Advanced Search
Hits
10535
Tanggal Dimuat: 2012/05/19
Ringkasan Pertanyaan
Bagaimana Fir’aun diazab dikarenakan perbuatan- perbuatannya yang merupakan ujian Tuhan?
Pertanyaan
Dalam surat al-Baqarah ayat 49 difirmankan, ”Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari pengikut-pengikut Fira’un; mereka menimpakan siksaan yang sangat berat atas kamu, menyembelih anak laki-lakimu, dan membiarkan istri-istrimu hidup (untuk dijadikan budak). Ini adalah bencana dan cobaan yang besar.” Oleh karena itu, mengapa Fir’aun yang merupakan petugas Tuhan untuk menguji akan mendapatkan murka Tuhan dari sisi lain?
Jawaban Global

Salah satu sunnah-sunnah Ilahi yang tidak mengalami perubahan adalah ujian dan cobaan untuk para hamba. Ujian dan cobaan ini terjadi dengan segala sebab dan dengan perantaraan kejadian-kejadian yang beragam.

Terkadang Allah Swt menggunakan orang zalim sebagai perantara dalam menguji orang-orang lain sementara orang zalim tersebut tidak sadar bahwa mereka sebagai perantara ujian Ilahi. Kendati orang zalim ini sebagai perantara ujian dan cobaan, namun buruk perbuatannya dan kelayakannya untuk mendapatkan azab tidak akan mengalami pengurangan. Karena sejatinya Tuhan tidak memerintahkan kepadanya sebagai perantara cobaan, melainkan secara alami hadirnya kondisi-kondisi yang ketika orang zalim melakukan kezaliman dengan ikhtiar dan iradahnya sendiri, maka kezalimannya yang bertentangan dengan perintah Tuhan, akan menjadi wasilah dan perantaraan ujian bagi yang lain.

Berdasarkan hal ini, kezaliman ini, dari aspek bahwa dia merupakan perbuatan ikhtiari orang itu, akan mendapatkan siksaan dan orang zalim yang karena perbuatannya akan diazab.

Jawaban Detil

Allah Swt dalam ayat ini mengisyaratkan salah satu nikmat-nikmat terbesar yang diberikan kepada kaum Bani Israel. Kenikmatan itu adalah kebebasan dari cengkeraman orang-orang zalim yang merupakan nikmat terbesar Allah Swt. Dalam firman-Nya, ”Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari pengikut-pengikut Fira’un; mereka menimpakan siksaan yang sangat berat atas kamu, menyembelih anak laki-lakimu, dan membiarkan istri-istrimu hidup (untuk dijadikan budak). Dan dalam semua (peristiwa) itu terdapat cobaan yang besar untuk kalian dari Tuhan-mu.” (Qs. al-Baqarah [2]:49)

Dari dimensi bahwa bentuk kata kerja masa sekarang memberikan makna yang terus menerus, dapat kita pahami bahwa kaum Bani Israil secara terus menerus berada di bawah tekanan dan siksaan para pengikut Fir’aun dan mereka melihat dengan mata kepala sendiri anak laki-laki mereka yang tanpa dosa disembelih, dan di sisi lain putri-putri mereka dijadikan budak.

Disamping itu, mereka sendiri terus menerus dibawah pengiiksaan dan dijadikan sebagai budak-budak, pelayan-pelayan, buruh-buruh kaum Fir’aun, dan prajurit dan bala tentaranya.

Yang penting bahwa al-Qur’an menggolongkan peristiwa ini sebagai suatu bentuk ujian dan cobaan maha dahsyat untuk kaum Bani Israel (salah satu makna bencana adalah ujian adalah cobaan) dan yang pasti menanggung semua hal yang tidak menyenangkan ini adalah ujian sangat berat.[1] Namun, mengapa Fir’aun akan diazab dikarenakan amal-amalnya ini yang merupakan perantara ujian Ilahi?

Untuk mendapatkan jawaban yang jelas, perlu diperhatikan bahwa suatu peristiwa yang terjadi di dunia memiliki sisi-sisi yang beragam. Suatu kejadian sangat mungkin bagi orang lain adalah azab dan bagi yang lain adalah ujian serta untuk orang ketiga adalah peningkatan derajat di sisi Tuhan. Imam Ali As bersabda, “Bencana dan kejadian yang terjadi adalah perantara untuk memberikan pelajaran bagi orang zalim, ujian bagi orang mukmin, peningkatan maqam bagi mukmin lain, dan kemuliaan bagi wali-wali Tuhan.”[2] Dari sisi lain, salah satu sunnah-sunnah Ilahi yang tidak berubah adalah ujian dan cobaan. Al-Quran dalam masalah sunnah Ilahi ini menegaskan, “Apakah manusia menyangka ketika mengatakan, “kami beriman,” akan dibiarkan begitu saja dan tidak akan diuji? Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka (dan kami akan menguji mereka juga).” (Qs. Al-Ankabut [29]: 2 &3)

Ujian ini akan terlaksana dengan sebab-sebab dan perantaraan kejadian-kejadian yang beragam. Sebagian orang akan diuji dengan kefakiran, sebagian yang lain dengan kekayaan, yang lainnya dengan penyakit atau kesehatan, kelompok lain dengan kekuasaan, yang lain lagi dengan kelemahan dan ketidakmampuan, sebagian rakyat dicoba dengan banjir dan gempa bumi, sementara masyarakat yang lain dengan ketenangan dan ketentraman, sebagian yang lain dengan kebaikan, dan yang lainnya dengan keburukan.

Al-Quran berfirman terkait dengan keragaman ujian-ujian, “Kami akan menguji kalian dengan keburukan-keburukan dan kebaikan-kebaikan, dan pada akhirnya kalian akan dikembalikan kepada kami.” (Qs. Al-Anbiya [21]: 35) Begitu juga di tempat lain difirmankan tentang metode ujian, “…Dan demikianlah telah Kami uji sebagian mereka dengan sebagian yang lain….” (Qs. Al-An’am [6]: 53) Yakni sebagian kalian akan kami uji dengan perantaraan sebagian yang lain.

Terkadang Tuhan menjadikan orang zalim sebagai perantara ujian untuk orang lain, sementara orang zalim tidak memahaminya telah dijadikan sebagai perantara ujian Ilahi. Orang zalim yang sebagai perantara ujian ini, tidak akan mengurangi keburukan perbuatannya dan kelayakan azab baginya, karena Tuhan tidak memerintahkan kepadanya sebagai perantara ujian, melainkan secara alami hadirnya kondisi-kondisi yang setiap kali orang zalim melakukan kezaliman dengan ikhtiarnya sendiri, Tuhan akan menguji orang yang lain dengan kezalimannya itu. Namun, dari aspek lain, kezaliman ini yang adalah perbuatan ikhtiari orang tersebut pasti memiliki siksaan dan orang zalim yang berbuat kezaliman akan diazab dikarenakannya.

Sebagaimana di sisi yang berlawanan, dalam banyak kasus, Tuhan menegaskan agamanya sendiri dan menguatkannya dengan perantara orang-orang zalim. Rasulullah saw bersabda, “Tuhan menolong dan menguatkan agama ini (Islam) dengan perantaraan orang-orang yang bukan ahlinya (orang-orang zalim, kafir, dan munafik).”[3] Walaupun terkadang perbuatan zalim orang-orang kafir telah menyebabkan kuatnya agama, namun mereka sama sekali tidak akan mendapatkan pahala atas perbuatannya.

Dengan penjelasan ini, makna ayat yang menjadi obyek kajian di atas, akan menjadi jelas dan nyata bahwa perbuatan orang zalim yang sebagai perantara ujian Ilahi tidak akan menghilangkan keburukan amalnya dan tidak akan mengurangi azabnya, karena Tuhan tidak memerintahkannya untuk melakukan ujian ini, melainkan tindakan kezalimannya justru menjadi perantara suatu ujian dan cobaan. [iQuest]

 

 

 


[1]. Makarim Syirazi, Tafsir Nemune, jil. 1, hal. 248 dan 429 (dengan sedikit perubahan), Dar al Kutub al-Islamiyah, Teheran, 1374 S.

[2]. Muhaddits Nuri, Mustadrak Wasail, jil. 2, hal. 438, penerbit Alul Bait, Qum, 1408 H.

[3]. Muhammad bin Ya’qub Kulaini, Al-Kafi, jil. 5, hal. 19, Dar al-Kutub al-Islamiyah, Teheran, 1365 S.

 

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits

  • Ayat-ayat mana saja dalam al-Quran yang menyeru manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya?
    259645 Tafsir 2013/02/03
    Untuk mengkaji makna berpikir dan berasionisasi dalam al-Quran, pertama-tama, kita harus melihat secara global makna “akal” yang disebutkan dalam beberapa literatur Islam dan dengan pendekatan ini kemudian kita dapat meninjau secara lebih akurat pada ayat-ayat al-Quran terkait dengan berpikir dan menggunakan akal dalam al-Quran. Akal dan pikiran ...
  • Apakah Nabi Adam merupakan orang kedelapan yang hidup di muka bumi?
    245500 Teologi Lama 2012/09/10
    Berdasarkan ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini. Kedua: Sebelum Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia ...
  • Apa hukumnya berzina dengan wanita bersuami? Apakah ada jalan untuk bertaubat baginya?
    229402 Hukum dan Yurisprudensi 2011/01/04
    Berzina khususnya dengan wanita yang telah bersuami (muhshana) merupakan salah satu perbuatan dosa besar dan sangat keji. Namun dengan kebesaran Tuhan dan keluasan rahmat-Nya sedemikian luas sehingga apabila seorang pendosa yang melakukan perbuatan keji dan tercela kemudian menyesali atas apa yang telah ia lakukan dan memutuskan untuk meninggalkan dosa dan ...
  • Ruh manusia setelah kematian akan berbentuk hewan atau berada pada alam barzakh?
    214166 Teologi Lama 2012/07/16
    Perpindahan ruh manusia pasca kematian yang berada dalam kondisi manusia lainnya atau hewan dan lain sebagainya adalah kepercayaan terhadap reinkarnasi. Reinkarnasi adalah sebuah kepercayaan yang batil dan tertolak dalam Islam. Ruh manusia setelah terpisah dari badan di dunia, akan mendiami badan mitsali di alam barzakh dan hingga ...
  • Dalam kondisi bagaimana doa itu pasti dikabulkan dan diijabah?
    175501 Akhlak Teoritis 2009/09/22
    Kata doa bermakna membaca dan meminta hajat serta pertolongan.Dan terkadang yang dimaksud adalah ‘membaca’ secara mutlak. Doa menurut istilah adalah: “memohon hajat atau keperluan kepada Allah Swt”. Kata doa dan kata-kata jadiannya ...
  • Apa hukum melihat gambar-gambar porno non-Muslim di internet?
    170865 Hukum dan Yurisprudensi 2010/01/03
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Apakah praktik onani merupakan dosa besar? Bagaimana jalan keluar darinya?
    167242 Hukum dan Yurisprudensi 2009/11/15
    Memuaskan hawa nafsu dengan cara yang umum disebut sebagai onani (istimna) adalah termasuk sebagai dosa besar, haram[1] dan diancam dengan hukuman berat.Jalan terbaik agar selamat dari pemuasan hawa nafsu dengan cara onani ini adalah menikah secara syar'i, baik ...
  • Siapakah Salahudin al-Ayyubi itu? Bagaimana kisahnya ia menjadi seorang pahlawan? Silsilah nasabnya merunut kemana? Mengapa dia menghancurkan pemerintahan Bani Fatimiyah?
    157351 Sejarah Para Pembesar 2012/03/14
    Salahuddin Yusuf bin Ayyub (Saladin) yang kemudian terkenal sebagai Salahuddin al-Ayyubi adalah salah seorang panglima perang dan penguasa Islam selama beberapa abad di tengah kaum Muslimin. Ia banyak melakukan penaklukan untuk kaum Muslimin dan menjaga tapal batas wilayah-wilayah Islam dalam menghadapi agresi orang-orang Kristen Eropa.
  • Kenapa Nabi Saw pertama kali berdakwah secara sembunyi-sembunyi?
    140180 Sejarah 2014/09/07
    Rasulullah melakukan dakwah diam-diam dan sembunyi-sembunyi hanya kepada kerabat, keluarga dan beberapa orang-orang pilihan dari kalangan sahabat. Adapun terkait dengan alasan mengapa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi pada tiga tahun pertama dakwahnya, tidak disebutkan analisa tajam dan terang pada literatur-literatur standar sejarah dan riwayat. Namun apa yang segera ...
  • Kira-kira berapa usia Nabi Khidir hingga saat ini?
    133457 Sejarah Para Pembesar 2011/09/21
    Perlu ditandaskan di sini bahwa dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tegas nama Nabi Khidir melainkan dengan redaksi, “Seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Qs. Al-Kahfi [18]:65) Ayat ini menjelaskan ...