Advanced Search
Hits
2489
Tanggal Dimuat: 2017/06/20
Ringkasan Pertanyaan
Menurut keterangan surah Zumar ayat 10, apakah ciri-ciri orang beriman itu?
Pertanyaan
Mohon Anda jelaskan tafsir surah Al-Zumar yang berbunyi: “Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”
Jawaban Global
Pada ayat 10 surah Zumar, ciri-ciri utama orang-orang yang beriman dan ikhlas adalah:
1.             Takwa
Pada permulaan ayat, pertama kali Allah Swt mengisyaratkan kepada ketakwaan dan memerintahkan Nabi Muhammad Saw:
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, janganlah kalian melawan Tuhanmu!. (قُلْ یا عِبادِ الَّذِینَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّکُمْ‏)[1]
Takwa adalah menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan dosa dan rasa  bertanggung jawab dan berjanji di hadapan Allah Swt bahwa ia akan menjalankan seluruh program hamba-hamba yang mukmin. Takwa adalah tameng di hadapan api dan hal-hal yang akan mencegah terjadinya kerusakan dan ketergelinciran. Takwa adalah modal besar pada hari kiamat dan parameter kepribadian dan kehormatan manusia di hadapan Allah Swt.[2]
 
 
2.             Ihsan
Pada tingkatan selanjutnya adalah permasalahan ihsan dan berbuat baik di dunia. Dunia merupakan tempat diadakannya ujian-ujian kehidupan dan dengan menjelaskan hasil ihsan ini, masyarakat di motivasi untuk melakukan hal ini: Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan.
«لِلَّذِینَ أَحْسَنُوا فِی هذِهِ الدُّنْیا حَسَنَةٌ».
Berbuat baik di dunia[3] entah berupa perkataan, perbuatan, apakah dalam pikiran dan tafakur kepada teman atau orang-orang yang tidak dikenal semuanya hasilnya adalah bahwa pahala besar di dua dunia bahwa kebaikan tidak akan menghasialkan sesuatu kecuali kebaikan pula.
Sejatinya, takwa adalah pencegah dan ihsan adalah faktor yang menggerakkan sehingga menjadi paket untuk meninggalkan dosa dan melakukan kewajiban-kewajiban dan kemustahaban-kemustahaban.
 
3.             Hijrah dari negeri syirik dan kafir
Perintah ketiga adalah perintah untuk hijrah dari negeri syirik, kafir dan tercampur dengan dosa.[4] Dan bumi Allah itu adalah luas. (Apabila kalian mendapat tekanan dari para pemimpin kaum kufar maka berhijrahlah) (وَ أَرْضُ اللهِ واسِعَةٌ).
Perintah ini, pada hakikatnya adalah jawaban atas orang-orang yang mencari alasan bermalas-malasan dan tidak tidak memiliki kemauan yang kuat. Mereka berkata bahwa kami yang berada di Mekah dikarenakan adanya tekanan dari pemerintahan kaum musyrikin tidak bisa melakukan kewajiban Ilahi kami. Al-Quran menjelaskan: Bumi Allah bukan hanya Mekah, jika Mekah tidak memungkinkan maka ada Madinah, dunia itu luas, gerakkanlah diri kalian dan pindahlah dari tempat yang telah tercampuri dengan kesyirikan dan kekafiran dan intimidasi untuk melakukan kewajiban-kewajiban kalian.
Masalah hijrah adalah salah satu masalah penting yang berpengaruh pada masa permulaan Islam namun juga berperan penting dalam memenangkan pemerintahan Islami. Dengan dalil ini, masa permulaan sejarah Islam bahkan pada setiap zaman memiliki peran yang sangat penting yang menunjukkan bahwa kaum mukminin tidak menyerah kepada kekuatan-kekuatan yang akan membungkam keberadaan mereka dan dari sisi lain, merupakan faktor tersebarnya Islam ke seluruh penjuru dunia.
Al-Quran dalam ayat lain: “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya, “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?” Mereka menjawab, “Kami adalah orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah).” Para malaikat berkata, “Bukankah bumi Allah itu luas sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?” Tempat orang-orang itu adalah neraka Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.”[5]
Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa tekanan dan intimidasi di lingkungan dimana terdapat kemungkinan untuk melakukan hijrah, maka alasan untuk tidak melaksanakan perintah Allah Swt disana tidak dapat diterima.
 
4.             Sabar
Mengingat bahwa hijrah biasanya disertai dengan kesulitan-kesulitan yang banyak dari berbagai sisi kehidupan, maka perintah ke empat berkaitan dengan kesabaran dan keuletan yang dijelaskan seperti ini: “Orang-orang yang bersabar menerima ganjaran yang berlipat ganda.”
«إِنَّما یُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَیْرِ حِسابٍ».
Penafsiran dengan “yufa” yang berasal dari kata dasar “wafa” bermakna pemberian secara sempurna.[6] Dari satu sisi dan penafsiran dengan “bighairi hisab” menunjukkan bahwa orang-orang yang bersabar dan ulet akan mendapat imbalan terbaik disisi Allah Swt. Bukti ini ada di hadis terkenal yang diriwayatkan oleh Imam Shadiq As yang dinukilkan dari Rasululullah Saw: Ketika buku amal dibukakan, dan timbangan Allah telah dipasangkan maka bagi orang-orang yang telah bersabar dan ulet, akan dibentangkan baginya 9 timbangan dan dibukakan 9 buku amal, kemudian Nabi Muhammad Saw akan menjadi saksi atas perkatannya, kemudian beliau membacakan surah ini: “Orang-orang yang bersabar menerima ganjaran yang berlipat ganda.”[7]
Sebagian orang percaya bahwa ayat ini berkenaan dengan hijrah pertama kali yang dilakukan oleh kaum Muslimin, yaitu hijrah secara besar-besaran yang dikepalai oleh Ja’far bin Abi Thalib ke Habasyah[8], namun kita mengetahui bahwa sebab turun ayat-ayat ini di samping untuk memperjelas maksud ayat-ayat ini tentu saja tidak membatasi hijrah pada masa dahulu saja. [iQuest]

[1] Jelaslah bahwa seruan “Wahai hamba-hambaku” dari Allah Swt dan apabila kepada Nabi, maka akan dikatakan: “Katakanlah perkataan ini” artinya katakanlah kepada mereka dari sisiku.
[2] Makarim Syirazi, Nasir, Tafsir Nemuneh, jil. 19, hal. 401, Tehran, Dar al-Kitab Islamiyah, cet. 1, 1374 S.
[3] Biasanya para mufassir meyakini bahwa «فِی هذِهِ الدّنیا» mengacu ke kata «احسنوا». Oleh itu hasanah bermakna mutlak sehingga meliputi segala balasan baik didunia dan dunia lain. (Sebagai contoh silahkan lihat: Faidh Kasyani, Mula Muhsin, Al-Asyfa fi Tafsir al-Quran, jil. 2, hal. 1081, Qum, Markaz Intisyarat Daftar Tablighat Islami, cet. 1, 1418 H; Thabathabai, Sayid Muhammad Husain, Al-Mizan fi Tafsir al-Quran, jil. 17, hal. 243, Qum, Daftar Intisyarat Islami, cet. 5, 1417 H; Baidhawi, Abdullah bin Umar, Anwar al-Tanzil, jil. 5, hal. 38, Beirut, Dar Ihya al-Tsurats al-Arabi, cet. 1, 1418 H. Demikian juga mengingat bahwa tanwin dalam hal ini merupakan dalil atas kebesaran pahala. Tafsir Nemuneh, jil. 19, hal. 401.
[4] Thusi, Muhammad bin Husain, Al-Tibyan fi Tafsir al-Quran, jil. 9, hal. 13, Beirut, Dar Ihya al-Tsurats al-Arabi, tanpa tahun, Al-Ashfa fi Tafsir al-Quran, jil. 2, hal. 1081; Tafsir Nemuneh, jil. 19, hal. 401.
[5] Qs Nisa [4]: 97
[6] Al-Mizan fi Tafsir al-Quran, jil. 17, hal. 244; Tafsir Nemuneh, jil. 19, hal. 403; Silahkan lihat: Raghib Isfahani, Husain bin Muhammad, Mufradat Alfadz Quran, hal. 878, Beirut, Dar al-Qalam, cet. 1, 1412 H.
[7] Thabarsi, Ali bin Husain, Masykah al-Anwar fi Gharar al-Akhbar, hal. 300, Najaf, Al-Maktabah al-Haidariyah, cet. 2, 1385 H.
[8] Andalusi, Abu Hayan Muhammad Yusuf, Al-Bahr al-Muhith fi Tafsir, jil. 9, hal. 189, Beirut, Dar al-Fikr, 1420 H.
 
Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat

Menu

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits

Jejaring