Advanced Search
Hits
20380
Tanggal Dimuat: 2009/07/07
Ringkasan Pertanyaan
Jika seseorang mempunyai niat dalam perbuatannya akan melakukan suatu pekerjaan untuk keridhaan Allah, namun ia kehilangan niat ikhlasnya begitu melakukan keajiban tersebut, apakah dengan keadaan seperti ini ia memiliki pahala di sisi-Nya?
Pertanyaan
Jika seseorang mempunyai niat untuk mencari keridhaan Allah dalam pekerjaannya, akan tetapi ia kehilangan keikhlasannya begitu melakukan kewajibannya tersebut, apakah dalam keadaan seperti ini ia memiliki pahala di sisi Tuhan? Mohon jelaskan secara sempurna mengenai pengertian dari niat ikhlas. Bagaimana kita bisa memisahkan riya dari niat ini?
Jawaban Global

Dalam budaya Islam, tidak hanya husnu al-fi’l (kebaikan dalam beramal) saja yang penting, melainkan husnu al-fa’il (keberadaan niat ikhlas dalam melakukannya) pun menjadi syarat dalam dikabulkannya sebuah amalan. Lebih dari itu, hanya melakukan amal-amal secara ikhlas saja tidaklah cukup. Senantiasa berniat ikhlas, menjadi syarat lain dari keterkabulan amal. Allah Swt berfirman, “Barang siapa membawa perbuatan baik, maka pahalanya adalah sepuluh kali lipat, dan barang siapa membawa perbuatan buruk, maka ia tidak akan dihukum kecuali sepertinya, dan Allah tidak akan bertindak zalim.” Sebagaimana yang Anda lihat pada ayat di atas, Allah tidak berfirman, “Barang siapa melakukan perbuatan baik”, melainkan “Barang siapa seseorang membawa perbuatan baik dalam dirinya.” Makna ayat ini adalah bahwa manusia setelah melakukan perbuatan baik harus mengkondisikan supaya mampu membawa amal shaleh ini dengan dirinya hingga akhir.

Jawaban Detil

Salah satu dari hal yang paling sulit adalah senantiasa ikhlas dalam setiap amal yang dilakukan oleh manusia untuk Tuhan. Biasanya, ikhlas dalam beramal dan senantiasa dalam keikhlasan adalah lebih sulit dari melakukan asli amalan itu sendiri. Imam Shadiq As bersabda, “Tetap berada dalam amal yang ikhlas adalah lebih sulit dari melaksanakan amalan itu sendiri.”[1]

Oleh karena itu, dalam budaya Islam, bukan hanya husnu al-fi’l (kebaikan dalam amal) saja lah yang penting, melainkan husnu al-fa’il (melakukan dengan niat ikhlas) juga menjadi syarat dalam keterkabulan amal. Selain itu, hanya melakukan secara ikhlas juga tidak mencukupi. Kontinuitas niat ikhlas, merupakan syarat lain bagi keterkabulan amal. Allah Swt dalam al-Quran dengan sangat indah telah menjelaskan masalah ini; dalam masalah sedekah-sedekah (kebaikan-kebaikan), Allah Swt berfirman, Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan mengungkit-ungkit dan tindak menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan ia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaannya adalah seperti batu licin yang di atasnya terdapat tanah, lalu hujan lebat menimpanya, dan ia menjadi bersih nan licin (tak bertanah). Mereka tidak mampu (mendapatkan) sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” [2]

Ayat ini menjelaskan keadaan mereka yang melakukan perbuatan dan amal-amal baiknya dengan niat ikhlas, kemudian membatalkan amalannya tersebut karena adanya keinginan di balik sesuatu dan karena gangguan yang diciptakannya (dimana hal ini menunjukkan pada niatnya yang tidak ikhlas). Allah Swt menyerupakan orang-orang seperti ini dengan mereka yang suka melakukan riya dimana seluruh perbuatannya sejak awal menjadi batal dikarenakan riya.

Dengan demikian, sebagaimana melakukan amalan baik telah dianjurkan, menjaganya pun juga dianggap sebagai sebuah masalah yang penting. Melakukan perbuatan yang terpuji seperti memperoleh permata yang berharga. Saat seseorang memperoleh permata seperti ini, maka ia pun harus berusaha untuk menjaganya dengan baik supaya bisa menyerahkannya di pasar kiamat. Allah Swt berfirman, “Barang siapa yang mempunyai amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya, dan barang siapa yang mempunyai perbuatan yang jahat, maka ia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan).”[3] Sebagaimana yang terlihat dari ayat, Allah Swt tidak berfirman, “Barang siapa melakukan perbuatan yang baik”, melain berfirman, “Barang siapa mempunyai perbuatan yang baik dalam dirinya.” Oleh karena itu, makna ayat adalah bahwa manusia setelah melakukan perbuatan yang baik, harus menyiapkan kondisi supaya mampu mengabadikan perbuatan saleh ini dalam dirinya.[4] Oleh karena itu, ia harus menghindarkan dari segala bentuk riya, keinginan dan ... yang akan menyebabkan hilangnya kebaikan-kebaikan.

Dari sebagian riwayat bisa disimpulkan bahwa jika seseorang melakukan perbuatannya dengan sedikit untuk selain Allah, maka hal seperti ini tidak akan dikabulkan. Imam Shadiq As bersabda, “Allah berfirman, Aku adalah partner terbaik. Ketika seseorang melakukan sesuatu dengan niat untukKu dan untuk selain-Ku, maka selama ia tidak melakukannya dengan ikhlas, tidak akan Aku kabulkan. (Dan Aku akan memberikan seluruh amalan tersebut kepada sekutu-Ku)”[5] [iQuest]

 

 

 

Pembahasan penting lainnya dan berkaitan dengan ikhlas dan bagaimana menjaganya, dapat Anda telaah pada link terkait berikut:

  1. Pertanyaan 738 (Site: 1038), Memperoleh niat Ikhlas.
  2. Pertanyaan 5073 (Site: 5295), Penyembuhan Riya.
  3. Pertanyaan 1320 (Site: 1320), Kesesuaian antara Pahala dan Amal.

 


[1]. Kulaini, Kâfî, jil. 2, hlm. 16.

[2]. (Qs. Al-Baqarah [2]: 264)

[3]. (Qs. Al-An’am [6]: 160)

[4]. Disarikan dari pelajaran-pelajaran tafsir Ayatullah Jawadi Amuli.

[5]. Kulaini, Kâfî, jil. 2, hlm. 295, Bab ar-riba.

 

 

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits