Advanced Search
Hits
5546
Tanggal Dimuat: 2012/04/14
Ringkasan Pertanyaan
Ayat “Mereka amat suka mendengarkan (berita-berita) bohong lagi banyak memakan harta haram” bagaimana dapat digunakan sebagai ayat yang mengharamkan suap?
Pertanyaan
Ayat “Mereka amat suka mendengarkan (berita-berita) bohong lagi banyak memakan harta haram” bagaimana dapat digunakan sebagai ayat yang mengharamkan suap?
Jawaban Global

Ayat ini merupakan salah satu ayat yang dijadikan sandaran untuk menetapkan keharaman suap. Keharaman tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Secara leksikal, su-h-t bermakna kehancuran, kebinasaan dan ketiadaan. Dan karena beberapa hal seperti mencari azab dan kehancuran, tiadanya keberkahan, menghilangkan marwah dan lain sebagainya disebut sebagai su-h-t dan suap (risywah) sesuai dengan beberapa riwayat merupakan salah satu obyek suht dan harta haram. Karena itu, makna su-h-t adalah segala sesuatu yang digunakan untuk memperoleh harta dengan cara tidak halal.
  2. Dengan memperhatikan beberapa riwayat dari para Imam Maksum As dalam menafsirkan ayat terkait, di antara obyek penting suht yang dapat dijelaskan adalah suap (risywah);

Dari Imam Shadiq As ditanya tentang suht dan beliau menjawab, “Suht bermakna suap dalam hukum.

  1. Dengan memperhatikan hal-hal di atas, para juris dan ahli tafsir dengan mengharamkan suap dan sogok bersandar pada ayat ini.
Jawaban Detil

Dalam fikih Islam, secara global kehormatan suap telah diterima.

“Mereka amat suka mendengarkan (berita-berita) bohong lagi banyak memakan harta haram” (Qs. Al-Maidah [5]:42) Ayat ini merupakan salah satu ayat yang dijadikan sandaran oleh para juris dan ahli tafsir untuk menetapkan keharaman sogok.

Ayat yang disebutkan di atas adalah ayat yang mendeskripsikan ulama Yahudi yang salah satu karakternya adalah menerima suap dan sogok. Yang dimaksud dengan redaksi kata, “su-h-t” adalah suap dan ulama Yahudi menerima suap dari masyarakat untuk merubah hukum Tuhan.[1]

Redaksi kata “su-h-t” (dengan dhamma sin) derivasinya dari kata “sa-h-t” (dengan fatha sin) bermakna ketiadaan, kehancuran, dan kebinasaan.[2] Perbuatan ini diharamkan karena beberapa hal seperti mencari azab dan kehancuran, tiadanya keberkahan, menghilangkan marwah dan lain sebagainya disebut sebagai su-h-t.[3] Karena itu, makna su-h-t adalah segala sesuatu yang digunakan untuk memperoleh harta dengan cara tidak halal[4] dan dengan ungkapan lain haram.

Dengan memperhatikan beberapa riwayat dari para Imam Maksum As dalam menafsirkan ayat terkait, di antara obyek penting suht yang dapat dijelaskan[5] adalah suap (risywah);

Dari Imam Shadiq As ditanya tentang suht dan beliau menjawab, “Suht bermakna sogok dalam hukum.[6] Dan bahkan menurut sebuah hadis dari Imam Shadiq As, menyogok dalam hukum termasuk kekufuran terhadap Allah Swt.[7]

Karena pekerjaan-pekerjaan tercela dan tidak terpuji pada perbuatan suap dalam hukum dan setiap suap yang dilakukan untuk membatilkan kebenaran dan membenarkan kebatilan meniscayakan pekerjaan tercela dan haram; seperti dusta, memberikan kesaksian secara terpaksa, mengambil uang dari orang yang berhak dan menyerahkannya kepada yang tidak berhak, mendengarkan kesaksian palsu, tiadanya muruah dan lain sebagainya dank arena seluruh perbuatan tidak terpuji ini terdapat dalam perbuatan suap, Rasulullah Saw menjelaskan bahwa suap merupakan salah satu obyek terpenting suht. Kita tahu bahwa ayat yang disebutkan[8] menunjukkan keharaman suht dan memperoleh penghasilan dengan perantara suht[9] dan akibatnya adalah keharaman suap yang merupakan salah satu obyek terpenting suht juga berdasarkan ayat ini haram.

Para ahli tafsir (mufassir) juga dalam menafsirkan ayat ini sebagai suap; sebagai contoh Allamah Thabathabai mengkaji dan membahas ayat ini dan menulis, “Akkalu lisshut artinya memakan sesuatu yang melenyapkan agamanya dan Rasulullah Saw bersabda, “Setiap daging yang tumbuh akibat dari suht atau haram maka api lebih pantas untuknya.” Risywah (suap) juga disebut sebagai suht. Karena itu setiap harta haram yang diperoleh disebut sebagai suht dan konteks ayat ini menandaskan bahwa yang dimaksud dengan suht adalah suap (risywah).”[10]

Poin penting yang harus dijelaskan adalah bahwa apabila orang yang menyerahkan suap dan dengan perantara itu ia memperoleh sesuatu yang batil maka ia telah mengerjakan perbuatan haram dan apabila berada pada tataran memenuhi hak seseorang yang tidak dapat dilakukan kecuali dengan menyerahkan suap maka ia tidak melakukan perbuatan haram. Adapun orang yang menerima suap maka ia telah melakukan perbuatan haram. Terlepas apakah ia menghukum dengan kebenaran atau kebatilan. Menghukum untuk  orang yang menyerahkan suap atau orang yang menentangnya.[11][iQuest]

 

Untuk telaah lebih jauh silahkan lihat beberapa indeks terkait:

Hukum Menyerahkan Suap, Pertanyaan 16481 (Site: id16225)

Hukum Suap, Pertanyaan 6688 (Site: 6959)

 

 

 


[1]. Sayid Muhammad Husain Thabathabai, al-Mizân fi Tafsir al-Qur’an, jil. 5, hal. 341, Daftar Intisyarat Islami, Qum, Cetakan Kelima, 1417.  

[2]. Sayid Ali Akbar Qarasyi, Qâmus Qur’ân, jil. 3, hal. 237, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Teheran, Cetakan Keenam, 1371 S. Ridha Mihyar, Farhang Abjadi Farsi-Arabi, hal. 72, Tanpa Tempat, Tanpa Tahun. Mubarak bin Muhammad Jazri Ibnu Atsir, al-Nihâya fi Gharib al-Hadits wa al-Atsar, jil. 2, hal. 345, Muassasah Mathbu’ati Ismaliyan, Qum, Cetakan Pertama, Tanpa Tahun.  

[3]. Fakhruddin Tharihih, Majma’ al-Bahrain, jil. 2, hal. 204, Riset oleh: Sayid Ahmad Husaini, Kitabpurusyi Murtadhawi, Teheran, Cetakan Ketiga, 1375 S. Muhammad bin Mukarram Ibnu Manzhur, Lisan al-‘Arab, jil. 2, hal. 41, Nasyr Dar Shadir, Cetakan Ketiga, 1414 H.  

[4]. Majma’ al-Bahrain, jil. 2, hal. 204, jil. 2, hal. 41; Miqdad bin Abdullah Siwari Hilli, Kanz al-‘Irfân fi Fiqh al-Qur’ân, jil. 2, hal. 12, Qum, Cetakan Pertama, Tanpa Tahun.  

[5]. Dalam sebuah riwayat dari Rasulullah Saw beberapa hal berikut tergolong sebagai obyek-obyek suht, anjing, minuman keras, bangkai, mahar wanita pezina, suap dalam hukum dan gaji penyihir. Syaikh Shaduq, Man Lâ Yahdhuruhu al-Faqih, jil. 4, hal. 363, Intisyarat Jami’ah Mudarrisin, Qum, 1413 H.  

[6]. Muhammad bin Ya’qub Kulaini, al-Kâfi, jil. 5, hal. 127, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Teheran, 1365 S.

عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ (ع): قَالَ: سَأَلْتُهُ عَنِ السُّحْتِ فَقَالَ: الرِّشَا فِي الْحُكْمِ.

[7]. Al-Kâfi, jil. 5, hal. 127.  

[8]. Kanz al-‘Irfân fi Fiqh al-Qur’ân, jil. 2, hal. 12.  

[9]. Fadhil Kazhimi, Jawad bin Sa’ad Asadi, Masâlik al-Afhâm ila Ayat al-Ahkâm, jil. 3, hal. 9, Tanpa Tempat, Tanpa Tahun.  

[10]. Al-Mizân fi Tafsir al-Qur’ân, jil. 5, hal. 341.  

[11]. Kanz al-‘Irfân fi Fiqh al-Qur’ân, jil. 2, hal. 13

 

 

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Jika kesenangan-kesenangan surgawi bukan ukuran, lantas bagaimana orang-orang surga menarik diri dari satu kesenangan menikmati kesenangan yang lain?
    4847 Teologi Lama
    Tampaknya asal mula pertanyaan ini adalah satu bentuk tolok ukur antara karakteristik-karakteristik dunia dengan persoalan akhirat, penempatan ukuran dan standar tipologi dunia seperti kekurangan, sarat cela, tersebarnya penyakit, dilanda kematian, kelalaian, pertentangan dan kesalahan merupakan karakteristik dari alam semesta, sementara berdasarkan ayat-ayat dan hadis-hadis tipologi alam akhirat ...
  • Kepada siapa sajakah Allah Swt anugerahkan hikmah?
    10120 عقل، علم، حکمت
    Allah Swt dalam al-Quran berfirman: «یُؤْتِی الْحِکْمَةَ مَنْ یَشاءُ وَ مَنْ یُؤْتَ الْحِکْمَةَ فَقَدْ أُوتِیَ خَیْراً کَثیراً» “Allah akan menganugrahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang dianugerahi hikmah tersebut, ia benar-benar telah dianugerahi kebaikan yang yang tak terhingga.” (Qs Al-Baqarah [2]:269) Hikmah, ...
  • Apakah pahala menolong keluarga yang membutuhkan itu lebih besar atau menolong orang lain?
    19579 Zakat dan Sedekah
    Menolong keluarga yang membutuhkan lebih bernilai dan berharga ketimbang menolong orang lain. Imam Ali As meriwayatkan dari Rasulullah Saw yang bersabda, “Mulaillah dari memenuhi kebutuhan-kebutuhan. Ibumu, ayahmu, saudarimu, saudaramu. Kemudian kepada orang yang terdekat. Sedekah tidak akan diterima selagi salah seorang kerabatnya yang masih miskin dan membutuhkan.”
  • Berapa kalikah nama Nabi Isa disebutkan dalam al-Quran?
    9351 Tafsir
    Nama Nabi Isa As disebutkan sebanyak 23 kali dalam al-Quran. Ayat-ayat dan surah-surah yang menyebutkan nama Nabi Isa As adalah sebagai berikut: Surah al-Baqarah (2) ayat 87, 136 dan 253. Surah Ali Imran (3) ayat 45, 52, 55, 59 dan 84. Surah al-Nisa ...
  • Apa yang dimaksud dengan “sedikit dari ketakutan..” pada ayat 155 surah al-Baqarah?
    9396 Tafsir
    Yang dimaksud dengan sedikit (min) pada surah al-Baqarah ayat 155[1] adalah bahwa kaum Muslimin akan diuji dengan sedikit ketakutan – bukan ketakutan yang berkepanjangan – demikian juga sedikit kelaparan, sedikit kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dengan kata lain, Allah Swt pada ayat ini berfirman ...
  • Apakah hakikat ruh berdasarkan hadis-hadis Islam dan mengapa hal ini tidak diutarakan secara komprehensif dalam al-Quran?
    71918 روح و نفس
    Kata ruh mempunyai maksud yang berbeda dalam berbagai disiplin ilmu. Kata ini dalam masing-masing ilmu memiliki makna istilah yang khas, begitu pula dalam al-Quran, terdapat makna tipikal yang yang diungkapkan dengan intepretasi-intepretasi yang berbeda. Terdapat beberapa asumsi mengenai hakikat dari makna ruh yang dipersoalkan pada ...
  • Tolong sebutkan dalil-dalil yang menunjukkan bahwa Abu Thalib As adalah orang beriman?
    10758 Sejarah Para Pembesar
    Hadis yang disebutkan di atas adalah sebuah hadis marfu’ah (hadis yang lemah sanadnya) dan tidak memiliki nilai dari sisi sanad. Namun harap diperhatikan bahwa untuk menetapkan iman Abu Thalib kita tidak memerlukan riwayat ini secara khusus; karena terdapat banyak dalil yang menunjukkan iman Abu Thalib ...
  • Apabila kita punya qadha salat bolehkah kita melaksanakan salat sunnah?
    2939 Salat Qadha dan Salat Istijârah
    Seseorang yang memiliki salat qadha (tetap) dapat mengerjakan salat-salat sunnah (mustahab).[1] [iQuest] [1]. Taudhih al-Masâil, al-Muhassyâ lil Imâm al-Khomeini, jil. 1, hal. 750, Masalah 1373. ...
  • Apakah terdapat pertentangan antara kebebasan manusia dan pembutaaan Tuhan terhadap mata hati para pendosa?
    8864 Teologi Lama
    Terdapat banyak ayat yang membicarakan tentang tertutupnya mata hati, penglihatan, dan pendengaran orang-orang kafir dan kaum munafik, kelompok sesat dan menyimpang, para pendosa dan tukang aniaya.“Khatm” dan “thab’e’” bermakna mengakhiri, mencap, mencetak, menutup, mengunci sesuatu yang terolah dalam bentuk khusus. “Qalb” terkadang berarti bagian dan anggota ...
  • Bagaimana hubungan antara ruh dan badan?
    17206 Filsafat Islam
    Sekaitan dengan hubungan antara ruh dan badan harus dikatakan bahwa badan merupakan salah satu tingkatan dari beberapa tingkatan nafs dan ruh. Atas dasar itu, pada hakikatnya, badan berada pada jiwa dan ruh bukan ruh yang terdapat pada badan; karena berdasarkan Filsafat Hikmah, dengan ...

Populer Hits