Advanced Search
Hits
8241
Tanggal Dimuat: 2012/04/14
Ringkasan Pertanyaan
Apakah dalam turats Islam terdapat sebuah pengetahuan mandiri yang bernama kedokteran tradisional? Bagaimana menemukan solusinya apabila terjadi kontradiksi antara pengetahuan medikal modern dan anjuran-anjuran yang terdapat dalam riwayat?
Pertanyaan
Apakah agama Islam dalam dunia kedokteran seperti dunia-dunia lainnya juga mengobati penyakit-penyakit fisikal manusia? Apakah dalam turats Islam terdapat sebuah pengetahuan mandiri yang bernama kedokteran tradisional? Interaksi apa yang terjalin di antara para pemimpin agama dan masyarakat kedokteran? Bagaimana menemukan solusinya apabila terjadi kontradiksi antara pengetahuan medikal modern dan anjuran-anjuran yang terdapat dalam riwayat?
Jawaban Global

Allah Swt menyatakan bahwa pengutusan para nabi adalah untuk menyucikan jiwa, mengajarkan hikmah dan agama. Seiring dengan itu, Rasulullah Saw mengumumkan tujuan pengutusannya adalah institusionalisasi akhlak budiman dan budi pekerti yang luhur dalam masyarakat.

Dari satu sisi, dengan memperhatikan tidak terbilangnya pengetahuan manusia; seperti kedokteran, industri dan lain sebagainya, jalan universal para pemimpin agama (baca: Nabi Saw dan para Imam Maksum As) yang dipilih adalah – meski mereka memiliki pengetahuan yang tidak terbatas dari sisi Allah Swt – tidak memperkenalkan diri mereka sebagai spesialis dalam seluruh bidang keilmuan. Mereka memberikan penghormatan, minimal secara lahir, terhadap pelbagai bidang keilmuan yang diterima dan dicapai manusia.

Mereka dengan mencermati perkembangan natural ilmu kedokteran, juga melontarkan kritikan-kritikan dan anjuran-anjuran pada sebagian terhadap disiplin ilmu ini sebagaimana biasanya, namun kebanyakan mereka menggunakan pengobatan yang dianjurkan oleh para dokter (tabib) pada masa itu dan juga menganjurkan orang lain untuk melakukan hal yang sama.

Dengan demikian, sama sekali tidak pernah terlontar klaim-klaim bahwa dengan terciptanya sebuah displin ilmu moderen dengan nama kedokteran islami dari mereka maka pengetahuan kedokteran yang berkembang pada masa itu berbenturan dengan pelbagai problematika!

Nampaknya para maksum, sekiranya mereka hidup di tengah-tengah kita hari ini, maka mereka akan melanjutkan cara-cara seperti itu. Hanya saja para dokter yang commited dapat mengambil inspirasi dari sebagian ajaran agama dan sunnah kemudian menunjukkan riset-riset moderen dalam pengetahuannya. Namun demikian sekali-kali kita tidak dapat mempersoalkan kemajuan-kemajuan yang dicapai dalam dunia kedokteran moderen hanya karena kita terlalu mensakralkan kedokteran tradisional dan islami.

Dari sisi lain, dengan mencermati secara serius dan profesional dalam panduan-panduan medis para maksum maka akan menjadi jelas bahwa bukan hanya kita tidak dapat menyaksikan adaya pertentangan kedokteran moderen dalam anjuran-anjuran ini bahkan kebanyakan dari anjuran-anjuran, meski ditunjukkan berdasarkan pada kedokteran tradisional  pada masa tersebut, tetap seiring dan sejalan dengan kedokteran modern.

Jawaban Detil

Untuk membahas hubungan antara ajaran-ajaran agama dan ilmu kedokteran kita harus membahas beberapa ragam bagian penting sehingga kita dapat sampai pada sebuah kesimpulan yang benar dan tepat.

Bagian pertama: Apakah Islam juga menanggung urusan kondisi kesehatan umat manusia?

Bagian kedua: Apakah para pemimpin agama juga memeliki anjuran-anjuran medis dan pengobatan?

Bagian ketiga: Bagaiamana dapat memecahkan kontradiksi yang ada antara anjuran-anjuran yang terdapat pada literatur-literatur Islam dan ilmu kedokteran?

Bagian keempat: Akhirnya apakah kita dapat meyakini sebuah topik yang bernama kedokteran Islam (thibb islami)?

Berdasarkan urutan bagian di atas sekarang mari kita membahas bagian demi bagian sebagai berikut:

 

 

Bagian Pertama:

Bagian terpenting yang harus disampaikan sebagai pendahuluan adalah bahwa apakah ajaran Islam juga mencakup urusan pengobatan fisik manusia atau tidak? Untuk menjabarkan topik ini kiranya kita perlu mengananilsa beberapa poin berikut ini:

Poin pertama: Dengan melihat secara global pada prinsip-prinsip agama dengan mudah dapat kita jumpai bahwa tujuan utama dan pertama pengutusan para nabi adalah memajukan dan meningkatkan kualitas spiritual manusia.[1] Rasulullah Saw sendiri bersabda, “Aku diutus supaya menyampaikan moralitas manusia hingga mencapai derajat tertinggi moral kemanusiaan.”[2]

Poin kedua: Manusia sibuk berurusan dengan ratusan bahkan ribuan spesialisasi sehingga mereka dapat hidup sejahtera secara material. Membangun kota, industri, transportasi, agraria, dan lain sebagainya merupakan hal-hal yang dikerjakan dan dikembangkan manusia baik secara kuantitas atau pun kualitas sepanjang perjalanan sejarah. Kedokteran juga tidak terkecualikan dalam hal ini. Apa yang mengemuka di sini “al-‘ilmu ‘ilmân.. Ilmu al-adyân wa ilmu abdân” bukanlah sebuah riwayat yang dapat disandarkan kepada Rasulullah Saw dan Ahlulbait As.

Poin ketiga: Mengingat bahwa sumber dan asal seluruh ilmu pengetahuan dari Allah Swt, namun Allah Swt tidak mengutus para nabi dan para imam untuk menyempurnakan ilmu-ilmu material, melainkan untuk kemajuan dalam seluruh bidang ilmu di antaranya ilmu kedokteran yang diserahkan di pundak manusia sendiri.

Karena itu kita saksikan bahwa pada masa kehadiran para imam, mereka tidak melarang para sahabatnya untuk merujuk kepada para dokter (tabib) bahkan kepada dokter non-Muslim.[3] Dalam hal lain, kita lihat bahwa setelah pukulan yang menghantam Imam Ali As, para dokter Kufah mendatangi beliau, meski pada masa itu, di samping Imam Ali As sendiri, terdapat tiga imam lainnya di samping beliau.[4]

Karena itu, kita tidak boleh melalaikan pengetahuan modern dan ilmu kedokteran hanya karena kita temukan amalan-amalan tertentu pada belantara ayat-ayat dan riwayat-riwayat. Hanya saja para dokter Muslim dapat menjadikan ayat-ayat al-Qur’an dan juga riwayat-riwayat sebagai sumber inspirasi untuk memulai penelitian baru. Namun selama hal tersebut masih bersifat asumsi dan belum berubah menjadi teori yang dapat diterima maka hendaknya kita tidak menyandarkan pada Islam.

Sebagai contoh, boleh jadi redaksi ayat al-Qur’an, “fadharbna ‘ala adzanihim” (“Lalu Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu,” Qs. Al-Kahf [18]:11) menjadi sumber inspirasi kaum Muslimin sehingga ia harus melakukan sebuah penilitian terkait dengan asumsi “Hubungan gerakan dua telinga dan tidur” atau teori yang bersandar pada “Pengobatan orang tuli bawaan dan seseorang yang terjangkiti lepra sama sukarnya dengan menghidupkan orang mati.”

Dengan mengambil ilham dari ayat-ayat yang berhubungan dengan mukjizat Isa al-Masih[5] namun kesimpulan yang dapat diraih pada akhirnya merupakan hasil penelitian seorang dokter bukan sebuah penelitian keagamaan.

Bagaimanapun, bolehnya seorang pelajar dalam fakultas kedokteran dan juga bolehnya merujuk secara ilmiah kepada para dokter merupakan pertanda bahwa Islam tidak ingin memperkenalkan dirinya sebagai sentra rujukan dalam disiplin ilmu kedokteran.

 

Bagian Kedua

Namun demikian kita tidak dapat mengingkari bahwa sebagian topik dan hal-hal yang berkaitan dengan ilmu kedokteran juga dapat disaksikan di antara riwayat-riwayat yang dapat dikecualikan dari prinsip universal yang telah disebutkan.

Anjuran-anjuran ini dijelaskan dengan pelbagai motivasi; seperti apa yang dijelaskan fisiologi badan manusia untuk menunjukkan kekuasaan Allah Swt yang dilakukan oleh Imam Husain As dalam doa Arafah.[6]

Dalam beberapa hal juga para sahabat dan penolong imam, musyawarah-musyawarah dengan mereka tentang makanan-makanan dan obat-obatan, dan sebagaimana pada zaman moderen, seseorang yang bukan dokter yang memiliki pengetahuan dalam bidang ini, ia tidak pernah menolak mentransformasi pengalamannya kepada orang lain, para Imam Maksum As juga pada tingkatan tertentu, tidak pernah membiarkan para sahabatnya tanpa musyawarah seperti ini.

Pada sebagian hal, pendapat dokter mendapatkan sokongan atau mendapatkan kritikan dari para pemimpin agama. Namun bagaimanapun kita tidak melupakan bahwa para pemimpin ini pada masa itu dikenal sebagai fakih, guru akhlak, mufassir dan lain sebagainya. Namun secara umum mereka tidak disebut sebagai dokter atau industriawan.

Terkadang mengobati seorang pasien merupakan pertanda kekuatan super yang dapat ditunjukkan kepada masyarakat dan bahkan diumumkan bahwa jenis pengobatan ini bagian dari ilmu-ilmu yang diamanahkan kepada mereka dan tentu saja tidak dapat digunakan orang lain[7] dan masalahnya di sini tentu saja berbeda; misalnya Musa dengan tongkatnya menyediakan jalan di atas air bagi Bani Israel, sehingga kita tidak dapat mengeluarkan hukum universal bahwa dengan memukulkan tongkat ke tanah maka mata air akan terbuka..

Dengan pendahuluan ini, kini tiba saatnya kita mengkaji dan menganalisa sebagian riwayat yang berhubungan dengan ilmu kedokteran:

  1. Yunus bin Ya’qub menukil, “Saya bertanya kepada Imam Shadiq As bahwa orang-orang sakit banyak memakan beragam obat yang terkadang tidak mujarab dan berujung pada kematian orang tersebut. Namun terkadang juga mereka sembuh dan jumlah orang-orang yang mendapatkan kesembuhan lebih besar. (Apa yang menjadi tugas kami di hadapan obat-obatan ini)?” Imam As menjawab, “Allah Swt (dengan hikmahnya yang sempurna) memberikan penyakit di tengah manusia juga pada saat yang sama memberikan obat atas penyakit tersebut. Dan tiada satu pun penyakit yang tidak memiliki obat (terlepas apakah manusia menemukannya atau memerlukan penelitian yang lebih jauh). Karena itu, tidak ada masalah Anda memakan obat-obatan yang ada dengan mengingat Allah Swt.”[8]

Riwayat ini persis menyinggung poin ini bahwa manusia harus berusaha mengenal obat-obatan meski ia harus menghadapi pelbagai kegagalan dan jalan buntu. Ia tidak boleh berhenti berusaha mengobati penyakit yang dideritanya. Namun bagaimanapun manusia tidak boleh bersikap sombong dengan ilmu yang diraihnya dan lalai dari mengingat Allah Swt.

  1. Terdapat beberapa riwayat yang menyinggung prinsip universal bahwa manusia tidak boleh langsung mengkonsumsi obat-obatan kecuali dalam kondisi darurat.

Imam Shadiq As dalam hal ini bersabda, “Seseorang yang lebih banyak sehatnya ketimbang sakitnya, namun demikian ia mengkonsumi obat dan karena mengkonsumi obat tersebut ia meninggal dunia, saya tidak dapat mengemukakan alasan apa pun atas perbuatan yang tidak benar ini di hadapan Tuhanku.[9] Putra Imam Shadiq As, Imam Musa Kazhim As juga dalam hal ini bersabda, “Sedapat mungkin hindarilah mengkonsumi obat-obatan dari dokter; karena mengkonsumsi obat yang sedikit pada akhirnya akan membuatnya mengkonsumsi obat-obatan yang banyak.[10] Prinsip universal ini dikemukakan karena efek-efek samping yang ditimbulkan obat-obatan juga telah diterima dalam kedokteran modern. Namun bukti-bukti lainnya juga terdapat dalam beberapa riwayat yang menganjurkan untuk tidak (segera) menggunakan jasa dokter untuk mengobati sakitnya sedapat mungkin, tidak mencakup seluruh penyakit dan pengobatan. Dan pada tingkatan tertentu manusia dapat menggunakan tindakan preventif sebagai pengobatan.[11]

  1. Sebagai contoh lain, bimbingan seputar bagaimana menghindar (langkah pencegahan) juga dapat disaksikan dalam beberapa riwayat yang menyinggung masalah ini bahwa menghindar tidak bermakna tidak memakan, melainkan bermakna mengkonsumsi dengan baik dan dilakukan sesuai dengan agenda bahan makanan.[12] Terdapat riwayat lainnya yang juga menyinggung prinsip-prinsip kedokteran dan sebagian lainnya tentang penyakit-penyakit sehingga boleh jadi riwayat-riwayat ini juga yang telah memotivasi sebagian orang untuk mengemukakan sebuah dispilin ilmu mandiri bernama “Thibb Islami” (Kedokteran Islam).

 

Bagian Ketiga:

Nah kini sebuah pertanyaan mengemuka bahwa apabila terjadi kontradiksi antara sebagian riwayat dan ilmu kedokteran apa yang harus dilakukan?

Harap diperhatikan bahwa sebagian riwayat dalam pandangan pertama tampak tidak sejalan dengan ilmu modern, namun ketika dikaji secara khusus maka dapat ditarik kesimpulan bahwa sama sekali tidak ada kontradiksi terkait dengan hubungan antara riwayat dan ilmu moderen sehingga kita harus mencari pemecahannya.

Dengan kata lain, apabila hadis-hadis ini juga seperti riwayat-riwayat fikih yang dikaji dan diteliti secara serius dan hubungan-hubungan yang terdapat di antara keduanya diurai dan dianalisa dalam pelbagai inferensi-inferensi fikih yang biasa dilakukan, maka kebanyakan penafsiran dan analisa yang tidak benar yang acapkali dilontarkan oleh orang-orang yang non-ahli terkait dengan riwayat, dapat diselesaikan dengan baik.

Meski demikian ada baiknya kita menyimak poin bahwa pandangan fakih terhadap hukum-hukum syariat yang menyoroti tentang segala yang telah ditetapkan oleh Syari’ (baca: Tuhan), maka dapat kita saksikan banyaknya perbedaan pandangan seorang fakih terhadap pelbagai disiplin ilmu; sebagaimana seorang dokter yang sesuai dengan fakta luaran.

Sebagai contoh, mari kita mengkaji dan menganalisa dua riwayat berikut ini:

  1. Dalam sebuah hadis diriwayatkan bahwa perut merupakan kediaman bagi seluruh penyakit[13] atau rumah bagi setiap penyakit.[14]

Boleh jadi sebagian orang dengan kesimpulan yang diambil dari riwayat adalah “seluruh penyakit” yang diperkenalkan terkait dengan perut dan untuk membela kandungan riwayat ini mereka menyatakan bahwa masalah ini juga telah ditetapkan oleh ilmu kedokteran dan dalam dunia praktis mereka acapkali berhadapan dengan problema bahwa tidak terdapat hal yang bersifat universal dalam masalah ini dan kebanyakan penyakit – di antaranya adalah penyakit-penyakit genetik – boleh jadi tidak terdapat hubungan dengan perut. Namun apabila kesimpulan yang diambil dari riwayat ini tepat adanya, dapat diprediksikan bahwa kebanyakan statistik menyebutkan bahwa kebanyakan penyakit bersumber dari perut tanpa perlu lagi mengait-ngaitkan seluruh penyakit dengan perut.

Kesimpulan keliru pertama bertitik tolak dari dari redaksi “kull” diterjemahkan menjadi “seluruh tanpa kecuali bahkan satu hal pun” sementara kata “kull” dalam bahasa Arab boleh jadi digunakan dengan makna lain seperti “kebanyakan” dan lain sebagainya.

Sebagai contoh, tatkala burung Hud-hud mengantarkan berita untuk Nabi Sulaiman As, “Aku melihat seorang wanita yang memerintah di negeri Saba dan dia dianugerahi segala sesuatu.” (Qs. Al-Naml [27]:23) Kata kull pada ayat ini tidak bermakna tiada sesuatu pun yang tidak berada dalam kekuasaan Ratu Saba melainkan bermakna kira-kira seluruh anugerah (fasilitas) yang terdapat pada masa itu berada dalam kekuasaannya.”

Dengan penafsiran seperti ini kita saksikan bahwa bahkan dengan menetapkan teori bahwa sebagian penyakit tidak ada sangkut pautnya dengan perut maka riwayat ini dapat dipertahankan.

 

  1. Terdapat sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa tiada penyakit selain kematian, yang tidak dapat diobati oleh biji hitam (habbat al-saudah).[15] Dalam menafsirkan riwayat ini kita tidak dapat bertindak sebagaimana para penjual obat-obatan herbal yang membuat iklan untuk menjual lebih banyak obat-obatannya dan mengumumkan bahwa dengan mengkonsumsi obat-obat herbal ini maka Anda tidak lagi perlu mengkonsumsi obat-obat lainnya.

Karena pertanyaan gamblang yang akan mengemuka bahwa dengan adanya obat mujarabi seperti ini lantas apa dalilnya membuat resep-resep rumit dan mengapa pada riwayat-riwayat lainnya terdapat orang-orang memperkenalkan obat-obat lainnya? Pada dasarnya apakah dengan adanya obat magis seperti ini kita tidak lagi memerlukan penelitian-penelitian baru dalam dunia kedokteran dan bahkan anjuran-anjuran obat lainnya dalam riwayat?

Apabila semenjak pertama terdapat kesimpulan lain dari riwayat ini dan kita berkata bahwa berdasarkan riwayat ini, khasiat “biji hitam” (habbat al-saudah) mencakup bahan-bahan yang dapat digunakan dalam komposisi-komposisi obat yang berhubungan dengan ragam pengobatan[16] dan juga pengobatan tidak hanya dapat dinilai bermakna kesembuhan total seorang pasien, melainkan setiap obat yang berguna hingga pada tataran tertentu bagi pasien kita pandang sebagai salah satu jenis pengobatan dan proses pengobatan harus disempurnakan dengan obat-obat lainnya, sehingga tidak lagi menyisakan pertanyaan-pertanyaan.

Dengan pandangan seperti ini dan dengan menerima realitas bahwa Islam tidak menentang kemajuan ilmu kedokteran, kita akan kurang mengurusi anggapan adanya pertentangan antara ilmu dan anjuran-anjuran yang terdapat dalam riwayat, di samping itu dalam banyak hal, model pengobatan yang diperkenalkan dalam beberapa riwayat adalah berkaitan dengan ilmu kedokteran pada masa itu dan jelas bahwa apabila para maksum hidup di masa kita maka tentu saja mereka tidak akan menentang ilmu-ilmu modern dan boleh jadi mereka akan memperkenalkan sebagian obat-obatan yang umum dikonsumsi hari ini kepada para pengikutnya; karena keniscyaan pelbagai kemajuan, terjadinya beberapa perubahan.

Dan sebagaimana dengan adanya persenjataan moderen kita tidak boleh mempersiapkan kuda-kuda perang dan hanya menyandarkan perbuatan kita pada literatur-literatur agama.[17] Dalam masalah ini, kita harus berpikir tentang sistem militer moderen sebagai ganti sistem militer tradisional dan tidak lagi keliru mengatasnamakan Islam atas apa yang kita lakukan. Demikian juga kita tidak boleh mengabaikan kemajuan kedokteran dan hanya berkutat pada pengobatan tradisional dan menyebutkan sebagai pengobatan islami. Artinya bahwa dengan menunjukkan segala model pengobatan moderen, kita dapat menyimpulkan apakah ingin melanjutkan atau meninggalkan proses pengobatan pasien-pasien dengan metode-metode tradisional dan tentu saja hal ini dapat dilakukan oleh dokter-dokter spesialis dan committed yang dapat mengidentifikasi keunggulan pelbagai jenis pengobatan atas yang lain.

Namun semua hal ini tidak bermakna bahwa kita menutup mata sama sekali dan menepiskan seluruh pengalaman pengobatan tradisional; seperti bekam dan pendarahan yang disinggung pada sebagian teks-teks riwayat, melainkan apa yang ingin kami sampaikan adalah bahwa apabila telah ditetapkan misalnya transfusi darah sama kegunaannya dengan bekam, tanpa harus mengeluarkan darah dengan melukai badan, maka kita tidak lagi dapat bersandar pada pengobatan bekam yang disinggung dalam literatur-literatur Islam dan kemudian mempertanyakan pelbagai penelitian baru dalam dunia kedokteran.

 

Bagian Keempat:

Dengan memperhatikan pembahasan-pembahasan di atas menjadi jelas bahwa menyebut sebuah displin ilmu mandiri dengan nama kedokteran Islam tidak dapat semata-mata bersumber dari ajaran-ajaran Islam. Riwayat historis berikut ini dapat dijadikan sebagai penegasan lain atas masalah ini:

Makmun membuat sebuah perhelatan besar di kota Naisyapur yang dihadiri oleh Imam Ridha As. Di tempat itu berkumpul seluruh ilmuan dari pelbagai bidang disiplin ilmu di antaranya para dokter dan filosof ternama... hingga kemudian mengemuka pembicaraan tentang ilmu kedokteran dan segala yang terkait dengan kesehatan dan penguatan badan manusia. Makmun dan para hadirin berbicara dengan semangat tentang masalah ini dengan pelbagai sudut pandang. Bagaimana bagian beragam dan paradoks badan manusia saling bekerja sama untuk mencapai satu tujuan? Kegunaan aneka makanan dan pelbagai bahayanya? Penyakit-penyakit yang dapat ditimbulkan dari makanan-makanan ini? Dan lain sebagianya.

Imam Ridha As semenjak awal hanya mengikuti irama pembicaraan dan memilih diam hingga Makmum berpaling kepada Imam Ridha As dan berkata, “Bagaimana pendapat Anda terkait dengan pembicaraan hari? Kami sendiri mau tak mau harus mengetahuinya.”

Imam Ridha As bersabda, “Saya juga memiliki informasi dalam hal ini yang telah dialami oleh sebagian orang dan dengan melalui pengujian beberapa waktu saya menemukannya dengan baik dan sebagian lainnya merupakan kemestian-kemestian kesehatan yang mau-tak-mau harus diketahui oleh semua orang. Demikian juga saya mempelajari dari orang-orang terdahulu dan kesemua ini telah saya kumpulkan dalam sebuah himpunan (naskah) dan akan saya berikan kepada Anda.”[18] Kemudian Imam Ridha menyerahkan himpunan tertulis yang mengandung anjuran-anjuran kesehatan kepada Makmun yang dewasa ini lebih dikenal sebagai “Thibb al-Ridha” atau “Risalah al-Dzahabiyah.”

Terlepas dari bahwa dalam riwayat ini terdapat tanda-tanda taqiyyah dan juga model bagaimana Imam belajar tidak sejalan dengan keyakinan-keyakinan Syiah, namun paling tidak kita dapat mengambil kesimpulan bahwa para imam memandang maslahat bahwa ilmu kedokteran harus disempurnakan dengan berdiskusi dengan para dokter bukan langsung bertindak dengan memanfaatkan ilmu gaib yang mereka miliki dan mengajak para dokter untuk mengikut anjuran-anjuran kedokterannya.

Atas dasar itu, ketika kita menyebut “Kedokteran Islam” kita mengacu pada sebuah kondisi ketika di dalamnya dokter tidak memandang secara finansial dan ekonomis kepada pasiennya. Di samping itu, ia dapat menyimpang rahasia-rahasia para pasiennya dan terhiasi dengan seluruh moralitas dan sifat-sifat terpuji bukan ilmu kedokteran yang diperoleh dari ayat-ayat al-Qur’an dan riwayat-riwayat.

Karena itu, dengan segala penghormatan, atas pelbagai temuan-temuan para dokter Muslim seperti Ibnu Sina, Razi dan lain sebagainya yang terdidik dalam peradaban Islam, kita tidak ingin memberikan corak kesucian pada temuan-temuan tersebut dan memperkenalkan kepada masyarakat sebagai ilmu yang tidak dapat dirubah dan dikritisi. Secara umum kami yakin bahwa seluruh anjuran yang terdapat pada riwayat-riwayat yang menyoroti masalah “Kedokteran Tradisional” tidak dapat kita sebut sebagai kedokteran Islami dimana hal ini sama sekali juga tidak bermakna tiadanya anjuran-anjuran dokter dalam sebagian riwayat yang harus dijalankan. [iQuest]

 

 

 


[1]. “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul dari golongan mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka kitab (Al-Qur’an) dan hikmah, meskipun mereka sebelum itu benar-benar terjerumus dalam jurang kesesatan yang nyata.” (Qs. Al-Jum’ah [63]:2)

[2]. Muhammad Baqir Majlisi, Bihâr al-Anwâr, jil. 67, hal. 372, Muassasah al-Wafa, Beirut, 1409 H.

[3]. Bihâr al-Anwâr, jil. 59, hal. 65, Hadis 9.

[4]. Ibid, jil. 42, hal. 234.

[5]. “Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Isra’il (yang berkata kepada mereka), “Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhan-mu, yaitu aku membuat untukmu dari tanah seperti bentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku memberitahukan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah suatu tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, jika kamu sungguh-sungguh beriman.” (Qs. Ali Imran [3]:49); “(Ingatlah) ketika Allah berfirman, “Hai Isa putra Maryam, ingatlah nikmat-Ku kepadamu dan kepada ibumu di waktu Aku menguatkanmu dengan Ruhul Qudus. Kamu dapat berbicara dengan manusia di waktu masih dalam buaian dan sesudah dewasa. Dan (ingatlah) ketika Aku mengajarmu kitab, hikmah, Taurat, dan Injil, dan (ingatlah pula) ketika kamu membentuk dari tanah (suatu bentuk) yang berupa burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniup padanya, lalu bentuk itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan seizin-Ku. Dan (ingatlah) ketika kamu menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibu dan orang yang berpenyakit sopak dengan seizin-Ku, dan ketika kamu mengeluarkan orang mati dari kubur (menjadi hidup) dengan seizin-Ku, dan (ingatlah) di waktu Aku menghalangi Bani Isra’il (dari keinginan mereka membunuh)mu di kala kamu mengemukakan kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, lalu orang-orang kafir di antara mereka berkata, ‘Ini tidak lain melainkan sihir yang nyata.’” (Qs. Al-Maidah [5]:110)

[6].  Bihâr al-Anwâr, jil. 95, hal. 218.

[7]. Muhammad bin Ya’qub Kulaini, al-Kâfi, jil. 6, hal. 333, Hadis 5, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Teheran, 1407 H.

[8]. Bihâr al-Anwâr, jil. 59, hal. 66, Hadis 10.

[9]. Ibid, jil. 59, hal. 64, Hadis 5.

[10]. Ibid, jil. 59, hal. 63, Hadis 4.

[11]. Ibid, jil. 59, hal. 140, Hadis 1.

[12]. Ibid, jil. 59, hal. 64, Hadis 7.

[13]. Ibid, jil. 59, hal. 75.

[14]. Ibid, jil. 59, hal. 290.

[15]. Bihâr al-Anwâr, jil. 10, hal. 115.

[16]. Kesimpulan ini lebih cocok dengan “ma min dain illa wa fi al-habbati al-sauda minhu syifaun.”

[17]. “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu, dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahui mereka; sedang Allah mengetahui mereka.”  (Qs. Al-Anfal [8]:60)

[18]. Bihâr al-Anwâr, jil. 59, hal. 307.

 

 

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits