Advanced Search
Hits
19477
Tanggal Dimuat: 2010/04/29
Ringkasan Pertanyaan
Mengapa orang-orang Syiah berkata bahwa kalimat Asyhâdu anna ‘Aliyyan Waliyullâh harus diulang dalam azan?
Pertanyaan
Mengapa orang-orang Syiah berkata bahwa kalimat Asyhâdu anna ‘Aliyyan Waliyullâh harus diulang dalam azan dan talqin? Silahkan lihat, Furû’ al-Kâfi, jil. 3, hal. 82.
Jawaban Global

Kalimat “wali” memiliki banyak makna. Yang paling penting dari makna tersebut sebagai berikut.

A.    Pengayom

B.    Sahabat

C.    Penolong dan penyokong

Kendati masing-masing dari tiga makna ini benar terkait dengan Baginda Ali As, akan tetapi dengan memperhatikan beberapa riwayat yang disebutkan dalam masalah ini yang dimaksud dengan redaksi kalimat ini pada azan adalah makna yang pertama; artinya Ali [adalah] wali, pengayom, pertama dan terutama dalam masalah khilafah dan wilâyah ini merupakan delegasi dari Tuhan kepadanya sebagaimana pada makna “Muhammadan Rasulullah” yaitu Muhammad merupakan rasul yang diangkat dari sisi Tuhan.

Namun mengucapkan teks ‘Aliyyan Waliyullah merupakan bagian dari azan ataukah bukan? Jawabannya adalah berdasarkan riwayat Ahlulbait dan fatwa fukaha Syiah. Azan terdiri dari 18 kalimat yang kalimat “Asyhâdu anna ‘Aliyyan Waliyullâh” tidak termasuk dari bagian azan ini dan tidak boleh diniatkan sebagai bagian dari azan.

Jawaban Detil

Untuk menjawab pertanyaan ini secara seksama kami akan membaginya menjadi tiga bagian pertanyaan. Kemudian sesuai runutan bagian tersebut, kami akan menjawab pertanyaan tersebut.

1.     Apakah dasar penyebutan “Ali Waliyullah” itu benar adanya atau merupakan ucapan yang keliru dan batil?

2.     Apabila benar adanya apakah kalimat ini merupakan bagian dari azan atau tidak?

3.     Apabila tidak termasuk bagian dari azan apakah penyebutannya tanpa disertai niat (bagian) dari azan tidak dibolehkan?

 

Untuk menjawab bagian pertama pertanyaan kiranya kita harus membedah makna dan pengertian kalimat “wali”.

 

Makna Wali

Kalimat wali memiliki ragam makna yang akan kita singgung makna yang lebih penting dari makna-makna yang ada.

A.    Wali bermakna pengayom dan penanggung jawab, sebagaimana pada banyak ayat al-Qur’an digunakan dengan makna ini seperti: Tidak ada bagimu selain dari-Nya seorang penolong pun dan tidak (pula) seorang pemberi syafaat  (QS. Al-Sajdah [32]:4)

B.    Bermakna sahabat atau kawan[1] yang juga disebutkan dalam al-Qur’an dengan makna ini seperti: Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia terdapat permusuhan seolah-olah telah menjadi kawan (wali) yang sangat setia (QS. Al-Fushshilat [41]:34)

C.    Bermakna penolong dan pembantu.[2] Dalam al-Qur’an dinyatakan, Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong (wali) bagi sebagian yang lain (QS. Al-Taubah [9]:71)

Tak syak lagi, tiga makna yang dikemukakan di atas tidak ada masalah dalam penggunaan redaksi “Wali Allah” bagi orang-orang beriman pada makna kedua dan ketiga (kawan dan penolong). Bahkan pada sebagian riwayat Ahlusunnah dan Syiah juga disebutkan dengan makna sedemikian.[3]

Adapun terkait dengan makna pertama, harus dikatakan bahwa sebagian riwayat yang disebutkan menyatakan bahwa Ali adalah wali, pengayom,  lebih utama dalam urusan wilâyah sebagaimana kedudukan Rasulullah Saw. Akan tetapi ‘Ali Waliyullah bermakna Ali diangkat oleh Allah Swt untuk menduduki makam wilâyah dan pengayom umat sebagaimana disebutkan Muhammad Rasulullah dalam azan yang bermakna bahwa Muhammad adalah seorang rasul yang diangkat oleh Allah Swt.

Adapun pertanyaan kedua apakah penyebutan “Ali Waliyullah” merupakan bagian dari azan atau tidak?

Berdasarkan sebagian riwayat Ahlulbait, azan terdiri dari 18 kalimat. Kalimat-kalimat tersebut adalah sebagai berikut:

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar

Asyhadu an lâ ilâha illallâh… Asyhadu an lâ ilâha illallâh

Asyhadu anna Muhammadan Rasûlullah… Asyahadu anna Muhammadan Rasûlullah…

Hayya ‘ala al-Shalat… Hayya ‘ala al-Shalat…

Hayya ‘ala al-Falah… Hayya ‘ala al-Falah…

Hayya ‘ala Khair al-‘Amal… Hayya ‘ala Khair al-‘Amal…

Allahu Akbar... Allahu Akbar.. lâ ilâha illallah… lâ ilaha illallah [4]

Dengan demikian kalimat “Asyhadu Anna ‘Aliyyan Waliyullah” yaitu kesaksian ketiga tidak termasuk bagian dari azan. Fukaha Syiah juga, berdasarkan riwayat semacam ini, memberikan fatwa bahwa kalimat ini bukan merupakan bagian dari azan. Imam Khomeini Ra dalam hal ini berkata, “Azan terdiri dari delapan belas kalimat. Kalimat Allahu Akbar empat kali. Asyhadu an lâ ilâha illallah… Asyhadu anna Muhammadan Rasûlullah…Hayya ‘ala al-Shalat… Hayya ‘ala al-Falah… Hayya ‘ala Khair al-‘Amal… Allahu Akbar… lâ ilâha illallah… masing-masing dua kali. Kemudian Imam Khomeini mengimbuhkan bahwa kalimat “Asyhadu anna ‘Aliyyan Waliyullah” bukan bagian dari azan dan ikamah. [5]

 

Selanjutnya, apakah penyebutan “Asyhadu Anna ‘Aliyyan WaliyulLah” membatalkan azan ataukah tidak?

Jelas bahas penyebutan syahadah ketiga dengan meniatkannya sebagai bagian dari azan (atau ikamah) bermasalah secara hukum. Sebagian berkata bahwa tidak ada masalah apabila disampaikan tidak serupa dengan kalimat-kalimat azan dan ikamah.[6] Puncak syubhat yang dapat dikemukakan di sini boleh jadi tambahan tersebut disebut sebagai bid’ah.

Akan tetapi, dengan memperhatikan poin ini bahwa dalam makna bid’ah yang disebutkan adalah memasukkan sesuatu dalam agama yang tidak bersumber dari agama,[7] maka jika ada seseorang memandang syahadah ini sebagai bagian dari azan dan menyampaikannya dalam azan maka ia telah melakukan perbuatan bid’ah dan haram. Namun, tidak satu pun fukaha Syiah yang memandang kalimat ini sebagai bagian dari azan. Dan, apabila disebutkan dalam azan yang tidak serupa dengan kalimat-kalimat azan dan ikamah, maka hal ini bukanlah bid’ah dan sama sekali tidak ada masalah.

Di samping itu, dalam teks-teks riwayat, kita menjumpai riwayat yang menandaskan bahwa tatkala Anda menyampaikan kesaksian terhadap risalah Rasulullah maka Anda juga harus menyampaikan kesaksian kepada wilâyah Amirul Mukminin Ali As.

Bagaimanapun, sebab pernyataan para fakih Syiah yang membolehkan penyebutan syahadah ketiga ini tanpa diniatkan sebagai bagian dari azan adalah riwayat-riwayat yang menyebutkan secara mutlak: “Ketika Anda menyampaikan syahadah kepada tauhid dan risalah, Anda juga harus menyampaikan syahadah kepada wilâyah Ali bin Abi Thalib As dan riwayat-riwayat seperti itu bersifat mutlak, tidak muqayyad, maka ia juga termasuk dalam azan baik pada azan dan ikamah juga pada selain azan dan iqamah. Karena itu, ketika kesaksian terhadap tauhid dan risalah Rasulullah Saw disampaikan, maka kesaksian kepada wilâyah Ali bin Abi Thalib juga telah disampaikan dan hal ini tidak bermakna bagian dari azan.

Demikian juga terdapat sebagian riwayat khusus yang menegaskan syahadah ketiga pada azan.[8] Karena itu, tidak ada masalah dalam hal  penyebutan kalimat ’Aliyyan Waliyullah pada azan dan talqin mayat, dengan memperhatikan kedudukan, derajat dan maqam Ali bin Abi Thalib As[9] bila dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah (qurbah) atau tayammum dan tabarruk (keduanya bermakna mengambil berkah) dan lain sebagainya (selain menganggapnya sebagai bagian).

Disebutkan bahwa banyak ulama Ahlusunnah menyatakan bahwa kalimat “al-shalat khair min al-naum” bukan bagian dari azan dan merupakan kreasi di antara kreasi-kreasi Khalifah Kedua.

Dinukil dari Malik bahwa muazin datang kepada Umar bin Khaththab untuk mengabarkannya tentang shalat subuh. Namun ia mendapati Umar sedang tidur. Ia berkata, “al-shalatu khairun min al-naum” (shalat lebih baik daripada tidur). Umar memerintahkan muazin tersebut untuk memasukkan kalimat ini pada azan.[10]

Pertanyaan yang mengedepan adalah atas dasar apa pengulangan kalimat ini yang dilakukan oleh Ahlusunnah dalam azan Subuh mereka? Apakah hal ini dapat dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh Syiah (ketika mengucapkan syahadah ketiga, kesaksian atas wilayah Ali) yang justru mendapatkan penegasan banyak riwayat. [IQuest]



[1] Abul Hasan Ali bin Muhammad Thabari Kiya Harasi, Ahkam al-Qur’ân, jil. 3, hal. 83, Dar al-Kitab al-‘Ilmiyah, Beirut, 1405 H.

[2] Ibnu Manzhur, Lisân al-‘Arab, jil. 15, hal. 407, Dar Shadir, Beirut, Cetakan Ketiga, 1414 H.

[3] Abdurrahman bin Muhammad ibn Abi Hatim, Tafsir al-Qur’ân al-Azhim (Ibnu Abi Hatim), jil. 2, hal. 675, Maktabat Nizar Musthafa al-Baz, Cetakan Ketiga, 1419 H.

[4] Syaikh Shaduq, Man Lâ Yahdhuruh al-Faqih, jil. 1, hal. 289-291, Jamiah al-Mudarrisin, Qum, 1413 H.

اللَّهُ أَکْبَرُ اللَّهُ أَکْبَرُ اللَّهُ أَکْبَرُ اللَّهُ أَکْبَرُ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُولُ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً رَسُولُ اللَّهِ

حَیَّ عَلَى الصَّلَاةِ حَیَّ عَلَى الصَّلَاةِ

حَیَّ عَلَى الْفَلَاحِ حَیَّ عَلَى الْفَلَاحِ

حَیَّ عَلَى خَیْرِ الْعَمَلِ حَیَّ عَلَى خَیْرِ الْعَمَلِ

اللَّهُ أَکْبَرُ اللَّهُ أَکْبَرُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

[5] Taudhih al-Masâil (al-Mahsyi lil Imâm Khomeini), jil. 1, hal. 519, Masalah 918.

[6] Ibid.   

[7] Husain bin Muhammad, Raghib Isfahani, al-Mufradât fi Gharib al-Qur’ân, hal. 111, Dar al-‘Ilm al-Dar al-Syamiyyah, Cetakan Pertama, 1412 H.

[8] Terkait dengan hal ini, silahkan lihat: “Syahadah Ketiga dalam Azan, Ikamah dan Shalat”.

[9] Untuk memperoleh keterangan lebih jauh terkait dengan hal ini, silahkan lihat indeks yang terdapat pada site ini: Penetapan Imam Ali As, Pertanyaan No. 1162; Al-Qur’an dan Imamah Imam Ali, Pertanyaan No. 1817.

[10] Malik, Muwattha, jil. 1, hal. 210, Site al-Islam, http://www.al-islam.com

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits

  • Ayat-ayat mana saja dalam al-Quran yang menyeru manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya?
    260202 Tafsir 2013/02/03
    Untuk mengkaji makna berpikir dan berasionisasi dalam al-Quran, pertama-tama, kita harus melihat secara global makna “akal” yang disebutkan dalam beberapa literatur Islam dan dengan pendekatan ini kemudian kita dapat meninjau secara lebih akurat pada ayat-ayat al-Quran terkait dengan berpikir dan menggunakan akal dalam al-Quran. Akal dan pikiran ...
  • Apakah Nabi Adam merupakan orang kedelapan yang hidup di muka bumi?
    245854 Teologi Lama 2012/09/10
    Berdasarkan ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini. Kedua: Sebelum Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia ...
  • Apa hukumnya berzina dengan wanita bersuami? Apakah ada jalan untuk bertaubat baginya?
    229727 Hukum dan Yurisprudensi 2011/01/04
    Berzina khususnya dengan wanita yang telah bersuami (muhshana) merupakan salah satu perbuatan dosa besar dan sangat keji. Namun dengan kebesaran Tuhan dan keluasan rahmat-Nya sedemikian luas sehingga apabila seorang pendosa yang melakukan perbuatan keji dan tercela kemudian menyesali atas apa yang telah ia lakukan dan memutuskan untuk meninggalkan dosa dan ...
  • Ruh manusia setelah kematian akan berbentuk hewan atau berada pada alam barzakh?
    214520 Teologi Lama 2012/07/16
    Perpindahan ruh manusia pasca kematian yang berada dalam kondisi manusia lainnya atau hewan dan lain sebagainya adalah kepercayaan terhadap reinkarnasi. Reinkarnasi adalah sebuah kepercayaan yang batil dan tertolak dalam Islam. Ruh manusia setelah terpisah dari badan di dunia, akan mendiami badan mitsali di alam barzakh dan hingga ...
  • Dalam kondisi bagaimana doa itu pasti dikabulkan dan diijabah?
    175861 Akhlak Teoritis 2009/09/22
    Kata doa bermakna membaca dan meminta hajat serta pertolongan.Dan terkadang yang dimaksud adalah ‘membaca’ secara mutlak. Doa menurut istilah adalah: “memohon hajat atau keperluan kepada Allah Swt”. Kata doa dan kata-kata jadiannya ...
  • Apa hukum melihat gambar-gambar porno non-Muslim di internet?
    171238 Hukum dan Yurisprudensi 2010/01/03
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Apakah praktik onani merupakan dosa besar? Bagaimana jalan keluar darinya?
    167635 Hukum dan Yurisprudensi 2009/11/15
    Memuaskan hawa nafsu dengan cara yang umum disebut sebagai onani (istimna) adalah termasuk sebagai dosa besar, haram[1] dan diancam dengan hukuman berat.Jalan terbaik agar selamat dari pemuasan hawa nafsu dengan cara onani ini adalah menikah secara syar'i, baik ...
  • Siapakah Salahudin al-Ayyubi itu? Bagaimana kisahnya ia menjadi seorang pahlawan? Silsilah nasabnya merunut kemana? Mengapa dia menghancurkan pemerintahan Bani Fatimiyah?
    157693 Sejarah Para Pembesar 2012/03/14
    Salahuddin Yusuf bin Ayyub (Saladin) yang kemudian terkenal sebagai Salahuddin al-Ayyubi adalah salah seorang panglima perang dan penguasa Islam selama beberapa abad di tengah kaum Muslimin. Ia banyak melakukan penaklukan untuk kaum Muslimin dan menjaga tapal batas wilayah-wilayah Islam dalam menghadapi agresi orang-orang Kristen Eropa.
  • Kenapa Nabi Saw pertama kali berdakwah secara sembunyi-sembunyi?
    140525 Sejarah 2014/09/07
    Rasulullah melakukan dakwah diam-diam dan sembunyi-sembunyi hanya kepada kerabat, keluarga dan beberapa orang-orang pilihan dari kalangan sahabat. Adapun terkait dengan alasan mengapa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi pada tiga tahun pertama dakwahnya, tidak disebutkan analisa tajam dan terang pada literatur-literatur standar sejarah dan riwayat. Namun apa yang segera ...
  • Kira-kira berapa usia Nabi Khidir hingga saat ini?
    133705 Sejarah Para Pembesar 2011/09/21
    Perlu ditandaskan di sini bahwa dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tegas nama Nabi Khidir melainkan dengan redaksi, “Seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Qs. Al-Kahfi [18]:65) Ayat ini menjelaskan ...