Advanced Search
Hits
10379
Tanggal Dimuat: 2015/07/30
Ringkasan Pertanyaan
apakah mereka yang pernah melakukan satu kesalahan dapat ber amar makruf nahi mungkar terhadap apa yang pernah dia lakukan?
Pertanyaan
Bagaimana hukumnya jika kita senang memberi nasehat pada orang lain, sementara kita terkadang masih sering melakukan kesalahan, terlebih lagi apa yang kita nasehati itu? Misalnya larangan menggunjing, sementara ada saat-saat dimana kita hilang kendali, kemudian melakukan apa yang kita nasehati pada orang lain. namun, masih selalu ada niat untuk terus memperbaiki diri hari demi hari. apa sebaiknya kita berhenti dulu untuk memberi nasehat pada orang lain, sampai kita benar-benar bisa melakukan apa yang ingin kita nasehatkan itu?
Jawaban Global
Meskipun dalam syarat-syarat amar makruf nahi mungkar tidak disebutkan bahwa ia sendiri juga harus beramal atas apa yang diserukannya. Maksudnya ajaran-ajaran agama tidak menyebutkan bahwa salah satu syarat amar makruf dan nahi mungkar itu adalah orang yang menyerunya juga harus konsekuen terhadap apa yang diserukannya yaitu ia telah beramal sebelum menyeru orang lain.
Bagaimanapun, persoalan ini dapat ditinjau dari dua sisi:
  1. Terkait dengan orang-orang yang tidak begitu meyakini perbuatan-perbuatan makruf dan tidak meninggalkan hal-hal yang haram, namun di hadapan orang memberikan kesan seakan-akan beramar makruf, cepat memberikan respon kesalahan kecil orang lain,  berlagak di depan orang banyak dan dengan tujuan untuk merusak orang lain berdalih seakan-akan beramar makruf. Al-Quran sangat memperingati orang-orang seperti ini dan mengatakan:
«یا أَیُّهَا الَّذینَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ ما لا تَفْعَلُونَ* کَبُرَ مَقْتاً عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا ما لا تَفْعَلُونَ»
“Hai orang-orang yang beriman mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan, amat besar kebencian di sisi Allah bila kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan.” (Qs. Al-Shaf [61]:2-3)
 
Di ayat lain al-Quran mengatakan:
«أَ تَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَ تَنْسَوْنَ أَنْفُسَکُمْ وَ أَنْتُمْ تَتْلُونَ الْکِتابَ أَ فَلا تَعْقِلُونَ»
“Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebaikan (dan beriman kepada seorang Nabi yang tand-tandanya terdapat di dalam kitab Taurat), sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?!” (Qs. Al-Baqarah [2]:44)
 
Orang-orang seperti ini yang melupakan kewajiban dan tanggungjawabnya sebagai seorang manusia dan sibuk mencari-cari kesalahan orang lain. Akibatnya, Tuhan murka terhadap mereka dan menjadikan mereka orang-orang tercela. Allah Swt berkata (kepada mereka) sebelum kamu memperbaiki kesalahan orang lain perbaiki dulu kesalahan dirimu sendiri dan sibuklah memperbaiki diri sendiri.
 
  1. Namun kebanyakan perkara-perkara tidak demikian adanya; yakni seseorang yang melakukan amar makruf nahi mungkar yang mengakui kesalahan dan kelemahan diri sendiri, akan tetapi dia memberikan peringatan atas kebaikan saudara seiman baik laki-laki maupun perempuan. Di sinilah (yang namanya) amar makruf nahi mungkar dari ikatan hubungan persaudaraan antara orang-orang berimana inilah untuk mengangkat derajat maknawiyat mereka.
Al-Quran menyebutkan:
«وَ الْمُؤْمِنُونَ وَ الْمُؤْمِناتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِیاءُ بَعْضٍ یَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَ یَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْکَرِ
وَ یُقیمُونَ الصَّلاةَ وَ یُؤْتُونَ الزَّکاةَ وَ یُطیعُونَ اللَّهَ وَ رَسُولَهُ أُولئِکَ سَیَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزیزٌ حَکیمٌ»
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, menegakkan salat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. Al-Taubah [9]:71)
 
Di ayat lain al-Qur’an menyebutkan tentang orang-orang seperti ini :
«...الَّذینَ آمَنُوا وَ عَمِلُوا الصَّالِحاتِ وَ تَواصَوْا بِالْحَقِّ وَ تَواصَوْا بِالصَّبْر»
“Kecuali  orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, saling nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran, dan saling nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (Qs. Al-Ashr [103]:3)
Tawashâ berarti nasihat yang ini pada yang itu dan yang itu pada yang ini, tawashâ bilhaq berarti saling menasehati kepada yang hak (kebajikan), nasehat untuk mengikuti yang hak dan menetap serta istiqamah pada jalan hak (kebaikan).[1]
Yang besar memberikan nasihat kepada yang kecil, yang kecil pada gilirannya akan cenderung memberi nasehat seperti orang besar; orang pintar memberi nasehat kepada orang bodoh dan orang bodoh juga menjalankan nasihat (orang pintar). Dan ini dasar lingkupan pelaksanaan pengembangan kewajiban amar makruf nahi mungkar. Dan dengan demikian perintah wajibnya mengajak orang-orang kepada-Nya dan menyampaikan risalah-risalah-Nya kepada semua khalayak serta membimbing orang-orang bodoh dan yang sejenisnya menjalankannya secara meluas.[2]
Dengan memperhatikan apa yang telah dijelaskan, lebih baik penasehat juga mengamalkan apa yang dikatakannya, namun jika ia tidak mengamalkannya tapi juga tidak berniat untuk memberi kesan dan merusak karakter orang lain maka hal itu tidak dapat dijadikan alasan untuk meninggalkan amar makruf nahi mungkar, akan tetapi selain harus memperbaiki diri juga tetap beramar makruf nahi mungkar kepada orang lain dan juga menerima beramar makruf  orang terhadap diri sendiri sehingga kita masuk dalam golongan orang-orang Mukmin yang memberi nasehat kepada yang hak (kebajikan). [iQuest]
 

[1] .Thabathabai, Sayyid Muhammad Hussain, al-Mizân fi Tafsir al-Qur’ân, jil. 20, hal. 375, Terbitan Islami, Qom, 1417 H.
[2].   Mutarjaman, Tafsir Hidayah,jil. 18, hal. 314, Bunyad Pazhoheshaye Islami Astan Qods Radzawi, Mashad, Cet.pertama, Tahun 1377S.
Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Apa hukumnya membatalkan salat dengan sengaja menurut fatwa Pemimpin Agung Revolusi Imam Khamenei?
    16082 Hukum dan Yurisprudensi
    Haram hukumnya membatalkan dan memutus salat wajib dalam kondisi ikhtiar (tidak darurat) hanya saja perbuatan ini tidak menyebabkan orang harus membayar kaffarah. Apabila seseorang ragu dan syak bahwa apakah salatnya telah benar ia kerjakan atau tidak maka ia tidak boleh mengindahkan ragunya itu dan harus bersandar bahwa salat yang telah ...
  • Apa yang disebut musyârakah atau perkongsian?
    5333 بیشتر بدانیم
    Musyârakah dalam fikih Islam digunakan dalam dua makna: Yaitu dua atau beberapa orang dalam sesuatu (harta, manfaat (keuntungan), utang atau kepemilikan benda) secara kolektip menjadi mitra kerja. Aturan perusahan seperti ini menegaskan bahwa tidak ada satu orang pun yang dapat menggunakan modal (harta) bersama tersebut ...
  • Mengapa Syaikh Kulaini Ra tidak memperlihatkan kitab al-Kâfi itu kepada Imam Zaman Ajf?
    8465 Para Pembesar
    Terdapat dua pandangan di antara para ulama sehubungan dengan pertanyaan apakah Syaikh Kulaini memperlihatkan kitab al-Kâfi kepada Imam Zaman Ajf atau tidak: Sebagian ulama berpendapat bahwa kitab al-Kâfi telah diperlihatkan kepada Imam Zaman Ajf dan Imam bersabda, “al-Kâfi kâfi lisyiatina” (Kitab al-Kâfi telah mencukupi bagi ...
  • Apakah keluasan wilâyah fakih juga mencakup negeri-negeri lainnya?
    4948 System
    Islam mengemukakan konsep “negeri” sebagai bandingan konsep “negara” dan konsep “umat” sebagai lawan dari konsep “rakyat.” Negeri Islam hanyalah satu dan tunggal. Batasan demarkasi asumtif dan rekaan negara-negara yang ada sekarang ini, dalam pandangan Islam, tidak memberi pengaruh pada identitas tunggalnya. Negeri tunggal ini idealnya harus diatur ...
  • Siapa sajakah yang mengaku sebagai nabi di zaman Rasulullah Saw? Mengapa umat Islam membunuh mereka?
    25630 Serba-serbi
    Di zaman Rasulullah saw ada beberapa orang yang mengaku sebagai nabi. Namun hanya segelintir dari mereka yang mendapatkan pengikut. Sebagai contoh, yang paling terkenal adalah Musailamah bin Tsamamah, yang mengaku sebagai nabi yang bekerja sama dengan Rasulullah Saw, begitu juga Aswad Unsi dan Thalihah bin Khuwailid, dan ...
  • Bagaimana pandangan kaum Khawarij terhadap Muawiyah? Apakah mereka juga mengadakan perlawanan terhadap pemerintahan yang lain?
    29409 Perang-perang Imam Ali As
    Kaum Khawarij tidak pernah menganggap bahwa Muawiyah berada dalam pihak yang benar. Mereka, meskipun berlawanan dengan Imam Ali dan bahkan berkeyakinan atas kekafiran kepada Imam Ali, namun mereka tidak pernah menerima Muawiyah dan berkeyakinan akan kemelencengan Muawiyah dan batilnya ia, yang merupakan titik kesamaan antara kaum Khawarij ...
  • Apakah kemitraan dapat tetap berlaku meski terjadi kesepakatan lisan tanpa tulisan?
    11657 Hukum dan Yurisprudensi
    Jawaban beberapa kantor marja agung taklid adalah sebagai berikut: Kantor Hadhrat Ayatullah Agung Siistani (Mudda Zhilluhu al-‘Ali):Apabila jual-beli dilakukan oleh pembeli yang diwakili oleh mitranya maka transaksi jual-beli itu benar adanya dan harus dijalankan sesuai dengan kesepakatan. Namun apabila ia tidak bermaksud untuk bekerja secara ...
  • Apa pandangan al-Quran mengenai israf, berlebih-lebihan dan tabdzîr, dan apakah pengaruh-pengaruh yang ditimbulkannya?
    37844 گناه و رذائل اخلاقی
    Agama Islam merupakan agama bagi kehidupan manusia, hukum-hukum dan ajaran-ajaran yang ada di dalamnya adalah untuk kebahagiaan dan keberuntungan manusia dan masyarakanya. Islam memiliki program untuk seluruh dimensi kehidupan manusia, dan menyarankan keseimbangan dan proporsionalitas dalam semua persoalan kepada para pengikutnya. Israf adalah berlebihan dan melanggar, dimana ...
  • Apakah benar yang dikatakan bahwa apabila seseorang meninggal pada hari atau malam Jumat maka ia akan aman selamanya dari himpitan kubur?
    44081 کهنسالی و مرگ
    Di antara hari-hari dalam seminggu siang dan malam Jumat adalah hari yang memiliki keutamaan dan kemuliaan tersendiri. Salah satu dari keutamaan itu adalah bahwa apabila seorang Mukmin meninggal pada waktu ini maka disebabkan oleh keberkahan dan kemuliaan waktu tersebut ia akan mendapatkan dispensasi dari sebagian kesulitan dan ...
  • Apa saja yang menjadi syarat-syarat nikah Mut’ah?
    27066 Hukum dan Yurisprudensi
    Dalam pandangan Islam, pernikahan, baik pernikahan itu permanen atau temporer (mut’ah) dilangsungkan berdasarkan keridhaan kedua belah pihak. Demikian juga pernikahan temporer seperti pernikahan permanen, hukumnya mubah dan dianjurkan. Namun hal ini tidak bermakna harus dan wajib dilakukan. Atas dasar itu, apabila seorang putri menolak lamaran seorang pria untuk pernikahan ...

Populer Hits