Carian Terperinci
Pengunjung
7467
Tarikh Kemaskini 2011/04/19
Ringkasan pertanyaan
Apakah orang biasa boleh menjadi maksum atau tidak?
soalan
Apakah orang biasa boleh menjadi maksum atau tidak?
Jawaban Global

“Kemaksuman” yang bermakna terpelihara dari perbuatan dosa dan lupa memiliki tingkatan-tingkatan dan darjat-darjatnya. Makam tertinggi kemaksuman hanya dikhususkan untuk para Nabi dan wasi mereka. Kemaksuman mereka ini dapat dibuktikan dengan adanya nas-nas al-Quran hadis dan pelantikan mereka untuk memimpin manusia sebagai “khalifatullah”. Adapun orang yang selain daripada mereka juga dapat mencapai dan mengenal pasti kemaksuman meskipun dalam batas-batas tertentu, namun tingkat kemaksuman yang dicapai mereka itu di bawah tingkat kemaksuman para nabi dan wasi. Pengenal pasti kemaksuman orang biasa dapat dibezakan melalui tanda-tanda seperti kemunculan keramat dan mengetahui niat orang lain, bukan melalui teks atau pelantikan sebagai khalifatullah.

Jawaban Detil

Manusia sebagai kewujudan yang bebas berkehendak, diciptakan dengan pilihan yang tepat dan dihiasi oleh iman dan amal shaleh serta dijauhkan dari pelanggaran terhadap perintah mahupun larangan-Nya. Ia boleh meraih kedudukan “khalifatullah” dalam erti ia akan memperolehi segala kesempurnaan sehingga bebas dari segala kekurangan dan keaiban duniawi serta memiliki autoriti alam (wilayah takwini) serta mengetahui hati manusia.[1]

Pilihan tepat manusia berdasarkan ilmu dan kehendaknya yang kuat dalam mengikuti akal, fitrah dan agama. Tatkala ilmu dan kehendaknya bertambah tinggi, ia akan lebih terjaga dari kesalahan. Tidak memberikan tumpuan merupakan sebab terlupa, sehingga jika manusia menumpukan perhatian dan senantiasa mengingat perintah atau larangan Allah Swt, maka ia tidak akan terjerumus ke dalam dosa dan kesalahan kerana lupa. Inilah kedudukan yang disebut sebagai kemaksuman yang merupakan faktor peningkatan manusia ke arah kedudukan “wilâyah dan khilâfah Ilahiyah” secara bertahap.

Para Nabi dan wasi mereka hendaklah berada pada puncak kedudukan tersebut di mana mereka adalah para pemegang amanah wahyu Ilahi yang dikenal sebagai para pemimpin dan contoh teladan kemanusiaan sehingga:

1.     Pesanan Ilahi secara sempurna dan benar sampai kepada manusia.

2.     Orang ramai dapat mempercayai ucapan serta perilaku mereka.

3.     Meneladani kisah kehidupan, sikap dan akhlak mereka agar memperolehi bimbingan melangkah menuju kesempurnaan dan kedudukan khalifatullah. Jalan tersebut akan menyampaikan mereka kepada tujuan “berjumpa Allah” sehingga dengan pertolongan Allah serta kehendak mereka, membuat mereka terpelihara dari segala jenis dosa, kesalahan dan penyimpangan sejak kecil hingga akhir hayat mereka. Hal ini sebagai penyempurna bukti dan menjadikan kepercayaan orang-orang semakin besar kepada mereka sehingga dapat menarik perhatian orang-orang untuk mengikuti jalan mereka. Oleh kerana itu, setiap orang dapat mencapai kemaksukman dan kedudukan khilafah.

Semakin besar upaya untuk meraih kedudukan tersebut dan peningkatan ketaqwaan dilakukan, maka akan semakin bertambah pula mendapatkan bantuan Ilahi. Ini dikeranakan Allah berjanji: "Bertakwalah kepada Allah; Allah akan mengajarkanmu." (Qs. Al-Baqarah [2]:282) dan berfirman: "Dan orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (Qs. Al-Taghabun [64]:11); "Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keredaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang yang berbuat baik. (Qs. Al-Ankabut [29]:69); "Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, nescaya Dia akan memberikan kepadamu (kekuatan) pembeza (antara yang hak dan yang batil di dalam hatimu), menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. (Qs. Al-Anfal [8]:29); "Barang siapa yang mengerjakan amalan soleh, baik lelaki mahupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (Qs. Al-Nahl [16]:97)

Dalam hadis Qudsi dikatakan: ”Jika hambaku sibuk beribadah denganku, maka aku akan menganugerahinya semangat dan keindahan mengingatku sehingga ia mencintaiku dan aku mencintainya dan aku akan menyingkap tabir antara aku dan dia sehingga di saat orang-orang lalai dia tidak lalai (dia tidak akan berbuat dosa dan kesalahan). Jika ia berbicara, pembicaraannya seperti ucapan para nabi dan mereka benar-benar sebagai orang-orang pilihan sehingga tatkala aku ingin memberikan ujian kepada penduduk bumi, aku mengurungkan keinginanku karena mereka."[2]

Kemaksuman merupakan suatu keharusan bagi para Nabi dan Imam As yang telah ditetapkan dan dibuktikan dengan berbagai macam argumen teks dan logika.[3]

Kemaksuman ini tidak dikhususkan kepada mereka sahaja dan barang siapa berusaha, bertaqwa, berilmu dan berkehendak, maka ia akan mendapatkan percikan manfaatnya sehingga muncul tanda-tanda kemaksuman daripadanya. Selain ciri-ciri kemaksuman yang terdapat pada para nabi dan washi mereka, teks dan pelantikan kenabian oleh Allah yang sedia ada merupakan argumen dan dalil terkuat kemaksuman.

Jika tidak demikian, tujuan pengutusan para Nabi dan Imam sebagai pembimbing manusia dan mubaligh, pelaksana serta pembela agama Allah Swt tidak akan sesuai dengan ilmu dan hikmah Ilahi.[4]   Adapun cara mengetahui kemaksuman selain para Nabi dan Imam as ialah bergantung kepada ciri-ciri yang muncul dari mereka sebagai berikut:

1.     Tidak berbuat dosa dalam keadaan dan persekitaran di mana kebanyakan orang tergelincir dalam kesalahan dan perbuatan dosa seperti bercita-cita untuk mendapatkan kedudukan, kemasyhuran dan harta yang banyak.

2.     Muncul kekeramatan dan kejadian yang luar biasa daripada mereka seperti mengetahui niat dan fikiran orang serta menyembuhkan penyakit orang dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang tidak dapat dilakukan oleh orang-orang selain mereka.

3.     Dikabulkannya doa dan kutukan mereka.

4.     Menguasai dan merubah hati orang-orang.

5.     Lapang dada, tenang dan berposisi yang tepat terhadap masalah individu maupun sosial

6.     Perantara curahan nikmat Ilahi atau penolak bencana.

 

Namun perlu diperhatikan bahwa nabi dan wasinya memiliki kedudukan yang tidak mungkin dapat dicapai oleh seorang pun. Di antara para nabi terdapat martabat-martabat di mana Nabi Saw berada pada puncak tingkatan tersebut, kemudian para Imam maksum As, setelah itu para nabi As dan orang-orang lainnya. Kemaksuman dan kedudukan khalifatullah memiliki tingkatan-tingkatan berupa tegak dan melintang (Vertical and Horizontal) yang berbeza-beza di mana untuk mengetahuinya bergantung kepada ilmu Allah Swt.[5]

 

Daftar Pustaka untuk telaah lebih jauh:

1.     Al Qur`an

2.     Jawad Amuli “Tahrir Tamhidul Qawâ`id

3.     Jawad Amuli “Wilâyat dar Qur'ân

4.     Jawad Amuli “ Hikmate Ibâdat

5.     Huseini Tehrani “Tauhidi Ilmi wa A`ini

6.     Sayid Muhammad Bagir Sadr “Khilâfate Insân wa Gawâhie Payâmbarân

7.     Kiya Syamseky “Wilâyat dar Irfân”

8.     Mutahhari “Insân Kamil

9.     Mutahhari “Wilâhâ wa Wilâyathâ

10.  Jawad Maliki Tabrizi “Risâleye Liqâ`ullah



[1]. Lihat indeks: Menjadi Kekasih Tuhan, Kebahagiaan dan Kesempurnaan Manusia, Kedekatan kepada Tuhan.

[2]. Muhammad Husain Husaini Tehrani, Tauhid Ilmi wa Aini, hal. 337.

[3]. Muhammad Taqi Misbah Yazdi, Rah wa Rahnemai Syinasi, hal. 147-212

[4]. Ibid.

[5]. Silakan lihat Indeks: Kemaksuman dan dosa para nabi dalam pada ayat-ayat lahir al-Qur'an.

Terjemahan pada Bahasa Lain
Opini
Bilangan komen 0
Sila masukkan nilai
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Sila masukkan nilai
Sila masukkan nilai

Kategori

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Imam Mahdi (a.j.f) dalam pandangan Syiah.
    8671 Teologi Klasik
    Oleh kerana pertanyaan di atas sangat universal dan meluas, hal ini menyebabkan kami menyentuh tentang sedikit biografi, berita-berita ghaib dan tanda-tanda kemunculan Imam Mahdi (a.j.f).Nama beliau adalah "mim-ha-mim-dal" dan memiliki berbagai gelaran, di antaranya adalah Qaim, Shahibul 'Ashr, Shahibuz Zaman, dsb. Ayahanda mulia ...
  • Apakah Feminisme (fahaman kewanitaan) itu?
    9118 Huquq Dan Ahkam
    Pertanyaan Ini Tidak Mempunyai Jawapan Lengkap. Sila Klik Kategori Jawapan Detail. ...
  • Mengapa Syiah memiliki keyakinan terhadap masalah imāmah dan para imam secara khusus?
    7867 کلیات
    Nampaknya yang anda maksudkan dari pertanyan ialah bagaimana kita dapat meyakini dan memahami peribadi imam. Akan tetapi sebelum menjawab pertanyaan anda seharusnya terlebih dahulu kami menjawab pertanyaan mengapa kita harus meyakini masalah imāmah? Imāmah dalam Islam memiliki nilai penting dan merupakan tingkatan terakhir dalam perjalanan manusia menuju ...
  • Mengapa redaksi “al-Qurba” pada ayat 23 surah Syura anda simpulkan sebagai Ahlulbait (a.s)?
    7878 Teologi Klasik
    Apabila maksud pembicara dari sebuah redaksi atau kata-kata yang digunakan di dalamnya tidak jelas pada setiap kedudukan dan kalimat, maka ia harus dilihat pada petunjuk-petunjuk (qarāin) yang dapat menjelaskan maksud dari ucapannya itu. Berkenaan dengan ayat 23 surah al-Syura “Qul laa as’alukum ‘alaih ajran illa mawaddata fil qurbah” ...
  • Apa yang menjadi faktor yang menyebabkan manusia tersesat dari jalan lurus? Dan apakah hal ini bersifat ikhtiari atau tidak?
    12617 Teologi Klasik
    Mengenal faktor penyimpangan dari jalan lurus memerlukan pengenalan definisi tentang “shirāt” (jalan) dan “mustaqim” (lurus). Dari segi bahasa, makna shirāt (jalan) adalah jalan besar, luas dan jelas. Makna “mustaqim” yang diambil dari klausa “qa-wa-ma,” bermakna sesuatu yang tidak menyimpang dan berliku. Dengan demikian, jalan lurus adalah “shirāt al-mustaqim” ...
  • Apakah maksud wahdatul wujud?
    7135 Falsafah Islam
    Maksud golongan irfan dan ahli hikmah tentang wahdatul wujud bukanlah satu set dunia kewujudan yang dikatakan sebagai Allah (s.w.t). Ini disebabkan penggolongan wujud dan wahdat bukanlah sesuatu yang hakiki. Begitu juga ianya tidak bermaksud penyatuan Allah (s.w.t) dengan kewujudan-kewujudan kerana perkara itu adalah mustahil (dengan maksud dua ...
  • Apakah yang dimaksudkan dengan “arasy” dan “kursi ” (berdasarkan penafsiran yang pelbagai tentangnya)?
    29521 Tafsir
    “Arasy” bermakna sesuatu yang mempunyai atap. Takhta kerajaan juga boleh dinamakan arasy sebagai kiasan (kinayah) daripada kekuasaan dan pemerintahan. Sedangkan “kursi ” juga bermakna takhta dan singgahsana. Kedua-dua kata itu digunakan dalam al-Qur’an. Terdapat banyak tempat dalam al-Qur’an, arasy dinisbatkan kepada Allah ...
  • Apakah malam laylatul qadar ada banyak bilangannya? Apakah siang harinya juga temasuk laylatul qadar?
    10606 شب قدر
    Laylatul qadar adalah malam yang penuh keberkatan dan sangat penting. Sesuai dengan nas ayat al-Qur'an, laylatul qadar terjadi pada bulan Ramadhan. Dalam pertanyaan yang dikemukakan di atas terdapat beberapa kemungkinan seperti berikut: Maksud dari “berapa banyak jumlah” malam laylatul qadar ialah: Malam 19, 21 dan ...
  • Mungkinkah manusia dapat menjalin komunikasi dengan makhluk-makhluk di alam-alam yang lain?
    10041 روح و نفس
    Tidak syak lagi memang ada sebahagian manusia yang dapat menjalinkan hubungan dengan makhluk tertentu di alam lain. Sudah tentu komonikasi ini bukan dengan jalan pengambilan dadah dan minuman keras. Terdapat perbezaan luas berkenaan dengan medium dan jalan yang dapat dijadikan sebagai perantara untuk mencapai informasi tentang perkara ...
  • Perbezaan subjek epistemologi dan falsafah ilmu?
    11006 Falsafah Islam
    A.    Subjek epistemologiadalah makrifat, pengetahuan , alat dan cara-cara mengenal. Namun subjek dalam falsafah ilmu adalah hakikat (quiddity) ilmu dari sudut ia memiliki identityyang menyeluruh.B.    Hubungan epistemologi dengan falsafah ilmu; sebagaimana yang terdapat dalam buku-buku epistemologi komparatif ...

Populer Hits