Advanced Search
Hits
18486
Tanggal Dimuat: 2009/07/15
Ringkasan Pertanyaan
Apakah itu waktu? Apakah waktu tidak dapat dikendalikan oleh manusia?
Pertanyaan
Apakah ada definisi yang tepat untuk waktu? Apakah manusia dapat mengendalikannya?
Jawaban Global

Salah satu masalah penting dalam Filsafat yang sering dijadikan bahan pembahasan dan banyak perbedaan pendapat tentangnya adalah masalah waktu (zaman).

Kebanyakan filosof berkata: "Waktu adalah ukuran gerak dan wujud yang bersifat tetap dan tak bergerak.  Waktulah yang mengadakan gerak dan gerak termuat di dalam waktu." Mulla Sadra berkata: "Waktu adalah kadar gerak dan ukuran hal-hal yang bergerak sebagaimana dirinya bergerak." Ia menerapkan metode natural untuk menetapkan waktu sebagaimana para ahli ilmu alam menetapkan metode empirik untuk menetapkan masalah-masalah ini.

Mulla Sadra menggunakan argumen biasa untuk menetapkan waktu, yaitu dua benda bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain, yang satu lebih cepat sampai di tujuan tertentu, dan yang lain lebih lambat.

Namun terdapat pembahasan lain yang mengemuka di sini, yaitu apakah manusia dapat mengendalikan dan mengontrol waktu?

Waktu adalah "barang berharga" bagi setiap orang, yang pada dasarnya adalah suatu hal bernilai yang tak dapat tergantikan, tak dapat dibeli kembali serta tak dapat diraih untuk kedua kalinya atau juga diproduksi kembali. Waktu adalah apa yang dijelaskan oleh Imam Ali As sebagai sesuatu yang bergerak cepat bagaikan awan-awan, yang jika diatur dan dikontrol dengan baik maka akan dapat bermanfaat bagi manusia.

Alec Mackenzie dalam bukunya itabnya "Manajemen dan Pemanfaatan Waktu" (Time Management) mendefinisikan "kontrol" demikian: "Mengkontrol waktu berarti ketika waktu tidak dimanfaatkan dengan benar, maka kesalahan itu kembali pada seseorang terkait, bukan orang lain. Oleh karenanya, kita harus benar-benar berusaha untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk dan memperhatikan tabiat negatif kita agar kita dapat memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya."

Jawaban Detil

Salah satu masalah filosofis yang sering dibahas dan memicu banyak perbedaan pendapat tentangnya adalah masalah waktu. Banyak sekali pendapat yang dilontarkan terkait dengan masalah ini yang di antaranya adalah:

1. Waktu adalah perkara yang samar..

2. Tak ada yang disebut waktu.

3. Waktu adalah falak al-aflak.

4. Waktu adalah gerak mutlak.

5. Waktu adalah gerak falak al-aflak.

 

Salah satu masalah penting dalam filsafat yang sering dijadikan bahan pembahasan dan banyak perbedaan pendapat tentangnya adalah masalah atau waktu. Kebanyakan filosof berkata: "Waktu adalah ukuran gerak dan wujud yang bersifat tetap dan tak bergerak.  Waktulah yang mengadakan gerak dan gerak termuat di dalam waktu." Mulla Sadra berkata: "Waktu adalah kadar gerak dan ukuran hal-hal yang bergerak sebagaimana dirinya bergerak." Ia menerapkan metode natural untuk menetapkan waktu sebagaimana para ahli ilmu alam menetapkan metode empirik untuk menetapkan masalah-masalah ini.

Mulla Sadra menggunakan metode natural untuk menetapkan waktu, yaitu dua benda bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain, yang satu lebih cepat sampai di tujuan tertentu, dan yang lain lebih lambat. Lalu ia berkata bahwa dari pengamatan tersebut dapat kita ketahui bahwa di alam ini ada semacam wujud dan ukuran tertentu yang selain benda-benda dan ujung-ujungnya; karena benda-benda dan ujung-ujungnya[1] adalah wujud tetap dan diam. Sehingga dapat kita pahami bahwa ekstensi (imtidad)  itu adalah waktu dan waktu adalah ukuran yang berubah-ubah detik demi detik, dan sumbernya serta pengadanya juga harus berubah-ubah dan hal itu adalah gerak. Karena itu dapat disebut bahwa waktu itu adalah ukuran dan kadar gerak.

Hal tersebtu dapat dijelaskan seperti ini bahwa segala perbuatan dan gerak gerik kita semuanya memiliki urutan (choronos), entah kita kehendaki ataupun tidak. Pertama kita melakukan suatu pekerjaan, lalu setelah itu pekerjaan yang lain. Contohnya kita bisa mengatur program makan sehari tiga kali. Kita pun bisa mengatur pekerjaan apakah yang kita lakukan terlebih dahulu dan mana yang kita akhirkan. Segala pekerjaan yang dilakukan tersebut berada dalam suatu masa yang berkepanjangan, misalnya dari pagi, siang, sore hingga malam, lalu kembali begitu esok harinya. Perpanjangan itulah disebut waktu, yang bukan merupakan kayalan, melainkan sesuatu yang ril dan nyata. Kita menyebutnya, jam, menit, detik dan seterusnya.

Ibnu Sina berkata: “Orang-orang yang berkata bahwa waktu adalah keterkaitan tertentu terhadap suatu perkara, misalnya, kita katakan: Seseorang "datang" di saat "matahari terbit"; atribut "datang" dengan "matahari terbit" adalah atribut waktu. Waktu itu sendiri bukanlah seseuatu yang berdiri sendiri (secara esensial bukanlah apa-apa), melainkan sesuatu yang dikaitkan dengan terjadinya suatu kejadian (seperti kedatangan seseorang  yang dikaitkan dengan saat matahari terbit).

Perkataan Ibnu Sina ini sangat detil sekali. Perkataannya dapat diartikan begini bahwa Waktu adalah sesuatu yang dapat dipahami ketika suatu pekerjaan atau peristiwa dinisbatkan dengan gerak-gerak tertentu, seperti gerak tata surya (rotasi bumi, revolusi dan gerakan bumi mengelilingi matahari, dan seterusnya). Jadi sebenarnya secara esensial "waktu" itu tidak ada.[2]

Namun pembahasan lain yang perlu dikaji adalah, apakah umat manusia dapat mengkontrol dan mengendalikan waktu? Ketika berbicara tentang "waktu", kita menemukan banyak isyarat dan singgungan dalam teks-teks agama. Dalam Al-Qur'an Tuhan pernah bersumpah "demi waktu."[3] Jelas ketika Tuhan bersumpah demi sesuatu, pasti sesuatu itu merupakah hal yang sangat penting. Hal itu menunjukkan bahwa waktu dalam agama memiliki posisi yang sangat dipentingkan. Imam Ali As saat menyinggung masalah ketakwaan dan kezuhudan berkata tentang pentingnya waktu: "Wahai hamba-hamba Allah, sadarlah bahwa masa akan melakukan hal yang sama kepada kalian sebagaimana kepada orang-orang yang telah mendahului kalian. Waktu yang telah berlalu tak dapat kembali lagi dan yang tersisa tidak akan kekal abadi.”[4]

Waktu adalah "barang berharga" bagi setiap orang, yang pada dasarnya adalah suatu hal berharga yang tak dapat tergantikan, tak dapat dibeli kembali serta tak dapat diraih untuk kedua kalinya atau juga diproduksi kembali. Waktu adalah karunia Ilahi yang dapat sangat bermanfaat bagi manusia jika diatur dengan baik dan benar. Yakni manusia dapat memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya jika dilakukan manejemen yang benar. Oleh karena itu para pakar berpendapat bahwa istilah "manajemen waktu" tidaklah benar, yang benar adalah "Memberdayakan teknik pemanfaatan waktu."

Pada dasarnya mereka tidak berkeyakinan bahwa waktu dapat dikontrol, dipercepat atau dilambatkan. Karena itu, yang dimaksud dengan manajemen waktu adalah manajemen diri sendiri, menjalankan program tertentu yang dapat mencegah terbuangnya waktu secara sia-sia. Karena mau tak mau waktu akan berlalu dan kita yang harus berusaha untuk memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Teks-teks agama kita pun juga membenarkan pemahaman tersebut. Misalnya Imam Ali As dalam Nahj al-Balâghah berkata: "Menyia-nyiakan kesempatan adalah kesedihan."[5] Beliau juga pernah berkata: "Kesempatan berlalu bagaikan berlalunya awan."[6]

Perlu sekali kita memahami faktor-faktor yang menyebabkan tersia-siakannya waktu. Karena dengan itu kita dapat menyembuhkan penyakit "menyia-nyiakan waktu".

Alec Mackenzie dalam bukunya "Manajemen dan Pemanfaatan Waktu" (Time Management) mendefinisikan "kontrol" demikian: "Mengontrol waktu berarti ketika waktu tidak dimanfaatkan dengan benar, maka kesalahan itu kembali pada orang yang bersangkutan, bukan orang lain. Karena itu, kita harus benar-benar berusaha untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk dan memperhatikan tabiat negatif kita agar kita dapat memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya."[7]

Dengan menyimak ucapan-ucapan para pakar, begitu juga anjuran-anjuran dalam agama, dapat kita pahami bahwa manusia tidak dapat mengkontrol waktu dan menguasainya. Namun manusia dapat melakukan manajemen kegiatan serta mengatur prioritas setiap pekerjaannya sehingga waktu yang telah dikaruniakan oleh Tuhan itu dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya. [iQuest]

 


[1]. Ujung-ujung benda berupa permukaan, garis dan titik. 

[2]. Sajjadi, Sayid Ja'far, Farhang e Istilahat-e Falsafi-e Shadra, hal. 251, Wizarat-e Farhang, Cetakan Pertama, Teheran, 1379 S.

[3]. “Demi waktu.” (Qs. Al-'Ashr [103]:1)

[4]. Nahj al-Balâghah, Khutbah 156, terjemahan Musthafa Zamani, hal. 370.

[5]. Ibid, Hikmah 118.

[6]. Ibid, Hikmah 21.

[7]. Alec Mackenzie, Mudiriyat Bahrewâri al-Zamân (Time Management), Terjemahan Persia oleh Rezapur, Sayid Muhammad Ridha, Intisyarat-e Chame, Cetakan Keempat, 1377 S.

 

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Apa hakikat kepamungkasan agama Islam? Dan apa saja kritikan yang menurut Dr. Soroush yang dapat dilontarkan terhadap masalah ini?
    10024 Kalam Jadid
    Kiranya kita harus memerhatikan beberapa poin berikut ini: 1.     Nabi saw disebut sebagai khatam al-anbiya dan sebagai ikutannya kepamungkasan (khâtamiyyah) agama Islam disebutkan pada ayat 40 surah al-Ahzab dan makna ayat menandaskan ...
  • Apa yang menjadi sebab tingginya kedudukan Sayidah Maryam as?
    8823 زن
    Dalam Al-Quran dan hadis disebutkan bahwa Sayidah Maryam As binti Imran As lahir dari keluarga miskin yang tak mampu mengelolah hidup sehari-hari karena kondisi ekonominya (karena ayahnya meninggal dunia sebelum ia lahir). Oleh karena itu ia dibesarkan oleh Nabi Zakaria As, istri dari bibi Sayidah Maryam As.
  • Apa yang dimaksud dengan argumen keteraturan itu?
    10689 Teologi Lama
    1.    Terdapat sejumlah argumen dan burhan untuk mengenal dan membuktikan eksistensi Allah Swt dan pada argumen ini terdapat beberapa metode yang kerap digunakan.Dari segi metode, argumen-argumen ...
  • Apa yang dimaksud dengan mudhârabah?
    5565 بیشتر بدانیم
    Mudhârabah dalam istilah fikih adalah perjanjian dimana seseorang sebagai pemilik modal memberikan modalnya kepada orang lain untuk dipakai berdagang (membuka usaha), dan keuntungan yang mereka peroleh akan dibagi dua. Dengan ungkapan yang lebih jelas, mudhârabah diartikan sebagai akad (persetujuan) dan perjanjian di antara dua orang yang melakukan ...
  • Apakah mikraj itu? Apakah nabi-nabi lain selain Rasul Saw juga melakukan mikraj?
    12117 Isra dan Mikraj
    Mikraj dalam bahasa Arab memiliki makna alat atau perantara yang dengan bantuannya bisa menaik ke atas, akan tetapi dalam riwayat-riwayat dan tafsir, kata ini berkaitan dengan perjalanan jasmani Rasulullah Saw dari Mekah ke Baitul Muqaddas, dan dari sana ke langit, setelah itu kembali lagi ke negerinya sendiri.
  • Apakah dosa besar akan diampuni?
    31901 Akhlak Praktis
    Dosa besar merupakan sebuah dosa yang dijanjikan azab dalam al-Qur’an atau dalam riwayat bagi mereka yang mengerjakannya. (Terdapat beberapa kriteria lainnya yang disebutkan terkait dengan sebuah perbuatan sehingga disebut sebagai dosa besar). Demikian juga dosa kecil dengan adanya pengulangan (dengan getol melakukan hal tersebut) akan berubah menjadi ...
  • Apa yang dimaksud dengan tauhid sifat itu?
    10975 Teologi Lama
    Yang dimaksud dengan tauhid sifat adalah bahwa sifat Tuhan adalah identik dengan Zat-Nya. Artinya apabila kita berkata Tuhan itu Alim hal itu tidak bermakna bahwa Zat Tuhan berbeda dan ilmu-Nya juga berbeda, melainkan maknanya adalah bahwa Tuhan itu adalah identik ...
  • Tolong Anda jelaskan empat mukjizat dari mukjizat Rasulullah Saw yang disebutkan dalam al-Qur’an?
    24017 Tafsir
    Mukjizat adalah sebuah praktik yang dilakukan para nabi untuk membuktikan klaim kenabiannya dan orang lain tidak mampu melakukan hal yang sama. Al-Qur’an merupakan mukjizat terbesar Nabi Muhammad Saw. Dalam al-Qur’an terdapat banyak ayat yang menetapkan bahwa kitab Ilahi ini adalah mukjizat. Di samping itu, terdapat juga banyak ayat dalam ...
  • Siapakah yang dimaksud dengan orang-orang Majusi?
    50839 اهل کتاب
    Kata “majusi” yang disebut dalam bahasa Arab yaitu orang-orang Zoroaster diadaptasi dari kata “ma-gu-sy” atau “magu” Persia kuno yang kemudian menjadi Magus setelah kata ini masuk dalam peristilahan bahasa Yunani. Kata magic dalam bahasa Inggris juga diadopsi dari kata ini. Dengan masuknya kata ini ke dalam bahasa ...
  • Apakah Hawa diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam? Apakah hal ini tidak bertentangan dengan al-Quran?
    8184 زن
    Riwayat-riwayat yang ada dalam kaitannya dengan masalah ini disebutkan dalam kitab-kitab Ahlusunnah dan juga sebagian literatur Syiah. Mungkin dapat dikatakan pada pandangan pertama bahwa ayat-ayat al-Quran juga menyoroti masalah ini. Namun harus dikatakan bahwa penetapan atau penafian masalah yang disebutkan tidak dapat disimpulkan dari al-Quran secara ...

Populer Hits