Hits
4746
Tanggal Dimuat: 2012/03/08
Ringkasan Pertanyaan
Menurut Anda maksud dengan tuturan yang dikutip dari Ayatullah Bahjat bahwa orang-orang tua pada masa ini akan menjumpai zaman kemunculan Imam Mahdi Ajf?
Pertanyaan
Menurut Anda maksud dengan tuturan yang dikutip dari Ayatullah Bahjat bahwa orang-orang tua pada masa ini akan menjumpai zaman kemunculan Imam Mahdi Ajf?
Jawaban Global
Sesuai dengan penelitian yang dilakukan dari kantor beliau diketahui bahwa beliau tidak berkata-kata sepert ini. Tuturan Ayatullah Bahjat Rah adalah “idza asyadd al-amr qaruba al-faraj.” Kapan saja kesulitan dan kesusahan kian banyak maka kemunculannya kian dekat. Ucapan ini tersinspirasi dari beberapa riwayat yang menyatakan, “Sebelum kemuculan Imam Zaman Ajf gelombang fitnah akan merajalela dan dunia akan dipenuhi dengan kezaliman dan angkara murka.”
Di samping itu, dalam beberapa riwayat bukan hanya masa dan zaman tertentu bagi kemunculan Imam Zaman Ajf telah ditentukan, bahkan ada larangan menentukan waktu bagi kemunculan Imam Zaman Ajf. Akan tetapi terdapat penjelasan terkait dengan tanda-tanda tertentu terkait dengan kemunculan Imam Zaman Ajf dimana setelah terealisasinya tanda-tanda ini maka Imam Mahdi Ajf akan muncul.
 
Jawaban Detil
Dalam menjawab pertanyaan ini ada baiknya kita memperhatikan beberapa poin berikut ini:
  1. Tuturan yang dinukil dari Ayatullah Bahjat Rah yaitu “Orang-orang tua pada masa ini juga akan menjumpai masa kemunculan” berdasarkan penelitian yang dilakukan dari kantor beliau diketahui bahwa beliau tidak berkata-kata sepert ini. Ayatullah Bahjat Rah berkata, “idza asyadd al-amr qaruba al-faraj.” Kapan saja kesulitan dan kesusahan kian banyak maka kemunculannya kian dekat. Ucapan ini tersinspirasi dari beberapa riwayat yang menyatakan, “Sebelum kemunculan Imam Zaman Ajf gelombang fitnah akan merajalela dan dunia akan dipenuhi dengan kezaliman dan angkara murka.”
  2. Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa bukan hanya masa dan zaman tertentu bagi kemunculan Imam Zaman Ajf tidak ditentukan, bahkan ada larangan menentukan waktu bagi kemunculan Imam Zaman Ajf.
Berikut ini kami akan menyebutkan beberapa riwayat terkait dengan masalah ini:
  1. Fudhail berkata, “Saya bertanya kepada Imam Shadiq As apakah ada waktu tertentu terkait dengan kemunculan Imam Zaman?” Imam Shadiq As berkata tiga kali, “Dusta bagi mereka yang berkata tentang waktu kemunculannya.”[1]
  2. Dalam riwayat lainnya Imam Shadiq As bersabda, “Mereka yang memperkenalkan waktu tertentu bagi kemunculan (Imam Mahdi Ajf) adalah para pendusta. Kami Ahlulbait tidak pernah menentukan waktu kemunculan Imam Zaman Ajf.[2]
  3. Dalam riwayat lainnya Imam Shadiq As bersabda, “Barang siapa yang menentukan waktu bagi kemunculan Imam Zaman Ajf maka ketahuilah ia seorang pendusta lantaran kami Ahlulbait tidak pernah menentukan waktu tertentu (bagi kemunculannya) karena itu ucapan (orang itu) tidak dapat disandarkan kepada kami dan bukan berasal dari kami melainkan ia berkata-kata dari dirinya sendiri dan berdusta.”[3]
  4. Pada sebagian riwayat disebutkan bahwa bahkan Imam Zaman Ajf sendiri tidak mengetahui masa kemunculannya dan Allah Swt akan mengabarkan kepadanya kapan masa kemunculan terjadi dengan perantara tanda-tanda tertentu. Mufaddhal bin Amru bertanya kepada Imam Shadiq As terkait dengan tafsir ayat “wa idza naqara fi al-naqur[4] Imam Shadiq As bersabda, “Sesungguhnya dari kami (Ahlulbait) terdapat seorang imam yang ghaib. Kapan saja Allah Swt menghendakinya keluar dari tirai ghaibat maka  Ia akan meletakkan tanda pada hatinya (untuk keluar) dan  setelah itu ia akan memerintah sesuai dengan perintah Allah Swt.” Dari riwayat ini dapat disimpulkan dengan baik bahwa Imam Zaman Ajf sendiri tidak mengetahui masa kemunculanya dan tatkala tiba masa kemunculannya Allah Sw akan memberi tahukan tanda-tanda kemunculannya kepada Imam Zaman Ajf.[5]
  1. Ulama menjelaskan banyak dalil terkait dengan sebab mengapa masa kemunculan Imam Mahdi Ajf tidak ditentukan:
  1. Apabila orang-orang beriman mengetahui masa kemunculan dan kemudian menyebarkannya maka musuh-musuhnya akan mempersiapkan diri secara total untuk bertempur dengan Imam Mahdi Ajf.
  2. Allah Swt menghendaki penantian para penanti bersifat permanen lantaran apabila waktu telah ditentukan maka orang-orang beriman hanya akan menantikan kemunculan Imam Zaman Ajf pada masa itu dan selain waktu itu mereka akan lalai mengingat Imam Mahdi Ajf.[6]
  3. Salah satu falsafah ghaibat adalah ujian bagi para hamba Allah.[7] Karena itu kemestiannya adalah bahwa apabila masa ghaibat dan kemunculan tidak diketahui maka orang-orang yang beriman sejati akan mengenal satu sama lain. Atas dasar itu, pada sebagian riwayat disebutkan bahwa orang-orang pada masa ghaibat akan meragukan Imam Mahdi Ajf. Boleh jadi sumber dari keraguan dan sangsi orang-orang ini adalah karena tidak ada waktu tertentu yang menentukan masa kemunculan Imam Zaman Ajf. Masa kemunculan dari sudut pandang ini mirip-mirip dengan masalah kematian.
  4. Masa kemunculan sesuai dengan beberapa riwayat merupakan perkara bada yang dapat dimajukan dan diundurkan.[8] Karena itu, apabila waktu tertentu disampaikan kepada orang-orang dan disebabkan karena beberapa kemaslahatan maka orang-orang akan ragu terhadap urusan agama dan imam mereka[9] sebagaimana hal ini disebutkan dalam sebuah riwayat Imam Shadiq As dengan bersandar pada kisah perginya Musa ke Thur mengataka bahwa 30 hari dan ditambah lagi 10 hari dan dengan ditambahnya 10 hari lalu kisah Samirri mengemuka dan banyak orang yang tersesat. Imam Shadiq As bersabda, “Kemunculan Imam Zaman Ajf juga demikian adanya dimana apabila waktu tertentu ditentukan untuknya dan kemudian ditunda maka orang-orang akan ragu dan sangsi terhadap urusan agama. Oleh itu, Allah Swt tidak menentukan waktu tertentu bagi kemunculan Imam Mahdi Ajf.[10]
  1. Pada sebagian riwayat dijelaskan tentang tanda-tanda dan alamat-alamat kemunculan Imam Mahdi dimana sebagian dari tanda-tanda ini disebutkan sebagai tanda-tanda tidak pasti dan sebagian lainnya sebagai tanda-tanda pasti, keluarnya Yamani, keluarnya Sufyani, seruan langit, terbunuhnya Nafs Zakiyah, bumi akan menelan di lembah Baida.”[11] Imam Shadiq As bersabda, “15 hari sebelum kemunculan Imam Zaman Ajf Nafs Zakiyah akan meraih kesyahidan.”[12] Dan juga bersabda, “Sebelum kedatangan dan kemunculan Imam Zaman Ajf terdengar seruan langit yang berseru ihwal kemunculan Imam Mahdi Ajf sedemikian sehingga orang-orang di muka bumi mendengarkan seruan tersebut.”[13] sebagaimana dalam tafsir ayat, “Dan dengarkanlah (seruan) pada hari penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang dekat. (Yaitu) pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya. Itulah hari keluar (dari kubur). Sehubungan dengan ayat ini, Imam Shadiq As Berkata, “Pada hari kemunculan Imam Zaman Ajf seruan langit akan terdengar menyebut  Imam Mahdi Ajf dengan namanya dan nama ayahnya serta memberikan berita gembira tentang kemunculan Imam Zaman Ajf.[14] Dalam sebuah riwayat, Rasulullah Saw sembari menyinggung tentang pelbagai peristiwa dan fitnah akhir zaman tentang keluarnya Sufyani dan bumi akan menelan di lembah Baida, dan bersabda, “Sufyani akan keluar dari lembah Yabis dan akan memasuki kota Damaskus kemudian di tempat itu ia akan menyiapkan dua pasukan. Satunya akan dikirim ke Baghdad untuk membunuh dan menjarah. Pasukan lainnya akan datang ke Madinah dan setelah memporak-porandakan kota Madinah, pasukan ini akan pergi ke Mekkah dimana di tengah jalan di suatu daerah Baida, dimana di lembah itu bumi akan menelan mereka.”[15] Keluarnya Yamani pada kebanyakan riwayat diperkenalkan sebagai salah satu tanda kemunculan Imam Zaman Ajf.[16] [iQuest]
 

[1]. Luthfullah Shafi Gulpaigani, Muntakhab al-Âtsâr, hal. 463, Cetakan Ketiga, Markaz Nasyr Kitab Tehran; Syaikh Thusi, al-Ghaibah, hal. 262.  
[2]. Ibid.  
[3]. Ibid.  
[4]. “Apabila sangkakala ditiup.” (Qs. Al-Mudattsir [74]:8),  
[5]. Syaikh Shaduq, Ikmâl al-Din wa Itmâm al-Ni’mah, jil. 2, hal. 349, Hadis 42. Diadaptasi dari Pertanyaan 1856 (Site: 1840), Indeks: Imam Zaman Ajf Dalam Penantian Kemunculannya Sendiri, Pertanyaan 2714 (Site: 2962)
[6]. Majlisi, Bihâr al-Anwâr, jil. 95, hal. 159.  
[7]. Syaikh Thusi, al-Ghaibah, hal. 206.  
[8]. Majlisi, Bihâr al-Anwâr, jil. 51, hal. 86.  
[9]. Muhammad Taqi Musawi Isfahani, Mikyal al-Makârim fi Fawâid al-Duâ’ lil Qâim Ajf, jil. 2, hal. 338, al-Bâb al-Tsâmin fi Takâlif al-‘Ibâd binissbati ilaihi.  
[10]. Syaikh Thusi, al-Ghaibah, hal. 262.  
[11]. Shaduq, Kamâl al-Din, jil .2, hal. 649, hadis 1; Thusi, al-Ghaibah, hal. 267; Muntakahab al-Durrah, hal. 455, hadis 5 dan hal. 442, hadis 16.
[12]. Luthfullah Shafi Gulpaigani, Muntakhab al-Âtsâr, hal. 456, hadis 13 dan hal. 439, hadis 1 dan 2; Thusi, al-Ghaibah, hal. 271; Shaduq, Kamâl al-Din, jil. 2, hal. 649, hadis 2.  
[13]. Thusi, al-Ghaibah, hal. 111.  
[14] . Lutfhullah Shafi Gulpaigani, Muntakahab al-Âtsâr, hal. 447, hadis. 2
[15]. Ibid, hal. 456, hadis 9 dan 11.  
[16]. Thusi, al-Ghaibah, hal. 267.
Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits