Advanced Search
Hits
6587
Tanggal Dimuat: 2011/02/11
Ringkasan Pertanyaan
Dalam niat salat yang mana harus diucapkan, qurbatan ilallâh atau qurbatan ‘indallah?
Pertanyaan
Dalam niat salat yang mana harus diucapkan, qurbatan ilallah atau qurbatan ‘indallah?
Jawaban Global
Dalam mengerjakan salat niat tidak perlu dinyatakan dalam ucapan dan telah mencukupi apabila niat dinyatakan dalam hati untuk mencari keridhaan Allah Swt dan penghambaan di hadapan-Nya sedemikian sehingga apabila ada yang bertanya ia sedang melakukan apa maka ia dapat menjawab bahwa ia tengah mengerjakan salat untuk Allah Swt.
Namun apabila ada seseorang yang ingin menyatakan niat dengan ucapan maka yang dapat disimpulkan dari ayat-ayat lahir al-Quran ia dapat mengucapkan niatnya dengan membaca qurbatan ‘indallah di samping qurbatan ilallah; karena Allah Swt dalam surah al-Taubah berfirman,
"وَ مِنَ الْأَعْرابِ مَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَ الْيَوْمِ الْآخِرِ وَ يَتَّخِذُ ما يُنْفِقُ قُرُباتٍ عِنْدَ اللَّهِ
وَ صَلَواتِ الرَّسُولِ أَلا إِنَّها قُرْبَةٌ لَهُمْ سَيُدْخِلُهُمُ اللَّهُ في‏ رَحْمَتِهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحيمٌ"
“Dan di antara orang-orang Arab Badui itu, ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan untuk memperoleh doa Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Taubah [9]:99)
Pada ayat ini disebutkan bahwa yang menyebabkan kedekatan kepada Allah Swt itu dinyatakan denga kalimat “qurbatan ‘indallah.”
 
Jawaban Detil
Dalam mengerjakan salat niat tidak perlu dinyatakan dalam ucapan dan telah mencukupi apabila niat dinyatakan dalam hati untuk mencari keridhaan Allah Swt dan penghambaan di hadapan-Nya sedemikian sehingga apabila ada yang bertanya ia sedang melakukan apa ia dapat menjawab bahwa ia tengah mengerjakan salat untuk Allah Swt.
Para juris dalam hal ini berkata bahwa Anda tidak perlu menyatakan niat dalam hati atau misalnya dinyatakan dengan ucapan bahwa saya mengerjakan salat empat rakaat salat Zuhur qurbatan ilallâh.”[1]
Namun dibolehkan apabila ada seseorang yang menyatakan niatnya dengan ucapan sebelum takbiratul ihram; karena itu dibolehkan menggunakan salah satu dari dua kalimat ini “qurbatan ilallâh” dan “qurbatan ‘indallâh.” Menggunakan salah satu kalimat ini tidak akan menciderai salat Anda. Kalimat qurbatan ilallâh banyak digunakan oleh orang-orang Arab dan qurbatan ‘indallâh juga nampaknya tidak ada masalah dari sudut pandang bahasa Arab; karena Allah Swt berfirman dalam al-Qur’an:
"وَ مِنَ الْأَعْرابِ مَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَ الْيَوْمِ الْآخِرِ وَ يَتَّخِذُ ما يُنْفِقُ قُرُباتٍ عِنْدَ اللَّهِ
وَ صَلَواتِ الرَّسُولِ أَلا إِنَّها قُرْبَةٌ لَهُمْ سَيُدْخِلُهُمُ اللَّهُ في‏ رَحْمَتِهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحيمٌ"
“Dan di antara orang-orang Arab Badui itu, ada orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan memandang apa yang dinafkahkannya (di jalan Allah) itu sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan untuk memperoleh doa Rasul. Ketahuilah, sesungguhnya nafkah itu adalah suatu jalan bagi mereka untuk mendekatkan diri (kepada Allah). Kelak Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Taubah [9]:99)
Pada kalimat “qurubâtin ‘indallah” kata ‘inda merupakan sifat bagi kata qurubât dan mengikut satu pandangan ‘inda di sini adalah zharf bagi kata yattakhidzu[2] dan mengingat bahwa kata qurubât merupakan bentuk plural dari kata al-qurbah,[3] pada sebagian kamus disebutkan bahwa kata “inda” telah ditetapkan bagi kata qurb dan kedekatan.[4] Karena itu digunakan frase qurbattan indallah. [iQuest]
 

[1]. Sayid Ruhullah Musawi Khomeini, Taudhih al-Masâil (al-Muhassya), Sayid Muhammad Husain Bani Hasyim Khomeini, jil. 1, hal. 532, Cetakan Kedelapan, Daftar Intisyarat Islami, Jami’ah Muddarisin Hauzah Ilmiah Qum, Qum, 1424 H.
[2]. Abdullah bin Husain Abkari, al-Tibyân fi I’râb al-Qur’ân, hal. 188, Cetakan Pertama, Bait al-Afkar al-Dauliyah, Oman-Riyadh.
[3]. Fakhrrudin Turaihi, Majma’ al-Bahrain, jil. 2, hal. 142, Kitabpurusyi Murtadhawi, Tehran, Cetakan Ketiga, 1375 S.
[4]. Hasan Mustafawi, al-Tahqiq fi Kalimât al-Qur’ân al-Karim, jil. 8, hal. 236, Bunggah Tarjamah wa Nasyr Kitab, Tehran, 1360 S.
Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits