Hits
21274
Tanggal Dimuat: 2010/03/02
Ringkasan Pertanyaan
Apakah orang-orang yang mendiami barzakh juga mengalami peristiwa Kiamat? Bagiamanakah kondisi mereka pada waktu itu?
Pertanyaan
Apakah orang-orang yang mendiami barzakh juga mengalami peristiwa Kiamat? Bagiamanakah kondisi mereka pada waktu itu?
Jawaban Global

Di antara sesuatu yang pasti disebutkan dalam al-Qur’an adalah bahwa di alam (pasca kehidupan dunia) terdapat dua kali tiupan. Tiupan pertama terjadi ketika usia dunia telah usai dan akibat tiupan ini seluruh makhluk hidup di muka bumi akan binasa. Pada tiupan selanjutnya adalah tiupan kehidupan dimana seluruh manusia akan hidup kembali setelah kematian. Masing-masing dari dua tiupan ini akan terjadi secara mendadak dan tiba-tiba. Tidak diketahui berapa jarak antara dua tiupan ini. Pada sebagian riwayat, disebutkan bahwa jarak antara dua tiupan ini adalah empat tahun, namun tidak jelas standar riwayat apa yang digunakan dalam penukilan riwayat ini.

Hari Kiamat terjadi dengan tiupan pertama. Dan sebelum Kiamat, terjadi pelbagai peristiwa di alam dimana pelbagai peristiwa ini disebut sebagai “asyrath al-sâ’at” (pendahuluan kiamat). Sebagian ayat al-Qur’an menegaskan datangnya hari Kiamat secara tiba-tiba, yaitu ketika manusia sibuk dan tenggelam dalam urusan keseharian duniawinya kemudian datanglah hari Kiamat.  Kiamat ini akan terjadi di seluruh tempat. Allah Swt berfirman: ““Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan (dari langit) saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar (tentang masalah duniawi).” (Qs. Yasin [36]:49) Atau pada ayat lainnya Allah Swt berfirman, “Mereka tidak menunggu kecuali kedatangan hari kiamat kepada mereka dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadarinya.” (Qs. Zukhruf [43]:66)  Pesan dua ayat ini terkait dengan peristiwa menggemparkan hari Kiamat, setelah dimulainya hari Kiamat dan hidupnya orang-orang mati, yang terjadi dengan tiupan sangkakala pertama.

Jawaban Detil

Untuk menjelaskan persoalan ini kiranya kita perlu mengilustrasikan potret akurat hari dan panggung Kiamat. Dalam al-Qur’an, terdapat banyak ayat yang menggambarkan hari Kiamat dan pelbagai peristiwa yang berkenaan dengannya yang akan kita jelaskan di sini. Karena itu, pertama-tama kita harus menguliti makna dari redaksi barzakh dan tiupan sangkakala (nafakh al-shur).

 

Apa itu barzakh?

Perantara dan batas antara dua hal disebut sebagai barzakh.[1] Al-Qur’an menyebutkan, “Bainahum barzakh la yabghiyân,” (Di antara keduanya ada batas (barzakh) yang tidak dilampaui oleh masing-masing, Qs. Al-Rahman [55]:20) Atau pada ayat lainnya, “Wa min warâihim barzakhun ilaa yaumi yub’atsun.” (Dan di hadapan mereka terdapat alam Barzakh sampai hari mereka dibangkitkan,” Qs. Al-Mukminun [23]:100). Kita menyebut alam kematian sebagai alam barzakh lantaran merupakan terminal dan perantara antara dunia dan akhirat. Dengan menyimak ayat al-Qur’an, “Tiap-tiap yang berjiwa akan mencicipi mati.” (Qs. Al-Ankabut [29]:57)  dan dengan kematianlah, barzakh dan kehidupan barzakhi akan dimulai.“ Karena itu dapat disimpulkan bahwa seluruh pemilik jiwa akan memasuki barzakh (alam terminal di antara kehidupan dunia dan akhirat).[2]

 

Apa itu tiupan sangkakala?

“Nafakh” bermakna “tiupan”[3] dan “shur” bermakna “sangkakala atau tanduk yang kosong isinya.[4] Sangkakala ini biasanya ditiup untuk menggerakan kafilah dan lasykar atau untuk memberhentikannya. Tentu saja terdapat perbedaan dari suara yang dikeluarkan di antara dua sangkakala ini. Sangkakala untuk menghentikan adalah menghentikan kafilah di suatu tempat. Sangkakala untuk menggerakan ditiup untuk mengumumkan dimulainya gerakan kafilah.

Ungkapan ini di samping menjelaskan bahwa tiupan sangkakala ini merupakan sebuah pekerjaan ringan dan mudah serta menjelaskan bahwa Allah Mahabesar dengan mudah mengeluarkan titah satu tiupan, seluruh penghuni langit dan bumi akan mati (tiupan kematian) dan dengan satu perintah yang mirip dengan “tiupan menggerakan kafilah” Allah Swt menghidupkan seluruh yang mati. (tiupan kehidupan).[5]

Terdapat dua jenis gambaran untuk mengilustrasikan hari kebangkitan dan hari Kiamat:

1.     Alam pasca tiupan sangkakala pertama hingga tiupan sangkakala kedua.

2.     Alam pasca tiupan sangkakala kedua.

 

Alam pasca tiupan sangkakala pertama

Dengan bersandar pada al-Qur’an jelas bahwa di alam semesta akan terjadi dua tiupan. Tiupan pertama terjadi ketika usia dunia telah usai dan dengan perantara tiuapan tersebut seluruh makhluk yang tinggal di bumi akan binasa (mati).[6] Pada tiupan selanjutnya yang populer disebut sebagai tiupan kehidupan, seluruh manusia akan hidup (kembali).[7] Kedua tiupan ini akan terjadi secara mendadak dan tidak diketahui berapa jarak antara dua tiupan ini.[8] Kiamat akan terjadi pada tiupan pertama,[9] dan sebelum kiamat, terdapat pelbagai peristiwa yang terjadi di alam barzakh yang secara terminologis disebut sebagai “asyrath al-sâ’at” (pendahuluan-pendahuluan Kiamat).

 

Asyrath al-Sâ’at dalam al-Qur’an

Pelbagai peristiwa dan kejadian yang berlaku di alam semesta sebelum digelarnya hari Kiamat umumnya disebut sebagai asyarth al-sâ’at. Al-Qur’an berkenaan dengan hal ini menegaskan, “Mereka tidak menunggu-nunggu selain hari kiamat yang akan datang kepada mereka dengan tiba-tiba. Sekarang sungguh telah datang tanda-tandanya.” (Qs. Muhammad [47]:18)

Allamah Thabathabai dalam tafsir ayat ini menuturkan: “Sebagian penafsir berkata: “Yang dimaksud dengan alamat-alamat Kiamat adalah munculnya Rasulullah Saw yang merupakan nabi pamungkas. Pada masa Rasulullah Saw terjadi syaq al-qamar yang merupakan salah satu alamat (Kiamat), dan yang lainnya adalah diturunkannya al-Qur’an yang merupakan kitab pamungkas samawi. Hal ini merupakan makna yang diperoleh dari  tadabbur  terhadap ayat al-Qur’an dan sebagaimana yang Anda perhatikan di samping ia memiliki dimensi penuntasan hujjah (itmâm al-hujjah) juga berdimensi burhani (menyodorkan argumen);”[10] Dengan memperhatikan ayat yang disebutkan,  penafsiran yang disebutkan merupakan penafsiran yang tepat; karena Allah Swt berfirman: “Sekarang sungguh telah datang tanda-tandanya.

Terdapat banyak riwayat yang menjelaskan asyrath al-sâ’at yang menyebutkan pelbagai peristiwa yang menggemparkan dan menggegerkan yang tidak termasuk dari apa yang disebutkan dalam al-Qur’an. Namun sebagian ulama menyebutkan pelbagai peristiwa yang disebutkan pada sebagian surah al-Qur’an dalam menjelaskan hari Kiamat sebagai bagian dari asyarth al-sâ’at.[11]

Di sini boleh jadi dua pertanyaan yang dapat diajukan:

1.             Apakah yang dimaksud asyrath al-sâ’at itu adalah pelbagai peristiwa menggemparkan yang  terjadi sebelum digelarnya hari Kiamat? Dengan kata lain, apakah peristiwa ini terjadi sebelum ditiupnya sangkakala pertama?

Apabila yang dimaksud “asyarth al-sâ’at” sebagai peristiwa yang terjadi sebelum tiupan sangkakala maka kita akan berhadapan dengan pelbagai persoalan; Lantaran, pertama, dalam al-Qur’an, terdapat banyak indikasi yang dengan baik menunjukkan bahwa pelbagai peristiwa ini terjadi pada hari Kiamat dan setelah tiupan sangkakala pertama. Allah Swt berfirman, “Apabila sangkakala ditiup sekali tiup. dan bumi dan gunung-gunung diangkat, lalu keduanya dibenturkan sekali bentur (hingga hancur lebur). maka pada hari itu terjadilah suatu peristiwa yang besar (hari kiamat). Dan langit terbelah, karena pada hari itu langit menjadi lemah (dan runtuh).” (Qs. Al-Haqqah [69]:13-16)

Sebagaimana yang tampak pada ayat, hancurnya bumi dan diangkatnya gunung-gunung, terjadi setelah tiupan sangkakala pertama. Karena itu, seluruh peristiwa yang disebutkan dalam al-Qur’an, berkaitan dengan tergulungnya matahari dan redupnya bintang gemintang, “Apabila matahari digulung. apabila bintang-bintang meredup.”  (Qs. Al-Takwir [81]:1-2) atau ayat-ayat lainnya yang bertautan dengan tergoncangnya bumi,[12] dan runtuhnya langit,[13] dipandang sebagai peristiwa-peristiwa yang terjadi setelah tiupan sangkakala pertama; karena peristiwa ini hanya terjadi sekali. Hal ini merupakan sesuatu yang diterima oleh al-Qur’an dan riwayat. Dan kita tidak memiliki indikasi yang menunjukkan tentang berulangnya kejadian-kejadian ini di sepanjang sejarah alam semesta. Kedua, banyak ayat yang menyebutkan peristiwa-peristiwa yang disebutkan, dimulai dengan redaksi “yaum” (hari) atau “idza” (ketika) yang menunjukkan hari khusus “kiamat.”[14] Ketiga, Pada riwayat-riwayat terkait dengan asyrath al-sâ’at, ia tidak disebut sebagai peristiwa-peristiwa pendahuluan Kiamat.[15]

 

2.     Apakah manusia di muka bumi mengalami seluruh peristiwa ini?

Jawaban pertanyaan kedua: Karena itu, apabila seluruh peristiwa ini terjadi setelah tiupan sangkakala pertama maka hal ini bermakna bahwa dengan tiupan sangkakala pertama ini, manusia berserta seluruh makhluk hidup yang ada di muka bumi akan mati dan pelbagai peristiwa yang menggemparkan ini akan terjadi setelah kematian seluruh makhluk hidup di alam semesta. Sebagian ayat-ayat al-Qur’an[16] menegaskan kejadian tiba-tiba hari Kiamat ini, dimana manusia sibuk dengan urusan duniawinya tiba-tiba hari Kiamat telah digelar dan hari Kiamat ini dialami seluruh makhluk. Allah Swt berfirman, “Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan (dari langit) saja yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar (tentang masalah duniawi).” (Qs. Yasin [36]:49) atau pada ayat lainnya, “Mereka tidak menunggu kecuali kedatangan hari kiamat kepada mereka dengan tiba-tiba, sedang mereka tidak menyadarinya.” (Qs. Zukhruf [43]:66) Makna ayat-ayat ini adalah bahwa peristiwa-peristiwa menggemparkan Kiamat, setelah dimulainya Kiamat, dan matinya seluruh makhluk hidup, terjadi setelah tiupan sangkakala pertama.

Barangkali ada yang menyanggah jawaban ini dengan berkata bahwa pada sebagian ayat, sedemikian pelbagai peristiwa hari Kiamat diilustrasikan sehingga nampaknya manusia mengalami peristiwa ini. Pada ayat 2 surah al-Hajj (22) Allah Swt berfirman, “(Yaitu) pada hari (ketika) kamu melihat keguncangan itu, semua wanita yang menyusui anaknya lalai akan anak yang disusuinya, kandungan seluruh wanita yang hamil gugur, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk. Tetapi azab Allah itu sangat pedih.”

Jawaban yang dapat disodorkan atas sanggahan seperti ini adalah bahwa kendati sebagian guncangan ini terjadi sebelum tiupan sangkakala pertama,[17] namun dengan memperhatikan pelbagai indikasi yang telah disebutkan, ayat ini memiliki makna yang lain. Ayat ini menyinggung pada guncangan hari Kiamat (dengan indikasi pada redaksi “Tetapi azab Allah itu sangat pedih”) dalam hal ini redaksi-redaksi kalimat di atas digunakan sebagai permisalan; artinya sedemikian peristiwa itu mengguncang sehingga apabila ada wanita hamil maka seluruh kandungannya akan gugur, apabila ada anak-anak yang menyusui maka ibu-ibu mereka akan lalai terhadap anak yang disusuinya.”[18]

 

Alam pasca tiupan sangkakala kedua:

Setelah tiupan ini seluruh manusia akan hidup (kembali).[19] Seluruhnya disertai dengan perasaan goncang dan gentar laksana anai-anai yang dengan cepat bertebaran di udara,[20] dan dengan cepat menuju ke hadapan Tuhan.[21] Pada alam tersebut seluruh hakikat akan tampak nyata.[22] Dan setelah pemeriksaan terhadap seluruh kondisi manusia maka masing-masing orang akan beranjak menuju kediaman abadinya.

 

Kesimpulan:

Dengan memperhatikan pembahasan di atas dan hikayat Tuhan terkait dengan kondisi orang-orang yang menghuni alam barzakh[23] yang akan hidup setelah tiupan sangkakala kedua maka dapat disimpulkan bahwa orang-orang yang menghuni alam barzakh tidak memiliki peran di antara dua tiupan sangkakala ini. [IQuest]

 

 

Indeks terkait:

1.       Pertanyaan 3891 (Site: 4160), Barzakh dan Kehidupan di Alam Barzakh

2.       Pertanyaan 1150 (Site: 1172), Berita ihwal Kondisi Orang-orang Mati di Alam Barzakh

3.       Pertanyaan 3384 (Site: 3632), Takut terhadap Kiamat dan Pelbagai Kejadian Kiamat

  



[1]. Sayid Ali Akbar Qarasyi, Qâmus Qur’ân, jil. 1, hal. 181, Dar al-Kitab al-Islamiyah, Teheran, 1371.  

[2]. Terkait dengan hal ini mungkin ada baiknya Anda menelaah jawaban atas pertanyaan 3891.  

[3]. Raghib Isfahani, al-Mufrâdât fi Gharîb al-Qur’ân, hal. 816, Dar al-‘Ilm, Damesyq, 1412.   

[4]. Ridha Mehyar, Farhangg-e Abjâdi, hal. 83.  

[5]. Nashir Makarim Syirazi, Tafsir Nemune, jil. 19, hal. 535, Dar al-Kitab al-Islamiyah, Teheran, 1376.

[6]. “Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi kecuali siapa yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (hari perhitungan dan pembalasan).” (Qs. Al-Zumar [39]:68)

[7]. “Dan ditiuplah sangkakala (yang kedua). Maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kubur (menuju) kepada Tuhan mereka.” (Qs. Yasin [36]:51)

[8]. Nashir Makarim Syirazi, Tafsir Nemune, jil. 19, hal. 540 & 542.  

[9].  Apabila sangkakala ditiup sekali tiup. dan bumi dan gunung-gunung diangkat, lalu keduanya dibenturkan sekali bentur (hingga hancur lebur). maka pada hari itu terjadilah suatu peristiwa yang besar (hari kiamat). (Qs. Al-Haqqah [69]13-15)  

[10]. Muhammad Husain Thabathabai, terjemahan Persia Tafsir al-Mizan, Musawi Hamadani, jil. 18, hal. 357, Daftar-e Intisyarat-e Jame’e Mudarrisin, Qum, 1376.  

[11]. Abdullah Jawadi Amuli, Ma’âd dar Qur’ân (Tafsir Mau’dhui Qur’ân Karim, jil. 4), Bakhsy-e Hasytum, Nisyâne-hâye Qiyâmat, hal. 275, Markaz-e Nasyr Isra, Qum, 1380. Ayatullah Taqi Misbah Yazdi juga berpandangan bahwa pelbagai peristiwa ini terjadi sebelum tiupan sangkakala pertama sebagaimana yang disebutkan dalam kitab “Amuzesy-e Aqaid.”

[12]. “(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya (di Padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” (Qs. Ibrahim [14]:48); “Apabila bumi diguncangkan dengan dahsyat.” (Qs. Al-Zalzalah [99]:1); “Bila  bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya.” (Qs. Al-Waqiah [56]:4); “Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Kami menjalankan gunung-gunung dan kamu akan melihat bumi itu datar, serta Kami kumpulkan seluruh manusia dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka.” (Qs. Al-Kahf [18]:47)

[13]. “(Yaitu) pada hari Kami gulung langit seperti menggulung lembaran-lembaran kertas.” (Qs. Al-Anbiya [21]:104); “Pada hari ketika langit benar-benar bergoncang. Dan gunung benar-benar berjalan.” (Qs. Thur [52]:9-10); “Apabila langit terbelah dan menjadi merah mawar seperti (kilapan) minyak, (maka kamu tidak akan mampu melihat peristiwa maha dahsyat ini).” (Qs. Al-Rahman [55]:37); Dan langit terbelah, karena pada hari itu langit menjadi lemah (dan runtuh).” (Qs. Al-Haqqah [69]:16); “(dan) langit (pun) terpecah belah pada hari itu? Janji-Nya itu pasti terlaksana.” (Qs. Al-Muzammil [73]:18); “Ketika langit telah dibelah.” (Qs. Al-Murasalat [77]:9); Yaitu hari (yang pada waktu itu) sangkakala ditiup lalu kamu datang berkelompok-kelompok. dan langit dibuka, lalu langit itu berbentuk pintu beraneka ragam.” (Qs. Al-Naba [78]:19); “Apabila langit terbelah.” (Qs. Al-Insyiqaq [84]:1); “Apabila langit terbelah.” (Qs. Al-Infithar [82]:1)

[14]. “Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya.” (Qs. Abasa [80]:34); “Pada hari bumi dan gunung-gunung bergoncangan, dan gunung-gunung itu menjadi tumpukan-tumpukan pasir yang beterbangan.” (Qs. Al-Muzammil [73]:14); “Pada hari ketika langit benar-benar bergoncang. Dan gunung benar-benar berjalan.” (Qs. Thur [52]:9-10); “(Yaitu) pada hari (ketika) kamu melihat keguncangan itu, semua wanita yang menyusui anaknya lalai akan anak yang disusuinya, kandungan seluruh wanita yang hamil gugur, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk. Tetapi azab Allah itu sangat keras.” (Qs. Al-Hajj [23]:4); “Ketika langit telah dibelah.” (Qs. Al-Murasalat [77]:9); “Apabila matahari digulung.” (Qs. Al-Takwir [81]:1)  

[15]. Jawadi Amuli, Ma’âd dar Qur’ân, hal. 227-228; Muhammad bin Muhammad Ridha Qumi Masyhadi, Kanz al-Daqâiq wa Bahr al-Gharâib, jil. 12, hal. 230, Sazeman-e Cap wa Intisyarat-e Wizarat-e Irsyad, Teheran, 1368. Riwayat paling jelas yang menjelaskan tanda-tanda Kiamat yang meluas adalah sebuah hadis yang dinukil oleh Ibnu Abbas dari Rasulullah Saw. Dalam riwayat ini terdapat beberapa perkara yang dipandang di antaranya sebagai pendahuluan Kiamat. Namun tidak terdapat dalam riwayat ini dengan seluruh rincian yang disebutkan seperti terbelahnya langit (insyiqâq), hancurnya gunung-gunung dan tanda-tanda lainnya yang disebut sebagai asyrath al-sâ’at oleh sebagian ulama.

[16]. Terdapat juga sebagian riwayat yang senada dengan riwayat ini dimana Rasulullah Saw bersabda: Hari Kiamat akan digelar tatkala dua orang membuka kain lembaran kain untuk melakukan transaksi jual-beli, selagi mereka belum lagi menggulung kain tersebut hari Kiamat telah digelar….” Tafsir Nur al-Tsaqalain, jil. 4, hal. 388.  

[17]. Al-Mizan, Terjemahan Hamadani, jil. 14, hal. 479.  

[18]. Tafsir Nemune, jil. 14, hal. 479.

[19]. “(Hai Muhammad), berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuh-tumbuhan di muka bumi menjadi subur karenanya, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Qs. Al-Kahf [18]:45); “Dan kepunyaan Allah-lah segala apa yang tersembunyi di langit dan di bumi. Peristiwa kiamat itu (sangat dekat dan mudah, persis) seperti kedipan mata atau lebih cepat (lagi). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Qs. Al-Nahl [16]:77); “Dan perintah Kami hanyalah satu ucapan seperti kejapan mata.” (Qs. Al-Qamar [54]:50)  

[20]. “Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran.” (Qs. Al-Qariah [101]:4); “Sambil mereka menundukkan pandangan keluar dari dalam kubur seakan-akan mereka seperti belalang yang beterbangan.” (Qs. Al-Qamar [54]:7)

[21]. Dan ditiuplah sangkakala (yang kedua). Maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kubur (menuju) kepada Tuhan mereka.” (Qs. Yasin [36]:51)  

[22]. “Pada hari itu, kamu sekalian dihadapkan (kepada Tuhan-mu), tidak satu pun dari amalanmu yang tersembunyi (bagi Allah).” (Qs. Al-Haqqah [69]:18); “Dan semua mereka (di Padang Mahsyar) akan berkumpul menghadap ke hadirat Allah. Lalu orang-orang yang lemah (para pengikut yang bodoh) berkata kepada orang-orang yang sombong (para pemimpin yang sesat), “Sesungguhnya kami dahulu adalah pengikut-pengikutmu, maka dapatkah kamu menghindarkan dari kami azab Allah (walaupun) sedikit saja?” Mereka menjawab, “Seandainya dulu Allah memberi petunjuk kepada kami, niscaya kami dapat memberi petunjuk kepadamu. Sama saja bagi kita, apakah kita mengeluh ataukah bersabar. Sekali-kali kita tidak mempunyai tempat untuk melarikan diri.” (Qs. Ibrahim [14]:21);   

[23]. Dan pada hari kiamat terjadi, orang-orang yang berdosa bersumpah bahwa mereka tidak berdiam (dalam kubur) melainkan sesaat (saja).” (Qs. Rum [31]:55)

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits