Advanced Search
Hits
15372
Tanggal Dimuat: 2010/04/29
Ringkasan Pertanyaan
Mengapa orang-orang Syiah berkata bahwa kalimat Asyhâdu anna ‘Aliyyan Waliyullâh harus diulang dalam azan?
Pertanyaan
Mengapa orang-orang Syiah berkata bahwa kalimat Asyhâdu anna ‘Aliyyan Waliyullâh harus diulang dalam azan dan talqin? Silahkan lihat, Furû’ al-Kâfi, jil. 3, hal. 82.
Jawaban Global

Kalimat “wali” memiliki banyak makna. Yang paling penting dari makna tersebut sebagai berikut.

A.    Pengayom

B.    Sahabat

C.    Penolong dan penyokong

Kendati masing-masing dari tiga makna ini benar terkait dengan Baginda Ali As, akan tetapi dengan memperhatikan beberapa riwayat yang disebutkan dalam masalah ini yang dimaksud dengan redaksi kalimat ini pada azan adalah makna yang pertama; artinya Ali [adalah] wali, pengayom, pertama dan terutama dalam masalah khilafah dan wilâyah ini merupakan delegasi dari Tuhan kepadanya sebagaimana pada makna “Muhammadan Rasulullah” yaitu Muhammad merupakan rasul yang diangkat dari sisi Tuhan.

Namun mengucapkan teks ‘Aliyyan Waliyullah merupakan bagian dari azan ataukah bukan? Jawabannya adalah berdasarkan riwayat Ahlulbait dan fatwa fukaha Syiah. Azan terdiri dari 18 kalimat yang kalimat “Asyhâdu anna ‘Aliyyan Waliyullâh” tidak termasuk dari bagian azan ini dan tidak boleh diniatkan sebagai bagian dari azan.

Jawaban Detil

Untuk menjawab pertanyaan ini secara seksama kami akan membaginya menjadi tiga bagian pertanyaan. Kemudian sesuai runutan bagian tersebut, kami akan menjawab pertanyaan tersebut.

1.     Apakah dasar penyebutan “Ali Waliyullah” itu benar adanya atau merupakan ucapan yang keliru dan batil?

2.     Apabila benar adanya apakah kalimat ini merupakan bagian dari azan atau tidak?

3.     Apabila tidak termasuk bagian dari azan apakah penyebutannya tanpa disertai niat (bagian) dari azan tidak dibolehkan?

 

Untuk menjawab bagian pertama pertanyaan kiranya kita harus membedah makna dan pengertian kalimat “wali”.

 

Makna Wali

Kalimat wali memiliki ragam makna yang akan kita singgung makna yang lebih penting dari makna-makna yang ada.

A.    Wali bermakna pengayom dan penanggung jawab, sebagaimana pada banyak ayat al-Qur’an digunakan dengan makna ini seperti: Tidak ada bagimu selain dari-Nya seorang penolong pun dan tidak (pula) seorang pemberi syafaat  (QS. Al-Sajdah [32]:4)

B.    Bermakna sahabat atau kawan[1] yang juga disebutkan dalam al-Qur’an dengan makna ini seperti: Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia terdapat permusuhan seolah-olah telah menjadi kawan (wali) yang sangat setia (QS. Al-Fushshilat [41]:34)

C.    Bermakna penolong dan pembantu.[2] Dalam al-Qur’an dinyatakan, Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong (wali) bagi sebagian yang lain (QS. Al-Taubah [9]:71)

Tak syak lagi, tiga makna yang dikemukakan di atas tidak ada masalah dalam penggunaan redaksi “Wali Allah” bagi orang-orang beriman pada makna kedua dan ketiga (kawan dan penolong). Bahkan pada sebagian riwayat Ahlusunnah dan Syiah juga disebutkan dengan makna sedemikian.[3]

Adapun terkait dengan makna pertama, harus dikatakan bahwa sebagian riwayat yang disebutkan menyatakan bahwa Ali adalah wali, pengayom,  lebih utama dalam urusan wilâyah sebagaimana kedudukan Rasulullah Saw. Akan tetapi ‘Ali Waliyullah bermakna Ali diangkat oleh Allah Swt untuk menduduki makam wilâyah dan pengayom umat sebagaimana disebutkan Muhammad Rasulullah dalam azan yang bermakna bahwa Muhammad adalah seorang rasul yang diangkat oleh Allah Swt.

Adapun pertanyaan kedua apakah penyebutan “Ali Waliyullah” merupakan bagian dari azan atau tidak?

Berdasarkan sebagian riwayat Ahlulbait, azan terdiri dari 18 kalimat. Kalimat-kalimat tersebut adalah sebagai berikut:

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar

Asyhadu an lâ ilâha illallâh… Asyhadu an lâ ilâha illallâh

Asyhadu anna Muhammadan Rasûlullah… Asyahadu anna Muhammadan Rasûlullah…

Hayya ‘ala al-Shalat… Hayya ‘ala al-Shalat…

Hayya ‘ala al-Falah… Hayya ‘ala al-Falah…

Hayya ‘ala Khair al-‘Amal… Hayya ‘ala Khair al-‘Amal…

Allahu Akbar... Allahu Akbar.. lâ ilâha illallah… lâ ilaha illallah [4]

Dengan demikian kalimat “Asyhadu Anna ‘Aliyyan Waliyullah” yaitu kesaksian ketiga tidak termasuk bagian dari azan. Fukaha Syiah juga, berdasarkan riwayat semacam ini, memberikan fatwa bahwa kalimat ini bukan merupakan bagian dari azan. Imam Khomeini Ra dalam hal ini berkata, “Azan terdiri dari delapan belas kalimat. Kalimat Allahu Akbar empat kali. Asyhadu an lâ ilâha illallah… Asyhadu anna Muhammadan Rasûlullah…Hayya ‘ala al-Shalat… Hayya ‘ala al-Falah… Hayya ‘ala Khair al-‘Amal… Allahu Akbar… lâ ilâha illallah… masing-masing dua kali. Kemudian Imam Khomeini mengimbuhkan bahwa kalimat “Asyhadu anna ‘Aliyyan Waliyullah” bukan bagian dari azan dan ikamah. [5]

 

Selanjutnya, apakah penyebutan “Asyhadu Anna ‘Aliyyan WaliyulLah” membatalkan azan ataukah tidak?

Jelas bahas penyebutan syahadah ketiga dengan meniatkannya sebagai bagian dari azan (atau ikamah) bermasalah secara hukum. Sebagian berkata bahwa tidak ada masalah apabila disampaikan tidak serupa dengan kalimat-kalimat azan dan ikamah.[6] Puncak syubhat yang dapat dikemukakan di sini boleh jadi tambahan tersebut disebut sebagai bid’ah.

Akan tetapi, dengan memperhatikan poin ini bahwa dalam makna bid’ah yang disebutkan adalah memasukkan sesuatu dalam agama yang tidak bersumber dari agama,[7] maka jika ada seseorang memandang syahadah ini sebagai bagian dari azan dan menyampaikannya dalam azan maka ia telah melakukan perbuatan bid’ah dan haram. Namun, tidak satu pun fukaha Syiah yang memandang kalimat ini sebagai bagian dari azan. Dan, apabila disebutkan dalam azan yang tidak serupa dengan kalimat-kalimat azan dan ikamah, maka hal ini bukanlah bid’ah dan sama sekali tidak ada masalah.

Di samping itu, dalam teks-teks riwayat, kita menjumpai riwayat yang menandaskan bahwa tatkala Anda menyampaikan kesaksian terhadap risalah Rasulullah maka Anda juga harus menyampaikan kesaksian kepada wilâyah Amirul Mukminin Ali As.

Bagaimanapun, sebab pernyataan para fakih Syiah yang membolehkan penyebutan syahadah ketiga ini tanpa diniatkan sebagai bagian dari azan adalah riwayat-riwayat yang menyebutkan secara mutlak: “Ketika Anda menyampaikan syahadah kepada tauhid dan risalah, Anda juga harus menyampaikan syahadah kepada wilâyah Ali bin Abi Thalib As dan riwayat-riwayat seperti itu bersifat mutlak, tidak muqayyad, maka ia juga termasuk dalam azan baik pada azan dan ikamah juga pada selain azan dan iqamah. Karena itu, ketika kesaksian terhadap tauhid dan risalah Rasulullah Saw disampaikan, maka kesaksian kepada wilâyah Ali bin Abi Thalib juga telah disampaikan dan hal ini tidak bermakna bagian dari azan.

Demikian juga terdapat sebagian riwayat khusus yang menegaskan syahadah ketiga pada azan.[8] Karena itu, tidak ada masalah dalam hal  penyebutan kalimat ’Aliyyan Waliyullah pada azan dan talqin mayat, dengan memperhatikan kedudukan, derajat dan maqam Ali bin Abi Thalib As[9] bila dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah (qurbah) atau tayammum dan tabarruk (keduanya bermakna mengambil berkah) dan lain sebagainya (selain menganggapnya sebagai bagian).

Disebutkan bahwa banyak ulama Ahlusunnah menyatakan bahwa kalimat “al-shalat khair min al-naum” bukan bagian dari azan dan merupakan kreasi di antara kreasi-kreasi Khalifah Kedua.

Dinukil dari Malik bahwa muazin datang kepada Umar bin Khaththab untuk mengabarkannya tentang shalat subuh. Namun ia mendapati Umar sedang tidur. Ia berkata, “al-shalatu khairun min al-naum” (shalat lebih baik daripada tidur). Umar memerintahkan muazin tersebut untuk memasukkan kalimat ini pada azan.[10]

Pertanyaan yang mengedepan adalah atas dasar apa pengulangan kalimat ini yang dilakukan oleh Ahlusunnah dalam azan Subuh mereka? Apakah hal ini dapat dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh Syiah (ketika mengucapkan syahadah ketiga, kesaksian atas wilayah Ali) yang justru mendapatkan penegasan banyak riwayat. [IQuest]



[1] Abul Hasan Ali bin Muhammad Thabari Kiya Harasi, Ahkam al-Qur’ân, jil. 3, hal. 83, Dar al-Kitab al-‘Ilmiyah, Beirut, 1405 H.

[2] Ibnu Manzhur, Lisân al-‘Arab, jil. 15, hal. 407, Dar Shadir, Beirut, Cetakan Ketiga, 1414 H.

[3] Abdurrahman bin Muhammad ibn Abi Hatim, Tafsir al-Qur’ân al-Azhim (Ibnu Abi Hatim), jil. 2, hal. 675, Maktabat Nizar Musthafa al-Baz, Cetakan Ketiga, 1419 H.

[4] Syaikh Shaduq, Man Lâ Yahdhuruh al-Faqih, jil. 1, hal. 289-291, Jamiah al-Mudarrisin, Qum, 1413 H.

اللَّهُ أَکْبَرُ اللَّهُ أَکْبَرُ اللَّهُ أَکْبَرُ اللَّهُ أَکْبَرُ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُولُ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُولُ اللَّهِ

حَیَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَیَّ عَلَى الصَّلَاةِ

حَیَّ عَلَى الْفَلَاحِ حَیَّ عَلَى الْفَلَاحِ

حَیَّ عَلَى خَیْرِ الْعَمَلِ حَیَّ عَلَى خَیْرِ الْعَمَلِ

اللَّهُ أَکْبَرُ اللَّهُ أَکْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

[5] Taudhih al-Masâil (al-Mahsyi lil Imâm Khomeini), jil. 1, hal. 519, Masalah 918.

[6] Ibid.   

[7] Husain bin Muhammad, Raghib Isfahani, al-Mufradât fi Gharib al-Qur’ân, hal. 111, Dar al-‘Ilm al-Dar al-Syamiyyah, Cetakan Pertama, 1412 H.

[8] Terkait dengan hal ini, silahkan lihat: “Syahadah Ketiga dalam Azan, Ikamah dan Shalat”.

[9] Untuk memperoleh keterangan lebih jauh terkait dengan hal ini, silahkan lihat indeks yang terdapat pada site ini: Penetapan Imam Ali As, Pertanyaan No. 1162; Al-Qur’an dan Imamah Imam Ali, Pertanyaan No. 1817.

[10] Malik, Muwattha, jil. 1, hal. 210, Site al-Islam, http://www.al-islam.com

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Apakah dalam salat kita dapat membaca surah-surah panjang al-Qur’an melalui layar komputer?
    5030 Hukum dan Yurisprudensi
    Apabila Anda tidak mampu mengerjakan salat dengan berdiri maka taklif Anda adalah mengerjakannya sambil duduk di atas kursi. Dalam kondisi seperti ini maka tidak ada masalah mengerjakan salat di hadapan meja komputer dengan menjaga syarat-syarat lainnya. Dan bagaimanapun dibolehkan membaca surah-surah panjang al-Qur’an dalam salat. [IQuest] ...
  • Mengapa Imam Ali tidak memberlakukan qisas kepada para pembunuh Usman?
    1180 Imam Ali As dan Para Khalifah
    Usman tidak dibunuh oleh satu orang sehingga harus diberlakukan qisas bagi pembunuhnya oleh khalifah yang berkuasa ketika itu. Pembunuhan Usman disebabkan oleh revolusi dari kalangan umat yang berujung pada kematian Usman; karena itu Imam Ali As tidak dapat menghukum ribuan orang dengan tuduhan melakukan revolusi dimana Usman ...
  • Apakah wanita dapat menjadi hakim?
    5219 بیشتر بدانیم
    Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama dan ahli agama terkait dengan apakah wanita dapat menjadi hakim dan beberapa posisi lainnya. Meski demikian, persoalan ini tidak termasuk hal-hal yang bersifat pasti dari agama. Mereka yang berkata bahwa kaum wanita tidak dapat menjadi hakim bersandar pada dalil-dalil seperti riwayat ...
  • Siapa yang dimaksud dengan Ulu albâb? Apa pendapat Imam Shadiq As terkait dengan masalah ini?
    4070 Tafsir
    Ulu albâb artinya empu akal, pemikiran, pemahaman dan pemilik pandangan batin. Sebagai lawannya adalah orang bodoh, dungu, buta hati dalam menerima kebenaran. Berdasarkan sebuah riwayat yang dikutip dari Imam Shadiq As, personifikasi jelas dan terang ulu albâb adalah orang-orang Syiah yang beriman kepada wilâyah para imam secara ...
  • Apakah hadis Unwan Basri yang disinggung oleh Ayatullah Qadhi itu?
    4568 دستور العمل ها
    Hadis Unwan Basri adalah sebuah instruksi dan amalan praktis yang sangat berguna bagi para pengikut jalan para Imam Maksum yang menjadi perhatian para arif dan pesuluk. Allamah Majlisi melihat secara langsung hadis tersebut dalam tulisan tangan Syaikh Bahai dan menukilnya dalam kitab Bihâr al-Anwâr. Riwayat ini mencakup ...
  • Apakah air sedotan pipa akan menjadi najis ketika sisi luar selang atau pipa atau kran terkena najis?
    5084 Hukum dan Yurisprudensi
    Air sedotan pipa yang mengalir dari kran, selang atau pipa tidak akan menjadi najis apabila bersambung dengan air kurr seperti air mengalir dan bertemu dengan najis. Misalnya apabila bibir kran telah najis maka ia akan menjadi suci ...
  • Apakah Sunnah dapat menasakh al-Qur’an?
    28079 Ulumul Quran
    Terdapat beberapa pandangan sehubungan dengan nasakh al-Qur’an oleh sunnah mutawatir dan konsensus definitif (ijma’ qath’i). Sebagian berpendapat bahwa apabila terjadi kondisi seperti ini maka al-Qur’an dapat dinasakh oleh sunnah mutawatir. Namun yang masyhur di kalangan ulama, mereka menolak pendapat bahwa al-Qur’an dapat dinaskah oleh kabar tunggal (khabar ...
  • Apakah memakan kepiting hukumnya haram?
    14976 Hukum dan Yurisprudensi
    Di dalam ungkapan-ungkapan fukaha  (ulama ahli fikih) telah dijelaskan tentang kriteria kehalalan daging hewan laut. Mereka berkata: "Apa yang dapat disimpulkan dari riwayat-riwayat adalah bahwa daging hewan-hewan laut itu tidak boleh dimakan alias haram[1] kecuali jenis ikan yang berisisik"
  • Apakah tidak terbakarnya Nabi Ibrahim As dalam api tidak bertentangan dengan hukum kausalitas?
    12668 Filsafat Islam
    Kesebaban (illiyat) segala subyek atas subyek lainnya bergantung pada tipologi yang terdapat pada subyek pertama dan apabila tipologinya mengalami perubahan apakah melalui jalan natural atau adikodrati (i’jaz) maka secara natural ia tidak dapat menjadi sebab bagi subyek kedua.Dalam kisah Nabi Ibrahim, api juga dengan mukjizat Ilahi ...
  • Argumen rasional dan filosofis apa yang dapat diajukan dalam menetapkan keesaan Tuhan?
    10619 Teologi Lama
    Tauhid merupakan salah satu asas terpenting agama-agama Ibrahimi (Nabi Ibrahim). Tauhid adalah sebuah pandangan dan keyakinan yang menegaskan bahwa Tuhan itu Esa. Kebalikan dari tauhid adalah syirik kepada Tuhan. Tauhid artinya menafikan segalah bentuk syirik, keserupaan dan permisalan bagi Tuhan dan segala jenis rangkapan rasional (aqli), ...

Populer Hits