Advanced Search
Hits
20872
Tanggal Dimuat: 2010/08/22
Ringkasan Pertanyaan
Bagaiman hukum kloning dalam pandangan Islam?
Pertanyaan
Apakah ada marja taklid yang membolehkan kloning? Bagaimana pandangan Islam terkait dengan masalah ini?
Jawaban Global

Kloning dan khususnya kloning manusia merupakan salah satu masalah kontemporer. Karena itu masalah ini tidak disebutkan hukumnya dalam ayat-ayat dan riwayat. Akan tetapi para alim dan fakih (juris) Syiah dengan memanfaatkan metode ijtihad atas ayat-ayat dan hadis-hadis, mereka mengemukakan pandangan-pandangan dalam masalah ini. Dewasa ini terdapat beberapa pandangan di kalangan fukaha Syiah dalam masalah ini:

1.     Sebagian pada dasarnya memandang boleh kloning

2.     Seb agian lainnya memandang boleh hanya pada tataran personal dan terbatas.

3.     Kelompok ketiga memandang haram inti persoalan ini sebagai hukum primer.

Jawaban Detil

Supaya jawaban yang diberikan lebih jelas kami harus menjelaskan beberapa poin pendahuluan berikut ini:

A.    Proses kloning

Proses kloning terjadi setelah melewati beberapa tingkatan berikut ini:

1.     Mengambil satu telur yang belum dibuahi dari susu jantan.

2.     Mengeluarkan inti sel telur (nucleus) dan mengambil satu telur yang tidak memiliki inti (telur yang hampa 23 jenis kromosome dan hampa genetik terkait dengan manusia. Namun terdapat sedikit chytoplasma yang memiliki beberapa informasi ringan).  

3.     Memilih satu sel jasmani dan menarik keluar intinya dan menuntun inti tersebut ke dalam telur yang hampa inti (rekonstruksi telur). Dengan demikian, telur seluruh kromosom yang diperlukan (46 biji) berasal dari satu jenis yang seluruhnya diambil dari sel-sel jasmani.

4.     Menggerakan telur melalui obat-obatan kimia dengan kejutan arus listrik untuk mereproduksi telur.[1]

5.     Setelah telur di laboratorium sampa pada tingkatan sel-sel maka ia akan ditransformasikan ke rahim yang sesuai atau ibu pengganti yang telah dipertimbangkan untuk praktik ini.

6.     Setelah masa yang dibutuhkan untuk pembuahan, telur berubah menjadi sebuah janin sempurna dan hidup dan akan lahir pada waktu yang ditentukan.   

Bayi dari sudut pandang genetik hanya sesuai dengan sempurna tatkala pengaruh-pengaruh “DNA” yang terdapat pada “mitochondrial genome” (97%) sejalan dengan inti sel-sel jasmani yang diambil darinya dan jenis kelaminnya senantiasa mengikut pada orang tersebut. [2]

B.    Kloning dapat digambarkan dalam beberapa jenis, di antaranya:

1.     Kloning pada hewan-hewan pada jenis yang umum atau jenis kelamin yang sama atau tidak.

2.     Antara tumbuh-tumbuhan dan hewan.

3.     Antara hewan dan manusia.

4.     Antara beberapa orang manusia yang memiliki ragam hipotesa di antaranya antara dua pasangan suami-istri atau bukan suami-istri, pemilik rahim telah menikah atau tidak dan seterusnya dimana masing-masing dari hipotesa ini memiliki hukum syar’i sendiri-sendiri.[3]

 

Poin lainnya yang tidak boleh diabaikan adalah pelbagai konsekuensi kloning pada manusia. Beberapa konsekuensi tersebut adalah sebagai berikut:

1.     Percampuran manusia

2.     Kerancuan dalam hubungan kekerabatan

3.     Tiadanya ayah dan ibu dalam perkara khusus

4.     Kerancuan dalam urusan nafkah dan warisan

5.     Adanya kemungkinan munculnya manusia-manusia cacat

6.     Pelbagai penyakit yang tidak diperkirakan yang boleh jadi mengancam manusia

7.     Tidak sesuainya dengan kebijaksanaan dan kemaslahatan perbedaan di antara manusia

8.     Hilangnya institusi pernikahan dan hancurnya pranata keluarga

9.     Hilangnya makna seorang ibu

10.  Adanya kemungkinan terbentuknya hubungan llegal.

11.  Tersebarnya dan merebaknya hubungan homoseksual.

12.  Penyalahgunaan para penjahat dan menyebarnya syubha keyakinan dan fikih.[4]

Pelbagai konsekuensi ini menyebabkan kerisauan masyarakat agamis seperti kaum agamis Kristian dan Ahlusunnah sedemikian sehingga mereka menyebutnya sebagai problematika abad modern. Paus dalam pidatonya mengharamkan perbuatan ini lantaran menciderai kemuliaan manusia. Ahlusunnah juga hingga kini telah menyelenggarakan sepuluh konferensi dalam bidang ini dan mereka hampir bulat mengharamkan perbuatan ini.[5] Satu-satunya orang yang memandang boleh praktik kloning adalah Dr. Mahrus yang berasal dari kalangan Ahlusunnah dan mazhab Hanafi di Irak.[6] Sebagian fukaha Syiah memberikan jawaban atas syubha yang menyebar ini dan memandang bahwa pelbagai kemungkinan konsekuensi yang bakal muncul akibat dari praktik kloning ini tidak menjadi penghalang dibolehkannya praktik ini.[7]

Bagaimanapun terkait dengan masalah kloning manusia terdapat beberapa pandangan di kalangan fukaha Syiah:

1.     Pada dasarnya boleh.

2.     Boleh pada tataran personal dan terbatas

3.     Haram sesuai dengan hukum primer.[8]

 

A.    Pada dasarnya boleh:

Sebagian fukaha dan pemikir otoritatif lantara tiadanya nash khusus atas keharaman kloning pada manusia dan dengan bersandar pada kaidah universal (kullu syaiin laka halalun” segala sesuatunya halal bagimu.) demikian juga dengan bersandar pada kaidah ibaha (segala sesuatunya boleh bagimu) mereka memandang boleh praktik kloning.

Beberapa Ayatullah Agung: Siistani, Musawi Ardabili, Fadhil Langkarani, Allamah Fadhlullah, Muhammad Mukmin dan sebagainya dalam menjawab pertanyaan ini “Apakah praktik kloning dan reproduksi manusia di laboratorium melalui pelbagai metodologi canggih sains dibolehkan? Mereka menjawab: “Pada dasarnya tidak ada halangan.”[9]

Sebagian fukaha lainnya di samping menghukumi boleh terhadap pelbagai pertanyaan dan keraguan yang menjadi sebab pengharaman praktik kloning ini oleh sebagian fukaha mereka memberikan jawaban detil (tafshil).”[10]

Sebagian lainnya berkata apabila melakukan praktik kloning berujung pada kerusakan yang tidak dapat dihindari karena itu untuk mencegah kerusakan ini, sebagai hukum sekunder, mereka mengharamkan praktik kloning. Ayatullah Agung Kazhim Hairi dan Ayatullah Agung Makarim Syirazi menyokong pandangan ini.[11]

 

B.    Boleh terbatas

Sebagian fukaha berdasarkan nash-nash yang ada bersandar pada kaidah pertama dalam masalah ini, memandang boleh praktik kloning pada manusia namun pelaksanaan praktik kloning secara meluas akan banyak memunculkan masalah. Syaikh Hasan Jawahiri yang mengemukakan masalah ini, ia tidak hanya memandang boleh praktik ini secara personal bahkan memandang haram orang yang mengklaim keharaman praktik kloning ini. Artinya tiada seorang pun yang memiliki hak memandang haram sebuah perbuatan legal dan mengeluarkan fatwa haram tanpa dalil.[12]

 

C.    Keharaman kloning mengikut hukum primer

Di antara fukaha yang memandang haram praktik kloning sesuai dengan hukum primer adalah Ayatullah Tabrizi Ra. Demikian juga Allamah Muhammad Mahdi Syamsuddin salah seorang ulama Libanon yang tidak hanya memandang haram praktik kloning pada manusia bahkan juga (haram) pada hewan.[13] [IQuest]



[1]. Daftar Tablgihat-e Islami, Kâwusy Nu dar Fiqh, Syabih Sâzi Insân az Didgâh-e Fuqahâ Syieh, hal. 6.

[2]. Sayid Ali Musawi Sabzewari, al-Istinsâkh baina al-Tanqih wa al-Tasyri’, hal. 43.

[3]. Diadaptasi dari Haft-e Nâme-ye Ufuq Hauzah, No. 94 dan Syabih Sâzi Insân az Didgâh-e Fuqahâ Syieh 

[4]. Ibid.  

[5]. Ibid.  

[6]. Silahkan lihat al-Istinsâkh baina al-Tanqih wa al-Tasyri’ dan Fatawa Tabiyyah, Sayid Muhsin Muhammad Hakim.  

[7]. Daftar Tablgihat-e Islami, Kâwusy Nu dar Fiqh, Syabih Sâzi Insân az Didgâh-e Fuqahâ Syieh, hal. 32.  

[8]. Ibid.

[9]. Ayatullah Sayid Muhammad Sa’id Hakim.

[10]. Daftar Tablgihat-e Islami, Kâwusy Nu dar Fiqh, Syabih Sâzi Insân az Didgâh-e Fuqahâ Syieh, hal. 32.

[11] . Ibid.

[12]. Ibid.

[13]. Ibid.

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Apa hukumnya tidak berpartisipasi dalam acara demonstrasi al-Quds sedunia?
    6156 Hal-hal Lain
    Ikut serta dalam demonstrasi atau peringatan hari al-Quds sedunia adalah wajib bagi setiap Muslim yang dapat ikut serta pada acara tersebut dan hal ini merupakan sebuah hukum wilâi sehingga seluruh Muslim harus mematuhinya. Akan tetapi orang-orang yang disebabkan adanya alasan yang diterima oleh urf (tradisi) ...
  • Apa hukumnya menyembelih atau memburu hewan pada malam hari?
    11942 بیشتر بدانیم
    Berdasarkan kitab-kitab fikih istidlali (penalaran) dan fatwa, dengan bersandar pada dua riwayat terlampir, menyembelih atau memburu hewan-hewan berkaki empat atau unggas dipandang sebagai perbuatan makruh;[1] artinya ada baiknya hewan-hewan berkaki empat atau unggas itu tidak disembelih pada malam hari kecuali dalam kondisi darurat dan ...
  • Apabila air qalil menjadi najis namun warna, bau dan rasanya tidak memberikan warna, bau dan rasa najis apakah air tersebut tetap suci?
    4298 Hukum dan Yurisprudensi
    Air qalil akan menjadi najis begitu bersentuhan dengan sesuatu yang najis; terlepas apakah warna, bau dan rasanya berubah atau tidak berubah.[1]
  • Mengapa keyakinan terhadap Determinisme itu merupakan suatu hal yang tertolak dan absurd?
    10514 Teologi Lama
    Determinisme bermakna bahwa manusia terpaksa dan tidak memiliki kebebasan dalam seluruh aktifitas dan perbuatannya. Para teolog Asy’ariah (penganut paham Determinisme), sekaitan dengan aktifitas dan perbuatan manusia, berpandangan bahwa manusia terpaksa dalam setiap perbuatannya dan sama sekali tidak memiliki kehendak, ikhitiar dan kebebasan. Mereka menyandarkan seluruh perbuatan manusia ...
  • Apakah dalam surga juga terdapat hukum-hukum fikih?
    3817 بیشتر بدانیم
    Kiranya poin ini perlu diperhatikan bahwa kita tak dapat memperoleh penjelasan lain kecuali melalui wahyu serta ungkapan-ungkapan para maksum yang sampai pada kita terkait dengan mengenai persoalan-persoalan alam akhirat dan keadaan surga neraka. Jawaban atas pertanyaan di atas juga tidak disebutkan secara tegas dalam teks-teks agama. Akan ...
  • Apakah keraguan yang berlebihan yang tidak boleh diindahkan juga mencakup segala jenis keraguan?
    10074 Hukum dan Yurisprudensi
    Sesuai dengan kaidah “Lâ syak likatsir al-syak”, katsir al-syak (seseorang yang memiliki keraguan berlebihan) tidak boleh mengindahkan keraguannya. Sesuai dengan pandangan mayoritas fukaha, kaidah ini, tidak terkhusus pada shalat, melainkan juga mencakup pendahuluan-pendahuluan shalat seperti wudhu, mandi, dan tayammum, demikian juga mencakup ibadah-ibadah rangkapan seperti haji, transaksi-transaksi ...
  • Tolong Anda sebutkan sirah akhlak Imam Sajjad As?
    6397 Para Maksum
    Pemimpin Keempat adalah seorang manusia sempurna dan terpilih. Beliau adalah seseorang yang telah mencapai puncak kesempurnaan dari segala dimensi moral, ritual, keilmuan. Imam Sajjad As merupakan jelmaan al-Qur’an dan Rasulullah Saw.Pada masa kelam pemerintahan Bani Umayya dimana nilai-nilai kemanusiaan dan keutamaan dilupakan, Imam Sajjad laksana surya terang ...
  • Apakah haram mengkonsumsi permen karet-permen karet yang mencantumkan nama Sugar Alcohol dalam kemasannya?
    9840 Hukum dan Yurisprudensi
    Kantor Ayatullah Agung Khamenei (Mudda Zhilluhu al-‘Ali):Apabila alkohol yang digunakan adalah alkohol yang memabukkan dan aslinya cair, mengikut prinsip ihtiyath, maka alkohol tersebut adalah najis dan apabila (Anda) ragu maka alkohol tersebut dihukum suci. Kantor Ayatullah Agung Siistani (Mudda Zhilluhu al-‘Ali):Tidak ada masalah ...
  • Saya telah menikah selama delapan tahun. Hingga kini saya belum pernah menyerahkan khumus. Tolong bimbinglah saya, apa yang harus saya lakukan?
    3835 Bagaimana Menyerahkan Khumus
    Kantor Ayatullah Agung Siistani (Mudda Zhilluhu al-‘Ali): Hari pertama kerja adalah hari penghitungan khumusnya dan setiap tahunnya ia harus membayar khumus atas apa yang tersisa (dari penghasilannya) pada hari tersebut, terlepas apakah dalam bentuk tunai atau hal-hal yang dikonsumsi, seperti bahan makanan yang tersisa ...
  • Apa yang menjadi sebab tingginya kedudukan Sayidah Maryam as?
    9032 زن
    Dalam Al-Quran dan hadis disebutkan bahwa Sayidah Maryam As binti Imran As lahir dari keluarga miskin yang tak mampu mengelolah hidup sehari-hari karena kondisi ekonominya (karena ayahnya meninggal dunia sebelum ia lahir). Oleh karena itu ia dibesarkan oleh Nabi Zakaria As, istri dari bibi Sayidah Maryam As.

Populer Hits