Advanced Search
Hits
6786
Tanggal Dimuat: 2008/09/22
Ringkasan Pertanyaan
Apakah membakar dupa untuk menghindar dari kena mata memiliki sandaran agama?
Pertanyaan
Apakah membakar dupa untuk menghindar dari kena mata memiliki sandaran agama?
Jawaban Global
Hingga kini, ilmu dan akal manusia masih tak mampu untuk memahami sebagian dari hakikat dan realitas. Kena mata merupakan salah satu fenomena, yang minimal hingga hari ini, tidak mampu dibuktikan dengan akal dan ilmu manusia, sebagaimana tidak adanya dalil untuk menolak dan menafikannya.
Namun dengan merujuk pada teks-teks agama, baik dari al-Quran ataupun riwayat, bisa ditemukan bukti-bukti untuk membenarkannya.
Tentu saja, karena ilmu dan akal manusia belum sampai pada hakikat kena mata inilah sehingga tak mampu untuk memberikan penyembuhan, usulan, saran ataupun memberikan resepnya.
Karena itu untuk menyembuhkan dan menghindar dari kena mata ini, kita harus mencari bantuan dari teks-teks agama.
Dalam ajaran-ajaran agama, tak pernah diutarakan sedikitpun tentang pengobatan secara materi untuk kena mata ini, oleh itu menggunakan dupa untuk menghilangkan kena mata tidak memiliki sanad agama, kendati dalam riwayat-riwayat Islami, dupa disarankan untuk pengobatan pada sebagian penyakit-penyakit psikis dan fisik.
Riwayat-riwayat menyarankan untuk memperbanyak mengingat Allah dan membaca doa-doa tertentu supaya terhindar dari kena mata.
Dalam sebuah hadis, Imam Ali As bersabda, “Pada akar dupa terdapat nasyrah, dan pada batangnya terdapat penyembuh bagi tujuh puluh dua penyakit,”[i] akan tetapi riwayat-riwayat ini tidak valid dari sisi sanad.
 

[i]. Kufi, Muhammad bin Muhammad, Al-Ja’fariyât, hal. 244, Maktabah Nainawa al-Hadîtsah, Teheran, tanpa tahun; Tamimi Maghribi, Nu’man bin Muhammad, Da’âim al-Islâm, jil. 2, hal. 150, cet. Dârul Ma’ârif, Mesir, 1385 HQ; Nuri, Husain, Mustadrak al-Wasâil, jil. 16, hal. 460.
Jawaban Detil
Tak diragukan lagi manusia kadangkala berhadapan dengan realitas-realitas dan kadangkala pula berhadapan dengan mitos-mitos atau khurafat yang menutupi realitas. Manusia berakal berupaya untuk mendapatkan realitas, hidup berdasarkan realitas dan semampu mungkin untuk terhindar dari segala bentuk mitos; kendati hal ini merupakan sebuah persoalan yang sangat pelik.
Sebagian dari realitas terlihat seperti mitos dan khurafat, dan sebagian dari khurafat kadang tampak lebih riil dari setiap realitas yang ada. Sementara sebagian lainnya merupakan perbauran antara khurafat dan realitas yang tentunya membutuhkan pemisahan.
Salah satu dari persoalan yang terdapat dalam budaya manusia dan sangat biasa ditemukan, dan juga tidak jauh dari mitos, adalah kena mata, yaitu seseorang dengan pandangan tertentunya mampu membuat kerugian pada orang lain, tanpa ia harus melakukan apapun. Dalam keterwujudan kena mata, yang diperlukan adalah melihat dan keterkaguman pemirsa atas kebaikan atau keindahan pihak lain.
Pendapat dan pandangan Islam mengenai hal ini bisa bermanfaat untuk menghilangkan ketakjelasan.
 
Kena Mata dari Pandangan al-Quran
Banyak para mufassir yang mengaitkan dua ayat ini dengan kena mata:
  1. Surah Yusuf [12] ayat 67
Dimana Allah Swt berfirman, “Dan (ketika mereka hendak berangkat), Ya‘qub berkata, “Hai anak-anakku, janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlainan (supaya tidak menjadi perhatian orang); namun demikian aku tidak dapat menolak ketentuan Allah yang pasti darimu sedikit pun. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakal berserah diri.”
Salah satu kemungkinan yang dikatakan pada tafsir ayat ini adalah kena mata. Karena saudara-saudara Yusuf berparas tampan dan bertubuh tegap, jumlah mereka juga banyak, ayahnya, Nabi Yakub As khawatir mereka akan terkena mata oleh rakyat Mesir, oleh itu ia menyarankan supaya mereka tidak memasuki kota dari satu pintu gerbang, melainkan berpencar dan masuk dari beberapa pintu gerbang supaya tidak terkena mata.[1]
 
  1. Surah Qalam [68] ayat 51
Ayat ini dalam budaya umum masyarakat terkenal dengan ayat “In Yakadu” yang menjadi perlindungan bagi mereka dari kena mata. Pada ayat ini Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar Al-Qur’an dan mereka berkata, “Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila.”
Allamah Thabathabai dalam tafsirnya mengatakan, “Banyak dari para mufassir menafsirkan kalimat “hampir menggelincirkan kamu dengan pandangan mereka” dengan artian kena mata. Dan tidak ada satupun dalil akal yang bisa menafikan kena mata, dan bisa jadi hal ini bisa diidentikkan dengan kena mata.”[2]
Dalam asbab al-nuzul ayat ini, pada tafsir-tafsir dikatakan bahwa sekelompok Quraish telah menyewa orang-orang dari kabilah Bani Asad yang matanya terkenal bisa mengena pada seseorang, dan mereka menggunakan orang-orang ini untuk merugikan Rasulullah Saw. Dalam mendefinisikan keburukan mata sebagian dari Bani Asad dikatakan bahwa sebagian dari kabilah ini sedemikian buruk pandangan matanya, sehingga mereka dipenjara supaya tidak mengenai orang lain. Orang-orang inilah yang ketika Rasulullah membaca al-Quran mendatangi beliau dan berkata, “Betapa fasihnya lelaki ini! Dan betapa indah ia berbicara!” akan tetapi Allah Swt senantiasa menjaga utusan-Nya dari pandangan mata mereka yang buruk.[3]
 
Kena Mata dari Pandangan Riwayat
Tidak sedikit riwayat-riwayat yang membahas tentang kena mata. Riwayat-riwayat ini bisa diklasifikasi dalam dua kelompok:
  1. Riwayat yang dalam posisinya membuktikan kerealitasan kena mata
Rasulullah Saw bersabda, “Kena mata adalah sebuah persoalan yang benar dan bisa menurunkan puncak gunung”[4]
Dalam riwayat ini, selain menegaskan tentang kerealitasan kena mata, secara kias juga menyinggung tentang pengaruhnya. Pada banyak riwayat dari kelompok ini selain menegaskan tentang kerealitasan kena mata juga memperhatikan pengaruhnya yang sangat kuat.
Pada hadis lain, Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya mata yang buruk akan menjerumuskan manusia ke dalam kubur dan mendorong singa memasuki tungku.”[5]
Sirah Rasulullah Saw juga membuktikan bahwa beliau menganggap kena mata sebagai sebuah persoalan yang riil, mengutarakan tentang cara-cara untuk menghadapinya dan beliau sendiri juga menerapkan cara-cara ini.
Telah diriwayatkan bahwa Imam Hasan dan Imam Husain As suatu ketika pernah sakit dikarenakan kena mata, dan untuk mengembalikan kesehatan mereka, atas saran Jibrail, Rasulullah Saw menggunakan hiriz dan doa-doa tertentu.[6]
 
  1. Riwayat yang menjelaskan cara menghadapi kena mata.
Untuk menghadapi dan menghalangi kena mata, tidak ada satupun penyembuhan secara materi yang disinggung dalam riwayat, melainkan semuanya menempatkan bentuk mengingat Tuhan sebagai hal yang penting. Sebagaimana Rasulullah Saw bersabda, “Kena mata adalah benar, barang siapa yang kagum terhadap sesuatu yang dimiliki saudaranya, maka saat itu ia harus mengingat Tuhan, tanpa ragu lagi, jika ia mengingat Tuhan, maka matanya tidak akan mengenai saudara Muslimnya.”[7]
Dalam sebuah hadis dari Imam Shadiq As, untuk aman dari kena mata beliau menyarankan untuk membaca dzikir
ما شاء الله لا حول و لا قوٌة الٌا بالله العلیٌ العظیم,
sebanyak tiga kali.
Sedangkan Rasulullah, untuk mengobati Hasan dan Husain As yang sakit karena kena mata, dengan usulan Jibrail, mengenakan hiriz berikut
« اللٌهمٌ یا ذا السلطان العظیم و المنٌ القدیم و الوجه الکریم ذا الکلمات التامٌات و الدعوات المستجابات عاف الحسن و الحسین من انفس الجنٌ و اعین الانس».
Pada hadis lain disarankan untuk membaca:
« تبارک الله احسن الخالقین اللهم بارک فیه[8]
dan membaca surah-surah Hamd, Tauhid, Nas, Falaq dan Ayat Kursi.[9]
 
Dupa dan Kena Mata
Dupa berasal dari tumbuhan yang tumbuh secara liar, biasanya terdapat di daerah-daerah sahara. Termasuk dalam tumbuhan obat-obatan yang memiliki fungsi medis di berbagai kawasan.[10]
Dalam riwayat, dupa yang dalam bahasa Arabnya disebut dengan Harmal disarankan untuk digunakan sebagai penyembuh penyakit-penyakit psikis dan jasmani, akan tetapi tidak secara khusus disarankan untuk penyembuhan atau menghindari kena mata.
Pada riwayat yang dinukilkan mengenai tumbuhan dupa membahas tentang dimensi kemedisan tumbuhan ini yang bermanfaat untuk penyakit-penyakit psikis seperti ketakutan.[11]
Demikian juga dalam riwayat disebutkan bermanfaat untuk mengobati penyakit-penyakit jasmani seperti lepra dan air kencing yang keluar sedikit-sedikit.[12]
Dalam sebuah hadis, Imam Ali As bersabda, “Di akar dupa terdapat nasyrah[13] dan pada batangnya terdapat penyembuh untuk tujuh puluh dua penyakit[14], akan tetapi riwayat ini tidak memiliki sanad yang valid.
Kesimpulannya adalah bahwa tidak terdapat riwayat yang secara langsung menyatakan bahwa dupa memberikan pengaruh untuk menghindarkan atau mengobati kena mata. [iQuest]
 

[1]. Fadhl bin Hasan Thabarsi, Majma’ al-Bayân, jil. 3, hal. 248, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, Beirut, 1379 H.
[2]. Muhammad Husain Thabathabai,  Al-Mizân fî Tafsîr al-Qurân, jil. 20, hal. 50. Cet. Kelima, Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Teheran, 1372 S.
[3]. Fathullah Kasyani,  Minhaj ash-Shâdiqin fî al-Zâm al-Mukhâlîfin, jil. 9, hal. 390, cet. Kedua, Kitabfurusy Islâmiyyah, Teheran, 1344 S; Abbas Qumi, Safinah al-Bihâr, jil. 6, hal. 590, cet . kedua, Dar al-Islam, Iran, 1416 HQ.
[4]. Syarif Radhi, Al-Mujâzât an-Nabawiyyah, hal. 367, Mansyurat Maqtabah Bashîrati, Qom, tanpa tahun.
[5]. Majidi, Ghulam Husain, Nahj al-Fashâhah, jil. 2, hal. 704, cet. Pertama, Muasasah Anshariyan, Qom. 1379 S; Muhammad Baqir Majlisi, Bihâr al-Anwâr, jil. 60, hal. 39, cet. Pertama, Muasasah al-Wafa, Beirut, 1404 H.
[6]. Bihâr al-Anwâr, jil. 92, hal. 132, dan jil. 60, hal. 18.
[7]. Ibid, jil. 60, hal. 25.
[8]. Nahj al-Fashâhah, jil. 2, lm. 701; Nasai, Al-Sunan al-Kubra, jil. 6, hal. 256, cet. Pertama, Dar al-Kutub al-Alamiyyah, Beirut, 1411 H.
[9]. Bihâr al-Anwâr, jil. 60, hal. 25.
[10]. Lihatlah: Kitâbkhâneh Dijitali Markaz Dâiratul Ma’ârif e Buzurge Islâmi.
[11]. Bihâr al-Anwâr, jil. 59, hal. 234.
[12]. Ibid, jil. 59, hal. 188; Nuri, Husain, Mustadrak al-Wasâil, jil. 16, hal. 446, cet. Muasasah âli al-Bait, Qom, 1408 HQ.
[13]. Maksudnya, menjauhkan dari hasad.
[14]. Muhammad bin Muhammad  Kufi, al-Ja’fariyât, hal. 244, Maktab Nainawa al-Hadîtsah, Teheran, tanpa tahun; Tamimi Maghribi, Nu’man bin Muhammad, Da’âim al-Islâm, jil. 2, hal. 150, cet. Dâr al-Ma’ârif Misr, 1385 H; Nuri, Husain, Mustadrak al-Wasâil, jil. 16, hal. 460.
Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits