Advanced Search
Hits
7365
Tanggal Dimuat: 2013/07/15
Ringkasan Pertanyaan
Malaikat Rokib dan Atid, pencatat amal baik dan buruk, apakah hanya berjumlah 2 ataukah berjumlah banyak, yang ada pada setiap manusia, apa dasar hukumnya dan bagaimana analoginya?
Pertanyaan
Malaikat Rokib dan Atid, pencatat amal baik dan buruk, apakah hanya berjumlah 2 ataukah berjumlah banyak, yang ada pada setiap manusia, apa dasar hukumnya dan bagaimana analoginya?
Jawaban Global
Allah Swt dalam al-Quran berfirman,
﴿ما یَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلاَّ لَدَیْهِ رَقیبٌ عَتیدٌ﴾
 Tiada suatu ucapan pun (baik atau buruk) yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Raqib dan Atid (malaikat pengawas yang selalu hadir). (Qs. Qaf [50]:18)
Dalam sebagian riwayat, di antaranya riwayat yang dikutip dari Imam Shadiq As, “Bagi setiap orang terdapat dua malaikat yang menulis apa pun yang diucapkan oleh manusia dan kemudian menyerahkan catatan itu kepada dua maliakat yang lebih tinggi darinya dimana dua malaikat itu memisahkan ucapan-ucapan baik dan buruk dan masing-masing menulis secara terpisah kedua ucapan itu.”[1]
Dari sisi lain, terdapat beberapa riwayat yang juga menyatakan bahwa nama atau sifat dua malaikat ini adalah Raqib dan Atid sebagaimana sebuah riwayat yang menjelaskan kisah obrolan orang mati dengan Salman Persia; dalam riwayat itu disebutkan, “Tatkala seseorang meninggal terdapat dua malaikat yang menyampaikan salam dan memiliki rupa yang sangat menawan satunya duduk di sebelah kanan dan satunya lagi duduk di sebelah kirinya. Kedua malaikat itu berkata, “Kami membawa catatan amalan kalian, Ambillah!” Manusia bertanya, “Catatan apakah gerangan?”  “Kami adalah dua malaikat yang bersamamu di dunia dan mencatat seluruh perbuatan baik dan burukmu. Catatan ini adalah catatan perbuatanmu. Segala catatan baik berada di tangan Raqib dan catatan buruk di tangan Atid.  Manusia dengan melihat catatan-catatan baiknya akan bergembira dan tatkala melihat catatan-catatan buruknya akan bersedih dan menangis..”[2]
Dengan mendudukkan secara berdampingan apa yang telah dijelaskan dan riwayat-riwayat yang telah disampaikan dapat disimpulkan bahwa setiap manusia memiliki dua petugas pencatat amalan-amalan manusia yang bernama Raqib dan Atid yang senantiasa menyertai manusia hingga ia akhir hayatnya. Karena itu, seukuran jumlah setiap manusia terdapat dua malaikat yang menyertainya, Raqib dan Atid.
Namun asas dan falsafah penyertaan dua malaikat ini atas manusia sesuai dengan sabda Imam Shadiq As bahwa penyertaaan dua malaikat ini atas manusia menjadi sebab supaya para hamba dalam menaati Allah Swt dan menjauhi maksiat lebih berhati-hati dalam amalan-amalan dan tindakan-tindakannya. Boleh jadi manusia berpikir ingin melakukan maksiat dan dosa, namun dengan mengingat kedudukan dua malaikat tersebut maka ia tidak lagi ingin melakukan dosa dan berkata, “Tuhanku melihatku dan para penjagaku akan memberikan kesaksian atasku.”
Demikian juga Allah Swt dengan kemurahan dan kemuliaan-Nya (di samping Raqib dan Atid) meletakkan dua malaikat lainnya sebagai wakil manusia sehingga membela manusia dalam menghadapi jerat-jerat setan dan godaan-godaan pelbagai makhluk yang tidak dapat melakukan sesuatu apa pun tanpa izin Allah Swt hingga ajal menjemputnya.[3] [iQuest]
 

[1]. Husain bin Said Kufi Ahwazi, al-Zuhd, Riset dan editor oleh Ghulam Ridha Irfaniyan Yazdi, hal. 53, al-Mathba’at al-‘Ilmiyah, Qum, Cetakan Kedua, 1402 H.
«مَا مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَ مَعَهُ مَلَکَانِ‏ یَکْتُبَانِ مَا یَلْفِظُهُ ثُمَّ یَرْفَعَانِ ذَلِکَ إِلَى مَلَکَیْنِ فَوْقَهُمَا فَیُثْبِتَانِ مَا کَانَ مِنْ خَیْرٍ وَ شَرٍّ وَ یُلْقِیَانِ مَا سِوَى ذَلِک».  
[2]. Muhammad Baqir Majlisi, Bihâr al-Anwâr, Diriset dan diedit sekelompok periset, jil. 22 hal. 374-376, Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, Beirut, Cetakan Kedua, 1403 H.  
[3]. Manusia memiliki malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya. Mereka menjaganya dari perintah (keputusan) Allah (yang belum pasti). Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum (akibat perbuatan mereka sendiri), maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (Qs. Al-Ra’ad [13]:11) Bihar al-Anwar, jil. 5, hal. 323.  
Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat

Menu

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Apa yang harus dilakukan apabila seseorang karena tidak tahu tentang hukum, ia mengebumikan jenazah tanpa melakukan hanuth?
    1737 Hukum dan Yurisprudensi 2012/02/02
    Setelah mandi diwajibkan bagi orang yang memandikan jenazah untuk melakukan Hanuth atas jenazah. Hanuth artinya mengoleskan kening, dua telapak tangan, dua tempurung lutut, ujung dua jari kaki jenazah dengan kapur.[1]Namun apabila setelah mengebumikan jenazah kemudian diketahui bahwa jenazah belum lagi di-hanuth, apabila badan dalam kubur tidak memberikan bau dan belum ...
  • Apa yang dimaksud dengan wilâyah takwini dan apa kaitannya dengan para Imam Maksum As?
    2865 Irfan Teoritis 2009/09/22
    "Wilâyah" bermakna hadirnya sesuatu sebagai ikutan dari sesuatu yang lain tanpa ada jarak di antara keduanya. Keniscayaan ikutan ini adalah kedekatan dan kekerabatan di antara keduanya. Dengan demikian, terminologi wilâyah ini juga digunakan dengan makna cinta dan persahabatan, pertolongan dan sokongan, pengikut dan pendukung, pemimpin dan pembina. "Wilâyah takwini" artinya ...
  • Apakah makruh hukumnya membawa serta anak kecil menghadiri majlis tarhim (khataman al-Qur’an) dan mendatangi kuburan?
    2514 Akhlak Praktis 2012/02/02
    Mengikusertakan anak kecil dalam majelis-majelis dan acara-acara keagamaan seperti ke masjid atau acara-acara duka pada bulan Muharram atau momen-momen keagamaan lainnya seperti ikut serta dalam salat Idul Fitri, Idul Adha dan perayaan-perayaan keagamaan adalah tindakan positif dan sangat bermanfaat untuk membina afeksi-afeksi keagamaan mereka. Namun sehubungan dengan membawa serta anak-anak ...
  • Mengingat tidak teraturnya hari-hari haidh (periode) bagaimana hukum salat saya?
    1586 Pertanyaan Serba-serbi 2012/04/15
    Apabila setelah proses melahirkan kebiasaan Anda kembali kepada kebiasaan bilangan enam hari, maka pada hari keenam Anda harus menghitungnya sebagai hari haidh Anda dan selebihnya dinilai sebagai istihadha, namun apabila kebiasaan tidak berubah dan bertahan pada adat bilangan (‘adadiyah) tujuh hari maka hari ketujuh harus Anda hitung sebagai hari haidh ...
  • Apakah Imam Shadiq As memilih putranya Ismail melalui jalur nash sebagai penggantinya?
    1857 تاريخ بزرگان 2011/12/21
    Imam Shadiq As tidak mengeluarkan nash sehubungan dengan imâmah (kepemimpinan) dua putranya, Ismail dan Abdullah. Namun mengingat kondisi yang berkembang pada masa itu sedemikian peliknya sehingga Imam Shadiq As tidak dapat memperkenalkan Imam Musa Kazhim As di hadapan khalayak sebagai penggantinya. Karena setiap detik terdapat kemungkinan terbunuhnya Imam Kazhim As ...
  • Apa hubungan logis antara Akhlak Islam dan Fikih?
    2826 Akhlak Teoritis 2011/05/17
    Fikih memiliki dua makna umum dan khusus yang disebut sebagai fikih akbâr (gede) dan fikih asghâr (cilik). Hubungan logis antara akhlak Islam dan fikih akbâr  adalah hubungan umum dan khusus mutlak. Antara akhlak Islam dan fikih asghâr adalah hubungan khusus dan umum min wajh. Dan secara umum tidak terdapat benturan ...
  • Siapakah yang dimaksud dengan orang-orang Majusi?
    13835 Teologi Klasik 2012/06/09
    Kata “majusi” yang disebut dalam bahasa Arab yaitu orang-orang Zoroaster diadaptasi dari kata “ma-gu-sy” atau “magu” Persia kuno yang kemudian menjadi Magus setelah kata ini masuk dalam peristilahan bahasa Yunani. Kata magic dalam bahasa Inggris juga diadopsi dari kata ini. Dengan masuknya kata ini ke dalam bahasa Arab, kata ini ...
  • Apa manfaat belajar IPTEK (ilmu pengetahuan teknologi) untuk dunia akhirat?
    2829 فضایل اخلاقی 2013/11/27
    Agama Islam menilai belajar dan menuntut ilmu pengetahuan adalah salah satu faktor yang dapat membuat manusia berkembang, dinamis dan menyempurna. Rasulullah Saw dalam hal ini bersabda, “Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina (titik terjauh dunia). Lantaran setiap Muslim diwajibkan untuk menuntut ilmu.”[1] Layanan yang diberikan oleh teknologi kepada dunia dewasa ...
  • Adakah hadis atau ayat yang memiliki kandungan makna bahwa Allah meletakkan para lelaki suci untuk para perempuan suci? Jika hal ini ada, apa pengertiannya?
    931 Tafsir 2013/08/13
    Masalah yang dipertanyakan merupakan salah satu dari hukum-hukum Ilahi yang terdapat dalam al-Quran al-Karim. Kesimpulannya adalah bahwa seorang pezina, ketika ia telah dikenal di kalangan masyarakat dengan tindakannya ini, dan anggapan ini juga telah menempel padanya, sementara itu ia tidak bertobat atas apa yang telah dilakukannya, maka ia haram untuk ...
  • Apa yang dimaksud dengan khatam shalawat? Dan bagaimanakah inti pelaksanaanya?
    2866 Akhlak Praktis 2011/09/11
    Khatam bermakna mengakhiri segala pekerjaan yang memiliki awal dan akhir. Khatam shalawat juga bermakna sedemikian yaitu membaca semenjak awal dan akhir sebuah amalan shalawat. Apabila seseorang membaca al-Qur’an semenjak awal hingga akhir maka perbuatannya itu disebut sebagai menamatkan al-Qur’an atau dengan ungkapan lain mengkhatamkan al-Qur’an. ...

Populer Hits

Jejaring