Advanced Search
Hits
6310
Tanggal Dimuat: 2011/07/21
Ringkasan Pertanyaan
Apakah tidak terdapat kontradiksi antara ayat pertama surah al-Anfâl yang menyatakan bahwa kepemilikian seluruh anfâl adalah milik Allah dan Rasul-Nya dan ayat empat puluh satu (41) yang memandang bahwa Allah dan Rasul-Nya hanya memiliki seperlima ghanâim?
Pertanyaan
Ayat pertama surah al-Anfâl, memandang bahwa seluruh anfâl tanpa kecuali adalah milik Allah Swt dan Rasul-Nya. Namun pada ayat empat puluh satu (41) pada surah yang sama memandang bahwa Allah Swt dan Rasul-Nya hanya memiliki saham seperlima dari ghanâim dan tentu saja sisanya yaitu empat perlima didapatkan oleh para mujahid. Dalam pandangan Anda, yang manakah yang benar dari dua ayat yang kontradiktif ini?
Jawaban Global

Ghanâim dan anfâl adalah dua hal yang berbeda dari sudut pandang ilmu Logika. Namun terlepas dari hal ini harus dikatakan bahwa dengan pandangan unilateral dan monoteistik dapat dikatakan bahwa manusia dan seluruh semesta adalah milik Allah Swt. Namun dengan pandangan multilateral, kebinekaan dan keragaman, sebagian anugerah materi, tanpa terputus kepemilikiannya dari Tuhan, dimiliki secara lahir oleh manusia. Kedua hal ini tidak bertentangan satu sama lain.

Jawaban Detil

Ayat-ayat yang nampak kontradiktif satu sama lain adalah:

A.    Mereka menanyakan kepadamu tentang al-Anfâl (harta rampasan perang dan setiap harta yang tak berpemilik). Katakanlah, “Al-Anfâl itu kepunyaan Allah dan rasul.[1]

B.    “Ketahuilah, sesungguhnya setiap harta rampasan perang yang kamu peroleh, maka sesungguhnya seperlima harta itu untuk Allah, rasul, kerabat rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ibnus sabil, jika kamu beriman kepada Allah.”[2]

 

Dalam hal ini harus dikatakan bahwa di samping dalam pandangan tafsir Syiah, dua redaksi “anfâl” dan “ghanimah” keduanya tidak memiliki hubungan logis. Namun dengan demikian, menjelaskan satu poin mungkin dapat membantu untuk menyelesaikan keburaman ini.

Dalam pandangan pertama dan dengan pandangan unilateral (baca:monoteistik), seluruh eksistensi kita dan kemampuan apa yang dapat kita manfaatkan adalah milik Allah, Sang Mahapencipta. Realitas ini berulang kali ditegaskan dalam al-Qur’an di antaranya:

1.     Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.[3] 

2.     “Yaitu), orang-orang yang apabila tertimpa musibah, mereka mengucapkan, “Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji‘ûn (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kami akan kembali kepada-Nya).”[4]

3.     Katakanlah, “Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi?” Katakanlah, “Kepunyaan Allah. Dia telah menetapkan atas diri-Nya rahmat (kasih sayang). Dia sungguh-sungguh akan menghimpunmu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan terhadapnya. Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman.”[5]

Dari sisi lain dan dengan pandangan multilateral, Allah Swt memandang manusia sebagai pemilik sebagian anugerah yang terdapat di dunia dan dalam pelbagai hal, secara umum atau dalam klasifikasi khusus, Allah Swt mengingatkan tentang masalah ini. Dia dalam sebuah ayat menyampaikan seperti ini, Dia-lah yang menjadikan bumi itu mudah bagimu. Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah dari sebagian rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.[6]

Dalam hal-hal seperti khumus,[7] warisan,[8] kepemilikan[9] dan lain sebagainya yang nampaknya Allah Swt sepertinya memandang manusia sebagai pemiliki atas sebagian dunia materi. Jelas bahwa antara dua pandangan yang sepintas berbeda ini terkait dengan kepemilikan yang telah dijelaskan, tidak dapat dijumpai perbedaan dan alangkah indahnya mengungkap dua jenis pandangan ini dalam satu ayat, “Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.[10]

Dengan memperhatikan beberapa poin yang telah disebutkan dan bahkan dengan asumsi adanya kesatuan konsep ghanimat dan anfâl dapat dikatakan bahwa penyerahan pelbagai kewenangan kepemilikan terkait dengan empat perlima harta rampasan perang (ghanâim) diperuntukkan bagi para mujahid yang juga bersumber dari kepemilikan tanpa tanding Ilahi. Adapun kepemilikan lahir mereka tidak akan tentu saja mengurangi kepemilikan sejati dan hakiki Ilahi. [IQuest]



[1]. (Qs. Al-Baqarah [2]:284); (Qs. Ali Imran [3]:109 dan 129); (Qs. Al-Nisa [4]:126)  

یَسْئَلُونَکَ عَنِ الْأَنْفالِ قُلِ الْأَنْفالُ لِلَّهِ وَ الرَّسُول‏..."

[2]. (Qs. Al-Anfal [6]:41)

"وَ اعْلَمُوا أَنَّما غَنِمْتُمْ مِنْ شَیْ‏ءٍ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُ وَ لِلرَّسُولِ و..." 

[3]. (Qs. Al-Baqarah [2]:284)

"لِلَّهِ ما فِی السَّماواتِ وَ ما فِی الْأَرْض"

[4]. (Qs. Al-Baqarah [2]:156)

"إِنَّا لِلَّهِ وَ إِنَّا إِلَیْهِ راجِعُون" 

[5]. (Qs. Al-An’am [6]:12)

"قُلْ لِمَنْ ما فِی السَّماواتِ وَ الْأَرْضِ قُلْ لِلَّه‏"

[6]. (Qs. Al-Mulk [57]:15)

:"ُوَ الَّذی جَعَلَ لَکُمُ الْأَرْضَ ذَلُولاً فَامْشُوا فی‏ مَناکِبِها وَ کُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَ إِلَیْهِ النُّشُور"  

[7]. (Qs. Al-Anfal [6]:41)

[8]. (Qs. Al-Nisa [4]:11-12) 

[9]. (Qs. Yasin [36]:71) 

[10]. (Qs. Al-Jatsiyah [45]:13)

"وَ سَخَّرَ لَکُمْ ما فِی السَّماواتِ وَ ما فِی الْأَرْضِ جَمیعاً مِنْهُ إِنَّ فی‏ ذلِکَ لَآیاتٍ لِقَوْمٍ یَتَفَکَّرُون"

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits