Advanced Search
Hits
116171
Tanggal Dimuat: 2011/03/05
Ringkasan Pertanyaan
Apabila seseorang bersumpah dengan al-Qur’an dan tidak beramal terhadap sumpah itu apakah ia telah melakukan dosa?
Pertanyaan
Apabila seseorang menyatakan sumpah dengan al-Qur’an bahwa ia tidak memiliki hubungan dengan seorang perempuan namun setelah itu melalui akad temporal ia menjalin hubungan dengan perempuan itu. Apakah ia telah melakukan dosa dengan bersumpah seperti ini kemudian tidak mengamalkannya?
Jawaban Global

Menyatakan sumpah memiliki syarat-syarat dimana dengan adanya seluruh syarat tersebut maka seseorang memiliki tugas dan taklif untuk melaksanakannya. Apabila ia tidak melaksanakannya maka ia harus membayar kaffarahnya. Namun apabila salah satu syarat tersebut (syarat-syarat sumpah) tidak ada maka sumpah (qasam) belum lagi terealisir dan dalam hal ini ia tidak melakukan dosa.

Adapun bagaimana bersumpah, syarat-syaratnya dan sebagainya akan dijelaskan pada jawaban detil. Namun terkait dengan pertanyaan Anda harus dikatakan bahwa Anda bersumpah untuk tidak menjalin hubungan lagi dengan perempuan itu adalah perbuatan yang baik. Akan tetapi sumpah ini karena tidak dinyatakan dengan lafaz jalLâlah (misalnya demi Allah) maka ia tidak dapat disebut sebagai sumpah syar’i.

Adapun terkait dengan akad temporal jawabannya adalah bahwa sumpah tidak mengharamkan akad tersebut dan sebagai hasilnya melanggar sumpah tidak menyebabkan kaffarah. Dalam hal ini kami persilahkan Anda untuk merujuk pada beberapa link yang terdapat pada jawaban detil.

Jawaban Detil

Apabila seseorang bersumpah untuk mengerjakan sesuatu atau meninggalkan sesuatu, misalnya bersumpah untuk berpuasa atau tidak merokok, apabila ia dengan sengaja menentangnya (mengabaikannya), maka ia harus menyerahkan kaffarah perbuatan tersebut. Artinya kaffarah yang harus ia serahkan adalah membebaskan seorang budak atau mengeyangkan sepuluh orang fakir atau memberikan pakaian kepada mereka. Apabila ia tidak mampu melakukan hal ini maka ia harus berpuasa selama tiga hari[1] dan hal ini terlaksana apabila sumpah tersebut memiliki syarat-syarat sebagaimana berikut ini:

 

Syarat-syarat Bersumpah:

Pertama: Seseorang yang bersumpah harus berusia dewasa (baligh) dan berakal (âqil). (Dan apabila ia ingin bersumpah demi hartanya maka ia harus telah berusia baligh dan bukan termasuk orang yang kurang waras. Di samping itu, hakim syar’i tidak melarangnya untuk menggunakan harta bendanya). Ia bersumpah dengan memiliki maksud tertentu dan berada dalam kondisi ikhtiar. Karena itu, sumpah yang dinyatakan seorang anak kecil, kurang waras, mabuk dan seseorang telah memaksanya tidak sah. Demikian juga apabila ia bersumpah dalam keadaan marah dan tanpa disertai maksud untuk bersumpah (niat).

Kedua: Pekerjaan yang menjadi obyek sumpah yang ingin dilakukan bukan merupakan pekerjaan haram dan makruh. Demikian juga, pekerjaan yang menjadi obyek sumpah yang ingin ditinggalkan bukan merupakan pekerjaan wajib dan mustahab. Apabila ia bersumpah untuk melaksanakan pekerjaan mubah, maka meninggalkannya tidak boleh lebih baik ketimbang mengerjakannya dalam pandangan masyarakat (urf). Demikian juga, apabila ia bersumpah untuk meninggalkan pekerjaan mubah maka mengerjakannya tidak boleh lebih baik ketimbang meninggalkannya dalam pandangan masyarakat (urf).

Ketiga: Bersumpah dengan salah satu nama Tuhan Semesta Alam yang tidak disebut sebagai nama non-Zat-Nya seperti “Tuhan” dan “Allah” dan juga ia bersumpah dengan nama selain Tuhan, namun sedemikian menyebut nama tersebut sehingga tatkala orang-orang mendengar nama tersebut maka orang-orang memahaminya sebagai Zat Suci Allah Swt, misalnya bersumpah demi Pencipta (Khâliq) dan Maha Pemberi Rezeki (Razzâq) maka sumpahnya sah. Bahkan apabila bersumpah dengan sebuah lafaz tanpa indikasi (qarinah), tampak secara lahir bukan Tuhan, namun ia maksudkan adalah Tuhan maka sesuai dengan ihtiyâth wâjib ia harus melaksanakan sumpah tersebut.

Keempat: Ia harus menyatakan sumpah dengan lisannya. Dan apabila ia menulis atau menyatakan sumpah dalam hatinya maka sumpah tersebut tidak sah. Namun apabila seorang bisu menyatakan sumpah dengan isyarat maka sumpah tersebut sah.

Kelima: Memungkinkan baginya untuk melaksanakan sumpah dan apabila suatu waktu memungkinkan baginya untuk menyatakan sumpah dan setelah itu hingga akhir ia tidak mampu melaksanakan sumpah yang telah ia nyatakan atau ia kesusahan melaksanakannya maka sumpah tersebut harus ia batalkan tatkala ia memang tidak mampu melaksanakannya.[2]

 

Pengecualian:

Namun apabila ia menyatakan sumpah palsu supaya ia atau kaum Muslimin lainnya selamat dari kejahatan seorang zalim maka tidak ada masalah terhadap sumpah tersebut, bahkan terkadang menjadi wajib baginya untuk bersumpah palsu selain sumpah yang telah disebutkan pada masalah-masalah sebelumnya.[3]

 

Konklusi:

Karena itu, apabila seseorang bersumpah dengan salah satu nama Tuhan dan syarat-syarat yang telah disebutkan terpenuhi, dalam hal ini apabila ia menentang (mengabaikan) sumpah tersebut maka ia dinyatakan berdosa dan ia harus mengerjakan sesuai dengan apa yang disebutkan dalam pembahasan kaffarah (harus membayar kaffarah).

Akan tetapi terkait dengan pertanyaan Anda harus dikatakan bahwa apabila sumpah ini lantaran tidak bersumpah dengan salah satu nama Allah Swt (bersumpah dengan lafaz al-Qur’an) karena itu dari sudut pandang syar’i tidak termasuk sebagai sumpah (syar’i) dan tidak memberikan efek syariat.

Adapun bahwa Anda bersumpah untuk tidak lagi menjalin hubungan dengan perempuan tersebut adalah pekerjaan yang sangat baik. Namun sumpah ini karena tidak dinyatakan dengan lafaz jalLâlah (nama Tuhan) maka ia tidak termasuk sebagai sumpah syar’i.

Terkait dengan akad temporal jawabannya adalah bahwa sumpah tidak mengharamkan akad tersebut dan sebagai hasilnya melanggarnya tidak menyebabkan kaffarah. Dalam hal ini kami persilahkan Anda untuk merujuk pada beberapa indeks terkait di bawah ini:

1.     Indeks: Syarat Sah dalam Pernikahan Temporal, Pertanyaan No. 1290 (Site: 1275).

2.     Indeks: Falsafah Diperlukannya Izin Ayah dalam Pernikahan Temporal Seorang Putri, Pertanyaan No. 2074 (Site: 2125).

3.      Indeks: Pernikahan Temporal dengan Putri Perawan, Pertanyaan No. 610 (Site: 667).

4.     Indeks: Bahasa Arab dalam Formula Pernikahan Temporal, Pertanyaan No. 1098 (Site: 1150).

5.     Indeks: Akibat-akibat Sumpah Palsu, Pertanyaan No. 2724 (Site: 2981).


[1]. Taudhih al-Masâil (al-Muhassyâ li al-Imâm al-Khomeini), jil. 2, hal. 623.  

[2]. Ibid, hal. 624.  

[3]. Ibid, hal. 628.  

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Apakah dibolehkan menjual buah yang masih di atas pohon?
    18674 Jual dan Beli 2013/12/25
    Terdapat empat kondisi yang dapat digambarkan terkait dengan buah yang masih di atas pohon: Tidak ada satu pun buah yang terlihat di atas pohon. Buah telah tampak dan kelihatan namun masih belum laik untuk dimakan dan diperjual-belikan (badwi al-salāh).[1]
  • Siapakah Dzulqarnain itu?
    26690 Sejarah Para Pembesar 2010/06/08
    Nama Dzulqarnain disebutkan dalam surah al-Kahf (18). Terdapat perbedaan pendapat di kalangan penafsir dan sejarawan terkait dengan tinjauan sejarah siapakah Dzulqarnain ini dan di antara para tokoh besar sejarah mana yang lebih cocok untuk pribadi Dzulqarnain ini. Dengan memperhatikan tipologi yang dijelaskan dalam al-Qur'an dan pendapat para ...
  • Apa penafsiran ayat yang menyebutkan "seorang terkemuka di dunia dan di akhirat....(Qs. Ali Imran [3]: 45)?
    11187 Tafsir 2014/02/06
    Pada ayat mulia yang menjadi obyek pertanyaan Anda, kita membaca: «إِذْ قالَتِ الْمَلائِکَةُ یا مَرْیَمُ إِنَّ اللَّهَ یُبَشِّرُکِ بِکَلِمَةٍ مِنْهُ اسْمُهُ الْمَسیحُ عیسَى ابْنُ مَرْیَمَ وَجیهاً فِی ...
  • Apa makna izâlah (menyingkirkan) dan menguburkan pelbagai kedudukan para Imam Maksum As yang disebutkan pada ziarah Asyura?
    6127 Dirayah al-Hadits 2011/02/13
    Yang dimaksud dengan menyingkirkan dan menjauhkan makam-makam dan kedudukan-kedudukan para Imam Ahlulbait As adalah tiadanya perhatian terhadap segala kemestian dan pengaruh kedudukan takwini dan Ilahi mereka dengan menyingkirkan[1] para Imam Maksum As dari kedudukan sosial ...
  • Apakah wanita dapat menjadi hakim?
    8823 Filsafat Hukum 2015/02/12
    Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama dan ahli agama terkait dengan apakah wanita dapat menjadi hakim dan beberapa posisi lainnya. Meski demikian, persoalan ini tidak termasuk hal-hal yang bersifat pasti dari agama. Mereka yang berkata bahwa kaum wanita tidak dapat menjadi hakim bersandar pada dalil-dalil seperti riwayat ...
  • Tolong jelaskan penafsiran redaksi ayat “Aimmatan yahduna biamrinâ” dan apa hubungannya dengan masalah imâmah?
    18256 Tafsir 2012/03/10
    Redaksi ayat ini disebutkan sebanyak dua kali dalam al-Qur’an. Makna redaksi ayat, “aimmatan yahdûna biamrinâ” adalah para imam yang memberikan petunjuk (bagi manusia) sesuai dengan perintah kami. Imam Ridha As sehubungan dengan ayat ini bersabda, “Tatkala Allah Swt meninggikan Nabi Ibrahim dari makam kenabian (nubuwwah) ...
  • Bolehkah seorang Muslim mendatangi gereja dan melakukan salat atau bermunajat dengan-Nya di tempat itu?
    15747 Hukum dan Yurisprudensi 2012/02/14
    Tentunya, tidak ada masalah apabila Anda hanya sekedar pergi ke gereja tanpa melakukan aktivitas ritual tertentu.Lain halnya jika Muslim yang hadir di tempat itu sedemikian berpengaruh sehingga hanya dengan sekedar memasuki tempat itu telah mampu menyemarakkan gereja atau seorang Muslim dari sisi pengetahuan dan kelabilannya sedemikian sehingga ...
  • Apabila seorang marja taklid yang mendapatkan penegasan dari Hauzah Ilmiah Qum itu sudah memadai atau apakah harus diteliti ulang terkait dengan ke-a’lam-annya?
    6540 Hukum dan Yurisprudensi 2010/11/08
    Untuk mengenal mujtahid a’lam (yang paling pandai dalam ilmu Fikih) terdapat tiga cara yang telah ditetapkan yang memudahkan setiap orang untuk memilih dan megnenal marja taklid yang dipercayan. Adapun tiga cara tersebut sebagai berikut: 1.    Dengan ...
  • Menurut riwayat bagaimana seharusnya sikap kaum Muslim terhadap non-Muslim?
    18282 Hukum dan Yurisprudensi 2012/05/19
    Islam adalah agama fitrah suci manusia dan ajaran cinta kasih. Islam diturunkan untuk memberikan petunjuk dan kebahagiaan bagi seluruh umat manusia. Mengingat bahwa pemilihan agama merupakan masalah ikhtiari (opsional), kita senantiasa mendapatkan kaum non-Muslim, sedikit-banyaknya, pada setiap masyarakat Muslim. Islam menitahkan kepada umatnya untuk menjaga hak-hak non-Muslim, ...
  • Apakah hubungan shalat dengan ibadah lainnya?
    10404 Garis Besar 2014/02/06
    Salat merupakan salah satu ibadah terbesar dan asasi dalam agama Islam serta termasuk dari bagian terpenting agama. Sedemikian asasi dan pentingnya salat sehingga disebutkan dalam beberapa riwayat misalnya, “Hal yang pertama yang akan ditanyakan dan diperhitungkan bagi para hamba Allah Swt pada hari kiamat adalah salat. Apabila ...

Populer Hits

  • Ayat-ayat mana saja dalam al-Quran yang menyeru manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya?
    259659 Tafsir 2013/02/03
    Untuk mengkaji makna berpikir dan berasionisasi dalam al-Quran, pertama-tama, kita harus melihat secara global makna “akal” yang disebutkan dalam beberapa literatur Islam dan dengan pendekatan ini kemudian kita dapat meninjau secara lebih akurat pada ayat-ayat al-Quran terkait dengan berpikir dan menggunakan akal dalam al-Quran. Akal dan pikiran ...
  • Apakah Nabi Adam merupakan orang kedelapan yang hidup di muka bumi?
    245501 Teologi Lama 2012/09/10
    Berdasarkan ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini. Kedua: Sebelum Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia ...
  • Apa hukumnya berzina dengan wanita bersuami? Apakah ada jalan untuk bertaubat baginya?
    229405 Hukum dan Yurisprudensi 2011/01/04
    Berzina khususnya dengan wanita yang telah bersuami (muhshana) merupakan salah satu perbuatan dosa besar dan sangat keji. Namun dengan kebesaran Tuhan dan keluasan rahmat-Nya sedemikian luas sehingga apabila seorang pendosa yang melakukan perbuatan keji dan tercela kemudian menyesali atas apa yang telah ia lakukan dan memutuskan untuk meninggalkan dosa dan ...
  • Ruh manusia setelah kematian akan berbentuk hewan atau berada pada alam barzakh?
    214167 Teologi Lama 2012/07/16
    Perpindahan ruh manusia pasca kematian yang berada dalam kondisi manusia lainnya atau hewan dan lain sebagainya adalah kepercayaan terhadap reinkarnasi. Reinkarnasi adalah sebuah kepercayaan yang batil dan tertolak dalam Islam. Ruh manusia setelah terpisah dari badan di dunia, akan mendiami badan mitsali di alam barzakh dan hingga ...
  • Dalam kondisi bagaimana doa itu pasti dikabulkan dan diijabah?
    175503 Akhlak Teoritis 2009/09/22
    Kata doa bermakna membaca dan meminta hajat serta pertolongan.Dan terkadang yang dimaksud adalah ‘membaca’ secara mutlak. Doa menurut istilah adalah: “memohon hajat atau keperluan kepada Allah Swt”. Kata doa dan kata-kata jadiannya ...
  • Apa hukum melihat gambar-gambar porno non-Muslim di internet?
    170870 Hukum dan Yurisprudensi 2010/01/03
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Apakah praktik onani merupakan dosa besar? Bagaimana jalan keluar darinya?
    167247 Hukum dan Yurisprudensi 2009/11/15
    Memuaskan hawa nafsu dengan cara yang umum disebut sebagai onani (istimna) adalah termasuk sebagai dosa besar, haram[1] dan diancam dengan hukuman berat.Jalan terbaik agar selamat dari pemuasan hawa nafsu dengan cara onani ini adalah menikah secara syar'i, baik ...
  • Siapakah Salahudin al-Ayyubi itu? Bagaimana kisahnya ia menjadi seorang pahlawan? Silsilah nasabnya merunut kemana? Mengapa dia menghancurkan pemerintahan Bani Fatimiyah?
    157353 Sejarah Para Pembesar 2012/03/14
    Salahuddin Yusuf bin Ayyub (Saladin) yang kemudian terkenal sebagai Salahuddin al-Ayyubi adalah salah seorang panglima perang dan penguasa Islam selama beberapa abad di tengah kaum Muslimin. Ia banyak melakukan penaklukan untuk kaum Muslimin dan menjaga tapal batas wilayah-wilayah Islam dalam menghadapi agresi orang-orang Kristen Eropa.
  • Kenapa Nabi Saw pertama kali berdakwah secara sembunyi-sembunyi?
    140187 Sejarah 2014/09/07
    Rasulullah melakukan dakwah diam-diam dan sembunyi-sembunyi hanya kepada kerabat, keluarga dan beberapa orang-orang pilihan dari kalangan sahabat. Adapun terkait dengan alasan mengapa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi pada tiga tahun pertama dakwahnya, tidak disebutkan analisa tajam dan terang pada literatur-literatur standar sejarah dan riwayat. Namun apa yang segera ...
  • Kira-kira berapa usia Nabi Khidir hingga saat ini?
    133457 Sejarah Para Pembesar 2011/09/21
    Perlu ditandaskan di sini bahwa dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tegas nama Nabi Khidir melainkan dengan redaksi, “Seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Qs. Al-Kahfi [18]:65) Ayat ini menjelaskan ...