Advanced Search
Hits
39351
Tanggal Dimuat: 2012/12/15
Ringkasan Pertanyaan
Apakah hakikat hadis dhaif itu? bolehkah kita berpegang pada hadis dhaif?
Pertanyaan
Apakah hakikat hadis dhaif itu? bolehkah kita berpegang pada hadis dhaif? bisa diberikan contoh tentang hadis dhaif?
Jawaban Global

Di antara ulama terdahulu (qudama) Syiah; yaitu hingga sebelum Ahmad bin Musa bin Thawus Hilli (abad ketujuh) semasa dengan Muhaqqiq Hilli dan penyusun kitab “Hal al-Isykâl fi Ma’rifat al-Rijâl” (Jamaluddin Sayid Ahmad Ibnu Thawus Hilli) yang mengemuka hanyalah satu terma dan terma itu adalah klasifikasi hadis menjadi hadis sahih dan nonsahih; artinya mereka menerima satu hadis dan memasukkannya dalam kitab-kitab mereka atau tidak menerima satu hadis dan menolaknya.

Hadis dalam terma kontemporer terklasifikasi menjadi hadis sahih, hasan, muattsaq dan dhaif. Sebuah hadis yang tidak memenuhi syarat-syarat sahih atau hasan atau muattsaq dinilai sebagai hadis dha’if (lemah). Ciri-ciri jenis-jenis hadis ini akan diurai pada jawaban detil.

Para fakih menerima sebagian hadis dhaif dengan beberapa syarat, di antaranya yang terdapat sepanjang sejarah bahwa apabila para fakih mengamalkan kandungan riwayat dan sebuah hadis meski dhaif, maka kita dapat beramal dengan hadis tersebut. Kaidah seperti ini disebut sebagai syuhrat ‘amali (popular dipraktikkan).

Jawaban Detil

Hadis menduduki posisi setelah al-Quran sebagai sumber kedua agama Islam. Di antara ulama terdahulu (qudamâ) Syiah; yaitu hingga sebelum Ahmad bin Musa bin Thawus Hilli (abad ketujuh) semasa dengan Muhaqqiq Hilli dan penyusun kitab “Hal al-Isykal fi Ma’rifat al-Rijâl” (Jamaluddin Sayid Ahmad Ibnu Thawus Hilli) yang mengemuka hanyalah satu terma dan terma itu adalah klasifikasi hadis menjadi hadis sahih dan nonsahih;[1] artinya mereka menerima satu hadis dan memasukkannya dalam kitab-kitab mereka atau tidak menerima satu hadis dan menolaknya.

Dengan demikian, terma sahih dan nonsahih bagi mereka bermakna diterima atau tidak diterimanya satu riwayat bukan sebuah klasifikasi beberapa derajat terkait dengan hadis-hadis. Karena itu, dalam kitab-kitab seperti al-Kâfi dan Man Lâ Yahdhuruhu al-Faqih karya Syaikh Kulaini Rah dan Syaikh Shaduq Rah, para penulis menjelaskan bahwa hadis-hadis yang mereka terima dan dikumpulkan dalam kitab-kitabnya adalah hujjah bagi dirnya dan Allah Swt.[2]

Unsur-unsur Hadis (Matan dan Sanad)

Hadis adalah sebuah perkataan yang menjelaskan ucapan, perbuatan atau ketetapan dan penegasan para maksum.[3] Hadis terbentuk dari dua bagian, matan dan sanad.

Matan hadis; adalah sebuah teks yang menjelaskan perkataan, perbuatan atau ketetapan para maksum As, namun sanad hadis adalah sesuatu yang terbuat seiring dengan perjalanan waktu; karena para ahli hadis dan perawi, menukil dan meriwayatkan hadis-hadis antara satu dengan yang lain, nukilan orang-orang ini menyebabkan munculnya lingkaran lainnya bagi hadis yang kemudian disebut sebagai sanad. Misalnya tatkala kita mengamati kitab al-Kâfi dalam sebuah riwayat yang menyebutkan, “Muhammad bin Ya’qub meriwayatkan dari Ali bin Ibrahim dari ayahnnya dari Nufali dari Sakuni dan ia dari Imam Shadiq As yang bersabda, “….” Bagian hadis ini yang menyebutkan nama-nama perawi hadis dan sejatinya tidak termasuk bagian dari definisi teknis terminologis hadis, melainkan salah satu kemestian hadis, yang disebut sebagai sanad.

Klasifikasi Hadis

Klasifikasi dan pembagian hadis berdasarkan pada dua fokus; fokus pertama; sanad dan fokus kedua; berdasarkan matan hadis; artinya sebagian pembagian berkenaan dengan sanad dan sebagian lainnya bertalian dengan teks (matan) hadis. Namun sebagian pembagian sanad memiliki pengaruh langsung pada penilaian teks hadis; seperti pembagian hadis menjadi sahih, hasan, muattsaq, dhaif yang meski berdasarkan para periwayat hadis, namun terkadang disebut sebagai hadis (matan dan sanad).

Hadis dari sisi sanad terbagi menjadi dua khabar mutawâtir dan khabar wâhid. Mutawâtir adalah sebuah hadis yang banyak dinukil oleh orang-orang sedemikian sehingga kecil kemungkinan mereka berdusta atau bersekongkol untuk berbohong.[4] Namun hadis mutawâtir terbagi lagi menjadi dua bagian, mutawâtir lafzi dan mutawâtir maknawi.[5]

Adapun khabar wahid adalah sebuah kabar yang tidak sampai pada level tawâtur entah perawinya itu satu orang atau beberapa orang.[6]

Pembahasan utama kita adalah tentang sanad hadis dan itu pun sanad kabar wahid yang disebutkan memiliki pembagian yang beragam dan terkadang saling berimpitan satu sama lain. Ahlusunnah mengembangkan pembagian ini dan menambahkannya. Namun dalam hadis Syiah, pembagiannya tidak seperti ini yang akan disebutkan sebagian darinya di sini.

Pertama-tama dari sisi global pembahasan pembagian khabar wahid akan ditunjukkan dengan diagram; untuk melihat diagram silahkan Anda klik pada link terkait.

Khabar wâhid memiliki pembagian sebagaimana berikut:

  1. Khabar mursal: Khabar mursal adalah sebuah kabar dimana sebagian perawinya dalam silsilah sanad tidak disebutkan dan sanadnya terpotong hingga maksum disebabkan tiadanya sebagian periwayat.[7] Terkadang dalam sanad ini, satu atau terkadang beberapa periwayat tidak disebutkan. Namun apabila periwayat-periwayat hadis dikenal melalui satu jalan dan hanya tidak disebutkan pada hadis; seperti apa yang terdapat pada kitab “Man Lâ Yahdhuruhu al-Faqih” dan kitab-kitab “al-Tahdzib” dan “al-Ishtibshâr” dimana pada akhir kitab silsilah perawinya disebutkan. Dalam metode seperti ini, sanad tidak lagi menjadi mursal melainkan musnad.[8]
  2. Khabar musnad: Khabar musnad adalah sebuah kabar dimana seluruh periwayatnya disebutkan;[9] misalnya riwayat ini, “Ali bin Muhammad dari Sahl bin Ziyad dari Ibn Abi Bukair dari Muhammad bin Muslim yang berkata bahwa aku bertanya kepada Aba Ja’far.”[10]

Khabar musnad terdiri dari beberapa bagian:

  1.  Berdasarkan pada disebutkannya nama maksum As pada sanad atau tidak disebutkannya nama maksum; bagian ini terbagi menjadi mudhmar dan musharrah. Mudhmar adalah kondisi dimana perawi bersambung dengan maksum As namun nama imam tidak disebutkan secara tegas dan mencukupkan diri dengan kata ganti (dhamir). Dalam kondisi seperti ini, periwayat berkata, “sa’altuhu” atau “qâla” atau “anhu”; hal ini bermakna “aku bertanya kepadanya” atau “ia berkata” atau “darinya” dan redaksi-redaksi lainnya yang tidak menyebutkan nama maksum;[11] seperti pada riwayat ini, “al-Husain bin Sa’id dari al-Hasan dari Zur’ata dari Sama’ata yang berkata, “Aku bertanya kepadanya tentang seorang pria yang memasukkan..”[12] Adapun riwayat yang menyebutkan nama maksum secara tegas di dalamnya disebut sebagai musharrah dimana kebanyakan riwayat kita seperti ini adanya; seperti misalnya Muhammad bin Yahya dari Ahmad bin Muhammad dari al-Hajjal dari Tsa’laba bin Maimun dai Ma’mar bin Umar yang berkata aku bertanya kepada Abu Ja’far…”[13]
  2. Berdasarkan jumlah periwayat yang terbagi menjadi mustafidha dan masyhur. Mustafidha adalah sebuah hadis dimana perawinya pada setiap tingkatan lebih dari dua orang atau lebih dari tiga orang, namun tidak mencapai level hadis mutawâtir (artinya lebih dari satu orang dan kurang dari level tawatur).[14] Adapun sehubungan dengan definisi hadis masyhur terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian menilai jenis hadis ini tidak berbeda dengan hadis mustafidha dan sebagian lainnya dalam membedakan antara hadis masyhur dan hadis mustafidha berkata bahwa pada hadis masyhur tidak mesti jumlah periwayat pada setiap tingkatan harus sama dengan jumlah periwayat mustafidha dan boleh jadi pada sebuah tingkatan terdapat hanya satu orang yang meriwayatkan hadis meski pada tingkatan-tingkatan lainnya terdapat beberapa periwayat yang menukil hadis tersebut. Sebagai contoh merea berkata, “Hadis “innamâ al-a’mâl binniyat” (Sesungguhnya amalan itu bergantung pada niatnya) yang pada tingkatan pertama terdapat satu orang yang meriwayatkan hadis ini. Dengan kata lain, hanya terdapat satu orang yang mengutip riwayat ini dari maksum As secara langsung dan tanpa perantara dan kendati pada tingkatan-tingkatan selanjutnya terdapat beberapa orang lebih yang menukil riwayat ini.[15]
  3. Berdasarkan penilaian para periwayat: Orang-orang yang pada silsilah sanad kesemuanya tidak memiliki sifat yang sama dan tidak serupa satu dengan yang lainnya, sebagian dari mereka adalah orang-orang Syiah Imamiyah dan sebagian lainnya berasal dari firkah Syiah lainnya atau Ahlusunnah. Dari sisi lain, sebagian orang tsiqah dan dapat diandalkan, namun sebagian lainnya adalah para pendusta dan pembohong, sebagian lainnya kurang hafalannya dan sebagian lainnya kuat hafalannya dan seterusnya. Disebabkan oleh perbedaan-perbedaan ini pada para perawi hadis, hadis-hadis yang dinukil terbagi menjadi beberapa bagian:
    1. Shahih: artinya sebuah hadis yang sanadnya bersambung sampai kepada maksum As dan seluruh periwayatnya dalam sanad dan pada seluruh tingkatan adalah Syiah Imamiyah dan adil.[16]
    2. Hasan: adalah sebuah riwayat yang sanadnya hingga maksum As, perawi Syiah Imamiyah dan mamduh (terpuji) (tanpa penegasan atas keadilannya).[17]
    3. Mu’attsaq: Adalah sebuah riwayat yang pada sanadnya terdapat para periwayat yang meski merupakan orang-orang yang dapat diandalkan (muattsaq) (dalam hadis dan periwayatannya dapat diperhitungkan) namun memiliki akidah yang rusak; seperti Waqifiyah, Fathiyyah dan lain sebagainya. Hadis seperti ini terkadang juga disebut sebagai hadis qawi.[18]
    4. Dha’if: Artinya sebuah hadis yang sama sekali tidak memiliki sifat periwayat tiga jenis yang telah disebutkan sebelumnya.[19]

Sebagaimana yang tertuang pada diagram, khabar dhaif juga terbagi menjadi dua bagian, maqbul dan mardud. Khabar dhaif maqbul adalah sebuah hadis yang diterima oleh para fakih dan ahli hadis meski lemah dan mereka beramal terhadap kandungan hadis tersebut. Terkadang secara ringkas hadis seperti ini disebut sebagai hadis maqbul; seperti maqbulah Umar bin Hanzalah[20] yang disebutkan pada sanad riwayat berikut ini, “Muhammad bin Ya’qub dari Muhammad bin Yahya dari Muhammad bin al-Husain dari Muhammad bin Isa dari Shafwan bin Yahya dari Daud bin al-Hushain dari Umar bin Hanzalah yang berkata bahwa Aku bertanya kepada Abu Abdillah tentang dua orang dari sahabat kami.”[21] Dalam riwayat ini  Muhammad bin Isa dan Daud dinilai sebagai periwayat lemah dan dari sisi lain tidak disebutkan tentang adanya pujian dan celaan terhadap Umar bin Hanzalah,[22] namun riwayat ini diterima oleh para fakih.

Khabar dhaif mardud adalah sebuah khabar lemah yang ditolak oleh ulama dan mereka memandang tidak dibenarkan beramal terhadap hadis tersebut.[23]

Dengan penjelasan yang telah diuraikan menjad terang bahwa dengan memperhatikan syarat-syaratnya kita apat beramal berdasarkan hadis dhaif sebagaimana para fakih beramal berdasarkan khabar dhaif maqbul.

Di samping itu, dalam kitab-kitab fikih penalaran terdapat sebuah ungkapan bahwa kelemahan riwayat dapat ditebus dengan amalan para sahabat (ulama Imamiyah). Atau disebutkan, “Syuhrat dapat menebus kelemahan riwayat.”[24] Yang dimaksud dengan syuhrat dalam hal ini adalah popular diamalkan. Dalam syuhrat amali, para fakih beramal dengan berpijak pada sebuah riwayat yang mengandung beberapa problematika di antaranya adalah kelemahan sanad sehingga beramal berdasarkan riwayat ini adalah sesuatu yang popular (masyhur) di kalangan fukaha (para fakih).[25]

Karena itu, kita dapat beramal dengan bersandar pada khabar dhaif maqbul dan khabar dhaif munjabar. [iQuest]

 


[1]. Ali Akbar Saifi Mazandarani, Miqyâs al-Riwâyat fi ‘Ilm al-Dirâyat, hal. 44, Muassasah Intisyarat Islami, Qum, 1421 H.  

[2]. Muhammad bin Ya’qub Kulaini, al-Kâfi, Riset dan Koreksi oleh Ali Akbar Ghaffari, Muhammad Akhundi, jil. 1, hal. 8, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Teheran, Cetakan Keempat, 1407 H; Syaikh Shaduq, Man Lâ Yahdhuruhu al-Faqih, Riset dan Koreksi oleh Ali Akbar Ghaffari, jil. 1, hal. 3, Daftar Intisyarat Islami, Qum, Cetakan Kedua, 1413 H.   

[3]. Muhammad Yusuf Hariri, Farhangg-e Ishthilahât-e Hadits, hal. 38, Instiyarat Hijrat, Qum, 1381 S.  

[4]. Abdul Hadi al-Fadhli, Ushul al-Hadits, hal. 72, Muassasah Umm al-Qura, Beirut, 1420 H.  

[5]. Silahkan lihat, Indeks Kriteria Hadis Mutawatir Lafzi, Maknawi dan Ijmali, Pertanyaan 2412.

[6].  Ushul al-Hadits, hal. 82.

[7]. Farhangg-e Ishthilahât-e Hadits, hal. 121.  

[8]. Ushul al-Hadits, hal. 175.

[9]. Ibid, hal. 97.  

[10]. Al-Kâfi, jil. 3, hal. 411.

 عَلِیُّ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ سَهْلِ بْنِ زِیَادٍ عَنِ ابْنِ أَبِی نَصْرٍ عَنِ ابْنِ بُکَیْرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مُسْلِمٍ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا جَعْفَرٍ (ع)….

[11]. Ushul al-Hadits, hal. 100.

[12]. Muhammad bin Hasan Syaikh Thusi, Tahdzib al-Ahkam, jil. 10, hal. 49, Riset oleh Khurasan, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Teheran, 1407 H.

الْحُسَیْنُ بْنُ سَعِیدٍ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ زُرْعَةَ عَنْ سَمَاعَةَ قَالَ‏ سَأَلْتُهُ عَنْ رَجُلٍ أَدْخَلَ ...

[13]. Al-Kâfi, jil. 3, hal. 412.

مُحَمَّدُ بْنُ یَحْیَى عَنْ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنِ الْحَجَّالِ عَنْ ثَعْلَبَةَ بْنِ مَیْمُونٍ عَنْ مَعْمَرِ بْنِ عُمَرَ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا جَعْفَرٍ (ع‏)

[14].  Farhangg-e Ishthilahât-e Hadits, hal. 123.

[15]. Ushul al-Hadits, hal. 99 dan 100.  

[16]. Jamaluddin Husan Jabal ‘Amili (putra Syahid Tsani), Muntaqâ al-Jaman, jil. 1, hal. 4, Muassasah Nasyr Islami, Qum, 1362 S.  

[17]. Ibid, hal. 4.  

[18]. Ibid, hal. 4.   

[19]. Ushul al-Hadits, hal. 108.  

[20].  Silahkan lihat, Terjamahan dan Uraian Maqbulah Umar bin Hanzalah, Pertanyaan 22636.

[21]. Al-Kâfi, jil. 1, hal. 67.

 مُحَمَّدُ بْنُ یَعْقُوبَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ یَحْیَى عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْحُسَیْنِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عِیسَى عَنْ صَفْوَانَ بْنِ یَحْیَى عَنْ دَاوُدَ بْنِ الْحُصَیْنِ عَنْ عُمَرَ بْنِ حَنْظَلَةَ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ (ع) عَنْ رَجُلَیْنِ مِنْ أَصْحَابِنَا...

[22].  Ushul al-Hadits, hal. 131.

[23]. Ibid, hal. 131.

[24]. Sebagai contoh, silahkan lihat, Muhammad Hasan Najafi, Jawâhir al-Kalâm, jil. 43, hal. 273, Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, Beirut, Tanpa Tahun.  

[25]. Diadaptasi dari Pertanyaan Syuhrat Menebus Kelemahan Sanad, Pertanyaan 8574.

 

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Bagaimana hubungan antara ruh dan badan?
    24109 Filsafat Islam 2011/07/16
    Sekaitan dengan hubungan antara ruh dan badan harus dikatakan bahwa badan merupakan salah satu tingkatan dari beberapa tingkatan nafs dan ruh. Atas dasar itu, pada hakikatnya, badan berada pada jiwa dan ruh bukan ruh yang terdapat pada badan; karena berdasarkan Filsafat Hikmah, dengan ...
  • Apakah sah hukumnya menggunakan dua turbah untuk sujud?
    7668 Hukum dan Yurisprudensi 2011/11/21
    Tempat sujud bagi orang yang mengerjakan salat tidak boleh lebih di atas atau lebih di bawah dari empat jari tertutup dari tempat kedua lututnya...”[1] Karena itu apabila ketinggian dua turbah tidak lebih dari empat jari tertutup maka orang yang mengerjakan salat dapat sujud di atas dua ...
  • Apakah Anda punya tips bagaimana caranya untuk menghindar supaya tidak banyak tertawa khususnya pada bulan Muharram dan Shafar?
    9050 Majelis Duka dan Ziarah 2012/05/10
    Menangis dan tertawa adalah sejenis luapan perasaan dan afeksi batin manusia. Hal ini merupakan tanda-tanda natural dan proses keseimbangan mental manusia. Karena itu, setiap orang harus sampai pada tingkatan matang dan mempelajari adab-adab tertawa dan mengekspresikan kebahagian sehingga tertawa dan luapan kegembiraan menjadi sebuah sifat mulia bagi ...
  • Apa saja kemiripan-kemiripan yang dimiliki oleh Imam Zaman dengan para nabi menurut kitab Mikyâl al-Makârim?
    15576 Tipologi dan Keunggulan Sifat 2012/09/19
    Dalam riwayat-riwayat Islam disebutkan tentang terdapatnya banyak kemiripan-kemiripan fisik dan spiritual yang dimiliki oleh Imam Mahdi Ajf dengan sebagian dari para nabi. Sebagian dari kemiripan-kemiripan ini telah dikumpulkan dalam kitab Mikyâl al-Makârim sebagaimana berikut: Sejumlah dari kemiripan-kemiripan tersebut terdapat pada kitab Mikyâl al-Makârim dan sebagiannya ...
  • Mengapa kita membantu Irak padahal kita sendiri sangat membutuhkan. Masyarakat kita sendiri kesusahan menghadapi harga-harga mahal dan barang-barang langka di pasar?
    7825 Filsafat Politik 2011/05/18
    Pertama: Asas pelbagai bantuan Republik Islam Iran ke negara-negara Muslim adalah bantuan-bantuan moril bukan bantuan-bantuan material dan finansial. Kedua: Apabila terdapat juga bantuan-bantuan materil dan finansial ke negara-negara Muslim lainnya maka hal itu memiliki banyak pengaruh dan manfaat material dan spritual sebagaimana berikut: ...
  • Tolong sebutkan bagi saya sebuah doa untuk menemukan pasangan yang cocok dan bertakwa.
    15542 دعا 2012/09/10
    Allah Swt menjadikan setiap pekerjaan memiliki sebab-sebab tertentu sedemikian sehingga setiap pekerjaan hanya akan memperoleh hasil apabila dikerjakan melalui kanal-kanal sebabnya. Untuk memperoleh jodoh dan pasangan idaman juga demikian caranya. Cara untuk mendapatkan istri idaman memerlukan penelitian dan pengenalan yang tepat dan akurat. Tentu saja ...
  • Apa saja yang menjadi syarat-syarat nikah Mut’ah?
    30335 Hukum dan Yurisprudensi 2010/06/20
    Dalam pandangan Islam, pernikahan, baik pernikahan itu permanen atau temporer (mut’ah) dilangsungkan berdasarkan keridhaan kedua belah pihak. Demikian juga pernikahan temporer seperti pernikahan permanen, hukumnya mubah dan dianjurkan. Namun hal ini tidak bermakna harus dan wajib dilakukan. Atas dasar itu, apabila seorang putri menolak lamaran seorang pria untuk pernikahan ...
  • Shalat Tahiyyat Masjid Jamkaran
    7479 Hukum dan Yurisprudensi 2011/08/10
    Ibadah dan doa-doa adalah bersifat tauqifi (sudah dari sananya). Artinya bahwa masing-masing dari ibadah dan doa-doa ini memiliki efek yang bersandar padanya. Seluruh amalan dan doa yang dikerjakan sesuai dengan apa yang diinginkan sebagaimana dokter yang memformulasikan obat bagi pasiennya dan berkata kepadanya bahwa Anda harus meminum obat ...
  • Apa dasar-dasar teologi Mahdawiyat?
    8252 Teologi Lama 2009/09/22
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Apakah orang-orang beriman akan mendapatkan kenikmatan alam kubur dan orang-orang kafir akan dihajar dengan azab kubur?
    21065 Teologi Lama 2009/12/08
    Syaikh Mufid dalam kitab Awâil al-Maqâlat-nya, membagi manusia menjadi empat bagian berdasarkan keyakinan dan amal-perbuatan mereka:1.     Orang-orang beriman yang bertakwa2.

Populer Hits

  • Ayat-ayat mana saja dalam al-Quran yang menyeru manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya?
    267536 Tafsir 2013/02/03
    Untuk mengkaji makna berpikir dan berasionisasi dalam al-Quran, pertama-tama, kita harus melihat secara global makna “akal” yang disebutkan dalam beberapa literatur Islam dan dengan pendekatan ini kemudian kita dapat meninjau secara lebih akurat pada ayat-ayat al-Quran terkait dengan berpikir dan menggunakan akal dalam al-Quran. Akal dan pikiran ...
  • Apakah Nabi Adam merupakan orang kedelapan yang hidup di muka bumi?
    249185 Teologi Lama 2012/09/10
    Berdasarkan ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini. Kedua: Sebelum Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia ...
  • Apa hukumnya berzina dengan wanita bersuami? Apakah ada jalan untuk bertaubat baginya?
    232312 Hukum dan Yurisprudensi 2011/01/04
    Berzina khususnya dengan wanita yang telah bersuami (muhshana) merupakan salah satu perbuatan dosa besar dan sangat keji. Namun dengan kebesaran Tuhan dan keluasan rahmat-Nya sedemikian luas sehingga apabila seorang pendosa yang melakukan perbuatan keji dan tercela kemudian menyesali atas apa yang telah ia lakukan dan memutuskan untuk meninggalkan dosa dan ...
  • Ruh manusia setelah kematian akan berbentuk hewan atau berada pada alam barzakh?
    219291 Teologi Lama 2012/07/16
    Perpindahan ruh manusia pasca kematian yang berada dalam kondisi manusia lainnya atau hewan dan lain sebagainya adalah kepercayaan terhadap reinkarnasi. Reinkarnasi adalah sebuah kepercayaan yang batil dan tertolak dalam Islam. Ruh manusia setelah terpisah dari badan di dunia, akan mendiami badan mitsali di alam barzakh dan hingga ...
  • Dalam kondisi bagaimana doa itu pasti dikabulkan dan diijabah?
    178671 Akhlak Teoritis 2009/09/22
    Kata doa bermakna membaca dan meminta hajat serta pertolongan.Dan terkadang yang dimaksud adalah ‘membaca’ secara mutlak. Doa menurut istilah adalah: “memohon hajat atau keperluan kepada Allah Swt”. Kata doa dan kata-kata jadiannya ...
  • Apa hukum melihat gambar-gambar porno non-Muslim di internet?
    173369 Hukum dan Yurisprudensi 2010/01/03
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Apakah praktik onani merupakan dosa besar? Bagaimana jalan keluar darinya?
    170496 Hukum dan Yurisprudensi 2009/11/15
    Memuaskan hawa nafsu dengan cara yang umum disebut sebagai onani (istimna) adalah termasuk sebagai dosa besar, haram[1] dan diancam dengan hukuman berat.Jalan terbaik agar selamat dari pemuasan hawa nafsu dengan cara onani ini adalah menikah secara syar'i, baik ...
  • Siapakah Salahudin al-Ayyubi itu? Bagaimana kisahnya ia menjadi seorang pahlawan? Silsilah nasabnya merunut kemana? Mengapa dia menghancurkan pemerintahan Bani Fatimiyah?
    161750 Sejarah Para Pembesar 2012/03/14
    Salahuddin Yusuf bin Ayyub (Saladin) yang kemudian terkenal sebagai Salahuddin al-Ayyubi adalah salah seorang panglima perang dan penguasa Islam selama beberapa abad di tengah kaum Muslimin. Ia banyak melakukan penaklukan untuk kaum Muslimin dan menjaga tapal batas wilayah-wilayah Islam dalam menghadapi agresi orang-orang Kristen Eropa.
  • Kenapa Nabi Saw pertama kali berdakwah secara sembunyi-sembunyi?
    144192 Sejarah 2014/09/07
    Rasulullah melakukan dakwah diam-diam dan sembunyi-sembunyi hanya kepada kerabat, keluarga dan beberapa orang-orang pilihan dari kalangan sahabat. Adapun terkait dengan alasan mengapa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi pada tiga tahun pertama dakwahnya, tidak disebutkan analisa tajam dan terang pada literatur-literatur standar sejarah dan riwayat. Namun apa yang segera ...
  • Kira-kira berapa usia Nabi Khidir hingga saat ini?
    136237 Sejarah Para Pembesar 2011/09/21
    Perlu ditandaskan di sini bahwa dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tegas nama Nabi Khidir melainkan dengan redaksi, “Seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Qs. Al-Kahfi [18]:65) Ayat ini menjelaskan ...