Advanced Search
Hits
9925
Tanggal Dimuat: 2013/12/25
Ringkasan Pertanyaan
Dalam riwayat disebutkan Allah Swt melimpahkan dosa-dosa orang-orang Syiah kepada Rasulullah Saw dan kemudian mengampuninya. Ayat yang menyatakan, “Allah hendak mengampuni dosa-dosamu baik yang telah lalu maupun yang akan datang) tengah menyinggung persoalan ini! Apakah keyakinan seperti ini ada benarnya? Bukankah keyakinan seperti ini mirip dengan keyakinan orang-orang Kristen terkait dengan penebusan dosa?
Pertanyaan
18. Kepercayaan tentang sebuah penebusan Umar bin Yazid berkata : “Saya berkata pada Ali Abdillah As. Tentang firman Allah Saw (Allah hendak mengampuni dosa-dosamu baik yang telah lalu maupun yang akan datang)” Surat Al Fath ayat 2. Ia berkata : “Dia tidak berdosa dan tidak pernah berniat untuk berbuat dosa, tapi Allah membebankan dosa-dosa mereka pada Nabi, kemudian Allah mengampuninya” (Biharul Anwar 17/76). Mirip sekali dengan kepercayaan Nasrani mengenai penebusan dosa.
Jawaban Global
Riwayat yang dipertanyakan, dengan sedikit perbedaan yang disebutkan pada teks pertanyaan, dinukil seperti ini, “Imam Shadiq As ditanya tentang firman Allah Swt, “Allah hendak mengampuni dosa-dosamu baik yang telah lalu maupun yang akan datang?” Beliau menjawab, “Rasulullah Saw tidak memiliki dosa dan juga tidak memiliki kehendak untuk melakukan dosa, namun Allah Swt melimpahkan dosa-dosa orang Syiah Ali ke pundaknya kemudian memaafkan mereka untuk Rasulullah Saw.”
Agak repot kita menerima makna lahir ayat ini. Karena itu kita harus memaknai riwayat ini tidak berdasarkan makna lahir. Misalnya dapat dikatakan bahwa maksud Fathu Makkah atau Perjanjian Damai Hudaibiyah menjadi penyebab semakin kuatnya Islam dan buntutnya pada Hajjatul Wada Islam dijelaskan secara sempurna kepada masyarakat.
Hasilnya ruang untuk menggembleng dan membina kaum Mukminin sejati dan Syiah sejati Amirul Mukminin tersedia, mereka adalah orang-orang  yang layak menerima ampunan ketimbang orang lain dan lebih cepat menerima ampunan.
Akan tetapi ungkapan Rasulullah Saw menerima limpahan dosa dan kemudian diampunkan merupakan ungkapan urf yang umum dipakai oleh masyarakat. Misalnya orang yang menjadi perantara dalam pemberian ampunan  orang-orang berkata kami memaafkannya demi Anda, orang yang menjadi perantara berkata, “Dosa mereka Anda masukkan dalam catatan amal saya.”
Dalam pada itu harus dicamkan bahwa syafaat ini sangat jauh berbeda dengan konsep penebusan dosa (redemption) yang mentradisi dalam agama Kristen.
 
Jawaban Detil
Berdasarkan dalil-dalil definitif akal dan riwayat, Rasulullah Saw memiliki makam kemaksuman dan beliau sama sekali tidak pernah melakukan dosa. Namun demikian, ada sebagian ayat dan bahkan riwayat yang secara lahir menyatakan bahwa beliau tidak maksum.
Salah satu ayat yang secara lahir berseberangan dengan konsep kemaksuman adalah ayat:
﴿إِنَّا فَتَحْنا لَکَ فَتْحاً مُبیناً لِیَغْفِرَ لَکَ اللهُ ما تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِکَ وَما تَأَخَّرَ وَ یُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَیْکَ وَ یَهْدِیَکَ صِراطاً مُسْتَقیماً﴾
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. Supaya Allah memberi ampunan terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang (yang disandarkan oleh kaummu kepadamu) serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memberikan petunjuk kepadamu kepada jalan yang lurus.” (Qs al-Fath [48]:1-2)
Ayat ini dengan beberapa dalil tidak berseberangan dengan konsep ishmah (kemaksuman); Imam Ali As bersabda, “Tatkala ayat ini diturunkan, Rasulullah Saw bertanya kepada Jibril, ‘Apa maksudnya dosa yang telah lalu dan akan datang (pada ayat ini)?’ Jibril menjawab, ‘Engkau tidak memiliki dosa apa pun sehingga Allah Swt harus mengampuninya.’”[1]
Para mufassir (ahli tafsir) melontarkan beberapa pandangan terkait dengan makna dzanb sehingga tidak bertentangan dengan kemaksuman[2] sehingga makna tersebut dapat sejalan dengan kemaksuman.[3]
Pada kesempatan ini kami akan menyebutkan dua dari pandangan ahli tafsir terkati dengan makna dzanb pada ayat di atas:
  1. Dalam sebuah riwayat disebutkan, “Makmun berkata kepada Imam Ridha As, “Apa makna “liyaghfira lakallah” (liyaghfirallahu laka)? Imam Ridha As dalam menjawab pertanyaan ini berkata. “Dalam pandangan orang-orang Musyrik Mekkah, tiada orang yang lebih berdosa daripada Nabi Muhammad Saw; karena sebelum diutusnya Rasulullah Saw, mereka menyembah 360 berhala dan tatkala Rasululah Saw datang, beliau mengajak mereka kepada kalimat tayyibah (la ilaha illallah). Hal ini terasa berat bagi mereka.
﴿أَ جَعَلَ الْآلِهَةَ إِلهاً واحِداً إِنَّ هذا لَشَیْ‏ءٌ عُجابٌ. وَ انْطَلَقَ الْمَلَأُ مِنْهُمْ أَنِ امْشُوا وَ اصْبِرُوا عَلى‏ آلِهَتِکُمْ إِنَّ هذا لَشَیْ‏ءٌ یُرادُ. ما سَمِعْنا بِهذا فِی الْمِلَّةِ الْآخِرَةِ إِنْ هذا إِلَّا اخْتِلاقٌ‏.
“Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan. Dan para pemimpin mereka keluar (seraya berkata), “Pergilah kamu dan tetaplah (menyembah) tuhan-tuhanmu. Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki (oleh mereka untuk menyesatkanmu).Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang lain; ini (mengesakan Allah) tidak lain hanyalah ajaran yang diada-adakan.” (Qs. Shad [38]:5-7)
Dan ketika itu Allah Swt menaklukkan kota Mekkah untuk Rasul-Nya. Allah Swt berfirman, “(Wahai Muhammad!) Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.” Yaitu penduduk kota Mekkah menilai perbuatan Rasulullah Saw yang mengajak mereka kepada tauhid – sebelum dan sesudahnya – sebagai dosa, .....dan dengan menangnya Rasullah Saw atas mereka, apa yang menjadi dosa dalam anggapan mereka, telah tertutupi.[4] Karena itu, dari riwayat di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan dosa adalah apa yang dipandang oleh kaum musyrikin Mekkah sebagai dosa dan menyandarkannya kepada Rasulullah Saw. Namun dengan adanya penaklukan kota Mekkah penyandaran ini pun ikut hilang. Sebagian ahli tafsir menerima pandangan ini dalam menafsirkan ayat di atas.[5]
  1. Sayid Murtadha Rah teolog terkemuka Syiah juga memiliki pandangan terkait dengan ayat di atas. “Dzanb” merupakan masdar dan masdar boleh ditambahkan pada pelaku (fâ’il) dan obyek (maf’ul). Pada ayat di atas, dzanb ditambahkan kepada maf’ul dan maksud ayat jadinya, “ma taqaddama min dzanbihim ilaik.” Artinya Allah Swt mengampunkan dosa-dosa orang kafir yang menghalangimu masuk kota Mekkah dan Masjidul Haram.”
Karena itu, takwil ayat ini adalah maghfirah bermakna Allah Swt telah melenyapkan hukum-hukum orang-orang musyrik dan musuh-musuh Rasulullah Saw. Artinya Allah Swt telah menghilangkan halangan ini darimu dan dengan penaklukan kota Mekkah (Fathu Mekkah) kamu akan memperoleh kekuatan tatkala memasuki kota Mekkah. Oleh itu, penaklukan ini bermakna sebuah ganjaran atas jihad yang dilakukan Rasulullah Saw. Namun apabila Allah Swt memaksudkan ampunan ini adalah ampunan untuk dosa-dosa Rasulullah Saw, maka redaksi ayat, “(Wahai Muhammad!) Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. Supaya Allah memberi ampunan terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang (yang disandarkan oleh kaummu kepadamu).”  Tidak akan artinya. Lantaran pengampunan dosa-dosa  tidak ada kaitannya dengan kemenangan dan tentu tidak dapat disebutkan setelah ayat kemenangan.[6] Karena itu, ucapan ini, “ma taqaddam” dan “ma taakkhar” juga akan menjadi berarti dan hubungan kemenangan dan pengampunan dosa juga akan dengan jelas dapat disimpulkan.
Analisa yang telah diuraikan atas ayat ini masih perlu dikaji lebih jauh dan maksud dzanb itu menyangkut dosa orang-orang beriman yang dilimpahkan kepada Rasulullah Saw dan kemudian mendapatkan ampunan. Umar bin Yazid berkata, “Saya bertanya kepada Imam Shadiq As ditanya tentang firman Allah Swt, Supaya Allah memberi ampunan terhadap dosa yang telah lalu dan yang akan datang (yang disandarkan oleh kaummu kepadamu)?” Beliau menjawab, “Rasulullah Saw tidak memiliki dosa dan juga tidak memiliki kehendak untuk melakukan dosa, namun Allah Swt melimpahkan dosa-dosa orang Syiah Ali ke pundaknya kemudian memaafkan mereka karena Rasulullah Saw.”[7]
Riwayat ini juga memiliki nukilan yang lain; terkadang disebutkan sebagai bagian dari riwayat yang panjang dan terkadang disebutkan secara terpisah dengan kata-kata yang berbeda.[8]
Sebagian ahli tafsir juga menjelaskan makna ini ketika menafsirkan ayat ini.[9] dan sebagian lainnya, “Supaya Allah memberi ampunan terhadap dosa yang telah lalu” artinya kesalahan yang dilakukan oleh bapakmu Adam dan engkau berada dalam tulang sulbinya; adapun “dan yang akan datang” yaitu dosa-dosa umatmu; karena engkau adalah pemimpin dan hujjah mereka. [10]
Bagaimanapun agak rumit bagi kita menerima makna lahir ayat ini. Karena itu kita harus memaknai riwayat ini tidak berdasarkan makna lahir. Misalnya dapat dikatakan bahwa maksud Fathu Makkah atau Perjanjian Damai Hudaibiyah menjadi penyebab semakin kuatnya Islam dan buntutnya pada Hajjatul Wada Islam dijelaskan secara sempurna kepada masyarakat.
Hasilnya ruang untuk menggembleng dan membina kaum Mukminin sejati dan Syiah sejati Amirul Mukminin tersedia, mereka adalah orang-orang  yang layak menerima ampunan ketimbang orang lain dan lebih cepat menerima ampunan.
 
Akan tetapi ungkapan Rasulullah Saw menerima limpahan dosa dan kemudian  merupakan ungkapan urf yang umum dipakai oleh masyarakat. Misalnya orang yang menjadi perantara dalam pemberian ampunan  orang-orang berkata kami memaafkannya demi Anda, orang yang menjadi perantara berkata, “Dosa mereka Anda masukkan ke dalam catatan saya.”
Dalam pada itu harus dicamkan bahwa setiap orang yang menganggap dirinya sebagai Syiah tidak akan menjadi personifikasi riwayat ini – dengan asumsi riwayat ini diterima. Menjadi Syiah memerlukan syarat-syarat tertentu dan terkadang berat di antaranya menjalankan ibadah dan beriman dan tentu saja hal ini sangat jauh berbeda dengan konsep penebusan dosa (redemption) yang mentradisi dalam agama Kristen yang tentunya bukan tempatnya di sini untuk membahas hal itu. [iQuest]
 

[1]. Abu al-Qasim Furat Kufi, Tafsir Furât al-Kufi, Riset oleh Muhammad Kazhim Mahmudi, hal. 419, Intisyarat Wizarat Irsyad Islami, Tehran, Cetakan Pertama, 1410 H.  
[2]. Silahkan lihat indeks berikut untuk telaah lebih jauh:
 1857; Kemaksuman Rasulullah Saw dan Tark Aula
7880; Tark Aula dari Maksum
[3]. Syaikh Shaduq, ‘Uyun Akhbâr al-Ridhâ As, Riset dan Edit oleh Mahdi Lajuardi, jil. 1, hal. 202, Nasyr Jahan, Tehran, Cetakan Pertama, 1378 S.  
[4]. Nasir Makarim Syirazi,  Tafsir Nemuneh, jil. 22, hal. 20-22, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Tehran, Cetakan Pertama, 1374 S.
[5]. Ali bin Husain, Alam al-Huda, Tanzih al-Anbiyâ (Alaihim al-Salam), hal. 117, Dar al-Syarif al-Radhi, Qum, Cetakan Pertama, 1377 S. 
[6]. Ali bin Ibrahim Qummi, Tafsir Qummi, Riset oleh Sayid Thayyib Musawi Jazairi, jil. 2 , hal. 314, Dar al-Kitab, Qum, Cetakan Keempat, 1367 S.
[7]. Syaikh Shaduq, Ma’âni al-Akhbâr, Riset dan edit, Ali Akbar Ghaffari, al-Nash, hal. 352, Daftar Intisyarat Islami, Qum, Cetakan Pertama, 1403 H; Syaikh Shaduq, ‘Ilal al-Syara’i, jil. 2, hal. 175, Kitabpurusyi Dawari, Qum, Cetakan Pertama, 1385 S.  
[8]. Muhammad bin Muhammad Ridha Qumi Masyhadi, Tafsir Kanz al-Daqâiq wa Bahr al-Gharâib, Riset oleh Husain Dargahi, jil. 12, hal. 269, Intisyarat Wizarat Irsyad Islami, Tehran, Cetakan Pertama, 1368 S; Ali Astarabadi, Ta’wil al-Âyât al-Zhâhirah fi Fadhâil al-‘Itrah al-Thâhirah, Riset dan edit oleh Husain Ustad  Ali, hal. 575, Muassasah al-Nasyr Islami, Qum, Cetakan Pertama, 1409 H.  
[9]. Silahkan lihat, Muhammad Muhsin Faidh Kasyani, al-Wâfi, Riset dan edit oleh Dhiya al-Din Husaini Isfahani, jil. 13, hal. 826, Kitabkhane Imam Amir al-Mukminin Ali As, Isfahan, Cetakan Pertama, 1406 H; Muhammad bin Makki, Syahid Awwal, al-Arba’un Haditsan, hal. 73, Madrasah Imam Mahdi Ajf, Qum, Cetakan Pertama, 1407 H; Rajab bin Muhammad Hafizh Bursi, Masyâriq Anwâr al-Yaqin fi Asrâr Amir al-Mu’minin As, Riset dan edit oleh Ali Asyur, hal. 193, ‘Alami, Beirut, Cetakan Pertama, 1422 H.
[10]. Abu Muhammad Sahl bin Abdullah Tustari, Tafsir al-Tustari, Riset oleh Muhammad Basil ‘Uyun al-Saud, hal. 147, Mansyurat Muhammad Ali Baidhun, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, Beirut, Cetakan Pertama, 1423 H.  
«إِنَّ اللَّهَ سُبْحَانَهُ حَمَلَ مُحَمَّداً ذُنُوبَ شِیعَةِ عَلِیٍّ ثُمَّ غَفَرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْهَا وَ مَا تَأَخَّر»
 
Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Mengapa udang dihalalkan, sementara kepiting diharamkan?
    28441 Filsafat Hukum 2009/12/12
    Kendati seluruh hukum itu ditetapkan berdasarkan kemaslahatan (masâlih) dan kemudaratan (mafâsid), dan setiap hukum itu memiliki sebuah sebab dan falsafahnya, akan tetapi menjelaskan dan menyingkap sebab sempurna seluruh partikular dan detil hukum-hukumnya adalah sebuah pekerjaan yang amat sukar dilakukan. Paling tidak, yang dapat dijelaskan adalah ...
  • Bagaimana kita menulis surat kepada Imam Zaman Ajf?
    9968 Akhlak Praktis 2011/10/01
    Peran berhubungan dengan Imam Zaman Ajf dan bermohon kepadanya memiliki pengaruh konstruktif baik bagi mental dan spiritual seseorang. Permohonan ini boleh jadi berbentuk bisikan hati atau ucapan lisan dan bahkan tulisan. Menulis surat tertulis kepada Imam Zaman Ajf adalah salah jalan untuk menjalin hubungan dengannya. Pada masa-masa dihimpit kesulitan ...
  • Mengapa Qabil membunuh Habil?
    23212 Dirayah al-Hadits 2010/02/17
    Dari ayat-ayat al-Qur'an dapat disimpulka n bahwa sebab pembunuhan Habil oleh Qabil adalah adanya sifat tercela hasud yang membakar Qabil yang berujung pada terbunuhnya Habil dalam keadaan teraniaya. ...
  • Apakah kita berdosa apabila bermusuhan selama 3 hari ?
    39318 گناه و رذائل اخلاقی 2013/09/17
    Berdasarkan pada apa yang dapat disimpulkan dari beberapa riwayat, sekiranya, apa pun alasannya, terjadi permusuhan di antara dua saudara Muslim, maka permusuhan itu harus segera diakhiri dan kedua pihak yang bersengkat harus segera berdamai. Apabila terdapat kemungkinan untuk berdamai maka berlanjutnya permusuhan tergolong sebagai sebuah dosa. Memaafkan ...
  • Bagaimana hubungan antara kehendak Ilahi dan keinginan manusia?
    25992 Teologi Lama 2009/03/16
    Manusia adalah maujud kontingen yang hakikat wujud dan seluruh dimensi keberadaannya bersumber dari Allah Swt. Allah Swt dengan kehendak takwini-Nya menciptakannya merdeka dan berkehendak. Dengan keistimewaan ini manusia menduduki posisi terunggul di antara seluruh makhluk.Dengan demikian manusia sebagai maujud terunggul ...
  • Bagaimana pandangan Islam terhadap memandang kepada alat kelamin lelaki dan wanita?
    59187 Hukum dan Yurisprudensi 2010/10/12
    Menurut hukum fikih memandang aurat (alat kelamin) selain pasangan (suami-isteri) adalah haram, kecuali untuk tujuan pengobatan yang mau-tidak-mau harus dilakukan dengan memandangnya. Dalam riwayat dijelaskan bahwa pelakunya akan dikenakan berbagai sanksi, antara lain digolongkan ke dalam kelompok orang-orang munafik dan mendapat kutukan dari tujuh puluh ribu malaikat.
  • Apa arti akhlak falsafi itu?
    9081 Teoritis 2016/07/17
    Dalam pembahasan Akhlak Islam, terdapat beberapa pendekatan dan metode yang kemudian melahirkan banyak aliran dan pemikiran akhlak. Salah satu pendekatan dan metode itu adalah akhlak falsafi (moral filosofi [rasional]). Akhlak falsafi dipandang sebagai bagian dari aliran moral yang asas, tujuan, wacana dan pelbagai metodenya berjenis filsafat. Format ...
  • Apakah Syiah meyakini bahwa kekufuran Umar bin Khattab sebanding dengan kekufuran Iblis?
    13086 Teologi Lama 2010/05/20
    Riwayat yang telah disebutkan, pertama dari sisi sanad dan kandungannya merupakan riwayat lemah (dhaif) dan tergolong sebagai riwayat mursal yang tidak dapat dijadikan hujjah; karena sanad dan perantaranya antara Ayyasyi hingga Abu Bashir tidak jelas. Dan apabila juga disebutkan bahwa sebagian mursalatnya itu dapat diterima, maka ...
  • Berapakah anak Abdul Mutholib dan Abdullah ayah Nabi Muhammad Saw merupakan anak yang keberapa?
    23485 Sejarah Para Pembesar 2017/08/09
    Abdul Mutholib memiliki sepuluh anak: 1. Harits 2. Zubair 3. Abbas 4. Hamzah 5. Abu Thalib (Abdu Manaf). 6. Ghaidaq (Hijl) 7. Dhirar 8. Muqawwim 9. Abu Lahab (Abdul Uzzah) 10. Abdullah[1] Harits merupakan anak tertua Abdul Mutthalib[2] dan yang ...
  • Apa yang dimaksud dengan minuman yang suci (syarâban tahûrâ) sebagaimana yang disebut dalam al-Qur’an?
    12462 Teologi Lama 2009/03/12
    “Syarâb” bermakna minuman dan “thahûr” berarti sesuatu yang suci dan mensucikan. Banyak ayat yang menyebutkan bahwa di surga kelak terdapat beragam jenis minuman yang menyegarkan dan suci dengan segala kualitas yang bervariasi. Dalam satu ayat al-Qur’an disebut sebagai “syarâban thahûrâ”, “Tuhan memberikan minuman syarâban thahûrâ kepada ...

Populer Hits

  • Ayat-ayat mana saja dalam al-Quran yang menyeru manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya?
    266628 Tafsir 2013/02/03
    Untuk mengkaji makna berpikir dan berasionisasi dalam al-Quran, pertama-tama, kita harus melihat secara global makna “akal” yang disebutkan dalam beberapa literatur Islam dan dengan pendekatan ini kemudian kita dapat meninjau secara lebih akurat pada ayat-ayat al-Quran terkait dengan berpikir dan menggunakan akal dalam al-Quran. Akal dan pikiran ...
  • Apakah Nabi Adam merupakan orang kedelapan yang hidup di muka bumi?
    248997 Teologi Lama 2012/09/10
    Berdasarkan ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini. Kedua: Sebelum Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia ...
  • Apa hukumnya berzina dengan wanita bersuami? Apakah ada jalan untuk bertaubat baginya?
    232163 Hukum dan Yurisprudensi 2011/01/04
    Berzina khususnya dengan wanita yang telah bersuami (muhshana) merupakan salah satu perbuatan dosa besar dan sangat keji. Namun dengan kebesaran Tuhan dan keluasan rahmat-Nya sedemikian luas sehingga apabila seorang pendosa yang melakukan perbuatan keji dan tercela kemudian menyesali atas apa yang telah ia lakukan dan memutuskan untuk meninggalkan dosa dan ...
  • Ruh manusia setelah kematian akan berbentuk hewan atau berada pada alam barzakh?
    219059 Teologi Lama 2012/07/16
    Perpindahan ruh manusia pasca kematian yang berada dalam kondisi manusia lainnya atau hewan dan lain sebagainya adalah kepercayaan terhadap reinkarnasi. Reinkarnasi adalah sebuah kepercayaan yang batil dan tertolak dalam Islam. Ruh manusia setelah terpisah dari badan di dunia, akan mendiami badan mitsali di alam barzakh dan hingga ...
  • Dalam kondisi bagaimana doa itu pasti dikabulkan dan diijabah?
    178512 Akhlak Teoritis 2009/09/22
    Kata doa bermakna membaca dan meminta hajat serta pertolongan.Dan terkadang yang dimaksud adalah ‘membaca’ secara mutlak. Doa menurut istilah adalah: “memohon hajat atau keperluan kepada Allah Swt”. Kata doa dan kata-kata jadiannya ...
  • Apa hukum melihat gambar-gambar porno non-Muslim di internet?
    173231 Hukum dan Yurisprudensi 2010/01/03
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Apakah praktik onani merupakan dosa besar? Bagaimana jalan keluar darinya?
    170319 Hukum dan Yurisprudensi 2009/11/15
    Memuaskan hawa nafsu dengan cara yang umum disebut sebagai onani (istimna) adalah termasuk sebagai dosa besar, haram[1] dan diancam dengan hukuman berat.Jalan terbaik agar selamat dari pemuasan hawa nafsu dengan cara onani ini adalah menikah secara syar'i, baik ...
  • Siapakah Salahudin al-Ayyubi itu? Bagaimana kisahnya ia menjadi seorang pahlawan? Silsilah nasabnya merunut kemana? Mengapa dia menghancurkan pemerintahan Bani Fatimiyah?
    161479 Sejarah Para Pembesar 2012/03/14
    Salahuddin Yusuf bin Ayyub (Saladin) yang kemudian terkenal sebagai Salahuddin al-Ayyubi adalah salah seorang panglima perang dan penguasa Islam selama beberapa abad di tengah kaum Muslimin. Ia banyak melakukan penaklukan untuk kaum Muslimin dan menjaga tapal batas wilayah-wilayah Islam dalam menghadapi agresi orang-orang Kristen Eropa.
  • Kenapa Nabi Saw pertama kali berdakwah secara sembunyi-sembunyi?
    144086 Sejarah 2014/09/07
    Rasulullah melakukan dakwah diam-diam dan sembunyi-sembunyi hanya kepada kerabat, keluarga dan beberapa orang-orang pilihan dari kalangan sahabat. Adapun terkait dengan alasan mengapa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi pada tiga tahun pertama dakwahnya, tidak disebutkan analisa tajam dan terang pada literatur-literatur standar sejarah dan riwayat. Namun apa yang segera ...
  • Kira-kira berapa usia Nabi Khidir hingga saat ini?
    136112 Sejarah Para Pembesar 2011/09/21
    Perlu ditandaskan di sini bahwa dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tegas nama Nabi Khidir melainkan dengan redaksi, “Seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Qs. Al-Kahfi [18]:65) Ayat ini menjelaskan ...