Advanced Search
Hits
382
Tanggal Dimuat: 2017/08/09
Ringkasan Pertanyaan
Bagaimana terbentuknya kota Baitul Maqdis, kapan kota itu ditaklukkan, kapan kaum Muslimin menaklukkan Baitul Maqdis dan sampai kapan kota itu berada di tangan kaum Muslimin?
Pertanyaan
Bagaimana cara Shalahuddin al-Ayyubi menaklukkan Baitul Maqdis? Bagaimana keadaan kaum Muslimin ketika memasuki kota Baitul Maqdis dan setelah menaklukkannya?
Jawaban Global
Meskipun  Baitul Maqdis semenjak awal merupakan tempat yang suci, namun pada zaman Nabi Daud As dan Nabi Sulaiman mengalami perluasan dan termasuk tempat yang padat penduduknya serta menjadi pusat peradaban pada waktu itu, dimana bagian keagamaannya dikendalikan oleh pembesar Yahudi.
 Dengan kecenderungan Kaisar Romawi Konstantinopel terhadap agama Kristen, maka kota ini berada di bawah kendali orang-orang Kristen hingga ketika kaum Muslimin menaklukkan Baitul Maqdis untuk menyebarluaskan ajaran agama Islam.
Setelah beberapa lama saling berhadapan, penduduk Quds dengan sarat-sarat yang telah ditentukan, menginginkan adanya perdamaian dimana sebagai tindak lanjut perdamaian itu, Umar datang ke sana menanda tangani perdamaian, dengan syarat bahwa tempat ibadah kaum Yahudi dan para rabbinya tidak diusir dari sana. Penduduk Baitul Maqdis pun menerima upeti dan dibukalah kota Baitul Maqdis bagi kaum Muslimin.
Pada akhir abad ke-5, negara-negara Barat dengan berdalih atas penyelamatan Baitul Maqdis dari tangan kaum Muslimin menyerang kota-kota yang ada dibawah kekuasaan kaum Muslimin termasuk Baitul Maqdis. Penyerangan itu merupakan pembunuhan yang paling kejam dan penjarahan besar-besaran negara-negara Barat atas kaum Muslimin.
Baitul Maqdis untuk beberapa lama dikepung dan dikuasai oleh orang-orang Kristen hingga zaman pasukan Shalahuddin al-Ayyubi mengepung kota ini. Setelah berperang, maka orang-orang Kristen meminta perlindungan dari Shalahuddin al-Ayyubi, namun ia berkata bahwa tidak ada jalan lain kecuali dengan berperang dan akan bertindak seperti orang-orang Kristen dan tidak akan membiarka satu-pun orang Kristen! Menyusul keputusan itu, Balian pemimpin di Baitul Maqdis berkata kepada Shalahuddin: “Apabila Anda tidak memberi keamanan bagi kami, kami akan menghancurkan Baitul Maqdis dan semua yang ada di dalamnya; kami akan membunuh semua orang selain laki-laki yang berperang, dan ketika kami tidak menemukan semangat lagi untuk hidup, kami akan memerangi kalian.” Shalahuddin, begitu mendengar ancaman mereka, langsung memberi perlindungan.
Dengan demikian, maka Baitul Maqdis dikuasai oleh kaum Muslimin dengan jalan damai. Semenjak saat itu hingga menjadi kekuasaan Inggris dan setelah itu adanya penyerangan oleh Zionis, kota itu berada di bawah kekuasaan kaum Muslimin.
Jawaban Detil
Baitul Maqdis merupakan bangunan terpenting keagamaan di dunia. Bangunan ini sangat penting bagi semua agama-agama Ibrahimi.[1] Oleh itu, semenjak abad-abad sebelumnya terdapat konflik-konflik politik dan militer yang sangat tajam untuk menguasai Baitul Maqdis.
Nabi Daud dan putranya, Nabi Sulaiman meluaskan kekuasaan Bani Israel dan membawanya ke masa keemasan. Adanya kekuatan dan kekayaan yang banyak dan hal-hal lainnya menyebabkan Nabi Sulaiman membangun tempat ibadah yang sangat besar, dimana pada masa-masa setelahnya dikenal dengan nama ma’bad Sulaiman.[2]
Tempat peribadahan ini adalah bangunan yang sangat megah yang dari waktu ke waktu menjadi sasaran berbagai kelompok dan bahkan kadang-kadang hancur secara total di mana yang paling terkenal adalah serangan dan penghancuran Nebukadnezar ke Baitul Maqdis.[3]
“Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Isra’il dalam kitab (Taurat) itu, “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.” Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung (untuk mencarimu), dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana.”[4]
Sebagian para mufassir Syiah[5] dan Ahlu Sunah[6] terkait dengan ayat ini memberi kemungkinan bahwa maksud ayat itu adalah penyerangan tempat ibadah oleh Nebukadnezar. Yang pasti, pengelolaan tempat ibadah ini berada di bawah kendali Yahudi dan para rabi sebagai pemimpin agama yang berkuasa atas masyarakat itu. Pada kebanyakan zaman, para rabi dengan ijin para pemimpin politik negara-negara yang menguasai Baitul Maqdis juga mengangkat para pemimpin dari kalangan Yahudi.
Kaum Yahudi menguasai tempat ibadah hingga beberapa abad setelah kemunculan Nabi Isa As sampai kaisar Romawi Constantine memeluk agama Kristen[7] dan kekuasaan jatuh ke orang-orang Kristen. Setelah sang kaisar memeluk agama Kristen maka keadaan berubah. Orang-orang Kristen membalas dendam karena mereka menganggap orang-orang Yahudi adalah komponen pembunuh utama Nabi Isa As. Pengendalian orang-orang Kristen atas Baitul Maqdis berlanjut hingga kaum Muslimin menyerang Levant (wilayah Suriah).
 
Penaklukan Baitul Maqdis oleh Tentara Islam
Abu Ubaidah Jarah, komandan pasukan kaum Muslimin sudah berada di Levant. Dengan meluasnya ekspansi, khalifah ke-2 menulis surat untuknya dan memerintahkan untuk menaklukkan Baitul Maqdis.[8]
Abu Ubaidah menulis surat kepada penduduk Baitul Maqdis dan memberi kebebasan kepada mereka untuk menerima Islam atau membayar jizyah. Jika tidak mau keduanya, maka harus bersiap perang dengan kaum Muslimin. Namun penduduk Eliyah[9] tidak mengabulkan permintaannya dan tidak mau beriman. Abu Ubaidah bergerak ke arah mereka dan berperang disamping tembok kota hingga beberapa lama sampai para jawara Eliyah berkeyakinan bahwa melanjutkan peperangan tidak akan menguntungkan mereka sedikit pun.[10]
Seorang utusan membawa pesan ke sisi Abu Ubaidah bahwa kami ingin berdamai namun kami tidak percaya kepada Anda. Tulislah surat sehingga khalifah Anda datang dan menulis perjanjian dengan kami sehingga kami akan yakin. Tulislah surat sehingga ia menuliskan perjanjian bagi kami dan kami akan meyakini keamanan kami. Maka Abu Ubaidah menulis surat kepada khalifah ke-3 dan menceriterakan keinginan mereka.[11]
Akhirnya Khalifah Kedua datang ke Syam untuk menulisan surat perjanjian. Di sana ia melihat Yazid bin Abu Sufyan, Abu Ubaidah dan Khalid naik kuda dan mengenakan pakaian yang sangat indah. Umar melemparkan batu ke arah mereka dan berkata: Apakah dengan baju begitu kalian datang menjemputku? Semenjak dua tahun yang lalu hingga sekarang kalian sudah pada kenyang? Demi Tuhan, aku bersumpah, meski 200 tahun berlalu, maka aku akan tetap mengubah kalian.” Mereka berkata: ‘Kami menyimpan senjata di balik gamis yang menutupi baju kami.”[12]
Khalifah dengan orang-orang Baitul Maqdis berdamai dengan syarat tidak merusak tempat ibadah mereka dan tidak mengeluarkan para rahib itu dari sana.[13] Mereka juga menerima jizyah dan meninggikan tembok-tembok kota. Umar naik kuda dan memasuki kota dan menampakkan batu kemudian memerintahkan membangun sebuah masjid di atasnya.[14] Kemudian ia pergi ke mihrab Nabi Dawud As. Ketika ia mendekati masjid berkata: “Bawalah Ka’ab bin Akhbar ke hadapanku! Ka’ab pun datang kepadanya. Khalifah bertanya: Menurutmu, dimana kita akan membangun masjid? Ka’ab menjawab: Di kaki batu itu. Khalifah berkata: “’Wahai Ka’ab! Aku bersumpah demi Tuhan! Anda telah meniru cara Yahudi, Aku melihatmu melepas alas kakimu.’ ‘Aku ingin menyentuh bumi dengan kedua kakiku. Jawab Ka’ab. Umar berkata, Ya, aku liat. Kita berada di kiblat di mana Nabi membangun kiblat kita. Lupakan hal ini. karena kita tidak mempunyai perintah terkait dengan batu, namun kita punya perintah tentang Ka’bah.’” Kemudian menjadikan atas masjid sebagai arah kiblat.”[15] Pada akhirnya, penaklukan Baitul Maqdis terjadi pada tahun ke-16 H.[16]
 
Penaklukan Baitul Maqdis oleh Tentara Salib
Salah satu pembantaian yang paling kejam dan penjarahan di Baitul Maqdis dilakukan oleh tentara Salib. Pada akhir abda ke-5 H, Barat menyerang Palestina dengan alasan di antaranya menyelamatkan kota itu dari tangan kaum Muslimin.[17]
Mereka dengan menginginkan sebagian kemenangan pergi ke Baitul Maqdis dan mengepung lebih dari 40 hari. Kemudian memasuki kota dari arah utara dan membantai dan menjarah selama satu minggu.[18] Berdasarkan saksi sejarah, hanya di Masjidil Aqsha saja sebanyak 170 ribu orang terbunuh.[19] Pengungsi Baitul Maqdis memasuki Baghdad dengan keadaan yang sangat menyedihkan. Pada saat itu ada pasukan bantuan dari Mesir yang menghadapi tentara salib meskipun mereka menderita kekalahan karena tidak adanya fasilitas ekonomi dan militer.[20]
 
Penaklukan Baitul Maqdis oleh Shalahuddin al-Ayyubi
Perang Salib berlangsung selama kira-kira 200 tahun dan puncaknya pada masa komandan Shalahuddin al-Ayyubi.[21] Ia menyerang Baitul Maqdis setelah terlibat dalam berbagai peperangan dan setelah menguasai kota-kota, baik besar maupun kecil. Selama lima hari ia berfikir akan menyerang dari arah mana dan akhirnya ia memilih dari arah utara dan sebagian besar pasukannya dibekali dengan ketapel dan terjadi peperangan yang sengit antara dua pasukan dan menimbulkan kerugian yang berat oleh kedua belah pihak.[22]
Akhirnya, pada suatu hari pasukan Shalahuddin al-Ayyubi menyerang dan berhasil memukul mundur mudur pasukan musuh dan berhasil merebut sebagian tanah musuh. Setelah itu ruhiyah kaum Salib hancur dan menginginkan perlindungan dari Salhuddin al-Ayubi. Ia tidak menerima keinginan mereka dan berkata bahwa tidak ada jalan lain kecuali berperang dan ia memutuskan ingin berlaku seperti kaum Salib dan tidak akan membiarkan seorang Kristen pun tetap hidup!
Menyusul keputusan itu, Baliyan, pemimpin Baitul Maqdis berkata kepada Shalahudddin: Apabila Anda tidak melindungi kami maka akan kembali dan akan membunuh semua tawanan yang kami miliki. Kemudian akan membunuh keluarga kami sendiri dan merusak semua tempat suci, demikian juga menghancurkan Kubah Sakhrah, kami akan membakar semua. Kami akan menjarah bahan-bahan makanan yang dimiliki masyarakat dan ketika itu ketika kami tidak memiliki alasan untuk hidup lagi, kami akan memerangi Anda hingga nafas penghabisan hingga Anda terbunuh. Sekarang, pilihlah dari dua pilihan ini: berikan perlindungan kepada kami atau kami akan bertindak seperti yang sudah kami katakan. Kemudian Shalahuddin bermusyawarah dengan para komandan yang lainnya dan memutuskan untuk memberi perlindungan dengan syarat setiap orang laki-laki memberi 10 dinar, setiap perempuan membayar 5 dinar dan setiap anak-anak, baik laki-laki maupun perempuan masing-masing membayar 2 dinar.  Jumlah ini harus dibayar selama 40 hari. Barang siapa yang hingga waktu yang ditentukan tidak mau membayar sejumlah yang telah disebutkan, maka ia akan menjadi tawanan. Demikian juga, semua hasil pertanian dan senjata diperuntukkan bagi kaum Muslimin.[23]
Shalahuddin menugaskan utusan untuk menunggui pintu gerbang sehingga hartanya terkumpul, namun mereka membiarkan penduduk itu untuk keluar tanpa membayar sesuatu apa pun.
Kaum muslimin memasuki kota, diatas kubah Sakhrah terdapat salib besar. Beberapa kaum Muslimin menaiki salip itu dan mencabutnya dan meneriakkan Allahu Akbar di Masjidil Aqsha. Ketika Baitul Maqdis telah kosong dari musuh, Salahuddin al-Ayyubi memerintahkan supaya bangunan suci itu dibiarkan dalam bentuk aslinya karena orang-orang Kristen telah mengubah bangunan itu dan memerintahkan untuk membersihkan masjid. Kaum Muslimin pada hari Jumat Sya’ban melaksanakan salat Jumat di sana dan Muhyiddin bin Zaki, hakim Damisyq menyampaikan khutbah. Khutbah ini diperintahkan oleh Shalahuddin al-Ayyubi.[24]
Setelah itu, Baitul Maqdis berada di tangan kaum Muslimin hingga pada abad terakhir tempat ini berada dibawah kekuasaan Inggris. Kemudian kaum Yahudi yang berhaluan Zionis mampu mengendalikan kota Palestina, salah satu kota di Baitul Maqdis dengan bantuan negara-negara Barat. [iQuest]

[1] Silahkan lihat: Baitul Maqdis, Masjidil Aqsha, Sakhrah
[2] 73671, Sebab Pembangunan Tempat Ibadah oleh Nabi Sulaiman As
[3] 62322, Balas Dendam Nabi Yahya As oleh Baht Nashr
[4] Qs Al-Isra [17]: 4-5.
[5] Mughniyah, Muhammad awad, Tafsir al-Kāsyaf, jil. 5, hal. 17 Tehran, Dar al-Kitab al-Islamiyah, cet. 1, 1424 H, Makarim Syirazi, Nashir, Tafsir Nemuneh, jil. 12, hal. 28, Tehran, Dar al-Kitab al-Islamiyah, cet 1, 1374 S.
[6] Fahr Razi, Muhammad bin Umar, Tafsir Mafātih al-Ghaib, jil. 20, hal. 299, Berut, Dar Ihya al-Tsurats al-‘Arabi, cet. 3, 1420 H; Thabari, Muhammad bin Jarir, Jāmi’ al-Bayān fi Tafsir al-Qurān, jil. 15, hal. 17 Beirut, Dar al-Ma’rifah, cet. 1, 1412 H.
[7] Tamimi Sam’ani, Abdul Karim bin Muhammad, Al-Ansāb, Periset: Mu’allimi, Abdurahman bin Yahya, jil. 10 hal. 419, Haidar Abad, Majlis Dairah al-Ma’arif al-Utsmaniyah, cet. 1.   
1382; Ya’qubi, Ahmad bin Abi Ya’qub, Tārikh Ya’qub, jil. 1, hal. 153, Beirut, Dar Shadir, cet. Awal, tanpa tahun.
[8] Ibnu A’tsam, Ahmad bin A’tsam, Al-Futuh, Syiri, Ali, jil. 1, hal. 222, Beirut, Maktabah al-Hilal, 1988.
[9] Iliya nama lain kota Baitul Maqdis, Baladzuri, Ahman bin Yahya, Futuh al-Buldān, hal. 140, Beirut, Maktabah al-Hilal, 1988.
[10] Faswi, Ya’qub bin Sufyan, Al-Ma’rifah wa al-Tārikh, jil. 3, hal. 305, Beirut, Muasasah al-Risalah, cet. 2, 1401 H.
[11] Ibnu Atir Jazri, Ali bin Muhammad, Al-Kāmil fi al-Tārikh, jil. 2, hal. 500, Beirut, Dar Shadir, 1385 H.
[12] Ibnu Khaldun, Abdurahman bin Muhammad, Tarikh Ibnu Khaldun, Periset: Khalil Sahadah, jil. 2, hal. 543, Beirut, Dar al-Fikr, cet. 2, 1408 H.
[13] Muqadasi, Muthahar bin Thahir, Al-Bada wa al-Tārikh, jil. 5, hal. 185, Bur Sa’id, Maktabah al-Tsaqafah al-Diniyah, tanpa tahun.
[14] Tārikh Ibnu Khaldun, jil. 2, hal. 543.
[15] Thabari, Muhammad bin Jarir, Tārikh Thabari, Periset: Ibrahim, Muhammad Abul Fadzl, jil. 3, hal. 610-611, Beirut, Dar al-Tsurats, cet. 2, 1387 H.
[16] Tārikh Ibnu Khaldun, jil. 2m hal. 543.
[17] Ibnu Jauzi, Abdurahman bin Ali, Al-Muntadhi, Periset: ‘Atha, Abdul Qadir, ‘Atha, Mustafa Abdul Qadir, jil. 17, hal. 47, Beirut, Dar al-Kitab Ilmiyah, cet. 1. 1412 H.
[18] Dzahabi, Muhammad bin Ahmad, Tārikh Islam, Periset: Turmudzi, Umar Abdul Salam, jil. 34, hal. 16, Beirut, Dar al-Kitab al-Arabi, cet. 2, 1409.
[19] Ibid.
[20] Tārikh Ibnu Khaldun, jil. 4, hal. 86.
[21] Shalahuddin al-Ayubi, Syiah Mesir, Shalahuddin wa Perang Salib, pertanyaan 17031
[22] Tārikh Ibnu Khaldun, jil. 5, hal. 361.
[23] Ibnu Katsir Damisyqi, Ismail bin Umar, Al-Bidāyah wa al-Nihāyah, jil. 12m hal. 323-324, Beirut, Dar al-Fkr, 1407 H.
[24] Tārikh Ibnu Khaldun, jil. 5, hal. 362.
Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat

Menu

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits

Jejaring