Advanced Search
Hits
17297
Tanggal Dimuat: 2014/02/16
Ringkasan Pertanyaan
Bagaimanakah cara Jibril menerima dan menyampaikan wahyu kepada Nabi Muhammad Saw?
Pertanyaan
Bagaimanakah cara Jibril menerima dan menyampaikan Wahyu kepada Nabi Muhammad Saw?
Jawaban Global
Pemahaman ihwal hakikat wahyu dan bagaimana cara malaikat menerima serta menyampaikan wahyu kepada nabi adalah termasuk ilmu yang berada di luar batas pengetahuan manusia dan sulit serta tidak mungkin memahami hakikat tersebut bagi yang bukan nabi dan imam maksum.
Allamah Thabathaba’i dalam hal ini mengatakan: “Hal yang patut diperhatikan adalah mencerna wahyu bagi kita merupakan sebuah misteri serta kita tidak punya informasi bagaimana wahyu tersebut dan seperti apa penyampaiannya. Hakikat-hakikat (mengenai wahyu) tersebut tidak kita pahami; yakni terdapat suatu korelasi nyata di antara inti-inti ajakan agama dari makrifat-makrifat, akhlak, serta hukum dan aturan-aturan yang tidak terjangkau oleh pikiran kita; karena jika hubungan antara hal-hal tersebut adalah persis sama dengan yang kita ketahui, takkan disangsikan lagi bahwa pengertian wahyu (akan) menjadi (sama seperti pengertian dari) yang mencerna atau yang memahaminya yaitu pengertian pikiran kita sendiri, padahal tidaklah demikian adanya.”[1]
Tentu saja, hal ini tidak berarti bahwa kita tidak berusaha untuk memahaminya; akan tetapi jika tak dapat memiliki seluruh air laut, setidaknya kita tetap harus meminumnya untuk melegakan rasa haus dan melepaskan dahaga, oleh karenanya, ada beberapa poin yang dijelaskan oleh para filosof mengenai proses penerimaan wahyu kepada Nabi Saw:
  1. Filosof meyakini bahwa dalam jiwa rasional manusia harus terdapat tiga kemampuan khusus yang terkumpul untuk dapat mencapai pada makam kenabian,
    1. Dapat mendengar kata atau kalam Tuhan dan melihat para malaikat Allah.
    2. Pengetahuan akan poin ini bahwa semua ilmu berasal dari Tuhan yang diberikan kepada manusia.
    3. Memiliki kekuatan untuk menguasai alam materi; dengan kata lain, alam material taat kepadanya.
  2. Filosof terkait dengan bagaimana cara untuk dapat mencapai ketiga syarat kenabian,mengatakan: jiwa rasional manusia memiliki dua bentuk kekuatan
    1. Daya pencerapan.
    2. Daya gerak dan menggerakkan
Daya pencerapan juga memiliki dua bentuk.
  1. Daya pencerapan akal
  2. Daya pencerapan partikular dan indrawi
Ketiga syarat kenabian ini diperoleh dari pengaruh kekuatan dan kesempurnaan dari ketiga daya tersebut.
Para pemikir tersebut dalam penjelasannya mengatakan: kesempurnaan daya pencerapan akal adalah memperoleh seluruh pengetahuan-pengetahuan tanpa usaha keras belajar dan mempelajari, dan dalam waktu yang sangat singkat dengan kekuatan pertimbangan.
Kesempurnaan potensi pencerapan Indrawi dan partikular khususnya daya imajinasi adalah sebagaimana halnya pada kesempurnaan kekuatan dan kemampuan, namun pada akhirnya adalah taat dan dan mematuhi  daya akal sebagaimana pada saat terhubungnya jiwa dengan akal aktual (yang merupakan pancaran berbagai ilmu dan kesempurnaan dengan izin Tuhan dan Jibril adalah manifestasi dari akal aktual ini) daya imajinasi akan terentang  sampai batas kemampuan akal dimana setiap bentuk tergambar dalam jiwa sebagai abstraksi dan universal, gambaran dan khayalan darinya pada daya imajinasi sebagai representasi dan partikular.
Jadi jika objek-objek pahaman akal adalah entitas-entitas non materi maka daya imajinasi akan menggambarkannya secara personal dari individu-individu manusia yang memiliki kesempurnaan. Dan jika objek-objek pahaman akal bermakna non materi dan hukum-hukum universal maka daya imajinasilah yang menggambarkannya dalam bentuk kata-kata dan dalam keterangan serta kefasihan yang sempurna.[2]
Namun mengenai cara penerimaan wahyu melalui malaikat, nampaknya penerimaan wahyu melalui malaikat pada hakikatnya adalah demikian: yaitu seperti halnya dengan modus eksistensial dan keberadaan malaikat tersebut yang murni dari hakikat “realitas agung” dan atau manifestasi serta perwujudan dari “jelmaan” dan tajalli realitas agung; yaitu wujud malaikat tidak berbeda dengan wujud wahyu, pengetahuan dan ilmu. Malaikat wahyu merupakan emanasi murni dan manifestasi dari ilmu Tuhan. Mengenai metode penyampaian wahyu kepada nabi harus dikatakan bahwa penyampaian wahyu melalui malaikat kepada nabi sebenarnya adalah korelasi, bahkan unifikasi jiwa dan ruh nabi dengan malaikat dimana efek dari unifikasi tersebut jiwa dan ruh Nabi juga menjadi manifestasi ilmu Allah. [iQuest]
 

[1]. Sayyid Muhammad Hussain Thabathabai, Majmu’e Rasâil, (disusun oleh Sayyid Hadi Khusru Shahi), jil. 1, hal. 107, Yayasan Bustan Kitab, Qom, Cet.ke-II, 1388 S.
[2] Lihat Hasan Hasan Zadeh Amuli, Nushûsh Aal-Hikam bar Fushûsh Aal-Hikam, hal. 197-200, Rajâ’, Tehran, Cet. II, 1375 S.
Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Kalau memang Imam Ali As bermusuhan dengan para khalifah, lantas mengapa Imam Ali memilih nama para khalifah untuk putra-putrinya?
    8933 Teologi Lama
    Dengan merujuk kepada lilteratur-literatur sejarah, kita akan mengetahui bahwa Abu Bakar bin Ali adalah Putra Laila yang merupakan putri dari Mas’ud Tsaqafi, ‘Umar bin Ali adalah putra Ummu Habib dan Utsman bin Ali Adalah putra Ummu Banin dan mereka semua adalah putra-putra Imam Ali As.
  • Apa maksud dari mengangkat bukit Thur di atas kepala kaum Bani Israel?
    19859 Tafsir
    Dalam beberapa ayat lain telah dijelaskan kata “dan telah kami angkat di atasnya bukit Thur” atau semacamnya berkaitan dengan kaum Bani Israel sesuai dengan kitab-kitab tafsir yang ada, ayat ini mengisyaratkan tentang sebuah kejadian sejarah yang terjadi atas kaum Bani Israel dikarenakan pembangkangan mereka kepada hukum-hukum ilahi di ...
  • Apakah Nabi Ibrahim memiliki seorang istri yang bernama Qanthura atau Qathura dan kaum Madyan berasal dari generasi Qanthura atau Qathura?
    33010 Sejarah Para Pembesar
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda memilih jawaban detil. ...
  • Apakah malam lailatul qadar itu banyak bilangannya? Apakah siangnya juga temasuk lailatul qadar?
    19439 Tafsir
    Lailatul qadar adalah malam yang penuh berkah (mubarak) dan merupakan malam yang sangat penting. Sesuai dengan nash ayat al-Qur'an, lailatul qadar  terjadi pada bulan Ramadhan. Terkait dengan apa yang mengemuka dalam pertanyaan di atas terdapat beberapa kemungkinan sebagai berikut:1.     Maksud dari banyaknya bilangan jumlah ...
  • Mengapa Allah Swt memerintahkan supaya al-Qur’an dibaca dengan tartil dan pelan?
    27873 Ulumul Quran
    Ungkapan tartil, “Warattil al-Qur’an tartila”[1] yang aslinya bermakna “tanzhim” dan “tartib mauzun” di sini bermakna membaca ayat-ayat al-Qur’an secara perlahan dan irama yang diperlukan, mengucapkan huruf-hurufnya dengan benar, menjelaskan kalimat-kalimatnya, mencermati dan memikirkan makna-makna ayat-ayat dan berkontemplasi pada hasil-hasilnya. Jelas bahwa membaca ...
  • Apa makna dari kesadaran diri menurut al-Qur’an?
    32804 Tafsir
    Kesadaran diri dalam al-Qur’an mengandung pengertian menemukan jati diri dengan cara mendidik dan menghidupkan potensi-potensi fitrah dan internal yang terdapat pada wujud dirinya dan kemudian menjiwai (memahami dengan hati) hakikat-hakikat keberadaan dan nama-mana serta sifat-sifat Ilahi. Kesadaran diri memiliki tingkatan dan cabang-cabang yang beragam seperti ...
  • Apa makna al-shamad pada ayat Allah al-Shamad?
    20414 Tafsir
    Terdapat banyak makna sehubungan dengan kata “sha-ma-d” dalam beberapa kamus, riwayat, dan tuturan-tuturan para ahli tafsir; karena itu pada kesempatan ini kami akan menjelaskan secara ringkas masing-masing dari tiga kategori ini, kamus, riwayat dan tafsir sebagai berikut.A.    Raghib Isfahani dalam ...
  • Apa yang dimaksud dengan “Mukminin” dan kelompok manakah dari umat Muslim?
    4112 اسلام و ایمان
    Mukminin (orang-orang beriman) adalah orang-orang yang membenarkan (tashdiq) keberadaan Tuhan dan berserah diri di hadapan-Nya; beriman kepada risalah seluruh nabi Ilahi dan beramal atasnya. Dengan memperhatikan bahwa iman memiliki tingkatan, keyakinan kepada Ahlulbait As merupakan tingkatan utama dan tinggi iman. Hal ini berdasarkan ayat-ayat al-Quran dan riwayat-riwayat ...
  • Apa yang harus kami lakukan di hadapan para pengemis jalanan?
    36883 Akhlak Praktis
    Membantu dan menolong orang yang membutuhkan bahkan non-fakir sekalipun merupakan sebuah kebaikan. Namun mengingat keterbatasan sumber-sumber finansial dan keuangan maka kita harus membuat dan mempertimbangkan skala prioritas yang mana saja yang harus didahulukan. Dewasa ini, terdapat beberapa yayasan yang mengemban tugas untuk mengidentifikasi dan mengurus orang-orang fakir. Menolong yayasan-yayasan ...
  • Apa tafsir redaksi ayat, “Iyyaka Na’budu wa Iyyakan Nasta’in?”
    45013 Tafsir
    Terjemahan ayat “Iyyaka Na’budu wa Iyyakan Nasta’in” adalah “(Tuhan kami) Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”[1] Ibadah kepada Allah Swt adalah menunjukkan bahwa Anda dimiliki oleh Allah Swt.[2] Isti’ânah (memohon pertolongan), meminta hal-hal yang bersifat ...

Populer Hits