Advanced Search
Hits
25743
Tanggal Dimuat: 2014/01/06
Ringkasan Pertanyaan
Faktor-faktor apa saja yang membuat manusia lalai dari mengingat Tuhan?
Pertanyaan
Mengapa sebagian manusia lalai dari mengingat Tuhan?
Jawaban Global
Salah satu tema yang dibahas dalam ilmu Akhlak adalah tema tentang ghaflat (lalai). Ulama akhlak, dalam karya-karya mereka mengemukakan beberapa pembahasan rinci terkait dengan masalah ini. Salah satunya pasal yang membahas tentang hal ini adalah sebab-sebab dan faktor-faktor yang membuat manusia lalai.
Lalai (ghaflah) sebagaimana yang dikemukakan dalam definisi, “keluarnya sesuatu dari pikiran setelah sebelumnya mengingatnya.” Al-ghafla al-sahwu ‘an al-syai.”[1]
Lalai adalah terbentangnya tirai pada pikiran dan hati manusia yang membuatnya jauh dari sebuah fakta dan realitas. Al-Quran dalam hal ini menyatakan,
«وَ لَقَدْ ذَرَأْنا لِجَهَنَّمَ كَثيراً مِنَ الْجِنِّ وَ الْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِها وَ لَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِها«
وَ لَهُمْ آذانٌ لا يَسْمَعُونَ بِها أُولئِكَ كَالْأَنْعامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولئِكَ هُمُ الْغافِلُونَ»
“Dan sesungguhnya Kami ciptakan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari bangsa jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi mereka tidak mempergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata (tetapi) mereka tidak mempergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) mereka tidak mempergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Qs. Al-A’raf [7]:179)
Yang dimaksud dengan lalai di sini boleh jadi bersifat umum dari sekedar lalai mengingat Tuhan, lalai dari ayat-ayat Tuhan, lalai dari mengingat akhirat. Atau dengan kata lain, lalai dari segala sesuatu yang mengantarkan manusia kepada kesempurnaan. “
«وَإِنَّ كَثِيراً مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ»
“Dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (Qs. Yunus [10]:92)
Pada pendahuuan ini harus dikatakan bahwa faktor utama yang menyebabkan manusia lalai yang disinggung pada sebagian ayat dan riwayat adalah sebagai berikut:
  1. Mencintai dunia secara berlebihan: Al-Quran memandang salah satu faktor penyebab manusia lalai adalah cinta dunia dan menaruh perhatian secara ekstrem pada dunia. Al-Quran menyatakan:
«إِنَّ الَّذينَ لا يَرْجُونَ لِقاءَنا وَ رَضُوا بِالْحَياةِ الدُّنْيا وَ اطْمَأَنُّوا بِها وَ الَّذينَ هُمْ عَنْ آياتِنا غافِلُون»
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami, merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu, dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami.”(Qs. Yunus [10]:7)
Imam Baqir menyampaikan kepada Jabir, “Wahai Jabir! Tidak sepantasnya bagi orang beriman bersandar dan sibuk dengan urusan dunia. Ketahuilah anak-anak (dan orang-orang yang bergantung pada)  dunia adalah orang-orang lalai.”[2]
  1. Dominasi Setan: Salah satu factor yang menyebabkan manusia lalai adalah dominasi setan atas manusia.
«اسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطَانُ فَأَنسَاهُمْ ذِكْرَ اللَّهِ...»
Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah. (Qs. Al-Mujadilah [5]:19)
Salah satu perbuatan yang dilakukan setan adalah membuat manusia lupa akan Tuhan dan menjadikannya lalai.
  1. Menuruti hawa nafsu: Allah Swt terkait dengan orang-orang lalai dan mengikuti hawa nafsu berfirman:
«وَ لا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنا قَلْبَهُ عَنْ ذِکْرِنا وَ اتَّبَعَ هَواهُ وَ کانَ أَمْرُهُ فُرُطا»
“Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan urusannya senantiasa melewati batas. (Qs. Al-Kahf [18]:28)
  1. Panjang angan-angan: Faktor lainnya yang membuat manusia lalai adalah panjang angan-angan; karena panjang angan-angan yang membuat pikiran dan hati manusia sibuk memikirkan bagaimana mencapai angan-angan tersebut sehingga ia lalai memikirkan yang lain. Imam Ali As dalam hal ini bersabda, “Ketauhilah sesungguhnya angan-angan akan membuat hati lalai. Menampakkan janji-janji (yang benar) itu sebagai dusta dan memperbanyak lalai.”[3]
  2. Memandang permukaan saja: ajaran-ajaran agama, memandang permukaan dan lahiriyah saja pada kehidupan dunia merupakan salah satu penyebab kelalaian manusia.
«يَعْلَمُونَ ظاهِراً مِنَ الْحَياةِ الدُّنْيا وَ هُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غافِلُونَ»
“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia ini; sedang mereka lalai tentang (kehidupan) akhirat.” (Qs. Al-Rum [30]:7)
Perhiasan dan penampakan lahir dunia, dari satu sudut pandang dapat menjadi sebab kelalaian manusia. Dan dari sudut pandang yang lain berpotensi menjadi menyebab kesempurnaan manusia. Hal ini bergantung sepenuhnya bagaimana kita menyikapi dan melihat  dunia. Apabila manusia menyiapkan ruang pada dirinya, tatkala ia berhadapan dengan perhiasan dari perhiasan-perhiasan dunia maka ia akan melihatnya sebagai anugerah Tuhan; karena itu, dengan melihatnya tidak saja membuatnya lalai bahkan sebaliknya ia malah akan mengingat Tuhan. Apabila manusia dalam berhadapan dengan segala perhiasan dunia memperhatikan halal dan haram, menunaikan tugas-tugas yang dibebankan Tuhan kepadanya, maka dunia ini bukanlah penyebab lalai dan penipu.
Akan tetapi manusia pada umumnya dalam kehidupan dunia hanya melihat yang nampak permukaan saja dan asyik dengan kelezatan materi, tentu saja apa yang nampak ini akan membuatnya lalai dari akhirat dan tujuan penciptaannya yaitu kesempurnaan dan kebahagiaan. [iQuest]
 

[1]. Fadhl bin Hasan Thabarsi, Majma’ al-Bayân fi Tafsir al-Qur’ân, jil. 1, hal. 280, Nasir Khusruw, Tehran, 1372 S; Fakhruddin Thuraihi, Majma al-Bahrain, jil. 5, hal. 435, Kitabpurusyi Murtadhawi, Tehran, 1375 S.  
«يَا جَابِرُ إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَا يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَرْكَنَ وَ يَطْمَئِنَّ إِلَى زَهْرَةِ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَ اعْلَمْ أَنَّ أَبْنَاءَ الدُّنْيَا هُمْ أَهْلُ غَفْلَة»
[2]. Hasan bin Ali Ibnu Sya’bah al-Harrani, Tuhaf al-‘Uqul, Riset dan edit oleh Ali Akbar Ghaffari, al-Nash, hal. 287, Jami’ah Mudarrisin, Qum, Cetakan Kedua, 1404 H.
«إِنَّ الْأَمَلَ يُسْهِي الْقَلْبَ وَ يُكْذِبُ الْوَعْدَ وَ يُكْثِرُ الْغَفْلَة»
[3]. Ibrahim bin Muhammad bin Sa’id bin Hilal Tsaqafi, al-Ghârât, Riset dan edit oleh Abduzzahra Husaini, jil. 2, hal. 436, Dar al-Kitab al-Islamiyah, Qum, Cetakan Pertama, 1410 H.  
Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Apakah makna qadha dan qadar ilmi dan aini Allah Swt itu?
    4532 Qadha dan Qadar
    Qadha dan qadar Ilahi terbagi menjadi dua bagian: Qadha dan qadar ilmi dan aini.[1] Qadha dan Qadar Ilmi Yang dimaksud dengan qadha ilmi adalah mengetahui kemestian terjadinya sesuatu ketika sebab-sebabnya tersedia; artinya Tuhan mengetahui semenjak azal bahwa segala sesuatu dalam kondisi tertentu dan pusaran ...
  • Apa maksud Tuhan memiliki kehendak untuk memberi rahmat dan menyiksa manusia?
    12614 ثواب و عقاب
    Dalam banyak ayat-ayat Quran dijelaskan bahwa Allah Swt adalah sebab utama kemuliaan atau kehinaan hamba-Nya, kaya dan miskinnya manusia, siksa atau rahmat para hamba. Demikian juga banyak sekali ayat yang menjelaskan bahwa Dia adalah Zat yang menganugerahkan kemuliaan, rizki, kebahagiaan, rahmat kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa dan ikhlas.
  • Jika kita hanya sekedar berburuk sangka kepada seseorang, apakah kita harus meminta kerelaan dan maafnya? Sebenarnya dalam hal apa saja kita harus memohon maaf dan meminta kerelaan dari orang lain?
    15017 Akhlak Praktis
    Berdasarkan ajaran agama, kita tidak boleh berburuk sangka kepada orang yang beriman. Berburuk sangka, meskipun itu hanya terjadi di dalam pikiran saja, sudah dianggap sebagai penilaian yang tidak benar. Jika kita pernah berburuk sangka kepada seseorang, tidak ada perlunya kita menceritakan semuanya secara detil kepada orang itu ...
  • Disebutkan bahwa para imam itu adalah nama-nama indah Tuhan (asma al-husna) di muka bumi. Apa maknanya?
    3723 Manusia Sempurna
    Riwayat seperti ini sejatinya tengah menyinggung sebuah masalah yang penjelasan dan ulasannya harus dikaji pada Filsafat Hikmah (Hikmah Muta'âliyah) dan irfan teoritis (irfân nazhari). Namun demikian kami akan menyebutkan dua poin penting sebagai berikut: Manusia sempurna (insan kamil) adalah manifestasi teragung (tajalli a'zham) atau penampakan ...
  • Apa makna al-shamad pada ayat Allah al-Shamad?
    18740 Tafsir
    Terdapat banyak makna sehubungan dengan kata “sha-ma-d” dalam beberapa kamus, riwayat, dan tuturan-tuturan para ahli tafsir; karena itu pada kesempatan ini kami akan menjelaskan secara ringkas masing-masing dari tiga kategori ini, kamus, riwayat dan tafsir sebagai berikut.A.    Raghib Isfahani dalam ...
  • Apa yang dimaksud dengan pernyataan bahwa para Imam Maksum As tidak memiliki kemandirian eksistensial?
    4883 دانش، مقام و توانایی های معصومان
    Pembahasan ini biasanya mengemuka sehubungan dengan pembahasan makam dan kedudukan para Imam Maksum As. Inti dari pembahasan ini adalah bahwa kita meyakini bahwa para Imam Maksum As, dengan bersandar pada beberapa riwayat, memiliki makam-makam dalam bidang ilmu, kekuasaan, wilayah dan lain sebagainya yang akibatnya boleh jadi menimbulkan ...
  • Bagaimana hubungan yang terjalin antara nafs, ruh, jiwa, akal, pikiran dan fitrah?
    24484 Filsafat Islam
    Terkadang yang dimaksud atas beberapa redaksi dan kalimat ini adalah satu dan seluruhnya menyinggung satu hakikat yaitu entitas dan realitas manusia; terkadang juga dimaksudkan untuk ragam makna dan masing-masing dari redaksi dan kalimat ini menyoroti masalah tingkatan dan derajat-derajat jiwa manusia. ...
  • Kira-kira berapa usia Nabi Khidir hingga saat ini?
    127926 Sejarah Para Pembesar
    Perlu ditandaskan di sini bahwa dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tegas nama Nabi Khidir melainkan dengan redaksi, “Seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Qs. Al-Kahfi [18]:65) Ayat ini menjelaskan ...
  • Apakah Umar Menghukum Abu Hurairah karena merekayasa hadis?
    24255 Rijal al-Hadits
    Bukhari, Muslim, Dzahabi, Imam Abu Ja’far Iskafi, Muttaqi Hindi dan yang lainnya menukil bahwa Khalifah Kedua Umar bin Khattab mencemeti Abu Hurairah karena menyandarkan beberapa riwayat yang tak berdasar kepada Rasulullah Saw dan melarang keras Abu Hurairah untuk tidak meriwayatkan hadis hingga akhir pemerintahannya.
  • Bagaimana penafsiran surat al-Kahfi ayat 27-28?
    14980 Tafsir
    Al-Quran dalam surah al-Kahfi (18) ayat 27-28 mengatakan: «وَ اتْلُ ما أُوحِیَ إِلَیْکَ مِنْ کِتابِ رَبِّکَ لا مُبَدِّلَ لِکَلِماتِهِ وَلَنْ تَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَداً. وَ ...

Populer Hits