Pengunjung
4601
Tarikh Kemaskini 2011/07/21
Ringkasan pertanyaan
Dalam perspektif agama Islam dan Syiah, dalam masalah-masalah apa sajakah manusia memiliki ikhtiar dan kebebasan?
soalan
Dalam perspektif agama Islam dan Syiah, dalam masalah-masalah apa sajakah manusia memiliki ikhtiar dan kebebasan?
Jawaban Global

Dengan merujuk pada teks-teks agama dan mencermati kandungan ayat-ayat dan riwayat-riwayat, dapat ditemukan adanya pemahaman akan kebebasan manusia. Makna dari pernyataan ini bukanlah bermaksud manusia itu memiliki kebebasan secara mutlak dan tidak ada satupun faktor atau kekuatan yang mampu memberikan pengaruh atau menguasai ke atas perbuatannya, bahkan ia bermaksud bahawa walaupun seluruh faktor dan kondisi yang ada dengan terpeliharanya kekuasaan dan iradah Ilahi, -tetapi- manusia juga tetap mempunyai kekuatan -pilihan- untuk melakukan suatu aktiviti yang ia ingini dan mampu juga untuk tidak melakukannya dan melakukan perbuatan yang lain. maka itu, manusia bertanggung jawab atas semua perbuatan yang dilakukan dengan iradah nya dan dan tidak ada keterpaksaan atau determinisme (jabr) mutlak yang menguasainya.

Jelaslah bahawa meskipun manusia adalah kewujudan yang memiliki ikhtiar dan kebebasan, namun dalam membentuk struktur jasmani, merubah lingkungan alaminya dalam bentuk yang sesuai, dan pembentukan masa depannya sebagaimana yang dia kehendaki, dia masih tetap memiliki banyak keterbatasan, dan (sehingga dikatakan) kebebasan yang dimilikinya adalah kebebasan yang berbentuk relatif (nisbi).

Dan meskipun manusia tidak mampu memisahkan hubungan dirinya secara sempurna dengan (pengaruh) keturunan, lingkungan alam sekitar, lingkungan sosial, sejarah dan masa, akan tetapi ia mampu melanggari dan melakukan kerosakkan yang banyak terhadap keterbatasan-keterbatasan ini dan membebaskan dirinya dari batasan-batasan cengkaman faktor-faktor ini. Pada prinsipnya, dari satu sisi, dengan hukum kekuatan akal dan ilmu, dan dari sisi lain dari kekuatan kehendak, iradah dan iman, manusia mampu menciptakan perubahan-perubahan dalam faktor-faktor ini dan menerapkannya sesuai dengan keinginannya dan dirinya menjadi penentu dan pemilik dari takdirnya sendiri.
Jawaban Detil

Dengan merujuk pada teks-teks agama dan mencermati kandungan ayat-ayat serta riwayat, akan dapat difahami maksud dari kebebasan manusia. Namun bukanlah maksud ucapan ini bahawa manusia itu mempunyai kebebasan secara mutlak dan tidak ada satupun faktor maupun kekuatan yang mampu memberikan pengaruh dan menguasai perbuatan dan perilakunya, bahkan maksudnya bahawa selain dari seluruh faktor dan kondisi-kondisi dan dengan memelihara (pengaruh) kekuasaan kudrat dan iradah Ilahi (atas perbuatan manusia), manusia juga mempunyai kudrat dan kemampuan untuk melakukan suatu perbuatan yang mana jika dia berkehendak maka boleh saja dia untuk tidak melakukannya dan memilih untuk melakukan perbuatan yang lain. Jadi, manusia bertanggung jawab terhadap segala amal dan perbuatan yang dilakukannya dengan kehendaknya sendiri dan tidak ada keterpaksaan mutlak yang menguasainya.[1]

Dalam dakwaan ini, terdapat berbagai tafsiran yang telah dilontarkan oleh ulama' kalam –tiologi- dan philosofi Islam, dimana sebaik-baik dan seditil-ditil tafsiran adalah tafsiran dari Sadra al-Muta'alihin.

Mulla Sadra berkata: "Fenomena keberadaan dengan segala perbedaan yang dimilikinya dari sisi dzat, sifat dan aktivitu-aktivitinya dan juga dengan segala perbedaannya dari sisi dekat dan jauhnya dari sumber penciptaan, -tetapi- mereka memiliki persamaan dalam satu hal. Dan kesamaan tersebut berupa satu satu hakikat Ilahi yang merangkumi ke atas mereka semua. Dan Hakikat Ilahi ini (iaitu keberadaan mutlak) dalam keadaan ia basit (nonmaterial) dan esa, juga mencakupi ke atas seluruh dimensi alam kewujudan, dan sama sekali tidak ada satu zarah(atom) pun di dalam keluasan kehidupan (alam ini) keluar dari penguasaan hakikat Ilahi dan nurul anwar (Sumber segala cahaya) ini.

Oleh karena itu, sebagaimana yang ada dalam mekanisme penciptaan, keadaan dan keberadaan setiap fenomena kewujudan adalah merupakan keadaan dan kewujudan Tuhan (tidak terpisah dari Zat Allah Ta'ala). Maka itu, perbuatan setiap fenomena juga merupakan perbuatan Tuhan. Dan sudah tentu ini bukanlah bermaksud misalnya bahawa perbuatan Ahmad bukan keluar darinya, bahkan maksudnya bahawa perbuatan Ahmad selain ia merupakan perbuatannya secara hakiki, juga merupakan perbuatan Tuhan.

Kesimpulannya, sebagaimana halnya keberadaan wujudnya Ahmad, pancaindera, deria dan karakteria-karakterianya boleh dinisbatkan kepadanya, perbuatan dan penciptaannya juga boleh dinisbatkan kepadanya, dan kedua-dua ini merupakan nisbat (hubungan) yang hakiki. Oleh itu, pandangan jabr (manusia terpaksa dalam segala tingkah-laku dan halnya) tidaklah benar.

Sebagaimana keberadaan Zaid yang merupakan zat wujudnya sendiri, ia juga boleh dinisnatkan kepadanya secara hakiki, dan juga boleh dinisbatkan kepada Tuhan (kerana wujudnya datang dari Tuhan), ini karena pancaran wujud adalah bersumber dari Tuhan. Ilmu, iradah, kehendak, gerak, diam dan segala yang datang (perbuatan) dari Ahmad selain ia dapat dinisbatkan kepadanya secara hakiki, hal ini juga dapat dinisbatkan kepada Tuhan secara hakiki. Maka itu, manusia pada hakikatnya adalah pelaku dan pencetus kepada perbuatan-perbuatannya sendiri.

Jelas sekali bahawa manusia adalah kewujudan yang bebas dan memiliki ikhtiar, -akan tetapi- dia mempunyai keterbasan yang banyak untuk mencipta struktur psikologinya sendiri, merubah lingkungan tabiat alaminya dalam bentuk yang sesuai dengan kehendaknya dan mencipta masa depannya mengikut keinginannya; iaitu satu kebebasan yang berada di dalam lingkaran yang terbatas.

Keterbatasan-keterbatasan manusia dari beberapa aspek:

 

1.     Genetik

Manusia lahir dengan tabiat dan karakteristik manusia, dan dari satu sudut kedua orang tuanya adalah manusia, maka mahu tidak mahu, dia secara terpaksa dilahir sebagai seorang manusia juga. Dan dari sudut yang lain pula, kedua orang tuanya yang kadang kala mewarisi sifat genetik kulit dari orang-orang tuanya, seperti warna warna kulit, kulit, warna mata dan karakteristik-karakteristik jismani yang lain, dimana semua ini terjadi bukan kerana dia yang memilihnya, bahkan sifat-sifat genetik ini diwarisi secara terpaksa (deterministic / jabr) yang telah menurun kepadanya.

 

2.     Lingkungan alam semulajadi dan kedudukan geografi

Lingkungan alam dan letak geografi manusia dan kawasan yang mana ia membesar dan tumbuh di situ, mahu tidak mahu di situ terdapat rangkaian-rangkaian yang akan memberi kesan ke atas jismani dan psikologis manusia yang berada diluar kehendaknya. –begitu juga- Daerah yang berhawa panas atau dingin, demikian juga padang sahara atau pegunungan turut akan memberi pengaruh terhadap fizikal, akhlak dan psikologis seseorang manusia.

 

3.     Lingkungan sosial

Lingkungan sosial manusia adalah merupakan faktor yang sangat penting dalam pembentukan karakteristik rohani, akhlak dan bahasa manusia, adab-adab umum dan sosial, agama serta mazhab, yang mana ini adalah sesuatu yang biasa diwariskan oleh lingkungan sosial ke atas manusia.[2]

Al-Quran, selain menyatakan untuk masyarakat, -adanya- alam, keperibadian, niat, kekuatan, hidup, mati, ajal, perasaan, ketaatan dan pelangaran -isyan-, dan menganggap bahawa masyarakat dapat memberikan pengaruh dalam perilaku dan tindak tanduk manusia, juga dengan jelas mendakwa bahawa seseorang untuk mampu secara kemungkinannya untuk melanggari dan menyimpang dari aturan-aturan masyarakat.

Dalam surah an-Nisa ayat 97 berkenaan tentang sekelompok orang yang menamakan dirinya sebagai golongan "mustadh'afin" (orang-orang yang tertindas) dalam masyarakat, berfirman: bahawa samasekali keuzuran mereka tidak dapat diterima; kerana paling kurang mereka ini masih lagi boleh berhijrah (dengan firmannya: "Bukankah bumi Allah itu luas sehingga kamu bisa berhijrah?").

Atau di tempat lain berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk." (Qs. Al-Maidah [5]:105)

 

4.     Sejarah dan kejadian yang telah berlalu

Masa lalu dan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada waktu yang lampau juga dapat memberikan kesan yang tidak sedikit dalam pembentukan -syahsiah- manusia. Secara umumnya di antara masa lalu dan masa akan datang bagi setiap kewujudan terdapat hubungan yang pasti dan jelas, yang lalu merupakan nutfah dan benih bagi yang akan datang.

Kesimpulannya bahawa meskipun manusia tidak mampu memisahkan dirinya secara sempurna dari hubungannya dengan unsur-unsur genetik, lingkungan alam, lingkungan sosial, sejarah dan masa, akan tetapi ia mampu dalam batasan yang kurang sedikit untuk melakukan pelanggaran dan kerosakkan terhadap keterbatasan-keterbatasan ini dan membebaskan dirinya dari belenggu cengkaman faktor-faktor ini.

Manusia dari satu sisi dengan berdasarkan hukum kekuatan akal dan ilmu, dan dari sisi yang lain dengan kekuatan kehendak dan iman (yang dimilikinya), mampu untuk menciptakan perubahan-perubahan dalam faktor-faktor ini dan menyesuaikan dirinya dengan keinginannya sendiri serta menjadikan dirinya sebagai pemilik takdirnya sendiri.[3]

kami bukanlah mengingkari faktor-faktor genetik, biologi, dan tabiat dalam membentuk syahsiah dan perilaku manusia, akan tetapi membataskan hanya pada faktor genetik dan struktur biologi manusia yang merupakan faktor-faktor yang boleh memberi kesan (secara mutlak) pada syahsiah dan perilaku manusia dan tidak mempedulikan aspek rohani dan nonmaterial insan adalah hal yang tidak tepat

Dengan terbuktinya keberadaan jiwa yang nonmaterial, iradah (kehendak) bebas manusia adalah dari kemungkinan-kemungkinan jiwa yang nonmaterial, dan dengan memperhatikan kehendak bebas manusia, meskipun peranan faktor-faktor alam tabiat, aksi dan reaksi fizik dan kimia sesuatu yang dapat diterima, akan tetapi noktah yang ditegaskan di sini bahawa peranan perkara-perkara ini tidaklah sampai pada batasan menarik ikhtiar (pilihan) manusia.

Apakah dengan adanya faktor-faktor luaran dan peranan-peranan mereka dalam mengerakkan sebahagian dari tujuan-tujuan, keinginan-keinginan dan aksi-reaksi fizik dan kimia, kita tidak mampu untuk bertahan berhadapan dengan semua faktor-faktor ini? Kita telah mengalami contoh-contoh yang banyak hal-hal semacam ini dalam kehidupan seharian kita dan yang lain.

Undang-undang keturunan pun tidak meniscayakan bahawa seorang anak yang telah mewarisi sebahagian dari sifat-sifat kerturunan dari kedua ibu bapa dan nenek-moyangnya untuk tidak memiliki sedikitpun pilihan. Manusia juga mampu memiliki ikhtiar dalam segala perbuatannya dan melakukan sesuatu yang menyalahi dengan ketentuan semua faktor-faktor ini.

 

Sumber-sumber rujukan untuk kajian lebih lanjut:

Muhammad Taqi Ja'fari, Jabr wa Ikhtiar.

Ja'far Subhani, Sarnewest az Didgoh-e Ilm wa Falsafeh.

Sayyid Mujammad Baqir Shadr, Insan mas'ul wa Tarikh Saz.

Murtadha Muthahhari, Insan wa Sarnewest.

Muhammad Taqi Misbah, Ma'arif-e Quran (Khudo Syenosi, Keihan Syenasi, Insan Syenasi)

 



[1] . Ahmad Wa'idzi, Insan az Didgoh-e Islam, hal. 12, Qom, Daftar Hamkari Hauzah wa Donesygoh, 1375.

[2] . Murthadha Muthahhari, Muqadimeh-I bar Jahon Bini Islami, hal. 270-271, Intisyarat Sadhra, Qom.

[3] . Murtadha Muthahhari, Muqadimeh bar Jahonbini-ye Islami, hal. 272-330.

Terjemahan pada Bahasa Lain
Opini
Sila masukkan nilai
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Sila masukkan nilai

Kategori

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits