, yang merupakan titik kesamaan antara kaum Khawarij dan pasukan Imam Ali.
Khawarij, pada zaman Muawiyah dan Yazid, mengadakan berbagai perlawanan. Abdullah bin Ziyad sangat banyak membunuh golongan hawarij dan sangat banyak dari mereka yang dijebloskan ke penjara.
Firkah Khawarij terbentuk pada dekade ke-4 H. Perlawanan mereka juga berlanjut hingga pemerintahan-pemerintahan selanjutnya. Mereka berlindung ke kota-kota lain dan dengan alasan orang-orang lain telah kafir, mereka merampok. Jejak mereka hingga sekarang masih tertulis dalam sejarah, bahkan pemikiran mereka masih terpelihara pada kelompok-kelompok radikal dan takfiri.
 
Jawaban Detil
Khawarij adalah sekelompok dari pasukan Imam Ali As yang memisahkan diri dari pasukan Imam Ali As setelah perang Shifin karena adanya perbedaan pendapat dengan Imam Ali.[1] Khawarij menurut Imam Ali As dan para Imam As adalah orang-orang yang tersesat dan melenceng (mariqin).[2]
Khawarij dan Kepercayaannya terhadap Kesesatan Muawiyah
Dikatakan bahwa kaum Khawarij tidak pernah menilai bahwa Muawiyah berada dalam kebenaran. Mereka, meskipun dengan alasan tertentu melawan Imam Ali, bahkan menganggap bahwa beliau telah kafir, namun tidak pernah sekalipun menerima Muawiyah dan menganggap bahwa Muawiyah berada dalam pihak yang batil, dan hal ini adalah titik kesamaan antara khawarij dan pasukan Imam Ali As.
Terdapat dua nukilan sejarah yang patut kita perhatikan:
  1. Khawarij setelah berpisah dengan pasukan Imam Ali As, kepada beliau, berkata: Kami menerima bahwa kami telah kafir (isyarat tidak menerima adanya peristiwa hakamiyah/arbitrase) namun sekarang kami telah bertaubat. Anda juga seperti kami, akuilah kesalahan Anda dan bertaubatlah! Jika demikian, kami akan bersama dengan Anda akan berjihad dan bergerak ke arah Suriah.[3]
  2. Ketika Imam Ali As datang ke Kufah dan kaum Khawarij berpisah darinya, kaum Syiah menemui Imam Ali As dan berkata: “Kami adalah teman-teman orang yang berteman dengan Anda dan musuh orang-orang yang memusuhi Anda.” Ketika itu, kaum Khawarij berkata: “Anda dan masyarakat Suriah karena kuda-kuda Anda telah berlomba dalam jalan kekafiran, dan antara yang satu dengan yang lainnya saling mendahului: masyarakat Suriah telah berbaiat dengan Muawiyah baik dalam situasi yang menyenangkan maupun tidak, dan Anda berbaiat dengan Ali yang merupakan teman-teman bagi yang berteman dengannya dan musuh bagi  orang-orang yang memusuhinya.”[4]
Imam Ali As dalam perkataannya tentang Khawarij berkata: “Setelahku, jangan berperang dengan kaum Khawarij karena orang-orang yang mencari kebenaran namun salah tidak sama dengan orang-orang yang mencari kebatilan kemudian menemukan kebatilannya.”[5] Sebagaimana yang dikatakan oleh Sayid Radhi: Yang dimaksud Imam atas kelompok kedua ini adalah menginginkan jalan kebatilan dan ia menjalani cara-cara itu, yaitu Muawiyah dan para pengikutnya.[6] Imam Ali As menilai bahwa berjihad melawan Muawiyah dan para pengikutnya lebih penting dari pada berjihad melawan Khawarij.[7]
Dengan memperhatikan analisa yang ada, Muawiyah lebih berbahaya dari pada kaum Khawarij. Meskipun demikian, setelah syahadah Imam Ali dan perjanjian damai Imam Hasan As Muawiyah dihancurkan oleh Khawarij dengan perantara pasukan Irak yang umumnya berada pada barisan kaum Syiah politik dan keyakinan Imam Ali. Oleh itu, terdapat kemungkinan bahwa perkataan Imam Ali As untuk mencegah terjadinya peperangan antara pasukan Irak dan Khawarij, dimana Muawiyah akan menuai keuntungan yang besar dari peperangan ini tanpa membayar biaya mahal.
Sekarang kita akan membahas mengenai sepak terjang dan perlawanan-perlawanan Khawarij pada berbagai pemerintahan:
Khawarij dan Keluarnya dari Bani Umayah
Setelah Imam Hasan As menyerahkan kekhalifahan kepada Muawiyah, beberapa Khawarij berkata: Sekarang tidak ada seorang pun yang siap berperang dengannya. Sekarang bangunlah untuk berperang melawan Muawiyah! Mereka dengan semangat demikian, pergi melawan Muawiyah. Mereka dengan dipimpin oleh “Furuh bin Naufal” pergi hingga ke “Nahliyah” dekat Kufah. Dari sisi lain, Imam Hasan bin Ali pergi ke Madinah. Muawiyah memberi pesan supaya bersiap-siap berperang melawan Furuh, Imam tidak mengabulkan permintaan itu dan menjawab apabila aku ingin berperang, maka pertama kali yang akan kuperangi adalah kau, aku telah melepaskan kekhilafahan, karena merupakan senjata umat dan membuatku untuk menjauhinya. Muawiyah pun segera mengirim pasukan dari Suriah untuk dikirim berperang melawan Khawarij.[8]
Namun karena Khawarij berhasil mengalahkan pasukan Suriah, maka Muawiyah berkata kepada masyarakat Kufah: "Sesungguhnya kalian tidak akan aman bersamaku hingga kepala-kepala kalian akan dipenggal.” Pada akhirnya, masyarakat Kufah sendiri mengambil tindakan untuk tidak mengamalkan nasehat Imam Ali As dan pergi berperang melawan Khawarij." Khawarij berkata: "Celakalah kalian, kaliang menginginkan apa dari kami? Bukankan Muawiyah musuh bersama kita? Biarkan kami memeranginya sehingga mereka akan lenyap, musuh Anda telah kami habisi, dan jika kami yang lenyap, anda akan terbebas dari kami." Masyarakat Kufah berkata: "Kami tidak akan pernah menerima hal itu! Kami bersumpah demi Tuhan, kami akan memerangi kalian."[9]
Setelah kejadian ini, Abdullah bin Ziyad yang juga merupakan boneka Bani Umayah, sangat banyak membunuh kaum Khawarij dan menjebloskannya mereka ke penjara.[10]
Kelompok Zubair dan Khawarij
Salah satu persyaratan yang diterima oleh kaum Khawarij, mereka ikut berperang melawan orang-orang Suriah dengan bergabung dengan kelompok lain[11] pada masa pemerintahan Abdulah bin Zubair. Namun setelah kematian Yazid dan kembalinya pasukan Suriah, orang-orang dari pasukan Ibnu Zubair juga bubar. Akhirnya kaum Khawarij mengadakan perundingan dengan Ibnu Zubair dan meminta pendapat darinya tentan Umar. Pada akhirnya, terjadi persengketaan mengenai sikap keduanya tentang Umar dan akhirnya Khawarij pun memisahkan diri dari pasukan Zubair.[12]
Kemudian, Khawarij selama pemerintahan Ibnu Zubair, menimbulkan permasalahan dan mengadakan pemberontakan. Ibnu Zubair dalam perlawanan yang paling penting, Muhallab, mengirim Gubernur Khurasan ke medan peperangan untuk melawan Khawarij. Berdasarkan sumber-sumber sejarah, Ibnu Zubair menulis surat dan memerintahkan kepada Muhallab:
Bismillahirrahmanirrahim. Dari Abdullah Amirul Mukminin kepada Muhallab bin Abi Sahrah. Amma Ba’du. Harits bin Abdullah telah menulis surat kepadaku mengabarkan bahwa perang telah berkecamuk dan membuat mereka berada pada kondisi yang sulit, oleh itu aku melihat bahwa sebaiknya aku mengangkatmu untuk menjadi pimpinan perang atas mereka dan janganlah takut kepada mereka, angkatlah salah satu anggota keluargamu di Khurasan dan kau sendiri bergeraklah menuju Basrah dan persiapkan pasukanmu dengan sebaik-baik persenjataan dan bergeraklah menuju ke sana semoga Tuhanmu memenangkanmu. Wassalam.[13]
Pada akhirnya, Muhallab pergi menenmui Khawarij dan memerangi mereka dan berhasil menjadikan mereka tercerai berai.[14]
Kelompok Marwan dan Khawarij
Kelompok Marwan ketika memerangi Khwarij juga menderita kekalahan yang berat dalam berbagai kesempatan.[15] Dalam salah satu peperangan, Abdul Malik Marwan mengajak Muhallab yang memiliki pengalaman memerangi Khawarij dengan janji-janji tertentu dan ia juga dengan pertolongan Hujjaj berhasil menguasai Khawarij.[16]
Namun Khawarij yang terbentuk pada dekade ke-4 H, tidak pupus juga. Pada masa Imam Ali As, dan setelah selesainya perang Nahrawan, seseorang berkata kepada Imam Ali As: Wahai Amirul Mukminin! Semua Khawarij telah sirna. Imam Ali As bersabda: Tidak, aku bersumpah demi Tuhan, mereka tidak akan pernah punah. Mereka memiliki nutfah yang tersimpan pada ayah dan rahim-rahim ibu mereka.[17] Ini adalah prediksi Imam akan kenyataan yang yang ada dan mereka pada akhirnya akan pergi tempat yang terpencil untuk berlindung, dengan alasan orang lain kafir, mereka melakukan perampokan pada semua tempat.[18] Bekas-bekas mereka hingga kini masih ada dalam kitab-kitab sejarah dan bahkan pikiran mereka masih hidup pada kelompok-kelompok radikal dan takfiri. Hingga sekarang, mereka menganggap orang-orang yang berada diluar kelompoknya adalah kafir dan bahkan harta benda dan jiwa-jiwa kaum Muslimin adalah halal bagi mereka. [iQuest]
 

[1]  Cara-cara tablig Imam Ali As dalam menghadapi fitnah Khawarij, pertanyaan 69994, Perang Shiffin dan adanya peristiwa hakamiyah, pertanyaan 78193.
[2]  Kulaini, Muhammad bin Ya’qub, Al-Kāfi, Periset: Ghafari, Ali Akbar, Akhundi, Muhammad, jil. 2, hal. 409, Tehran, Dar al-Kitab al-Islamiyah, cet. Ke-4, 1407 H.
[3]  Pengarang tidak diketahui, Akhbār al-Daulah al-Abasiyah wa fihi Akhbār al-Abas wa Waladahu, Periset: Ad Dawari, Abdul Aziz, Mathtabi, Abdul Jabbar, hal. 40, Beirut, Dar al-Thali’ah, 1391 S.
[4]  Miskawaih, Razi, Abu Ali, Tajārib al-Umam, Periset: Imami, Abul Qasim, jil. 1, hal. 555, Tehran, Surusy, cet. Ke-2, 1379 S.
[5]  Syarif Radhi, Muhammad bin Husain, Nahj al-Balāghah, Periset: Subhi Salehi, hal. 94, Qum, Hijrat, cet. 1, 1414 H.
[6]  Ibid, hal. 94.
[7]  Majlisi, Muhammad Baqir, Bihār al-Anwār, jil. 33, hal. 434, Beirut, Dar Ihya al-Tsurats al-Arabi, cet. 2, 1403 H.
[8]  Baladzuri, Ahmad bin Yahya, Insāb al-Asyrāf, periset: Zakar, Suhail, Riyadh, jil. 5, hal. 63-164, Beirut, Dar al-Fikr, Cet. 1, 1417 H.
[9]  Thabari, Muhammad bin Jarir, Tārikh al-Umam wa al-Muluk, (Tārikh Thabari), Periset: Ibrahim, Muhammad Abul Fadzl, jil. 5, hal 166, Beirut, Dar al-Tsurats, cet. Ke-2, 1387 H.
[10]  Ibnu Jauzi, Abdurahman bin Ali, Al-Muntadhām, Periset: Atha, Muhammad Abdul Qadir, Atha, Musthafa Abdul Qadir, jil. 5, hal. 295, Beirut, Dar al-Kitab al-Ilmiyah, cet. 1, 1412 H, Tārikh al-Thabari, jil. 5, hal. 524.
[11]  Ibnu Atsir Jazri, Ali bin Muhammad, Al-Kāmil fi al-Tārikh, jil. 4, hal. 165 Beirut, Dar Shadir, 1385 H.
[12]  Al-Laitsi, Khalifah bi Khayāth bin Abi Hubairah, Tārikh Khalifah bin Khayath, hal. 157, Beirut, Dar al-Kitab al-Ilmiyah, cet. 1, 1415 H.
[13]  Dinawari, Ahmad bin Dawud, Al-Akhbār al-Thiwāl, Abdul Mun’im Amir, Jamaluddin Syayal, hal. 271, Qum, Mansyurat al-Radhi, 1368 S.
[14]  Akhbar al-Thiwāl, hal. 272.
[15]  Ibnu Khaldun, Abdurahman bin Muhammad, Diwān al-Mubtadā wa al-Khabar fi Tārikh al-Arab wa al-Barbar wa min Asiruhum min dzawi Sya’n al-Akbar (Tarikh Ibnu Khaldun), Periset: Khalil Syahadah, jil. 3, hal. 88, jil. 3, hal. 57, Beirut, Dar al-Fikr, cet. Ke-2, 1408 H.
[16]  Mas’udi, Abul Hasan Ali bin Husain, Muruj al-Dzahab wa Ma’ādin al-Jauhar, periset: Daghir, As’ad, jil. 3, hal. 126, Qum, Dar al-Hijrah, cet. Ke-2, 1409 H.
[17]  Nahj al-Balāghah, hal. 93-94.
[18]  Ja’fariyan Rasul, Tārikh Khulafa az Rihlat Payāmbar ta Zawal Umawiyān, hal. 315, Qum, Dalil Ma, 1382 S.
Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat

Menu

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits

Jejaring