Advanced Search
Hits
3310
Tanggal Dimuat: 2017/06/10
Ringkasan Pertanyaan
Tolong jelaskan tentang penafsiran ayat 38 surah al-Fatir khususnya sehubungan dengan “Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati?”
Pertanyaan
Tolong jelaskan penafsiran ayat 38 surah Fatir?
Jawaban Global
Pengetahuan Ilahi terkait dengan tujuh petala langit (langit-langit) dan bumi dan apa yang ada dalam hati (dzat al-shudur) adalah suatu hal yang disebutkan berulang kali dalam al-Quran. Sebagai contoh ayat 38 surah Fathir dimana Allah Swt berfirman:
«إِنَّ اللَّهَ عالِمُ غَیْبِ السَّماواتِ وَ الْأَرْضِ إِنَّهُ عَلیمٌ بِذاتِ الصُّدُور»
“Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.”
Ayat ini berkata kepada manusia bahwa di samping apa yang nampak dan jelas di hadapannya, dan apa yang di tujuh petala langit dan bumi yang ghaib dan tersembunyi baginya, demikian juga apa yang tersembunyi dalam hatinya terkait dengan iman, kekufuran, pikiran-pikiran setan dan lain sebagainya, seluruhnya nampak dan berada dalam cakupan ilmu azali Allah Swt.
Pada dasarnya, ayat ini berada pada tataran menjawab permintaan orang-orang kafir dan musyrik yang berada di neraka dan memohon supaya dikembalikan ke dunia:
«وَ هُمْ یَصْطَرِخُونَ فیها رَبَّنا أَخْرِجْنا نَعْمَلْ صالِحاً غَیْرَ الَّذی کُنَّا نَعْمَلُ »
“Dan mereka berteriak di dalam neraka itu, “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan.” (Qs al-Fatir [35]:37)
Pada hakikatnya, makna “Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi di langit dan di bumi” adalah dalil atas makna “Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” Artinya bagaimana mungkin Allah Swt tidak mengetahui apa yang ada dalam hati manusia sementara segala sesuatu yang ada di tujuh petala langit dan bumi nampak dan jelas bagi-Nya?
Dia mengetahui bahwa apabila permintaan para penghuni nereka itu dipenuhi dan dikembalikan ke dunia, maka mereka tetap akan melakukan apa yang mereka lakukan sebelumnya sebagaimana hal ini dinyatakan secara tegas pada ayat lainnya:
«وَ لَوْ رُدُّوا لَعادُوا لِما نُهُوا عَنْهُ وَ إِنَّهُمْ لَکاذِبُونَ»
“Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia (lagi), tentulah mereka kembali melakukan apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah para pendusta belaka.”
Ayat ini pada hakikatnya merupakan sebuah peringatan kepada seluruh orang beriman supaya berusaha bersikap ikhlas dalam niat dan tidak memperhatikan segala sesuatu yang lain kecuali Allah Swt, dimana apabila terdapat secuil riya sekali pun dalam niat dan motif, maka sesungguhnya Dia mengetahui segala sesuatu yang gaib dan akan memberikan ganjaran berdasarkan niat seseorang. Allah Swt bertransaksi dengan manusia berdasarkan apa yang terpendam dalam batinnya terkait dengan keyakinan-keyakinan dan amalan-amalan kemudian berdasarkan keduanya akan diperhitungkan oleh Allah Swt , entah sejalan antara yang lahir dan batin, atau bertentangan.[1]
Ayat ini mengandung dua persoalan penting:
1.             Alimun bidzat al-shudur: Apa yang dimaksud dengan dzat al-shudur ini? Sebagaimana yang diketahui bahwa kalimat dzat al-shudur berulang kali disebutkan dalam al-Quran.
Kata “dzat” yang kata kerja bentuk mudzakkarnya adalah dzu aslinya bermakna pemilik (shahib). Meski para filosof dan arif memaknai hal ini sebagai hakikat dan substansi segala sesuatu – entah itu substansi atau aksidensi, akan tetapi pemaknaan seperti ini tidak ditemukan dalam bahasa Arab.[2] Makna frase dzat al-shudur adalah bahwa Allah Swt mengetahui pemilik dan empu hati-hati. Kalimat ini merupakan bentuk kiasan dari keyakinan-keyakinan dan niat-niat manusia.  Karena keyakinan-keyakinan dan niat-niat takala terpendam dalam hati seolah ia menjadi pemilik hati manusia dan berkuasa atasnya. Atas dasar itu, keyakinan-keyakinan dan niat-niat ini termasuk sebagai pemilik dan penguasa hati manusia.[3]
 
2.             Tidak ada jalan kembali: Sudah barang tentu kiamat dan kehidupan paska kematian merupakan sebuah level penyempurnaan atas dunia dan tidak masuk akal jika manusia yang berjalan menuju kepada kesempurnaan harus kembali lagi pada titik mula (dunia). Apakah manusia dapat kembali menjalani apa yang telah dilaluinya pada hari kemarin? Apakah bayi dapat kembali ke rahim ibunya? Dan apakah buah yang telah terpisah dari pohonnya dapat dikembalikan lagi ke pohonnya? Atas dasar itu tidak mungkin manusia dapat kembali ke dunia ini sebuah tempat yang telah dilalui sebelumnya.
Terlepas dari itu semua, anggaplah ada kemungkinan manusai kembali, tentu saja manusia yang pelupa akan tetap melakukan apa yang sebelumnya telah ia lakukan sebagaimana yang disinggung pada ayat 28 surah al-An’am dimana al-Quran mendustakan orang-orang ini secara tegas dan menyatakan bahwa manusia yang memohon kembali itu akan mengulang apa yang  telah dilakukan sebelumnya yang menyebabkan mereka masuk ke neraka.[4] [iQuest]

[1] Silahkan lihat, Makarim Syirazi, Nasir, Tafsir Nemuneh, jld. 18, hlm. 277-278, Tehran, Dar al-Kutub al-Islamiyah, cet. 1, 1374 S.
[2] Raghib Isfahani, Husain bin Muhammad, al-Mufradāt fi Gharib al-Qur’ān, Riset oleh Daudi, Shafwan Adnan, hlm. 333, Damaskus, Beirut, Dar al-Qalam, Dal- Syamiyah, cet. 1, hlm. 1412 H.
[3] Fakhruddin Razi, Abu Abdillah Muhammad bin Umar, Mafātih al-Ghaib, jld. 244, Beirut, Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, cet. 3, 1420 H.  
[4] Tafsir Nemuneh, jld. 18, hlm. 280.
 
Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat

Menu

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Mengapa ayat-ayat al-Quran lebih didominasi dengan ayat-ayat maskulin?
    10565 Ulumul Quran 2009/11/24
    1.     Kita dapat menetapkan khitab-khitab (penyampaian-penyampaian) al-Quran itu maskulin ketika ruh yang mendominasi lafaz-lafaz dan khitab-khitab itu bersandar pada jenis kelamin dan fokus pada pria. Dari berbagai ayat al-Quran dapat dipahami bahwa wacana yang mendominasi al-Quran itu ...
  • Apakah dalam pandangan Islam sujud takzim itu dibenarkan?
    9009 Tafsir 2010/07/18
    Dalam pandangan Islam dan mazhab Ahlulbait As, sujud merupakan bentuk terindah dan terparipurna ibadah yang terkhusus untuk Allah Swt dan tidak dibenarkan untuk selain Allah Swt.Akan tetapi sujud kepada Nabi Yusuf As bukanlah sujud dalam konteks ibadah, melainkan sejatinya merupakan ekspresi dan ungkapan ibadah kepada Tuhan. Sebagaimana kita mengerjakan ...
  • Bagaimana penafsiran ayat-ayat 164+166?
    5300 بنی اسرائیل 2015/05/17
    Ayat-ayat 164 hingga 166 surah al-A’raf (7) berkaitan dengan Bani Israel yang hidup pada masa Nabi Daud As. Populasi mereka kurang lebih dua belas ribu jiwa. Mereka diperintahkan untuk pergi mencari ikan pada hari Jumat dan menghindar dari kegiatan bernelayan pada hari Sabtu. Dalam kaitannya dengan hukum Ilahi ...
  • Apa saja tingkatan yakin dan apa tolak ukurnya bagi seorang manusia.
    14707 فنا 2013/11/27
    Yakin dalam Logika dan Filsafat memiliki dua istilah: yang pertama, yakin dalam istilah umumnya yang berarti “tahu secara pasti” dan yang lain memiliki arti yang lebih khusus, yakni: “pengetahuan pasti yang sesuai dengan kenyataan” atau “pengetahuan yang pasti terhadap sesuatu dan yakin bahwa segala yang bertentangan dengan ...
  • : Apakah dalam pandangan ajaran-ajaran Islam juga menyoroti masalah hak-hak makhluk-makhluk lainnya selain manusia?
    5197 Dirayah al-Hadits 2012/01/30
    Dalam literatur-literatur agama, terdapat banyak riwayat yang dapat disimpulkan bahwa hak-hak tidak semata-mata menyangkut manusia, melainkan juga mencakup makhluk-makhluk Tuhan lainnya. Hak-hak tersebut harus dipenuhi sebagaimana hak-hak yang berhubungan dengan manusia. Sebagai contoh, pada “Man La Yahdhuruhu al-Faqih” dalam sebuah bagian dengan judul “Haq al-Dâbba ‘ala Shahibihi” (Hak-hak hewan ...
  • Apa yang menjadi tugas wanita yang sedang istihâdha (mustahadha) terkait dengan pelaksanaan salat-salat yang telah ditinggalkan sementara ia mengira bahwa tengah haidh?
    3615 Hukum dan Yurisprudensi 2011/11/08
    Pertanyaan-pertanyaan Anda telah kami ajukan kepada kantor-kantor marja agung taklid dan menerima jawaban dari mereka sebagaimana berikut ini: Kantor Ayatullah Agung Imam Khamenei (Mudda Zhilluhu al-‘Ali): Jawaban A: Mandi harus dilaksanakan bagi salat pertama yang ingin dikerjakan. Jawaban B: Telah jelas pada jawaban ...
  • Tolong jelaskan hukum-hukum fikih terkait dengan anjing dan kucing?
    13083 Anjing 2013/04/18
    Salam dan terima kasih atas pertanyaan yang Anda layangkan ke meja redaksi site kami. Harap diperhatikan bahwa hewan-hewan yang telah dilatih dan menjadi piaraan tidak memberikan pengaruh pada hukum-hukum syariat terkait dengan hewan-hewan tersebut. Benar bahwa terdapat hukum khusus terkait dengan anjing pemburu dan anjing penjaga dalam ...
  • Apakah akal dapat mengetahui sesuatu yang partikular qua partikular itu sendiri?
    6769 Filsafat Islam 2011/06/09
    Kedudukan dan posisi akal mencerap segala sesuatu yang bersifat universal. Adapun kedudukan dan posisi indra adalah mencerap segala sesuatu yang bersifat partikular. Karena itu akal tidak dapat mencerap “partikular qua partikular” secara langsung dan tanpa media. Tugas mencerap segala sesuatu yang partikular (juz’i) qua partikular (juz’i) berada di pundak ...
  • Apakah keutamaan syarifah sedemikian sehingga bahwa hukuman bagi sayyid yang berdosa lebih ringan dari yang non sayyid?
    2432 Surga dan Neraka 2017/06/19
    Karena nasab mereka bersambung kepada Rasululullah Saw dan Ahlulbait As, maka hal itu merupakan sebuah keutamaan.[1] Namun di balik itu, kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh orang-orang yang menyandang gelar sayyid boleh jadi lebih banyak. Imam Ridha As terkait dengan hal ini bersabda: “Orang-orang yang berbuat ...
  • Pertanyaan apa saja yang akan diajukan pada 7 pos jembatan shirath?
    7672 Teologi Lama 2012/08/21
    Pada pos pertama yang akan ditanyakan adalah tentang wilayah dan kecintaan kepada Ali bin Abi Thalib dan Alu Rasulullah Saw. Pada pos kedua yang ditanya adalah masalah salat, pos ketiga tentang zakat, pos keempat ihwal puasa, pos kelima berkaitan dengan haji, pos keenam berhubungan dengan jihad dan ...

Populer Hits

Jejaring