Advanced Search
Hits
9133
Tanggal Dimuat: 2010/01/05
Ringkasan Pertanyaan
Bagaimana kita kembali kepada ketiadaan?
Pertanyaan
Bagaimana kita kembali kepada ketiadaan?
Jawaban Global
Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil
Jawaban Detil

Apakah yang Anda maksudkan dengan “kembali kepada ketiadaan”? Apakah maksudnya adalah kembali pada keadaan sebelum dilahirkan? Seperti mereka yang mengatakan andai saja Aku tidak dilahirkan?

Tentu saja jelas bahwa tidak ada jalan untuk kembali kepada kondisi sebelumnya, karena waktu senantiasa berlalu dan dia tidak akan berhenti dari gerakannya dengan keinginan, kemauan dan kehendak kita, demikian juga waktu tidak akan pernah kembali ke belakang. Jadi “kembali kepada ketiadaan” dengan makna seperti ini tidak dapat diterima.

Namun jika yang dimaksud dengan ketiadaan adalah “kematian”, maka harus diketahui bahwa kematian bukanlah ketiadaan, kepunahan, dan kesirnaan, melainkan sebuah perubahan dan revolusi dari satu kondisi ke kondisi yang lain, dan perpindahan dari satu alam (alam dunia) ke alam yang lain (alam akhirat).

Aku mati dari mineral dan menjadi tumbuhan

Aku mati dari tumbuhan kemudian menjadi hewan

Aku mati dari hewan kemudian menjadi manusia

Lalu mengapa aku takut apabila aku mati beringsut

Aku berlalu sebagai manusia

Membawa empat sayap dan bulu bak malaikat

Setelah itu, berkoar lebih menjulang dari malaikat

Mengapa engkau tidak dapat membayangkan

Aku akan menjadi seperti itu

Lalu aku tiada setelah tiada[1] bak dentang organ

Aku berkata Inna liLlahi rajiun[2]

Oleh karena itu, dengan menerima teori ini, kematian sejatinya merupakan sebuah kesempurnaan dan gerak menanjak naik. Sebagaimana yang disinggung Maulawi dalam syairnya bahwa menjadi manusia membutuhkan terlewatinya tahapan-tahapan seperti tahapan jasmani (jism), nabati (nabati), dan hewan (hewan). Pada dasarnya masing-masing tahapan ini diperoleh setelah terjadinya kematian pada tahapan sebelumnya.[3] Jadi, kesimpulannya, saat ini ketika aku mati, sebenarnya aku tidak mengalami kehancuran dan kefanaan, melainkan bergerak naik ke tahapan yang lebih tinggi, dan tahapan tersebut adalah alam para malaikat.

Para filosof pun meyakini bahwa kehidupan setelah mati bukanlah yang dimaksud sebagai kembali kepada ketiadaan, dan mereka yakin bahwa “kembali kepada ketiadaan” merupakan sebuah kemustahilan dan absurd.[4] Dan jika seseorang menyangka bahwa kiamat dan ma’âd merupakan berulangnya suatu ketiadaan atau sesuatu yang pernah tiada kemudian mengada dan kembali lagi menjadi tiada, sesungguhnya ia telah berada dalam kesalahan fatal. Karena, pertama: sesuatu tidak akan sirna dan musnah dengan kematian, melainkan kematian merupakan sebuah bentuk kesempurnaan yang akan melanjutkan kehidupannya dengan terpisahnya ruh dari badan, ruh yang membentuk hakikat realitas manusia bahkan akan memiliki kemampuan dan kekuatan jauh lebih banyak setelah terpisah dari badan dibandingkan ketika badan masih berada dalam kepengaturannya. Yang kedua: ma’âd dan kiamat bukanlah bermakna sesuatu kembali berwujud setelah ketiadaan, melainkan bermakna “kembali”, yakni kembali ke sisi Tuhan, bukannya kembali dari ketiadaan kepada keberadaan.

Dengan demikian, secara ringkas harus dikatakan bahwa kembali kepada ketiadaan tidak bermakna sama sekali, demikian juga tidak ada jalan untuk yang demikian itu.[5][]



[1].   Jelas bahwa yang dimaksud tiada dalam bait syair ini adalah tiada yang telah disinggung Rumi pada bait-bait sebelumnya yang bermakna posisi meninggi (posisi rendah menanjak menuju posisi yang lebih tinggi).

[2]. Matsnawi Ma'nawi, Daftar-e Sewwum, hal. 1512.

[3]. Berdasarkan pandangan Mulla Sadra, kematian ini sejenis “penyifatan pasca penyifatan”, bukan “penyifatan pasca kehancuran”.

[4]. Untuk mengetahui argumen filsafat lihatlah, Nihayatul Hikmah, Allamah Thabathabai, hal. 22-25.

[5]. Apakah sesuatu yang telah ada akan menjadi sirna? Apabila sesuatu yang telah ada itu tidak akan sirna maka apakah kaidah ini berkonsekuensi pada keazalian dan keabadian sesuatu itu. Persoalan ini telah dibahas secara meluas dalam filsafat.  Tema ini telah ditegaskan dalam dua bentuk argumen, argumen empirik dan argumen filsafat. Untuk lebih detail silahkan lihat: Ushul-e Falsafeh wa Rawasye Realism, jil.3,  Allamah Thabathabai, pengantar dan catatan kaki oleh Syahid Muthahhari, hal. 111-121, dan Nihayatul Hikmah, Allamah Thabathabai, hal. 326.

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits

  • Ayat-ayat mana saja dalam al-Quran yang menyeru manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya?
    260013 Tafsir 2013/02/03
    Untuk mengkaji makna berpikir dan berasionisasi dalam al-Quran, pertama-tama, kita harus melihat secara global makna “akal” yang disebutkan dalam beberapa literatur Islam dan dengan pendekatan ini kemudian kita dapat meninjau secara lebih akurat pada ayat-ayat al-Quran terkait dengan berpikir dan menggunakan akal dalam al-Quran. Akal dan pikiran ...
  • Apakah Nabi Adam merupakan orang kedelapan yang hidup di muka bumi?
    245764 Teologi Lama 2012/09/10
    Berdasarkan ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini. Kedua: Sebelum Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia ...
  • Apa hukumnya berzina dengan wanita bersuami? Apakah ada jalan untuk bertaubat baginya?
    229644 Hukum dan Yurisprudensi 2011/01/04
    Berzina khususnya dengan wanita yang telah bersuami (muhshana) merupakan salah satu perbuatan dosa besar dan sangat keji. Namun dengan kebesaran Tuhan dan keluasan rahmat-Nya sedemikian luas sehingga apabila seorang pendosa yang melakukan perbuatan keji dan tercela kemudian menyesali atas apa yang telah ia lakukan dan memutuskan untuk meninggalkan dosa dan ...
  • Ruh manusia setelah kematian akan berbentuk hewan atau berada pada alam barzakh?
    214451 Teologi Lama 2012/07/16
    Perpindahan ruh manusia pasca kematian yang berada dalam kondisi manusia lainnya atau hewan dan lain sebagainya adalah kepercayaan terhadap reinkarnasi. Reinkarnasi adalah sebuah kepercayaan yang batil dan tertolak dalam Islam. Ruh manusia setelah terpisah dari badan di dunia, akan mendiami badan mitsali di alam barzakh dan hingga ...
  • Dalam kondisi bagaimana doa itu pasti dikabulkan dan diijabah?
    175765 Akhlak Teoritis 2009/09/22
    Kata doa bermakna membaca dan meminta hajat serta pertolongan.Dan terkadang yang dimaksud adalah ‘membaca’ secara mutlak. Doa menurut istilah adalah: “memohon hajat atau keperluan kepada Allah Swt”. Kata doa dan kata-kata jadiannya ...
  • Apa hukum melihat gambar-gambar porno non-Muslim di internet?
    171126 Hukum dan Yurisprudensi 2010/01/03
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Apakah praktik onani merupakan dosa besar? Bagaimana jalan keluar darinya?
    167543 Hukum dan Yurisprudensi 2009/11/15
    Memuaskan hawa nafsu dengan cara yang umum disebut sebagai onani (istimna) adalah termasuk sebagai dosa besar, haram[1] dan diancam dengan hukuman berat.Jalan terbaik agar selamat dari pemuasan hawa nafsu dengan cara onani ini adalah menikah secara syar'i, baik ...
  • Siapakah Salahudin al-Ayyubi itu? Bagaimana kisahnya ia menjadi seorang pahlawan? Silsilah nasabnya merunut kemana? Mengapa dia menghancurkan pemerintahan Bani Fatimiyah?
    157598 Sejarah Para Pembesar 2012/03/14
    Salahuddin Yusuf bin Ayyub (Saladin) yang kemudian terkenal sebagai Salahuddin al-Ayyubi adalah salah seorang panglima perang dan penguasa Islam selama beberapa abad di tengah kaum Muslimin. Ia banyak melakukan penaklukan untuk kaum Muslimin dan menjaga tapal batas wilayah-wilayah Islam dalam menghadapi agresi orang-orang Kristen Eropa.
  • Kenapa Nabi Saw pertama kali berdakwah secara sembunyi-sembunyi?
    140452 Sejarah 2014/09/07
    Rasulullah melakukan dakwah diam-diam dan sembunyi-sembunyi hanya kepada kerabat, keluarga dan beberapa orang-orang pilihan dari kalangan sahabat. Adapun terkait dengan alasan mengapa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi pada tiga tahun pertama dakwahnya, tidak disebutkan analisa tajam dan terang pada literatur-literatur standar sejarah dan riwayat. Namun apa yang segera ...
  • Kira-kira berapa usia Nabi Khidir hingga saat ini?
    133644 Sejarah Para Pembesar 2011/09/21
    Perlu ditandaskan di sini bahwa dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tegas nama Nabi Khidir melainkan dengan redaksi, “Seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Qs. Al-Kahfi [18]:65) Ayat ini menjelaskan ...