Advanced Search
Hits
7369
Tanggal Dimuat: 2012/01/19
Ringkasan Pertanyaan
Terkadang saya duduk menghadap kiblat dan berbicara dengan para Imam Maksum As, pada saat-saat seperti ini saya merasakan sesuatu yang berbeda pada diri saya. Saya merasakan diri saya bergetar hebat. Kondisi seperti ini menandakan apa?
Pertanyaan
Terkadang saya duduk menghadap kiblat dan berbicara dengan para Imam Maksum As. Atau saya menghadap ke arah Karbala dan menyampaikan salam kepada Aba Abdillah al-Husain As, pada saat-saat seperti ini saya merasakan sesuatu yang berbeda pada diri saya. Saya merasakan diri saya bergetar hebat. Kondisi seperti ini menandakan apa? Salah seorang pengidung berkata kondisi ini menandakan bahwa pada saat-saat itu para Imam Maksum As sedang menyaksikan dan memperhatikan kita serta menjawab salam kita. Apakah hal ini ada benarnya? Terima kasih banyak.
Jawaban Global

Sebagaimana yang Anda tahu para Imam Maksum As mengawasi seluruh amalan kita dan hal ini juga disebutkan dalam beberapa riwayat. Tentu saja perhatian ini akan lebih terasa tatkala kita berada di pusara mereka atau tatkala kita, dengan penuh kesadaran, mengungkapkan kecintaan kita kepada mereka.

Dari sisi lain, adanya reaksi di hadapan pelbagai ekstasi dan spiritualitas ini bukanlah hal yang baru bagi kita semua. Ayat-ayat al-Qur’an dan riwayat juga memiliki bukti tentang hal ini. Dalam pada itu, sebagaimana yang disebutkan dalam sebagian riwayat, fenomena ini merupakan tanda diterimanya ketaatan, taubat dan pelbagai permohonan kita. Di antara tanda-tanda tersebut adalah badan bergetar hebat, air mata menetes dan lain sebagainya.

Kondisi-kondisi seperti ini terkadang terjadi pada setiap orang beriman. Namun tidak benar tatkala manusia mengalami kondisi seperti ini ia mengungkapkannya. Langkah yang perlu ditempuh adalah supaya manusia mengerjakan tugas-tugasnya dengan penuh kesadaran dan niat tulus serta mengharapkan perhatian Allah Swt dan para Imam Maksum As.

Jawaban Detil

Sebagaimana yang Anda tahu para Imam Maksum As mengawasi seluruh amalan kita dan hal ini juga disebutkan dalam beberapa riwayat. Misalnya sebuah riwayat yang dinukil dari Imam Mahdi Ajf yang bersabda, “Kami tidak lalai terhadap kondisi kalian dan (juga) tidak akan pernah melupakan kalian.”[1]

Riwayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa amalan-amalan dan perbuatan-perbuatan kita dalam pengawasan Imam Mahdi Ajf. Karena demikian adanya, maka tentu saja orang-orang yang pergi berziarah ke pusara atau menyampaikan ungkapan kecintaan kepadanya dari jarak jauh, akan mendapatkan perhatian khusus dari mereka.

Dalam hal ini, riwayat dari Imam Shadiq As sangat terang menjelaskan masalah ini. Imam Shadiq As, sehubungan dengan perhatian Aba Abdillah al-Husain As kepada para peziarahnya, bersabda, “Sesungguhnya Husain bin Ali berada di sisi Allah dan menyaksikan para peziarahnya, mengenal dan memohonkan ampunan bagi mereka.”[2]

Dari sisi lain, masalah reaksi badan di hadapan sebagian ekstasi, perilaku dan ucapan-ucapan juga telah kita alami bersama. Dalam al-Qur’an dan riwayat juga telah disinggung tentang reaksi orang beriman di hadapan urusan-urusan spiritual.

Allah Swt berfirman dalam al-Qur’an, “Kulit orang-orang yang takut kepada Tuhan mereka gemetar karenanya, kemudian menjadi tenang lahir dan batin mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, Dia memberi petunjuk dengannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya” (Qs. Al-Zumar [39]:23) Dalam sebuah riwayat kondisi seperti ini merupakan pertanda atas dikabulkannya doa dan permintaan hamba kepada Tuhan. Riwayat tersebut menyatakan, “Apabila bulu roma kalian berdiri, air mata mengalir dan kalian memiliki permohonan maka ketahuilah permohonan kalian telah dikabulkan.”[3]

Karena itu, meski kita senantiasa hadir di hadapan Allah Swt dan para Imam Maksum As, namun tanda-tanda seperti air mata mengalir, badan bergetar hebat dan lain sebagainya merupakan tanda-tanda tersambungnnya hubungan intim kita dengan para Imam Maksum dan perhatian khusus mereka terhadap kita. Insya Allah.

Namun harap diperhatikan bahwa kendati tanda-tanda ini mengisahkan tersambungnya hubungan ini, namun tidak serta merta kita dapat mengambil kesimpulan seperti ini setiap saat hal ini terjadi. Hanya saja kita sekali-kali tidak boleh berputus asa. [iQuest]

 



[1]. Muhammad Baqir Majlisi, Bihâr al-Anwâr, jil. 53, hal. 175, Bab 13, Muassasah al-Wafa, Beirut, 1404 H.

[2]. Muhammad bin Hasan Hurr al-‘Amili, Wasâil al-Syiah, jil. 14, hal. 73, Bâb Ta’kid Istijâbah Ziyârat al-Husain, Hadis 19508, Muassasah Ali al-Bait, Qum.  

[3]. Wasâil al-Syiah, jil. 7, hal. 72, Bâb Istijâbah al-Do’â ‘inda Riqqat al-Qalb, Hadis 8760.

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits