Advanced Search
Hits
6803
Tanggal Dimuat: 2009/09/22
Ringkasan Pertanyaan
Meski Tuhan tahu bahwa banyak manusia yang akan memasuki neraka, lalu mengapa Tuhan tetap menciptakan mereka?
Pertanyaan
Meski Tuhan tahu bahwa banyak manusia yang akan memasuki neraka, lalu mengapa Tuhan tetap menciptakan mereka?
Jawaban Global

1.     Azab Ilahi merupakan hajaran segala perbuatan ikhtiari manusia karena tidak menggunakan media-media petunjuk. Dan juga tidak mendengarkan seruan rasul batin dan rasul lahirnya.

2.     Ilmu Tuhan terhadap nasib manusia dan bagaimananya dia berinteraksi, segala perbuatan entitas, tidak menjadi penyebab timbulnya faktor deterministik  atas mereka dan sejatinya pengetahuan Tuhan semata adalah penyingkap (kâsyif) segala perbuatan hamba.

3.     Penciptaan orang-orang jahat adalah sebuah kemestian, setan harus ada sehingga dengan keberadaannya memungkinkan manusia untuk berkembang dan mencapai kesempurnaan.

Kendati penciptan setan dari kalangan jin dan manusia sebuah perkara yang mesti, akan tetapi siapapun yang memainkan peran ini, hal itu dilakukan dengan pilihan dan kehendak dan tiada pemaksaan dari sisi Tuhan.
Jawaban Detil

Masalah "teka-teki penciptaan orang-orang jahat dan azab yang mereka dapatkan" sejatinya kembali kepada pembahasan yang populer "jabr (determinisme) dan ikhtiar  (freewill)". Ketika dikatakan bahwa Allah Swt mengetahui nasib dan nurani mereka, lalu mengapa Allah Swt menciptakan mereka? Penciptaan ini adalah sebuah penciptaan deterministik (pemaksaan) dan berada di luar wilayah kebebasan manusia. Dari sisi lain, apabila makhluk yang congkak dan bermaksiat itu memilih untuk patuh dan taat maka konsekuensinya terdapat kekurangan dan cela pada ilmu Tuhan, karena itu makhluk tersebut, terpaksa senantiasa berada pada posisi kambing hitam dan ia tidak mampu berbuat selainnya.

Dengan demikian, dalam format beberapa poin, kita akan membahas masalah hubungan "ilmu Tuhan" dan "kebebasan dan keterpaksaan para hamba":

1.     Ilmu Tuhan tidak akan menjadi kekuatan pemaksa atas para pelaku maksiat berkenaan dengan nasib, pola interaksi dan perbuatan seluruh entitas. Misalnya, apabila Anda dengan memanfaatkan pelbagai kondisi seperti bangunan atau tempat yang tinggi, atau menyaksikan teman Anda menaiki kendaraan dan Anda melihat bahwa caranya mengemudi akan berujung pada kecelakaan dan terkait dengan akibat yang mengerikan yang bakalan dihadapinya. Anda ketahui dengan baik perbuatan yang ia lakukan adalah keluar dari pakem dan rasionalitas. Dan setelah beberapa menit kemudian terjadilah kecelakaan, apakah Anda patut disalahkan dalam hal ini? Apaka Anda yang menjadi penyebab kecelakaan tersebut? Apakah Anda dalam hal ini yang menjadi penyebab kecelakaan tersebut? Apakah pemerintah, insinyur dan pembuat mobil yang mengetahui secara definitif bahwa kebanyakan kecelakaan yang terjadi disebabkan oleh penyalahgunaan dan ketidakbecusan pengendara dalam membawa kendaraan dan memanfaatkan jalan merupakan faktor deterministik kejadian di jalan?

Allah Swt sekali-kali tidak mencatat suratan takdir dan nasib seseorang sebagai perbuatan dosa dan maksiat. Hadis berikut ini banyak dinukil oleh mayoritas ulama dari Nabi Saw yang bersabda: "Seseorang yang mengklaim takdir dan berpandangan bahwa segala maksiat yang mereka lakukan bersumber dari nasib dan suratan takdir mereka yang dipaksakan dan ditetapkan Tuhan ke atas mereka. Dan sebagai hasilnya azab yang mereka dapatkan lantaran tiadanya pilihan bagi mereka, ketahuilah bahwa anggapan semacam ini merupakan anggapan keliru dan kebanyakan nabi tidak ridha pada mereka dan melaknat mereka."[1]

2.     Lebih baik kita katakan bahwa Allah Swt mengetahui siapa saja yang memanfaatkan media-media petunjuk dan siapa saja meninggalkannya. Dan azab ditimpakan kepada mereka atas perbuatan ikhtiari mereka karena tidak menggunakan media-media petunjuk tersebut. Seperti seorang guru yang menjelaskan faktor-faktor yang menyebabkan orang dapat meraih sukses dalam menuntut ilmu dan guru ini mengetahui dengan baik siapa saja yang mendengarkan penjelasan ini dan siapa saja yang mengabaikannya. Secara natural, nilai-nilai dan hadiah akan didapat oleh mereka yang sukses dan nilai-nilai jeblok dan pelbagai kesulitan lainnya bagi mereka yang tidak mengindahkan penjelasan guru tersebut. Dengan demikian, pengetahuan guru adalah penyingkap dan pembuka pelbagai perbuatan para siswa bukan pemaksaan terhadap mereka untuk bersikap malas.

Para teolog berkata: Allah Swt mengetahui ketaatan dan kemaksiatan para hamba. Pengetahuan ini adalah untuk menyingkap[2] dan mengikuti perbuatan para hamba.[3]

3.     Seluruh protes ini dapat dibenarkan tatkala Tuhan sama sekali tidak menurunkan sebab dan media petunjuk. Dan pada saat yang sama menunggu ketaatan dari para hamba, akan tetapi tatkala rasul batin (akal sehat dan fitrah) dan rasul lahir (para nabi, imam, al-Qur'an dan ulama rabbani) dipersiapkan demikian, lalu siapa yang patut disalahkan dalam hal ini? Apakah mereka yang memiliki seratus lampu dan tersesat? Atau mereka yang melanggar menabrak lampu yang harus dihukum?

4.     Kehidupan manusia di dunia ini adalah laksana sebuah kehidupan di sekolah. Segala kesuksesan, kebahagiaan dan penderitaannya berada di tangannya. Dialah yang harus bergerak dan memohon kepada Tuhan supaya diberikan taufik dan petunjuk yang lebih.

5.     Allah Swt menciptakan manusia dan menghendakinya untuk sampai kepada kesempurnaan. Untuk sampai kepada kesempurnaan maka peran setan harus diperhatikan sehingga dalam lintasan ini ia memiliki peluang dan kemungkinan untuk berkembang dan menyempurna. Keberadaan setan, tidaklah merugikan bagi manusia yang beriman dan bagi mereka yang ingin melintasi di atas rel kebenaran, melainkan wasilah bagi manusia untuk melaju ke depan dan melintasi jalan kesempurnaan. Karena gerak laju, kemajuan dan kesempurnaan senantiasa terjadi di antara pelbagai paradoks.[4]

6.     Kendati peran setan dari kalangan jin dan manusia merupakan satu peran urgen dan harus ada, akan tetapi masalahnya siapa yang memainkan peran tersebut hal itu dilakukan dengan pilihan dan kehendak. Keterpaksaan dan determinisme tidak berasal dari Tuhan.

Allah Swt tidak menciptakan setan sebagai setan. Karena ia selama bertahun-tahun lamanya (enam ribu tahun)[5] adalah ahli ibadah dan sekedudukan para malaikat.  Akan tetapi setelah itu ia memilih mengikut kehendaknya sendiri dan berdasarkan takabur dan penyimpangan ia terjauhkan dari rahmat Tuhan.

Sebagaimana perbuatan yang dilakukan Yazid; artinya Yazid dengan pilihannya sendiri ia menerima peran ini. Oleh itu, Yazid tidak dapat berkata Tuhanku! Mengapa engkau menciptakan aku. Tuhan menjawab bahwa penciptaan peranmu itu merupakan sebuah keharusan. Dan apabila ia berkata mengapa saya harus memainkan peran ini? Tuhan akan menjawab bahwa peran ini engkau pilih dan hendaki, dan engkau boleh tidak menjadi Yazid dan dengan demikian engkau akan mendapatkan dihukum atas perbuatanmu.

Dengan kata lain, di alam semesta ini, harus ada manusia-manusia jahat  sehingga manusia-manusia lainnya dengan berinteraksi dengan mereka dapat mencapai kesempurnaan. Misalnya Yazid itu harus menjadi orang jahat sehingga Imam Husain dan perbuatan yang dilakukan oleh Imam Husain mendapatkan nilai. Dalam kerangka ini, Imam Husain harus meraih derajat syahada dan mencapai makam yang paling tinggi. Akan tetapi Allah Swt tidak memaksa seseorang bahwa ia harus benar-benar menjadi Yazid. Manusialah dengan pilihannya sendiri menempatkan dirinya pada posisi tersebut. Oleh itu, Tuhan tidak diinterogasi dalam masalah ini misalnya ia berkata, mengapa saya harus memainkan peran Yazid, karena sekali-kali tidak ada determinisme dalam hal ini dan ia dapat dengan pilihannya sendiri tidak sedemikian.

7.     Inti penciptaan manusia adalah sebuah anugerah yang diberikan Tuhan kepadanya. Misalnya seserang membentangkan suprah dan mengundang beberapa orang untuk datang dan menyantap makanan bersamanya. Apabila dalam acara perjamuan tersebut, ada seseorang dengan pilihannya sendiri, memilih untuk tidak makan dan akibatnya terjadi sebuah kejadian yang tidak dinginkan, maka yang patut disalahkan bukanlah tuan rumahnya dan ia tidak dapat diinterogasi mengapa ia mengundang orang tersebut. Lantaran apabila ia tidak mengundangnya dan mencukupi dirinya dengan pengetahuannya (bahwa tamu tersebut tidak makan), boleh jadi tuan rumah diinterogasi oleh tamu itu sendiri mengapa ia tidak diundang dan sekiranya engkau mengundangku maka tentulah aku akan menyantap makanan yang engkau hidangkan.[]



[1]. Rasulullah Saw: "Terkutuklah al-qadariyah melalui lisan tujuh puluh nabi. Rasulullah ditanya: "Siapakah gerangan al-Qadariyah itu Wahai Rasulullah! Rasulullah bersabda: "Sebuah kaum yang beranggapan bahwa Allah telah menetapkan kepada mereka pelbagai maksiat kemudian menyiksa mereka." Bihar al-Anwar, jil. 5, hal. 47.

[2]. Tâbe' di sini bermakna ilmu yang sejalan dengan maklum (yang diketahui).

"Ketauhilah bahwa sesungguhnya tabe' itu disebut pada sesuatu yang belakangan munculnya dari matbu' dan yang berguna untuknya. Dan keduanya bukan yang kami maksud lantaran tâbe' itu adalah ilmu yang mengikuti maklum lantaran ilmu lebih dahulu (datangnya) daripada maklum secara perhitungan waktu dan keberadaannya amat berguna sebagaimana ilmu aktual. Sesungguhnya yang dimaksud dengan tabe' di sini adalah kesejalanan antara ilmu dan maklum lantaran ketika digambarkan oleh akal hukum kehakikian pada maklum pada bentuk kesejalanannya (tathâbuq). Dan sesungguhnya ilmulah yang mengikut maklum dan merupakan hikayat tentangnya. Dan ilmu adalah cabang atas segala maklum dan dengan demikian hukum bolehnya maklum muncul kemudian yang merupakan yang hakiki (al-ashl) dari ikutannya (ilmu). Lantaran akal membolehkan terdahulukannya hikayat atas mahki (yang dihikayatkan). Kasyf al-Murâd, hal. 231.

[3]. Khaja Nashir al-Din Thusi, Kasyf al-Murâd, hal. 230

[4]. Muhammad Bistuni, Syaitân Syinâsi az Didgâh-e Qur'ân Karîm, hal. 17.

[5]. Nahj al-Balâghah, Khutbah Qâshi'a

 

 

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Apakah riwayat ini “Pasca kemunculan Imam Mahdi Ajf seluruh imam akan memerintah dengan keadilan” ada benarnya?
    4119 Teologi Lama
    Kapan saja pemerintahan berada di tangan para Imam Maksum As maka mereka akan memerintah dengan keadilan secara sempurna. Hal ini mengakar dalam keyakinan Syiah; karena Ahlulbait As dan para imam As adalah maksum dan terjaga dari segala jenis kesalahan dan kezaliman. Karena itu, tidak terdapat perbedaan pada ...
  • Bagaimana adab-adab memakai sepatu?
    12192 Akhlak Praktis
    Agama Islam merupakan agama paling akhir, palin sempurna dan paling inklusif di antara agama-agama samawi. Dalam hal ini, ajaran-ajaran Islam mencakup seluruh dimensi kehidupan personal dan sosial manusia pada setiap ruang dan waktu. Islam menjawab seluruh kebutuhan manusia di setiap ruang dan waktu. Bagaimanapun, salah ...
  • Apa hukumnya mendengar musik dalam pandangan Islam?
    6413 Hukum dan Yurisprudensi
    Musik adalah sejenis suara dan melihatnya (tanpa mendengar) tidak mengandung status hukum. Status hukum musik berkaitan dengan adanya produksi, pembuatan, jual-beli alat musik, belajar musik, berdendang dan mendengarkan secara seksama (istimâ) dimana kebanyakan fukaha memfatwakan haram memproduksi dan mendengarkan musik lahw (yang melalaikan). Namun demikian, fukaha berpandangan ...
  • Dalam pandangan al-Quran, yang manakah teladan-telan negatif?
    5606 معیار شناسی (دین و اخلاق)
    Memperkenalkan teladan dan uswah[1] dalam al-Quran, tidak harus khusus dengan contoh-contoh yang baik, bahkan orang-orang yang memiliki akhir buruk dan tersesat, dengan keistimweaan yang mereka miliki, bisa juga diperkenalkan, supaya menjadi pelajaran bagi manusia, dan memberikan perintah untuk menjauhi atau membimbing mereka. Secara global, ...
  • Apakah mekansime penentuan marja'iyah dalam Syi'ah sejak masa ghaib besar hingga sekarang itu satu dan tidak berubah?
    6456 Hukum dan Yurisprudensi
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Ayat manakah dalam al-Qur'an yang menyinggung masalah tauhid? Tolong Anda jelaskan bagian-bagian tauhid itu?
    37547 Teologi Lama
    Masalah tauhid merupakan salah satu masalah yang dalam dan luas dalam konsep keagamaan dan al-Qur'an. Karena itu, masalah tauhid terbagi menjadi beberapa jenis dan tingkatan. Terkait dengan pembahasan tauhid dalam al-Qur'an, hal itu disebutkan secara rinci dan jelas pada surah-surah dan ayat-ayat al-Qur'an. Metode dan pola al-Qur'an dalam menjelaskan ...
  • Dapatkah Anda menjelaskan bagaimana mengerjakan tayammum sebagai ganti wudhu dan mandi (ghusl)?
    6629 Hukum dan Yurisprudensi
    Bagaimana Mengerjakan TayammumDalam tayammum terdapat empat hal wajib sebagai rukun yang harus dikerjakan: 1.     Niat. 2.     Memukulkan dua telapak tangan ke atas benda yang diboleh dijadikan sebagai bahan tayammum. ...
  • Apa yang dimaksud dengan fajar sadik dan fajar kazib?
    17281 Hukum dan Yurisprudensi
    Fajar sadik dan fajar kazib keduanya merupakan terminologi fikih-astronomi yang dimaksud dari keduanya adalah waktu-waktu khusus pada waktu dini hari. Subuh (fajar) kazib tiba seiring dengan datangnya cahaya putih pada bagian Timur bumi. Pada waktu ini shalat subuh tidak dapat dikerjakan. Masa tibanya subuh (fajar) sadik adalah ...
  • Apakah orang yang masih melekat cilak di wajahnya dapat berwudu atau mandi?
    5639 Hukum dan Yurisprudensi
    Tidak boleh ada sesuatu yang menghalangi sampainya air ke anggota badan dan kulit badan ketika seseorang ingin berwudu atau mandi. Karena itu, apabila cilak hanya digunakan pada bagian dalam mata maka hal itu tidak akan menciderai keabsahan wudu dan mandi. Namun apabila digunakan di sekiling bagian mata atau pada ...
  • Apakah Muslim Syiah tidak akan masuk neraka?
    10775 جبر یا اختیار و عدالت پروردگار
    Tolak ukur perhitungan di hari kiamat untuk menentukan apakah sesorang layak memasuki surga atu neraka berdasar pada kaidah-kaidah yang telah dijelaskan oleh Allah Swt dalam ayat-ayat suci-Nya. Tuhan tidak mempedulikan faktor perbedaan kelompok, keturunan, dan bangsa dalam hal ini. Tolak ukur utama adalah amal perbuatan manusia; yakni ...

Populer Hits