Advanced Search
Hits
20558
Tanggal Dimuat: 2014/02/19
Ringkasan Pertanyaan
Mengapa Allah Swt menyebut umat Muslim sebagai umat pertengahan? Apakah makna umat pertengahan itu?
Pertanyaan
Assalammu'alaikum Wr Wb Saya ingin bertanya kandungan yang terdapat pada surah Al-Baqoroh Ayat 143 dan perilaku yang mencerminkan surah A-Baqoroh Ayat 143. Wassammu'alaiku Wr Wb
Jawaban Global
Allah Swt, dalam al-Quran, menggunakan ungkapan “ummatan wasatha” bagi umat Muslim. Terdapat beberapa pandangan yang berbeda terkait dengan apa yang dimaksud dengan umatan wasatha ini.
  1. Pada kebanyakan penafsiran Syiah dan Sunni disebutkan bahwa umattan wasatha disamakan dengan keadilan yaitu pertengahan dan sikap moderat. Artinya Kami telah menjadikan umat Muslim itu sebagai umat pertengahan dan moderat.
  2. Sebagian ahli tafsir meyakini bahwa ummatan wasatha artinya umat terbaik yang dipilih oleh Allah Swt.
  3. Sebagian ahli tafsir Syiah memandang bahwa ummatan wasatha bermakna perantara antara Rasulullah Saw dan umat Muslim serta membatasi personifikasinya pada para Imam Maksum As.
Pandangan-pandangan ini saling berdekatan; karena itu sebagian ahli tafsir memandangnya masing-masing memiliki kemungkinan benar.
 
Jawaban Detil
Allah Swt, dalam al-Quran, menggunakan ungkapan “ummatan wasatha” bagi umat Muslim. Namun untuk memahami makna ini maka kita harus melihat ayat sebelumnya; karena Allah Swt  menyampaikan ummatan wasatha kepada umat Muslim sebagai kelanjutan dari ayat sebelumnya.
Pada ayat ini, Allah Swt pertama-tama mengangkat masalah perubahan kiblat dan protes para pengikut Yahudi dan orang-orang musyrik kepada kaum Muslim. Allah Swt menyatakan:
«سَیَقُوْلُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلاَهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِیْ کَانُوْا عَلَیْهَا»
“Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata (baca: mempertanyakan), “Apakah yang memalingkan mereka dari kiblat (Baitul Maqdis) yang selama ini mereka telah berkiblat kepadanya?” (Qs. Al-Baqarah [2]:142)
Kemudian menginstruksikan kepada Rasulullah Saw dan kaum Muslim untuk menjawab mereka dengan berkata:
«قُلْ لِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَ الْمَغْرِبُ یَهْدی مَنْ یَشاءُ إِلى‏ صِراطٍ مُسْتَقیمٍ»
“Katakanlah, “Hanya milik Allah-lah Timur dan Barat. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.” (Qs. Al-Baqarah [2]:142)
Kemudian sebagai kelanjutan ayat ini, Allah Swt berfirman:
«وَ کَذلِکَ جَعَلْناکُمْ أُمَّةً وَسَطاً ...».
“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat pertengahan."
(Qs. Al-Baqarah [2]:143)
Namun masalah yang patut mendapat perhatian pada ayat sebelumnya kita patut bertanya terkait dengan gerangan apa yang menjadikan umat Muslim sehingga Allah Swt menyebut mereka sebagai umat pertengahan (umatan wasatha)? Dalam hal ini terdapat beberapa pendapat sebagaimana berikut:
  1. Sebagian ahli tafsir memandang kata “kadzalik” sebagai konjungsi atas frase kalimat “yahdi man yasya ila shiratin mustaqim.” Artinya sebagiamana Kami telah memberikan petunjuk kepada kalian ke jalan yang lurus, kami menjadikan kalian sebagai umat pertengahan.[1] Sebagian ahli tafsir lainnya yang dekat dengan pandangan ini berkata, “Sebagiamana Kami telah merubah kiblat untuk kalian sehingga Kami memberikan petunjuk kepada kalian ke jalan yang lurus, kami juga menjadikan kalian sebagai umat pertengahan.”[2]
  2. Ada kemungkinan bahwa tatkala Allah Swt berfirman, “Bagi Allah Timur dan Barat” merupakan sebuah ketentuan bahwa seluruh alam semesta dan seluruh ruang yang ada di dalamnya adalah sama dan seluruhnya adalah milik Allah Swt. Namun Allah Swt memberikan kemulian dan kehormatan tertentu bagi sebagian dari alam semesta kemudian menjadikannya sebagai kiblat. Kalau memang demikian, posisi seluruh manusia dalam penghambaan adalah sama. Namun Allah Swt menganugerahi sebagian umat yaitu Islam dengan kebesaran dan keutamaan. Kebaikan ini diberikan Allah Swt kepada umat Islam.[3]
Terdapat pandangan lain dalam hal ini namun bukan tempatnya menurunkan semua pandangan yang ada karena terbatasnya ruang dan waktu.[4]
Kemudian Allah Swt berfirman, “
«وَ کَذلِکَ جَعَلْناکُمْ أُمَّةً وَسَطاً لِتَکُونُوا شُهَداءَ عَلَى النَّاسِ وَ یَکُونَ الرَّسُولُ عَلَیْکُمْ شَهیداً ... ».
“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat pertengahan  agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) seluruh umat manusia dan supaya rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (Qs al-Baqarah [2]:143)
 
Adapun apa yang dimaksud dengan ummatan wasathah itu apa? Terdapat beberapa pandangan yang akan dijelaskan secara ringkas sebagaimana berikut:
  1. Pada kebanyakan penafsiran Syiah dan Sunni disebutkan bahwa ummatan wasatha disamakan dengan keadilan yaitu pertengahan dan sikap moderat.[5] Artinya Kami telah menjadikan umat Muslim itu sebagai umat pertengahan dan moderat.[6] Sebagian lainnya menjelaskan dengan kata mu’tadil dan memilih jalan tengah.[7]
  2. Sebagian ahli tafsir meyakini bahwa ummatan wasatha itu artinya umat terbaik yang dipilih oleh Allah Swt.[8] Sebagian lainnya menyebutkan makna ini dengan memberikan kemungkinan.[9]
  3. Yang dimaksudkan Allah Swt dengan makna ini adalah Ahl al-Bait dimana mereka merupakan media perantara antara Rasulullah Saw dan umat dimana pada setiap zaman terdapat imam bagi setiap penduduk setiap masa dan juga Rasulullah Saw juga menjadi saksi bagi mereka.[10]
Berdasarkan pandangan ini, kata ganti “ja’alnakum” terbatas pada para Imam Maksum As dan mereka adalah orang-orang yang dijadikan Allah Swt sebagai penegah antara Rasulullah Saw dan manusia. Terdapat banyak riwayat yang mengandung makna bahwa personifikasi ummatan wasatha itu adalah para Imam Maksum As.[11] Patut untuk disebutkan bahwa sebagian Ahlusunnah juga mengutip riwayat ini. [12] Demikian juga orang-orang yang meyakini pandangan ini, menerima pandangan pertama dan kedua serta menambahkan sisi keperantaraan orang-orang ini moderat dan telah dipilih ini. Atas dasar itu, pada umumnya disebutkan ungkapan, “’adlan wa wasithatan baina al-rasul wa al-nas”yang tentu saja dari riwayat-riwayat yang ada dalam hal ini kesimpulan ini dapat diambil.
Patut untuk disebutkan para pengikut Syiah juga menerima ucapan pertama dan ucapan kedua, namun memandang bahwa para Imam Maksum As adalah personifikasi sempurna ummatan wasatha `yang juga banyak disebutkan pada riwayat-riwayat dari beberapa jenis ayat ini.[13]
Di samping itu, sebagian ahli tafsir mengemukakan dengan baik bahwa pandangan pertama dan kedua dapat digabungkan karena kedua pandangan ini saling berdekatan.[14]
Namun berkaitan dengan bagian ayat yang menyatakan:
«لِتَکُونُوا شُهَداءَ عَلَى النَّاسِ وَ یَکُونَ الرَّسُولُ عَلَیْکُمْ شَهیداً»،
“Agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) seluruh umat manusia dan supaya rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (Qs. al-Baqarah [2]:143)
Juga terdapat beberapa pandangan, antara lain:
  1. Mereka memberikan kesaksian atas manusia selain umat Muslim sehingga Allah Swt menuntaskan hujjah bagi mereka.[15]
  2. Ungkapan “syahadah” (kesaksian) umat Islam atas umat manusia sedunia dan demikian juga posisi Rasulullah Saw sebagai saksi atas kaum Muslim.” (terjemahan ayat di atas). Ungkapan ini boleh jadi menyinggung tentang keteladananan dan sosok teladan karena para saksi yang dipilih senantiasa dari orang-orang terbaik satu kaum; artinya kalian dengan memiliki keyakinan dan ajaran ini, adalah umat teladan, sebagaimana Rasulullah Saw di antara kalian adalah seorang teladan.[16] Tentu saja banyak lagi pandangan yang dikemukakan terkait dengan masalah ini, namun karena keterbatasan ruang dan waktu kami cukupkan sampai di sini.[17] [iQuest]
 

[1]. ‘Alauddin Ali bin Muhammad Baghdadi, Lubâb al-Ta’wil fi Ma’âni al-Tanzil, Diedit oleh Muhammad Ali Syahin, jil. 1, hal. 87, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, Beirut, Cetakan Pertama, 1415 H. Ni’matullah bin Muhammad Nakhjawani, al-Fawâtih al-Ilahiyyah wa al-Mafâtih al-Ghaibiyyah, jil. 1, hal. 55, Dar Rikbai lin Nasyr, Mesir, Cetakan Pertama, 1999 M.
[2]. Sayid Muhammad Husain Thabathabai, al-Mizân fi Tafsir al-Qur’ân, jil. 1, hal. 319, Daftar Intisyarat Islami, Qum, Cetakan Kelima, 1417 H; Fadhl bin Hasan Thabarsi, Tafsir Jawâmi’ al-Jâmi’, jil. 1, hal. 85, Intisyarat Danesygah Tehran, Mudiriyat Hauzah Ilmiah Qum, Tehran, Cetakan Pertama, 1377 S.
[3]. Muhammad bin Umar, Fakruddin Razi, Mafâtih al-Ghaib, jil. 4, hal. 84, Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, Beirut, Cetakan Ketiga, 1420 H.
[4]. Sebagai contoh, silahkan lihat, Nasir Makarim Syirazi, Tafsir Nemune, jil. 1, hal. 483, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Tehran, Cetakan Pertama, 1374 S.
[5]. Sahl bin Abdullah Tustari, Tafsir al-Tustari, Riset oleh Muhammad Basil ‘Uyun al-Sud, hal. 32, Mansyurat Muhammad Ali Baidhun, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Cetakan Pertama, 1423 H.
[6]. Tafsir Nemune, jil. 1, hal. 483.
[7]. Al-Mizân fi Tafsir al-Qur’ân, jil. 1, hal. 319.  
[8]. Ismail bin Amru,  Ibnu Katsir Dimasyqi, Tafsir al-Qur’ân al-‘Azhim, Riset oleh Muhammad Husain Syamsuddin, jil. 1, hal. 327, Mansyurat Muhammad Ali Baidhun, Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Beirut, Cetakan Pertama, 1419 H.
[9]. Tafsir Jawâmi’ al-Jâmi’, jil. 1, hal. 85-86.
[10].  Fadhl bin Hasan Thabarsi, Majma’ al-Bayân fi Tafsir al-Qur’an, Mukaddimah, Muhammad Jawad Balaghi, jil. 1, hal. 415, Nasir Khusruw, Tehran, Cetakan Ketiga, 1372 S; Mulla Muhsin Faidh Kasyani, Tafsir al-Shâfi, Riset oleh Husain A’lami, jil. 1, hal. 197, Intisyarat al-Shadr, Tehran, Cetakan Kedua, 1415 H; Ali Ibrahim Qummi, Tafsir al-Qummi, Riset dan edit oleh Sayid Thayyib Musawi Jazairi, jil. 1, hal. 63, Dar al-Kitab, Qum, Cetakan Ketiga, 1404 H; Sayid Syarafuddin Ali Husaini Astarabadi, Ta’wil al-Âyat al-Zhâhirah, hal. 86, Daftar Intisyarat Islami Qum, Cetakan Pertama, 1409 H.
[11].  Untuk mengetahui riwayat-riwayat ini silahkan lihat, Muhammad bin Hasan Shafar, Bashâir al-Darajât fi Fadhâil Âli Muhammad Saw, Riset dan edit oleh Muhsin bin Abbas Ali Kuce Baghi, jil. 1, hal. 82, Maktabah Ayatullah Mar’asyi al-Najafi, Qum, Cetakan Kedua, 1404 H. Muhammad bin Yakub Kulaini, al-Kâfi, riset dan edit oleh Ali Akbar Ghaffari dan Muhammad Akhundi, jil. 1, hal. 1990, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Tehran, Cetakan Keempat, 1407 H; Nu’man bin Muhammad Maghribi Ibnu Hayyun, Da’âim al-Islâm wa Dzikr al-Halâl wa al-Harâm wa al-Qadhâyah wa al-Ahkam, Riset dan edit oleh Ashif Faidhi, jil. 1, hal. 21, Muassasah Alu al-Bait As, Qum, Cetakan Kedua, 1385 H.
[12].  Silahkan lihat, Ubaidillah bin Ahmad Huskani, Syawâhid al-Tanzil li Qawâid al-Tafdhil, Riset oleh Muhammad Baqir Mahmudi, jil. 1, hal. 119, Sazeman Cap wa Intisyarat Wizarat Irsyad Islami, Tehran, Cetakan Pertama, 1411 H.
[13]. Tafsir al-Qummi, jil. 1, hal. 63; Majma’ al-Bayân fi Tafsir al-Qur’ân, jil. 1, hal. 415; Muhammad bin Ali Syarif Lahiji, Tafsir Syarif Lahiji, Riset oleh Husaini Armawi (Muhaddits), Mir Jalaluddin, jil. 1, hal. 126, Daftar Nasyr Dad, Tehran, Cetakan Pertama, 1373 S.  
[14].  Mafâtih al-Ghaib, jil. 4, hal. 85.
[15]. Ahmad bin Abi Sa’ad Rasyiduddin Maibadi, Kasyf al-Asrâr wa Iddah al-Abrâr, Riset oleh Ali Asghar Hikmat, jil. 1, hal. 390, Amir Kabir, Tehran, Cetakan Kelima, 1371 S.
[16]. Tafsir Nemune, jil. 1, hal. 483-484.
[17]. Silahkan lihat, Sayid Abdullah Syubbar, Tafsir al-Qur’an al-Karim, hal. 61, Dar al-Balaghah li al-Thiba’ah wa al-Nasyr, Beirut, Cetakan Pertama, 1412 H; Muhammad bin Hasan Syaikh Thusi, al-Tibyân fi Tafsir al-Qur’ân, dengan pendahuluan oleh Syaikh Agha Buzurgh Tehrani, Riset oleh Ahmad Qashir Amili, jil. 2, hal. 7, Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, Beirut, Tanpa Tahun.
 
Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Mengapa udang dihalalkan, sementara kepiting diharamkan?
    28441 Filsafat Hukum 2009/12/12
    Kendati seluruh hukum itu ditetapkan berdasarkan kemaslahatan (masâlih) dan kemudaratan (mafâsid), dan setiap hukum itu memiliki sebuah sebab dan falsafahnya, akan tetapi menjelaskan dan menyingkap sebab sempurna seluruh partikular dan detil hukum-hukumnya adalah sebuah pekerjaan yang amat sukar dilakukan. Paling tidak, yang dapat dijelaskan adalah ...
  • Bagaimana kita menulis surat kepada Imam Zaman Ajf?
    9968 Akhlak Praktis 2011/10/01
    Peran berhubungan dengan Imam Zaman Ajf dan bermohon kepadanya memiliki pengaruh konstruktif baik bagi mental dan spiritual seseorang. Permohonan ini boleh jadi berbentuk bisikan hati atau ucapan lisan dan bahkan tulisan. Menulis surat tertulis kepada Imam Zaman Ajf adalah salah jalan untuk menjalin hubungan dengannya. Pada masa-masa dihimpit kesulitan ...
  • Mengapa Qabil membunuh Habil?
    23212 Dirayah al-Hadits 2010/02/17
    Dari ayat-ayat al-Qur'an dapat disimpulka n bahwa sebab pembunuhan Habil oleh Qabil adalah adanya sifat tercela hasud yang membakar Qabil yang berujung pada terbunuhnya Habil dalam keadaan teraniaya. ...
  • Apakah kita berdosa apabila bermusuhan selama 3 hari ?
    39318 گناه و رذائل اخلاقی 2013/09/17
    Berdasarkan pada apa yang dapat disimpulkan dari beberapa riwayat, sekiranya, apa pun alasannya, terjadi permusuhan di antara dua saudara Muslim, maka permusuhan itu harus segera diakhiri dan kedua pihak yang bersengkat harus segera berdamai. Apabila terdapat kemungkinan untuk berdamai maka berlanjutnya permusuhan tergolong sebagai sebuah dosa. Memaafkan ...
  • Bagaimana hubungan antara kehendak Ilahi dan keinginan manusia?
    25992 Teologi Lama 2009/03/16
    Manusia adalah maujud kontingen yang hakikat wujud dan seluruh dimensi keberadaannya bersumber dari Allah Swt. Allah Swt dengan kehendak takwini-Nya menciptakannya merdeka dan berkehendak. Dengan keistimewaan ini manusia menduduki posisi terunggul di antara seluruh makhluk.Dengan demikian manusia sebagai maujud terunggul ...
  • Bagaimana pandangan Islam terhadap memandang kepada alat kelamin lelaki dan wanita?
    59187 Hukum dan Yurisprudensi 2010/10/12
    Menurut hukum fikih memandang aurat (alat kelamin) selain pasangan (suami-isteri) adalah haram, kecuali untuk tujuan pengobatan yang mau-tidak-mau harus dilakukan dengan memandangnya. Dalam riwayat dijelaskan bahwa pelakunya akan dikenakan berbagai sanksi, antara lain digolongkan ke dalam kelompok orang-orang munafik dan mendapat kutukan dari tujuh puluh ribu malaikat.
  • Apa arti akhlak falsafi itu?
    9081 Teoritis 2016/07/17
    Dalam pembahasan Akhlak Islam, terdapat beberapa pendekatan dan metode yang kemudian melahirkan banyak aliran dan pemikiran akhlak. Salah satu pendekatan dan metode itu adalah akhlak falsafi (moral filosofi [rasional]). Akhlak falsafi dipandang sebagai bagian dari aliran moral yang asas, tujuan, wacana dan pelbagai metodenya berjenis filsafat. Format ...
  • Apakah Syiah meyakini bahwa kekufuran Umar bin Khattab sebanding dengan kekufuran Iblis?
    13086 Teologi Lama 2010/05/20
    Riwayat yang telah disebutkan, pertama dari sisi sanad dan kandungannya merupakan riwayat lemah (dhaif) dan tergolong sebagai riwayat mursal yang tidak dapat dijadikan hujjah; karena sanad dan perantaranya antara Ayyasyi hingga Abu Bashir tidak jelas. Dan apabila juga disebutkan bahwa sebagian mursalatnya itu dapat diterima, maka ...
  • Berapakah anak Abdul Mutholib dan Abdullah ayah Nabi Muhammad Saw merupakan anak yang keberapa?
    23485 Sejarah Para Pembesar 2017/08/09
    Abdul Mutholib memiliki sepuluh anak: 1. Harits 2. Zubair 3. Abbas 4. Hamzah 5. Abu Thalib (Abdu Manaf). 6. Ghaidaq (Hijl) 7. Dhirar 8. Muqawwim 9. Abu Lahab (Abdul Uzzah) 10. Abdullah[1] Harits merupakan anak tertua Abdul Mutthalib[2] dan yang ...
  • Apa yang dimaksud dengan minuman yang suci (syarâban tahûrâ) sebagaimana yang disebut dalam al-Qur’an?
    12462 Teologi Lama 2009/03/12
    “Syarâb” bermakna minuman dan “thahûr” berarti sesuatu yang suci dan mensucikan. Banyak ayat yang menyebutkan bahwa di surga kelak terdapat beragam jenis minuman yang menyegarkan dan suci dengan segala kualitas yang bervariasi. Dalam satu ayat al-Qur’an disebut sebagai “syarâban thahûrâ”, “Tuhan memberikan minuman syarâban thahûrâ kepada ...

Populer Hits

  • Ayat-ayat mana saja dalam al-Quran yang menyeru manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya?
    266628 Tafsir 2013/02/03
    Untuk mengkaji makna berpikir dan berasionisasi dalam al-Quran, pertama-tama, kita harus melihat secara global makna “akal” yang disebutkan dalam beberapa literatur Islam dan dengan pendekatan ini kemudian kita dapat meninjau secara lebih akurat pada ayat-ayat al-Quran terkait dengan berpikir dan menggunakan akal dalam al-Quran. Akal dan pikiran ...
  • Apakah Nabi Adam merupakan orang kedelapan yang hidup di muka bumi?
    248997 Teologi Lama 2012/09/10
    Berdasarkan ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini. Kedua: Sebelum Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia ...
  • Apa hukumnya berzina dengan wanita bersuami? Apakah ada jalan untuk bertaubat baginya?
    232163 Hukum dan Yurisprudensi 2011/01/04
    Berzina khususnya dengan wanita yang telah bersuami (muhshana) merupakan salah satu perbuatan dosa besar dan sangat keji. Namun dengan kebesaran Tuhan dan keluasan rahmat-Nya sedemikian luas sehingga apabila seorang pendosa yang melakukan perbuatan keji dan tercela kemudian menyesali atas apa yang telah ia lakukan dan memutuskan untuk meninggalkan dosa dan ...
  • Ruh manusia setelah kematian akan berbentuk hewan atau berada pada alam barzakh?
    219059 Teologi Lama 2012/07/16
    Perpindahan ruh manusia pasca kematian yang berada dalam kondisi manusia lainnya atau hewan dan lain sebagainya adalah kepercayaan terhadap reinkarnasi. Reinkarnasi adalah sebuah kepercayaan yang batil dan tertolak dalam Islam. Ruh manusia setelah terpisah dari badan di dunia, akan mendiami badan mitsali di alam barzakh dan hingga ...
  • Dalam kondisi bagaimana doa itu pasti dikabulkan dan diijabah?
    178512 Akhlak Teoritis 2009/09/22
    Kata doa bermakna membaca dan meminta hajat serta pertolongan.Dan terkadang yang dimaksud adalah ‘membaca’ secara mutlak. Doa menurut istilah adalah: “memohon hajat atau keperluan kepada Allah Swt”. Kata doa dan kata-kata jadiannya ...
  • Apa hukum melihat gambar-gambar porno non-Muslim di internet?
    173231 Hukum dan Yurisprudensi 2010/01/03
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Apakah praktik onani merupakan dosa besar? Bagaimana jalan keluar darinya?
    170319 Hukum dan Yurisprudensi 2009/11/15
    Memuaskan hawa nafsu dengan cara yang umum disebut sebagai onani (istimna) adalah termasuk sebagai dosa besar, haram[1] dan diancam dengan hukuman berat.Jalan terbaik agar selamat dari pemuasan hawa nafsu dengan cara onani ini adalah menikah secara syar'i, baik ...
  • Siapakah Salahudin al-Ayyubi itu? Bagaimana kisahnya ia menjadi seorang pahlawan? Silsilah nasabnya merunut kemana? Mengapa dia menghancurkan pemerintahan Bani Fatimiyah?
    161479 Sejarah Para Pembesar 2012/03/14
    Salahuddin Yusuf bin Ayyub (Saladin) yang kemudian terkenal sebagai Salahuddin al-Ayyubi adalah salah seorang panglima perang dan penguasa Islam selama beberapa abad di tengah kaum Muslimin. Ia banyak melakukan penaklukan untuk kaum Muslimin dan menjaga tapal batas wilayah-wilayah Islam dalam menghadapi agresi orang-orang Kristen Eropa.
  • Kenapa Nabi Saw pertama kali berdakwah secara sembunyi-sembunyi?
    144086 Sejarah 2014/09/07
    Rasulullah melakukan dakwah diam-diam dan sembunyi-sembunyi hanya kepada kerabat, keluarga dan beberapa orang-orang pilihan dari kalangan sahabat. Adapun terkait dengan alasan mengapa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi pada tiga tahun pertama dakwahnya, tidak disebutkan analisa tajam dan terang pada literatur-literatur standar sejarah dan riwayat. Namun apa yang segera ...
  • Kira-kira berapa usia Nabi Khidir hingga saat ini?
    136112 Sejarah Para Pembesar 2011/09/21
    Perlu ditandaskan di sini bahwa dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tegas nama Nabi Khidir melainkan dengan redaksi, “Seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Qs. Al-Kahfi [18]:65) Ayat ini menjelaskan ...