Advanced Search
Hits
19786
Tanggal Dimuat: 2011/08/16
Ringkasan Pertanyaan
Apa hubungan yang terjalin antara akhlak dan tawakkal?
Pertanyaan
Hubungan apa saja yang terjalin antara akhlak dan tawakkal?
Jawaban Global

Akhlak bermakna sebuah sifat dan karakter yang dimiliki secara inheren (malakah) dalam jiwa manusia. Malakah adalah sebuah sifat yang merasuk dan bersemayam pada ruh dan jiwa manusia sehingga pelbagai perbuatan yang dilakukan manusia, efek dan perbuatan tersebut dilakukan secara otomatis dan tanpa harus berpikir sesuai dengan sifat tersebut.  

Dalam sebuah pembagian universal, akhlak terbagi menjadi dua “fadhilat” (pelbagai keutamaan) dan “radzilat” (pelbagai keburukan).

Adapun tawakkal yang merupakan salah satu keutamaan akhlak dan moral bermakna penyandaran seorang hamba kepada Allah Swt dan penyerahan segala urusan kepada-Nya. Tawakkal sejati kepada Tuhan tidak menjadi penghalang berperantara kepada sebab-sebab yang ada. Karena Allah Swt sendiri berfirman untuk berperantara pada sebab-sebab namun dengan tetap bertawakkal kepada-Nya.

Dengan demikian, tawakkal adalah salah satu obyek (mishdaq) dan merupakan salah satu keutamaan moral.

Jawaban Detil

Akhlak secara Leksikal:

Akhlak merupakan kata jamak dan plural dari khu-lu-q dan khu-l-q. Dua kata ini bermakna sebuah sifat dan karakter yang dimiliki secara inheren (malakah) dalam jiwa manusia. Malakah adalah sebuah sifat yang merasuk dan bersemayam pada ruh dan jiwa manusia sehingga pelbagai perbuatan yang dilakukan manusia, efek dan perbuatan tersebut dilakukan secara otomatis dan tanpa harus berpikir sesuai dengan sifat tersebut.

Misalnya tatkala sifat rendah hati dan tawadhu telah hadir dalam diri manusia hingga tingkatan inheren, maka secara otomatis orang yang memiliki sifat tawadhu ini pada tempatnya yang proporsional akan berlaku tawadhu kepada siapa pun.

Akhlak boleh jadi bersifat positif yang kita sebut sebagai keutamaan (fadhilat) dan mungkin saja bercorak negatif yang kita sebut sebagai keburukan (radzilat). Karena itu,  akhlak bermakna kumpulan sifat-sifat terpuji (fadhâil) dan tidak terpuji (radzail) yang dimiliki secara inheren dalam diri manusia.[1]

Harap diperhatikan bahwa khulq dan akhlak merupakan masalah kondisi dan bentuk kejiwaan manusia. Bukan masalah amalan dan perbuatan. Karena akhlak adalah kondisi dan kekuatan internal manusia yang melahirkan perbuatan-perbuatan baik atau buruk. Perbuatan-perbuatan dengan demikian merupakan produk akhlak bukan akhlak itu sendiri. Atas dasar itu, apabila seseorang memiliki secara inheren sifat pemurah, namun karena beberapa alasan seperti fakir atau halangan-halangan lainnya, tidak memiliki kemampuan untuk memberi, maka ia tetap disebut sebagai orang yang pemurah. Sebagaimana orang-orang yang tidak memiliki ruh untuk memberi namun biar diketahui dan dikenal orang maka ia berderma. Orang seperti ini tidak dapat disebut sebagai orang yang pemurah.

Pada dasarnya, pelbagai kondisi baik atau buruk secara kebetulan yang menyebabkan manusia melakukan sebuah perbuatan maka hal tersebut tidak dapat disebut sebagai khulq (singular dari akhlak). Khulq adalah  sebuah kondisi yang menghujam dan tertanam secara kokoh dalam ruh manusia dan merupakan kondisi-kondisi permanen yang bersemayam dalam diri manusia.[2]

 

Definisi Tawakkal

Salah satu konsep umum dalam akhlak islami yang menyoroti sebuah sifat kejiwaan dan penjelas hubungan khusus antara manusia dan Tuhan disebut sebagai tawakkal. Tawakkal, merupakan sebuah kedudukan di antara pelbagai kedudukan para salik kepada Allah Swt dan sebuah makam dari makam-makam para ahli tauhid serta merupakan tingkatan tertinggi derajat ahli yakin.[3]

Tawakkal adalah penyandaran dan kemantapan hati seorang hamba dalam segala urusan kepada Allah Swt. Menyerahkan segala urusan kepada Allah Swt dan bersandar sepenuhnya kepada daya dan kekuatan Allah Swt.[4]

Rasululah Saw bersabda, “Aku bertanya kepada Jibril, “Apakah tawakkal itu?” Ia menjawab, “Pengetahuan terhadap kenyataan ini bahwa makhluk tidak akan mendatangkan kerugian juga tidak mendatangkan keuntungan dan bahwa Anda tidak menaruh harapan terhadap apa yang ada di tangan manusia. Tatkala seorang hamba sudah seperti ini maka ia tidak akan bekerja selain untuk Allah Swt dan tidak berharap kepada selain Allah Swt. Kesemua ini merupakan hakikat dan rahasia tawakkal.[5]

Sifat mulia ini akan dapat diperoleh apabila manusia tatkala mengerjakan sesuatu di alam eksistensial ini maka ia harus memandangnya dari sisi Allah Swt dan tiada satu pun kekuatan yang berkuasa kecuali kekuatan-Nya. Tiada daya dan kekuatan selain melalui-Nya. Apabila seseorang benar-benar memiliki keyakinan seperti ini maka dalam dirinya ia bersandar kepada Allah Swt dan berserah diri sepenuhnya kepada-Nya.[6]

Akan tetapi hal ini merupakan tingkatan tertinggi tawakkal. Tawakkal memiliki beberapa tingkatan:

A.    Selemah-lemah derajat tawakkal adalah bahwa manusia penyandaran manusia kepada Tuhan seperti penyandaran kepada wakil dalam kasus peradilan yang dihadapi. Dalam tingkatan ini, yang paling menonjol adalah memandang bagaimana urusannya dapat segera selesai.

B.    Kondisi medium: Tidak mengenal selain Allah dan tidak berlindung kepada selain-Nya. Seperti ketergantungan BALITA kepada ibunya. Dan hal ini merupakan derajat pertengahan tawakkal.

C.    Derajat tertinggi tawakkal adalah sebuah kondisi dimana seseorang melihat dirinya seratus persen bergantung kepada Allah Swt laksana seorang mayat di hadapan orang yang memandikannya.[7]

 

Poin yang harus mendapat perhatian adalah bahwa tawakkal kepada Allah Swt tidak menjadi penghalang berperantara kepada sebab-sebab; karena dunia material adalah dunia sebab-akibat. Setiap ada dan tiada, eksisten dan non-eksisten memiliki sebab naturalnya masing-masing. Namun seluruh sebab ini berujung dan berakhir pada satu Sebab dan Sumber Pertama. Seluruh sebab dan akibat ini mengerjakan segala tugasnya sesuai dengan titah dan perintah Allah Swt.

Dalam pembahasan tauhid, salah satu bagian dari tauhid adalah tauhid af’al (perbuatan-perbuatan Tuhan) yang bermakna bahwa manusia muwahhid (yang mengesakan Tuhan), pada seluruh keberadaannya meyakini hanya satu entitas yang berkuasa dan berpengaruh bernama Tuhan yang mempengaruhi seluruh sebab dan akibat yang ada.

Tawakkal kepada Allah Swt dan mencari pertolongan kepadanya merupakan cabang dari tauhid af’al dimana seorang yang bertawakkal memandang bahwa hanya Tuhanlah yang menjadi pemberi pengaruh hakiki di setiap ruang dan waktu.

Tawakkal sebagai salah satu tipologi terpuji dan utama disebutkan pada ayat-ayat dan riwayat yang akan kita singgung sebagian darinya di sini sebagai contoh:

Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (Qs. Al-Maidah [5]:23)

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (Qs. Ali Imran [3]:159)

Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya. (Qs. Al-Thalaq [65]:3)

Imam Baqir As bersabda, “Barang siapa yang bertawakkal kepada Allah Swt tidak akan terdominasi dan barang siapa yang berlindung kepada Allah Swt tidak akan pernah kalah.[8] Imam Ali As bersabda, “Tawakkal kepada Allah Swt media penyelamat dari segala jenis keburukan dan terjaga dari segala jenis musuh.”[9]

Dari apa yang diuraikan di atas menjadi jelas bahwa tawakkal merupakan salah satu sifat utama akhlak dan salah satu obyek (mishdâq) akhlak. Dan demikianlah hubungan antara akhlak dan tawakkal. [IQuest]

 

 



[1]. Muhsin Gharawiyan, Falsafeh-ye Akhlak az Didgah-ye Islam, hal. 11, Muassasah Farhanggi Yamin, Cetakan Kedua, 1380 S.

 

[2]. Mahdi Naili Pur, Behesyt-e Akhlak, jil. 1, hal. 28, Intisyarat-e Muassasah Hadhrat Wali Ashr, Cap Khane Syariat, Qum, 1385 S.

 

[3]. Mahdi Naili Pur, Behesyt-e Akhlak, jil. 1, hal. 28, Intisyarat-e Muassasah Hadhrat Wali Ashr, Cap Khane Syariat, Qum, 1385 S dan jil. 2 hal. 701.

 

[4]. Mulla Ahmad Naraqi, Mi’raj al-Sa’adah, hal. 758, Intisyarat Hijrat, Cetakan Kedelapan, Qum, 1381 S.

Silahkan lihat, Indeks No. 99 (Site: 2385), Jawaban Global.

 

[5]. Mulla Ahmad Naraqi, Mi’raj al-Sa’adah, hal. 758, Intisyarat Hijrat, Cetakan Kedelapan, Qum, 1381 S dengan sedikit perubahan.

 

[6]. Mulla Ahmad Naraqi, Mi’raj al-Sa’adah, hal. 758, 764 dan 765 Intisyarat Hijrat, Cetakan Kedelapan, Qum, 1381 S.

 

[7]. Mirza Husain Nuri, Mustadrak al-Wasail, jil. 2, hal. 288, Muassasah Ali al-Bait li Ihya al-Turats, Cetakan Pertama, 1408 H.

 

[8].  

 

[9]. Sayid Hamid Husaini, Muntakhab Mizan al-Hikmah, bab Tawakkal, Muassasah Ilmi wa Farhanggi Dar al-Hadits, 1385.

 

 

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Mengapa warisan wanita setengah dari warisan pria?
    13460 Hukum dan Yurisprudensi
    Salah satu sebab banyaknya jatah warisan pria dibanding dengan saham wanita adalah bahwa nafkah wanita berada di pundak pria. Artinya pria di samping harus menyiapkan uang belanja untuk dirinya ia juga memiliki tugas untuk menyiapkan biaya hidup bagi wanita (istri) dan anak-anaknya. Di sisi lain, pria adalah pihak ...
  • Bagaimana keadaan ruh seseorang yang telah meninggal, namun lambat dalam penguburan jenazahnya?
    69104 Teologi Lama
    Berdasarkan firman Allah Swt dalam al-Qur’an kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Allah Swt menyimpan ruh orang-orang yang telah meninggal dalam alam yang khusus dan tidak akan menimbulkan kerusakan sedikit pun apabila orang tersebut terlambat dikuburkan. ...
  • Mengapa pada malam Qadar orang-orang dilarang mengolesi badannya dengan Saffron?
    14757 Akhlak Praktis
    1.     Saffron memiliki tiga khasiat: Untuk makanan, sebagai obat dan keindahan. Apa yang dilarang dalam riwayat adalah dari sisi keindahannya. 2.     Tidak haram mengolesi Saffron ke badan, ...
  • Apakah haram mengkonsumsi permen karet-permen karet yang mencantumkan nama Sugar Alcohol dalam kemasannya?
    11678 Hukum dan Yurisprudensi
    Kantor Ayatullah Agung Khamenei (Mudda Zhilluhu al-‘Ali):Apabila alkohol yang digunakan adalah alkohol yang memabukkan dan aslinya cair, mengikut prinsip ihtiyath, maka alkohol tersebut adalah najis dan apabila (Anda) ragu maka alkohol tersebut dihukum suci. Kantor Ayatullah Agung Siistani (Mudda Zhilluhu al-‘Ali):Tidak ada masalah ...
  • Apakah manusia dapat melihat kondisi jasadnya setelah ia wafat?
    6395 Alam Barzakh
    Berdasarkan sebagian riwayat yang ada, ruh manusia setelah terpisahnya dari badan dan tatkala dikebumikan, memiliki pengawasan atas badan serta mengetahui apa yang terjadi pada badan. Rasulullah Saw dalam hal ini bersabda: «... وَ الَّذِی نَفْسِی بِیَدِهِ لَوْ یَرَوْنَ مَکَانَهُ وَ یَسْمَعُونَ کَلَامَهُ لَذَهَلُوا عَنْ مَیِّتِهِمْ وَ ...
  • Apakah seorang pria dapat memandikan jenazah ibu mertuanya?
    18840 Hukum dan Yurisprudensi
    Para juris dan marja agung sehubungan dengan memandikan (jenazah) pria dan wanita memberikan fatwa sebagai berikut:Tidak sah[1] mandinya apabila pria yang memandikan (jenazah) wanita dan wanita yang memandikan (jenazah) pria.[2] Namun wanita dapat memandikan (jenazah) suaminya sendiri dan suami dapat memandikan ...
  • Tolong berikan ayat dan hadis yang menjelaskan manusia makhluk pencari kebenaran?
    15433 فضایل اخلاقی
    Mencari kebenaran dan menuntut ilmu untuk mengenal kebenaran dan hakikat merupakan bagian dari fitrah dan nurani manusia. Masalah ini juga telah dikemukakan dalam al-Quran: «فَأَقِمْ وَجْهَکَ لِلدِّینِ حَنیفاً فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتی‏ فَطَرَ النَّاسَ
  • Mengapa Network Marketing dan QI Internasional di Iran dilarang dan diharamkan?
    9704 Hukum dan Yurisprudensi
    Sebabnya adalah karena perusahaan-perusahaan seperti Gold Quest dan Goldmine -secara umum- merupakan perusahaan yang melakukan bisnis dalam bentuk Piramida untuk mengeruk keuntungan yang melimpah. Bisnis semacam ini secara resmi dilarang di Iran. Pelarangan ini dilakukan karena sangat membahayakan ekonomi negara. Bahaya yang ditimbulkan darinya adalah:
  • Bagaimana pandangan Ahlusunnah ihwal Bilal Habsyi?
    7430 Sejarah Para Pembesar
    Apa yang dijelaskan dalam literatur-literatur Ahlusunnah ihwal sahabat besar Bilal Habasyi adalah bahwa ia adalah orang yang dibebaskan oleh Abu Bakar. Ia adalah seorang mukmin yang kukuh mempertahankan imannya (resistant) di hadapan pelbagai siksaan kaum kafir. Di samping itu, ia adalah muazzin (orang yang ...
  • Apa pendapat Islam dalam kaitannya dengan keceriaan dan kegembiraan?
    10904 Agama dan Budaya
    Kegembiraan hakiki dari pandangan orang yang beriman akan terilustrasi ketika ia melangkahkan kaki lebih dekat ke arah Tuhannya. Namun, karena di dalam dirinya, manusia memiliki fitrah mencari variasi, maka ia bisa memanfaatkan kenikmatan-kenikmatan dunia yang diperbolehkan, dan bergembira karenanya. Kegembiraan ini bisa juga meningkatkan kegembiraan maknawi dan ...

Populer Hits