Advanced Search
Hits
8667
Tanggal Dimuat: 2010/01/06
Ringkasan Pertanyaan
Bagaimanakah kejadian maskh, dan apakah binatang-binatang yang ada saat ini sebenarnya adalah manusia-manusia yang mengalami maskh (perubahan)?
Pertanyaan
Bagaimana terjadinya maskh (perubahan) pada sebagian manusia yang kejadiaannya disinggung di dalam al-Quran? Dan apakah binatang-binatang yang ada saat ini sebenarnya adalah manusia-manusia yang mengalami maskh (perubahan) tersebut?
Jawaban Global

Maskh secara leksikal bermakna perubahan dari satu bentuk ke bentuk yang lebih buruk, sedangkan dalam istilah al-Quran dan riwayat bermakna sebuah bentuk hukuman yang diturunkan kepada umat-umat pendosa (dengan dosa-dosa tertentu).

Yang dimaksud dengan manusia mengalami perubahan ke dalam bentuk hewan (seperti ke dalam bentuk monyet) adalah hukuman bentuk hewani dari dosa yang telah dilakukan diberikan kepadanya di dunia ini untuk menutupi bentuk manusianya dan mengubahnya menjadi manusia. Atau dengan ungkapan yang lebih sederhana dikatakan sebagai manusia yang berbentuk hewan.

Mayoritas mufassirin menyatakan bahwa perubahan yang diceritakan dalam al-Quran merupakan perubahan yang hakiki, yaitu orang-orang tersebut benar-benar mengalami perubahan ke dalam bentuk hewan, akan tetapi terdapat pula beberapa mufassir Ahli Sunnah yang menganggap perubahan semacam ini sebagai sebuah perubahan dalam tabiat, yaitu orang yang dimaksudkan tidak mengalami perubahan ke dalam bentuk hewan, akan tetapi dia hanya memiliki tabiatnya dan tidak lebih baik dari itu.

Penyebab terjadinya perubahan pada sebagian manusia ini adalah dosa-dosa yang telah mereka lakukan dan dimensi ibrah dari azab ini. Dari berbagai riwayat bisa disimpulkan bahwa manusia yang mengalami perubahan ini musnah beberapa hari setelahnya, dengan demikian hewan-hewan saat ini merupakan generasi asli dari hewan bukan generasi dari manusia yang telah mengalami perubahan tersebut.

Jawaban Detil

Maskh secara leksikal bermakna perubahan dari satu bentuk ke bentuk yang lebih buruk.[1] Akan tetapi di dalam al-Quran dan maarif Islam dikatakan sebagai sebuah bentuk azab dan hukuman yang diberikan oleh Tuhan secara mukjizat kepada sekelompok masyarakat atau umat-umat terdahulu, dan efek dari mukjizat ini adalah sebagai hukuman bagi manusia, ibrah dan untuk melihat akhir dari sebuah dosa.[2]

Jawaban pertanyaan di atas akan semakin jelas dengan hal-hal berikut:

1. Apakah “ maskh” itu dan bagaimana terjadinya?

Perubahan dari bentuk manusia ke bentuk hewan dinamakan sebagai “ maskh”. Kejadiannya adalah sebagai berikut, manusia-manusia akan memperoleh bentuk malakutnya karena keberulangan sebuah perbuatan,[3] yaitu manusia akan bergerak ke arah jiwa malakuti karena perbuatan-perbuatan baiknya dan karena keikhlasannya, dan sebaliknya ketika mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang buruk dan tercela, maka mereka akan bergerak pula ke alam malakah dari perbuatan yang telah dilakukannya. Dalam banyak riwayat akhlak, kemarahan diibaratkan sebagai sebuah api[4], atau di dalam al-Quran dikatakan, hakikat dari memakan harta anak yatim sebagai api.[5] Hal ini bukanlah metafora atau majasi, melainkan hakikat dari dosa-dosa tersebut yang telah disampaikan melalui kitab-kitab (samawi) dan para nabi (Allah).

Kesimpulannya, jika seseorang tenggelam dalam dosa-dosanya, maka hakikat dari dosa-dosa ini bisa muncul dalam bentuk malakah (kondisi inheren) dalam jiwanya, yang bahkan dia akan dibangkitkan dengan kondisi inheren tersebut pada hari kiamat. Dalam salah satu riwayatnya, Imam Baqir As bersabda, “Barang siapa yang menyangkal Tuhan dan Rasul-Nya, maka pada hari kiamat mereka akan dibangkitkan dari kubur dalam bentuk monyet dan babi.”[6]

Dari sisi yang lain, kita sama sekali tidak memiliki argumen yang menyatakan bahwa kejiwaan dan bentuk-bentuk kejiwaan yang akan muncul dan terbentuk di alam akhirat tidak bisa terbentuk dan termanifestasi dari bentuk batin ke bentuk lahir di dunia ini.[7]

Dalam kaitannya dengan  maskh, yang terjadi bukanlah, manusia berubah ke dalam bentuk hewan melainkan bentuk hewan diletakkan di atas bentuk keinsanannya. Dengan demikian yang dimaksud dengan telah berubah adalah manusia yang telah berubah, bukan perubahan yang kosong dari kemanusiaannya.[8]

Bahasan ini ditegaskan pula oleh argumen-argumen lain, karena sebagaimana yang telah dikatakan sebelumnya,  maskh terjadi sebagai sebuah azab dan hukuman pada sekelompok pendosa.

Rasulullah Saw dalam salah satu hadisnya bersabda, “Allah telah mengubah umat-umat yang tidak mengindahkan para washi dan imam setelah para nabi.”[9]

Maka jika azab Ilahi ini menimpa mereka, berarti mereka tetap harus merasakan kemanusiaannya namun bentuk hewan telah mendominasi mereka, dan azab dalam masalah ini akan menjadi benar ketika mereka menyadari dirinya sebagai manusia akan tetapi mereka (pada hakikatnya) berbentuk babi dan monyet. Dalam kaitannya dengan masalah ini, Imam Ridha As bersabda, “Allah meletakkan manusia-manusia yang telah diubah sebagai ibrah dan nasehat bagi yang lainnya dan sebagai argumen bahwa terdapat orang-orang yang mengalami perubahan dalam bentuk penciptaannya dan dalam kejadian  maskh ini terdapat kemiripan dengan bentuk manusia sehingga bisa dipahami bahwa mereka adalah manusia-manusia yang dimurkai.”[10] Yaitu mereka sendiri mengetahui bahwa diri mereka manusia, demikian pula orang lain pun mengenali mereka, namun  maskh ini telah mendominasi bentuk insani mereka.

Dalam salah satu hadis dari Imam Zainal Abidin As dikatakan, “Setelah para Yahudi melakukan dosa dengan tidak mengindahkan perintah Allah untuk tidak memancing pada hari Sabtu, Allah mengubah mereka ke dalam bentuk monyet.” Dalam salah satu ayat-Nya, Allah berfirman, Dan sesungguhnya kamu telah mengetahui orang-orang di antara kamu yang melanggar (ketentuan Ilahi) pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka, “Jadilah kera-kera yang hina!”[11] Sekelompok dari monyet-monyet yang tinggal di kota-kota sekitar berdatangan ke tempat tersebut untuk menyaksikan mereka. Setelah terjadinya perubahan muka pada manusia-manusia ini, sebagian dari monyet yang sebelumnya mengenal para pendosa ini masih tetap mengenalinya, dan mengatakan, “Bukankah kamu adalah fulan putra fulan?” Maka monyet tersebut menganggukkan kepalanya dengan bercucuran air mata.[12]

 

2. Apakah terdapat jenis-jenis  maskh?

Mayoritas mufassirin menyepakati bahwa  maskh dan perubahan yang disinggung di dalam al-Quran dalam kaitannya dengan berubahnya seseorang menjadi monyet dan babi merupakan sebuah perubahan dan  maskh yang hakiki, yaitu orang tersebut benar-benar berubah bentuk menjadi monyet dan babi, akan tetapi terdapat sekelompok kecil dari mufassir Ahlisunnah seperti Syaikh Muhammad Abduh dan lain-lain yang menganggap  maskh ini sebagai sebuah keberubahan tabiat saja, sebagaimana hal tersebut tersirat di dalam salah satu ayat al-Quran, “Kamatsalil Khimar yahmalu asfara” dimana seseorang yang dimaksudkan tidak berubah ke dalam bentuk keledai, melainkan dia memiliki tabiat seperti itu dan tidak lebih baik darinya.[13]

 

3. Apakah manusia yang telah diubah ini juga melakukan reproduksi dalam bentuknya yang telah mengalami perubahan, dan tetap hidup hingga sekarang?

Jawaban dari pertanyaan ini telah keluar dari dasar-dasar ilmu empirik dan genetik, dan pada prinsipnya cabang-cabang keilmuan ini tidak mampu membuktikan permasalahan semacam ini, karena jika manusia-manusia yang telah berubah tersebut masih tetap ada maka akan berbentuk monyet yang mirip dengan monyet-monyet lainnya, dan jika pun terbukti terdapat perbedaan pada sebagian monyet dengan monyet-monyet sejenisnya, tetap tidak ada alasan bagi keberlanjutan generasi manusia-manusia yang telah mengalami perubahan ini.

Akan tetapi riwayat-riwayat Ahlulbait As menyingung topik ini, Imam Ali bin Al-Husain As dalam salah satu hadisnya bersabda, “Manusia-manusia yang telah mengalami perubahan tetap hidup hingga tiga hari kemudian, namun setelah itu Allah mengirimkan hujan dan angin dan melemparkan seluruh mereka ke lautan, setelah itu tidak satupun dari mereka yang masih hidup, sedangkan hewan-hewan yang saat ini kalian saksikan memiliki bentuk seperti mereka, sebenarnya hanyalah mirip dengan mereka, karena hewan-hewan ini bukanlah mereka ataupun generasi mereka.”[14]

Dan jika pada sebagian riwayat disebutkan bahwa alasan keharaman daging anjing, babi dan monyet adalah karena perubahan (maskh) mereka, maka maksudnya disini bukanlah bahwa hewan-hewan ini adalah generasi mereka, melainkan karena bahaya yang terdapat pada dagingnya dan karena untuk mengingatkan akan hukuman Tuhan terhadap sebagian manusia yang telah berubah bentuk ke dalam bentuk ini, supaya masyarakat tidak mendekati hewan-hewan seperti ini dan menyepelekan azab dan hukuman Ilahi.”[15][]



[1] . Al-Munjid, klausul “maskh”.

[2] . Untuk memperoleh informasi lebih lanjut, rujuklah: Terjemahan Persia al-Mizân, jil. 1, hal. 310 dan seterusnya.

[3] . Al-Mizân, jil. 1, hal. 311.

[4] . Mi’raj As-Sa’âdah, baba: Dar Mazhemmat-e Ghadhab, hal. 172.

[5] . Qs. An-Nisa (4): 10.

[6] . Safinatul Bihâr, jil.4, hal. 377.

[7] . Al-Mizân, jil. 1, hal. 311.

[8] . Ibid.

[9] . Safinatul Bihâr, jil. 4, hal. 376.

[10] . Tafsir Nur Ats-Tsaqalaîn, jil. 1, hal. 86.

[11] . Qs. Al-Baqarah (2): 65.

[12] . Tafsir Shâfi, Mulla Muhsin Faidh, jil. 1, hal. 620.

[13] . Tafsir Kâsyif, Muhammad Jawad Mugniyah, jil. 1, hal. 121.

[14] . Tafsir Shâfi, Mulla Muhsin Faidh, jil. 1, hal. 620.

[15] . Safinatul Bihâr, jil. 4, hal. 375.

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Apakah perbedaan fatwa-fatwa para marja merupakan contoh-contoh ikhtilâf (perbedaan pendapat) yang dilarang dalam khutbah 18 Nahj al-Balâgha?
    8696 Filsafat Hukum
    Menurut sebagian periset, khutbah 18 Nahj al-Balâgha, adalah bagian dari khutbah 17, namun menurut Sayid Radhi, khutbah ini terpisah antara satu sama lainnya dan berbentuk satu khutbah tersendiri. Meski isi dan kandungan khutbah tersebut juga memberikan kesaksian yang sama; lantaran pada khutbah 17 kandungannya terkait dengan fatwa-fatwa ...
  • Apakah yang dimaksud dengan taghut dalam al-Quran?
    19303 Tafsir
    Thaghut berasal dari asal kata “thagha” dan “thaghu” artinya melewati dan naik dari batasan yang dikenal, diterima dan sikap seimbang. Raghib berkata melewati batas dalam kemaksiatan.[1] Sebagian ahli bahasa berkata bahwa thaghut adalah sighah mubalaghah (hiperbola) seperti kata “malakut” dan “jabarut” yang berbentuk kata ...
  • Apakah tanah yang basah akan menjadi najis apabila seekor anjing berjalan di atasnya?
    15051 Hukum dan Yurisprudensi
    Apabila air hujan atau air lainnya, bertumpuk pada sebuah lubang dan ukurannya kurang dari satu kurr, kemudian sebuah najis mengenai tempat itu, maka ia akan menjadi najis.[1] Karena itu, mengingat anjing adalah najis, apabila setelah usai turunnya hujan, dan permukaan basah tanah (lorong, jalan dan trotoar) berhubungan dengan ...
  • Bagaimana agama pamungkas dapat ditetapkan bahwa ia merupakan agama sempurna?
    9117 Teologi Lama
    Pertama-tama kita harus ketahui bahwa redaksi “sempurna” kita maknai bahwa “sempurna” sebagai kebalikan “cacat.” Dan secara umum tatkala kita mengklaim bahwa agama Islam merupakan agama sempurna artinya ia tidak memiliki sebarang cacat pun. Dengan ungkapan yang lebih baik, mempunyai segala yang diperlukan untuk mencapai sebuah kehidupan bahagia duniawi ...
  • Kontradiksi pada ayat-ayat al-Qur’an surah al-Hadid (57) ayat 21 dan surah Ali Imran (3) ayat 133 tentang langit bagaimana dapat diselesaikan?
    20079 Tafsir
    Masalah yang menyebabkan Anda beranggapan bahwa kedua ayat ini saling kontradiksi adalah bertitik tolak dari terjemahan redaksi kalimat, “al-sama” dengan arti “satu langit” sementara makna hakiki “al-sama” itu bukanlah “satu langit” dan bahkan dalam terjemahan Indonesia, juga tidak terdapat perbedaan dan kontradiksi antara “langit” dan “langit-langit.” Misalnya kita ...
  • Mengapa orang yang telah menikah dapat mentalak istrinya?
    6532 Hukum dan Yurisprudensi
    Allah Swt menciptakan seluruh makhluk dan dari seluruh makhluk itu Allah Swt menciptakan pasangan dan istri-istri bagi mereka. Demikian adanya dengan manusia. Allah Swt menjadikan istri-istri manusia dari jenis mereka sendiri. Namun memilih seseorang tertentu sebagai istri atau suami berada dalam ikhtiar manusia sendiri. Boleh jadi sebagian orang, apa ...
  • Bagaimana peran perantara (wasilah) dalam upaya kita mendekatkan diri kepada Allah Swt?
    26120 Teologi Lama
    Wasilah (perantara) memiliki makna yang sangat luas. Termasuk apa saja dan perbuatan apa pun yang mendekatkan manusia kepada Tuhan Sang Pencipta. Alam semesta yang kita huni ini adalah alam yang berpijak di atas mekanisme sebab dan akibat, causes dan effects, serta hukum kausalitas yang diciptakan dan diadakan untuk ...
  • Apakah hak dan kewajiban timbal balik antara dokter dan pasien dapat dijelaskan berdasarkan syariat Islam?
    8481 Hukum dan Yurisprudensi
    Dari satu sisi hukum-hukum Ilahi terbagi menjadi dua bagian. Pertama hukum-hukum imdhâi (yang disetujui) Kedua hukum-hukum ta’sisi (yang dibuat). Hukum-hukum imdhâi adalah hukum-hukum yang memiliki latar belakang sebelum Islam, namun Islam menyetujui hukum-hukum tersebut dengan beberapa perbaikan; seperti kebanyakan jenis transaksi ...
  • Apa yang dimaksud dengan “Mukminin” dan kelompok manakah dari umat Muslim?
    4844 اسلام و ایمان
    Mukminin (orang-orang beriman) adalah orang-orang yang membenarkan (tashdiq) keberadaan Tuhan dan berserah diri di hadapan-Nya; beriman kepada risalah seluruh nabi Ilahi dan beramal atasnya. Dengan memperhatikan bahwa iman memiliki tingkatan, keyakinan kepada Ahlulbait As merupakan tingkatan utama dan tinggi iman. Hal ini berdasarkan ayat-ayat al-Quran dan riwayat-riwayat ...
  • Apa saja yang menjadi kewajiban-kewajiban legal istri di hadapan suami?
    51049 Hukum dan Yurisprudensi
    Kekukuhan, penguatan dan keberlanjutan kehidupan suami-istri terletak pada kecintaan, kesukaan, saling-memahami, saling menghormati, saling mengakui dan menunaikan hak kedua belah pihak. Supaya tatanan lingkungan dan miniatur masyarakat keluarga menjadi kukuh dan berkelanjutan Islam memberikan seperangkat aturan dan hak-hak masing-masing untuk suami dan istri. Sebagai bandingan ...

Populer Hits