Hits
3982
Tanggal Dimuat: 2012/09/15
Ringkasan Pertanyaan
Apakah Descartes di samping seorang matematis ia juga merupakan seorang mistikus?
Pertanyaan
Apakah Descartes di samping seorang matematis ia juga merupakan seorang mistikus?
Jawaban Global

Irfan sebagai media untuk sampai kepada Tuhan atau hakikat itu memiliki dua sisi: Sisi praktis dan sisi teoritis.

Dari sisi irfan praktis yang menegaskan penyingkapan (kasyf), syuhud (penyaksian). Untuk sampai pada realitas dan hakikat jalan yang digunakan dalam irfan praktis adalah melalui jalan hati. Sementara jalan yang ditempuh Descartes adalah melewati jalan akal dan ia sendiri merupakan pendiri aliran pemikiran (school of thougth) Rasionalisme. Meski dalam hidupnya dilaporkan bahwa Descartes juga mengalami sejenis penyingkapan pribadi irfani, namun karena penyingkapan itu tidak memiliki kandungan epistemologis dan tidak mengabarkan tentang realitas maka ia tidak dapat dinilai sebagai seorang arif.

Dari sudut pandang irfan teoritis juga pandangan dualisme Descartes tentang manusia bertentangan tepat dengan fokus utama pandangan dunia para arif yaitu wahdat al-wujud (kesatuan wujud). Karena itu dengan dua dalil Descartes juga tidak dapat digolongkan sebagai arif dari sudut pandang teoritis sebagaimana berikut:

Pertama: Irfan teoritis merupakan hasil dan produk irfan praktis. Apabila seseorang secara praktis tidak menjejakkan kakinya pada thariqat (irfan praktis) maka ia tidak akan sampai pada hakikat (irfan teoritis). Dan apabila seseorang melalui pengalaman-pengalaman praktis orang lain meyakini irfan teoritis maka keyakinannya adalah keyakinan yang hanya berdasarkan taklid dan semata-mata buah pikiran saja.

Kedua: Descartes menentang wahdat al-wujud dan bahkan secara pemikiran dan taklid sekali pun Descartes tidak meyakini prinsip-prinsip irfan teoritis.

Jawaban Detil
  1. Siapakah Arif itu?

Perlu kiranya sebelum melangkah lebih jauh kita membahas terlebih dahulu beberapa kata penting seperti irfan dan arif dalam hal inni. Kata-kata seperti irfan, arif, ma’ruf, ta’rif, ma’arif, ma’rifat dan puluhan rangkapan kata lainnya derivatnya berasal dari akar kata ‘a-ri-fa yang bermakna pengetahuan, ilmu dan pengenalan yang terpendam di dalamnya.

Secara leksikal, irfan merupakan mashdar (derivat) yang bermakna pengetahuan dan pengenalan yang diperoleh setelah ketidaktahuan. Secara teknikal irfan adalah sebuah jalan dan metode yang digunakan oleh para pencari kebenaran untuk sampai pengenalan dan pemahaman tentang kebenaran. Ilmu irfan adalah sebuah disiplin ilmu yang topiknya mengenal kebenaran (Hak) dan nama-nama-Nya.

Karena itu arif secara leksikal bermakna orang yang mengetahui dan mengenal. Secara teknikal berarti seseorang yang disampaikan oleh Allah ke jenjang penyaksian zat, nama-nama (asma) dan sifat-sifat-Nya.

Prinsip-prinsip Pandangan Dunia Irfani

  1. Wahdat al-wujud: Poros pandangan dunia irfani adalah wahdat al-wujud (kesatuan wujud).
  2. Wahdat al-tajalli: Artinya bahwa alam semesta tercipta dengan satu manifestasi Tuhan.
  3. Rahasia penciptaan (tajalli) alam adalah cinta: Alam semesta tercipta dengan dasar cinta dan kembali dengan kekuatan cinta.
  4. Kehidupan dan tasbih umum seluruh makhluk: Sesuai dengan ungkapan para arif aliran cinta memenuhi alam semesta pada setiap makhluk dan tidak sebiji atom pun yang ada di dunia yang kosong dari apa yang disebut sebagai cinta kepada Tuhan.
  5. Adil, indah, keseimbangan sempurna alam semesta: Selain keindahan dan selain keadilan tiada yang berkuasa di alam semesta. Artinya alam semesta adalah penampakan keindahan dan keagungan Tuhan. Di alam semesta tidak terdapat kekurangan dan cela dalam pengaturan alam semesta.
  6. Kembalinya segala sesuatu kepada Tuhan: Segala sesuatu semenjak permulaan (mabdâ) kemunculannya, semenjak dari tempat ia muncul akan kembali ke tempatnya semula; ma’âd dalam bahasa irfan.
  7. Ma’âd dalam ungkapan khusus irfani; para arif memandang bahwa setiap entitas dan makhluk adalah penampakan salah satu nama dari nama Tuhan. Mereka berkata segala sesuatu yang muncul dari satu nama akan kembali kepada nama tersebut.
  8. Manusia adalah makro kosmos dan alam adalah mikro kosmos: Karena para arif memandang manusia merupakan penampakan sempurna dan seluruh nama serta sifat dan penampakan sempurna nama-nama Tuhan. sesuai ungkapan al-Quran manusia adalah khalifah teragung Tuhan dan manifestasi ruh Tuhan di alam semesta. Para arif memandang manusia memiliki makam-makam dimana tidak satu pun aliran yang memandang manusia sedemikian tinggi.
  9. Manusia asing di dunia: Manusia di alam semesta merupakan satu makhluk asing dan sendiri. Manusia adalah satu entitas yang tidak sejenis dengan benda-benda.
  1. Siapakah Descartes itu?

Rene Descartes (1596-1650) menyandang gelar sebagai Bapak Filsafat Moderen.[1] Ia di samping Francis Bacon (Bapak Neo Logika) dan Galileo (Bapak Neo-Sains) termasuk salah seorang arsitektur dunia moderen yang menggugat tiga keyakinan resmi yang dianut selama ribuan tahun pada abad pertengahan; keyakinan terhadap ajaran Kristen, keyakinan terhadap logika Aristotelian dan keyakinan terhadap sistem astronomi Ptolemius. Descartes menghilangkan ajaran Kristen dari orang-orang Eropa dan menempatkan akal (penalaran) sebagai gantinya. Bacon melenyapkan silogisme Aristotelian dari orang-orang Eropa dan menempatkan logika induktif (neo-organon) sebagai gantinya. Galileo dengan teleskop berhasil memakzulkan sistem astronomi Ptolemius.

Buku-buku sejarah meski melakukan pelbagai penafsiran terkait dengan metode Descartes, pada umumnya sejalan dalam hal ini bahwa Descartes melebih orang lain sangat berpengaruh dalam mentransformasi orang-orang Eropa dari abad pertengahan ke dunia moderen.[2]

Kita ketahui secara global bahwa Descartes adalah seorang filosof yang ingin menemukan keyakinan-keyakinan bagi manusia yang memiliki landasan kukuh dan karena ia melihat Matematika merupakan ilmu yang paling eksak dan meyakinkan, Descartes berusaha menetapkan proposisi-proposisi metafisika dan teologi seperti keberadaan Tuhan sebagaimana matematika dengan metode sangsi (skeptis) secara argumentatif.

  1. Descartes dan Irfan Praktis

Irfan praktis merupakan jalan untuk dapat sampai pada realitas atau hakikat. Secara asasi terdapat dua jalan untuk sampai pada realitas dan hakikat: Jalan hati (kasyf dan syuhud) dan jalan akal (penalaran dan argumentasi). Jalan hati adalah jalan para arif dan jalan akal merupakan jalan para filosof.

Pemikiran dan akal merupakan dua kata kunci Descartes. Ia amat memperhatikan akal sebagai sandaran dan pijakan yang meyakinkan bagi manusia. Kemudian buah dari perhatian ini, Descartes mendirikan sebuah aliran Rasionalisme.

Harap diperhatikan bahwa maksud Descartes tentang akal, reason (penalaran) bukanlah intelegensia atau pemahaman (understanding). Akal dalam pandangan Descartes sinonim dengan kata pemikiran.

Namun dalam pandangan para Arif:

Pâye Istidlâlliyun Cubin Buwad

Pâye Cubin Sakht Bi Tamkin Buwad

Kaki sandaran para filosof adalah kayu

Kaki kayu keras dan tidak menenangkan

Letak perbedaan antara filosof dan urafa menjadi jelas dengan kutipan syair di atas. Filosof berusaha untuk dapat menggapi hakikat dan realitas melalui jalan akal penalaran dan argumentasi sementara para arif meyakini keterbatasan epistemologis akal dan akal hanya mampu menyertai manusia hingga jalan tertentu dalam usahanya meniti perjalanan menuju kebenaran.

Dalam pandangan para arif, media utama dan final dalam meniti jalan menuju Kebenaran (baca: Tuhan) adalah hati atau cinta itu sendiri. Namun sebagian orang menilai jalan para arif sebagai jalan akal penyaksian (syuhudi) – sebagai lawan akal penalaran (istidlali) yang nampaknya merupakan sejenis penjelasan filosofis tentang cinta.

Menariknya bahwa beberapa tahun setelah Descartes, salah satu pembesar filsafat Barat bernama Immanuel Kant dalam bukunnya “The Critique of Pure Reason” atau “Menimbang Akal Murni” mengakui keterbatasan epistemologis akal penalaran yang pada tingkatan tertentu merupakan penjelasan filosofis-logis pandangan para arif terkait dengan akal. Karena itu Descartes dari sudut pandang irfan teoritis dan metode untuk sampai pada kebenaran merupakan seorang filosof dan bukan seorang arif.

Akan tetapi terdapat ungkapan lain terkait dengan irfan praktis yang semata-mata memandang irfan praktis sebagai sebuah eksperimen atau penerimaan personal. Ungkapan ini lebih banyak sesuai dengan paradigma-paradigma Barat dalam menilai irfan praktis. Bagaimanapun apabila irfan praktis kita pandang sebagai sebuah eksperimen pribadi, sebagaimana selera orang-orang Barat menyebutnya, maka Descartes juga seperti orang-orang jenius sejarah lainnya yang dalam kehidupannya menggunakan eksperimen ini minimal sekali dalam hidupnya.

Descartes pada tahun 1606 hingga 1614 mengenyam pendidikan pada sekolah Yesuit, College La Fleche yang mendapat dukungan khusus Henry IV. Pendidikan Yesuit senantiasa menyertai Descartes dalam perjalanan hidupnya. Bahkan tatkala ia memilih hidup menyendiri di Belanda untuk menulis dan menerbitkan buku-bukunya, ia laksana seorang Katolik yang beriman.. Descartes sangat terpengaruh oleh pemikiran seorang pemikir Belanda bernama Isaac Beeckman yang membuatnya jatuh hati kepada Matematika dan Fisika.

Motivasi ini semakin menguat dalam pikiran Descartes sehingga pada tahun 1619 dalam perjalanan dari Jerman kembali ke Prancis dan pengalaman-pengalaman irfani yang ia alami dalam perjalanan membentuk episode tersendiri dalam kehidupannya. Esensi pengalaman ini tidak begitu jelas dan boleh jadi seluruh pengalaman irfani pada dasarnya tidak dapat dijelaskan. Namun pada kenyataannya, pengalaman ini dan pesan yang ditangkap oleh Descartes tidak dapat diragukan. Pada malam 10 November 1619, Descartes dengan sekuat tenaga, pada usia dua puluh tiga tahun kenyataan ini diilhamkan kepada Descartes bahwa alam semesta memiliki struktur matematis dan logis.

Perasaan mukâsyafah (penyingkapan)  yang dialami oleh Descartes pada malam itu, sedemikian dalam sehingga ia mengingat terus kejadian itu sepanjang hidupnya dan sebagai tanda terima kasihnya atas perjalanan itu ia pergi berziarah mendatangi maesoleum (holy shrine) Lady of Loreto di Italia.[3]

Tujuh belas tahun setelah itu, Descartes dalam risalahnya “Discours de la méthode” (Discourse on the Method for Properly Guiding the Reason and Finding Truth in the Sciences, biasanya diringkas saja Discourse on Method)) menulis tentang sejarah pemikirannya, ia masih mengingat kejadian pada malam itu yang hidup dalam kenangannya, namun akar panjang pemikiran yang pada waktu itu usaha filosofisnya dengan analisa, namun tidak lagi memiliki cita rasa dan kehangatan sebagaimana pertamanya. Dan dia kini telah matang dan lebih banyak bergantung pada kandungan apa yang ditemukannya ketimbang mengeksplorasi sisi dramatikalnya.[4]

  1. Descartes dan Irfan Teoritis

Dengan jelasnya ketidaktahuan Descartes tentang irfan praktis sesuai dengan makna yang digunakan para arif, tentu saja apabila ia merupakan seorang arif teoritis juga, maka ia (tidak) akan menemukan irfannya lantaran sandarannya semata-mata kepada akal penalaran (istidlâli), buah pikiran dan abstraksi (intiza’i).

Sebagian pemikiran Descartes memiliki kemiripan dengan pandangan dunia para arif di antaranya adalah:

Ia berkata: Kekurangan epistemologi diakibatkan oleh syahwat. Sebab terjadinya kekurangan dalam pengetahuan manusia disebabkan oleh hawa nafsu yang menguasai manusia yang terkadang disebut hawa nafsu dan terkadang disebut sebagai syahwat.

Prinsip ketiga psikologi Descartes...barang siapa yang melepaskan kendali hawa nafsunya maka ia telah membuat dirinya terjauhkan dari pengetahuan sejati. Apabila tali kekang dan kendali hawa nafsu berada di tangan manusia maka hal itu berarti peluang untuk meraih pengetahuan semakin terbuka lebar.[5]

Namun demikian di samping Descartes bersandar pada akal matematis yang berseberangan dengan pandangan para arif, pandangan dunia para arif yang paling asasi adalah wahdat al-wujud (kesatuan wujud), tidak memiliki tempat dalam pemikiran Descartes. 

Teori Descartes berdasar pada Dualisme manusia dan adanya dikotomi antara ruh dan badan atau terpisahnya substansi materi dari substansi ruhani persis berbanding terbalik dengan pemikiran wahdat al-wujud para arif dan bahkan filosof Barat semisal Baruch Spinoza.  Filsafat Descartes berpijak pada prinsip Dualisme sementara Spinoza bersandar pada prinsip Monisme.

Berbeda dengan Descartes, Spinoza meyakini bahwa hanya ada satu substansi yaitu substansi Ilahi yang memiliki sifat-sifat nir-batas. Karena itu, aliran filsafat Descartes di samping aliran Rasionalismme juga dapat disebut sebagai aliran Dualisme.

Dengan demikian Descartes juga tidak dapat disebut sebagai seorang arif teoritis dengan dua dalil sebagai berikut:

Pertama: Sebagaimana yang telah kami sebutkan, irfan teoritis merupakan hasil dan produk irfan praktis. Apabila seseorang secara praktis tidak menjejakkan kakinya pada thariqat (irfan praktis) maka ia tidak akan sampai pada hakikat (irfan teoritis). Apabila seseorang melalui pengalaman-pengalaman praktis orang lain meyakini irfan teoritis maka keyakinannya adalah keyakinan yang hanya berdasarkan taklid dan semata-mata buah pikiran saja.

Kedua: Descartes menentang konsep wahdat al-wujud dan bahkan secara pemikiran dan taklid sekali pun Descartes tidak meyakini prinsip-prinsip irfan teoritis.

Akhir kata dapat disebutkan bahwa Descartes tidak hanya asing terhadap irfan secara keseluruhan bahkan dalam kontemplasi-kontemplasi rasionalnya dalam masalah agama juga sesuai dengan pengakuannya sendiri[6] bahwa ia memasuki ranah irfan karena terpaksa bukan karena dasar suka.

Seluruh komentator filsafat Descartes berkata, “Descartes tidak menanamkan embrio dasar pada agama dalam pembahasan-pembahasan rasionalnya kalau tidak demikian maka kita harus lebih akurat dalam masalah filsafat agama ketimbang pembahasan-pembahasan rasional itu sendiri. Descartes sendiri menegaskan ketidaksukaan ini dan berkata, “Saya pada dasarnya tidak begitu menyukai masalah-masalah metafisika. Kalau tidak terpaksa saya tidak akan membahas masalah ini. Embrio dasar Descartes adalah pada sains dan matematika. Descartes sendiri menegaskan kesukaannya ini pada dua bidang ilmu tersebut.[7] [iQuest]

 


[1]. Muhammad Taqi Misbah Yazdi, Âmuzesy Falsafeh (Daras Filsafat), jil. 1, hal. 40, Teheran, Bainal Milal, 1383 H.  

[2]. Etienne Gilson, Naqd Tafakkur Falsafi Gharb, Penerjemah Ahmad Ahmadi, hal. 103, Teheran, Samt, 1385.  

[3]. Jacob Bronowski dan Bruce Mazlish, Sair Andisyeh dar Gharb: Az Leonardo ta Hegel (Western Intellectual Tradition: From Leonardo to Hegel), Penerjemah Persia, Kazhim Firuzmand, hal. 233-234, Tabriz, Akhtar, 1378 S.  

[4]. Etienne Gilson, Naqd Tafakkur Falsafi Gharb, Penerjemah Ahmad Ahmadi, hal. 103, Teheran, Samt, 1385.  

[5]. Mustafa Malikiyan, Târikh Falsafeh-ye Gharb, jil. 2, hal. 199, Pazyuhesgha Hauzah wa Danesygah, 1379 S.  

[6]. Pada buku “Discourse on Methode,” Bagian 6.  

[7]. Mustafa Malikiyan, Târikh Falsafeh Gharb, jil. 2, hal. 195-196, Pazyuhesgha Hauzah wa Danesygah, 1379 S.

 

Komentar
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits