Advanced Search
Hits
14467
Tanggal Dimuat: 2012/07/09
Ringkasan Pertanyaan
Mungkinkah sebagian dari ruh menitis ke dalam diri orang lain. Demikian pula, apakah yang dimaksud dengan radiasi pertahanan?
Pertanyaan
Benarkah masalah yang dibahas di kelas-kelas faradarmani dan psymentology bahwa manusia-manusia yang bergantung kepada dunia, setelah kematiannya akan mendatangi wujud manusia-manusia lain dan mempengaruhinya melalui sesuatu seperti ruh yang mereka namakan dengan framework otak?Jika tidak, apakah yang dimaksud dengan anti-radiasi? Dan kenapa dalam kondisi ini kita benar-benar melihat ruh-ruh yang memberikan rincian dan spesifikasi-spesifikasi yang detail?
Jawaban Global

Dalam ajaran Islam, karena masalah reinkarnasi meniscayakan pengingkaran terhadap ma’âd (hari Kiamat), kebangkitan, surga dan neraka, maka hal ini dianggap tertolak, Akan tetapi memahami kehadiran arwah dan melakukan sejenis interaksi dengan mereka, kendati tidak disarankan, namun merupakan sebuah persoalan yang masuk akal.

Demikian juga memanfaatkan anti radiasi sebagai sebuah faktor internal sebagai sebuah faktor asing yang tidak memiliki kaitan dengan perbaikan diri internal seseorang dan menghapus akar perkembangan fenomena seperti ini, pada dasarnya sama dengan menghindar dari akhir wajar sebuah proses tak benar dan melarikan diri dari konsekuesi penyimpangan dalam lintasan.

Jawaban Detil

Masalah reinkarnasi dalam aliran Islam, dikarenakan meniscayakan pada pengingkaran terhadap surga, neraka dan kebangkitan, maka dikenal sebagai sebuah konsep yang tertolak.[1] Akan tetapi memahami kehadiran arwah dan melakukan sebuah bentuk interaksi dengan mereka, meskipun tidak disarankan, namun merupakan sebuah hal yang tidak mustahil

Kehadiran sebagian dari fenomena ruh dan ketiadaan pemahaman mereka dalam aliran-aliran pseudo irfan telah menyebabkan halusinasi reinkarnasi dimana mereka menyangka bahwa sebagian dari arwah terpaksa mereinkarnasi dalam wujud manusia-manusia lain: masalah ini (khayalan reinkarnasi) dibahas baik berkaitan dengan wujud Tuhan, arwah manusia maupun ruh-ruh asing dan setan.

Selain itu, pembahasan tajalli, kemunculan dan interaksi ruh dan selainnya yang diungkap dalam irfan, bukanlah reinkarnasi, dimana masalah ini harus dibahas di tempat tersendiri:

Reinkarnasi merupakan kendali ke arah kafir dan batil[2]

yang dihasilkan dari sebuah sumber yang sangat sempit ...

Reinkarnasi sama sekali tidak pernah bermakna

kemunculan sekaligus tajalli[3]

Kemungkinan interaksi dengan arwah, eksistensi-eksistensi gaib dan banyak dari fenomena-fenomena akal, ruh dan pengaruh-pengaruh yang dihasilkannya, sangat tidak terhitung banyaknya dan harus dianalisa pada tempatnya tersendiri. Namun yang jelas adalah: Sengaja berinteraksi dengan fenomena-fenomena ini dan menempatkan mereka sebagai tujuan irfan, merupakan hal yang sangat jauh, demikian juga menceburkan diri dalam masalah seperti  ini, selain telah menyimpang dari tujuan asli, semakin hari juga akan semakin menambah masalah-masalah ruhani, terutama jika seseorang dalam lintasan ini tidak mempunyai pembimbing yang saleh atau seorang arif yang sempurna.

Istilah anti radiasi yang dinyatakan mampu membuat lapisan penjagaan dalam menghadapi pengaruh gelombang-gelombang negatif atau mengubur fenomena-fenomena negatif, dan biasanya dinyatakan sebagai sebuah bentuk perlawanan terhadap masalah-masalah ini bagi para murid, penderita atau yang meminta, sebenarnya bagi para pengklaimnya sendiri pun, eksistensinya masih tak jelas dan pada aplikasinya merupakan sebuah ketundukan yang didapatkan oleh sebagian individu yang kemudian ditransferkan kepada orang lain.

Dalam sepanjang pemindahan ini –yang kadangkala secara salah dinisbatkan sebagai ruhul kudus atau Tuhan- terdapat klaim bahwa fenomena-fenomena ini bisa menghambat pelbagai ketaknyamanan dan psikologi yang negatif, namun demikian, bisa jadi seseorang kembali akan diperhadapkan dengan problem-problem lainnya yang serupa.

Mengenai apakah ada kemungkinan bagi seseorang untuk tetap terjaga dalam menghadapi sebagian fenomena negatif ruh melalui faktor-faktor yang lain ataukah tidak, hal ini secara terpisah bisa dibahas dalam pembahasan irfan praktis dalam dimensi mental demonstrasif dan hal-hal mungkin yang mengikutinya.

Di sini terdapat dua poin yang perlu disebutkan: pertama: berdasarkan sebuah jalur sempurna, tak satupun fenomena positif atau negatif yang tanpa dalil, dan jika seseorang dengan dalil apapun, berhadapan dengan perolehan-perolehan ruh, masalah-masalah negatif  dan sebagian kerusakannya, hal ini memiliki hubungan langsung dengan ketergantungan-ketergantungan dan penyimpangan-penyimpangan internal seseorang, dan kebetulan kewajiban utama irfan adalah membantu salik untuk menghilangkan ketergantungan-ketergantungan ini, karena itulah seorang guru yang sempurna, sebelum yakin terhadap tazkiyatun nafs dan meninggalkan segala ketergantungannya, tidak akan menghadapkan salik dengan masalah-masalah ruhani seperti ini, karena tidak ada satupun keuntungan bagi keadaannya bahkan bisa menyebabkan kerusakan pada ruhaninya atau akan mendorong seseorang mengarah pada penyimpangan-penyimpangan yang lebih mendalam dalam keluasan ruh.

Masalah seperti ini terjadi pada jalur tatkala tidak ada ruang untuk penyempurnaan yang serasi pada tempat tersebut; dan ruh, secara tak wajar, bahkan dalam sebuah proses terbalik, tanpa terlepas dari cengkeraman keburukan-keburukan jiwanya sendiri, akan terjebak dengan pengalaman-pengalaman supranatural yang tak perlu, dimana kebanyakan sumber yang memunculkannya adalah setan.

Poin kedua adalah: jika seseorang dengan dalil apapun tejebak dalam masalah seperti ini, tentunya ada kemungkinan untuk terlepas dari masalah ini melalui cara yang benar, dan dalam irfan tidak terdapat sebuah penjagaanpun kecuali meniscayakan kesempurnaan syariat, takwa dan masuk ke dalam hidayah dan wilayah Ilahi melalui Imam atau wali Allah Swt.

Oleh karena itulah, orang-orang yang bertakwa dan mereka yang berada di bawah didikan seorang arif yang sempurna, sama sekali tidak akan pernah terjebak dalam bahaya-bahaya ruhani dan psikologi seperti ini, dan mereka juga tidak akan pernah membutuhkan tameng anti radiasi.

Boleh dikatakan bahwa secara global, seluruh fenomena-fenomena tak diinginkan yang dihadapi oleh seseorang, pada dasarnya ada karena ajakannya sendiri. Bisa jadi seseorang tidak menginginkan secara tegas hal seperti ini, akan tetapi saat seseorang dengan jiwa tak nyata yang tidak memiliki sebuah tujuanpun kecuali memperoleh kekuasaan-kekuasaan supra-natural dan ambisi-ambisi personal, telah menempatkan dirinya dalam kendali kekuatan-kekuatan yang tak dikenal dan meragukan, pada dasarnya ia telah membuka pintu jauh-jauh hari sebelumnya bagi terjadinya fenomena dan kejadian-kejadian seperti ini.

Oleh itu, kerusakan-kerusakan yang mungkin terjadi pada jiwa, yang untuk menghambatnya membutuhkan tameng anti radiasi, pada dasarnya memiliki akar dalam penyimpangan yang terjadi dalam internal diri seseorang. Namun dengan menghilangkan kondisi-kondisi tersebut dan melepaskan diri dari berinteraksi dengan kekuatan-kekutan ruh untuk menarik kepentingan personal serta mengkonsentrasikan diri pada tujuan utama tazkiyatun nafs dan irfan, maka secara bertahap, persoalan ini akan tertolak dengan sendirinya.

Menggunakan tameng anti radiasi sebagai sebuah faktor eksternal yang tidak berkaitan dengan perbaikan batiniah seseorang dan memutuskan akar-akar fenomena seperti ini, pada dasarnya adalah menghindar dari hasil wajar sebuah proses tak benar dan melarikan diri dari konsekuensi-konsekuensi penyimpangan dalam lintasan, dan dengan demikian, yang tertinggal bukannya terapi dan penyembuhan akar-akar penyakit, melainkan menghilangkan lahiriah indikasi-indikasinya.

Mengenai bahwa manusia tanpa sedikitpun membutuhkan keniscayaan sebuah amalan syariat Ilahi, perbaikan akhlak dan penyucian jiwa, bisa mengharapkan manfaat seperti terapi penyakit atau bahkan memperoleh pengalaman-pengalaman irfani dalam kewenangan persoalan-persoalan yag sepenuhnya dikenal ambigu dan tak dikenal (sedemikian sehingga berdasarkan klaim, bahkan sampai pada batasan tidak membutuhkan keyakinan terhadap persoalan itu sendiri) seperti ini, secara kebetulan dapat menjadi wahana yang terbaik untuk memunculkan kekuatan-kekuatan setan dan akan menghadapkan si pesuluk (salik), murid atau pasien pada persoalan-persoalan lain yang lebih rumit lagi dimana tak akan ada seorangpun yang mampu lagi untuk menghidayahi dan menyertainya.

Saat ini, berbagai kalangan masyarakat banyak menawarkan pelbagai aliran psikologi,  supra psikologi dan pseudo irfani dalam harmonisasi dengan akidah-akidah, budaya dan istilah-istilah agama dan sastra irfani –dimana biasanya diikuti dengan semangat yang meluas namun memunculkan kebohongan dan kepalsuan di kalangan para pengikutnya –akan tetapi kelompok dan ikatan agama seperti ini, hanya memberikan daya tarik yang lebih banyak tanpa memberikan urgensitas yang terlalu penting pada pokok persoalan.

Kita mengetahui bahwa dari aliran seperti ini telah muncul puluhan aliran dan ratusan guru di berbagai kalangan masyarakat, yang tak memiliki hujjah lain selain menggunakan sebagian dari kekuatan jiwa dan keseriusan murid-muridnya, dan tidak mampu menjadi penjawab bagi kebutuhan pengenalan dan irfani manusia.

Dengan alasan inilah dalam irfan Islami sangat ditekankan untuk senantiasa terhubung pada guru dan arif yang sempurna, karena sosok seperti ini bertanggung jawab terhadap gemblengan dan didikan irfani dalam jalur yang benar dan memiliki informasi dan pengetahuan yang sempurna dalam masalah irfan.

Prinsip asli irfan seperti inilah yang merupakan lompatan dalam tahapan takwa dan filosofis dalam seluruh keinginan-keinginan duniawi, bertolak belakang dengan aliran-aliran yang cacat, dari satu sisi perolehan-perolehan mental dan spiritual, dan dari sisi lain ketaktahuan terhadap identitas mereka yang akan melepaskan mereka dalam keadaannya sendiri ke dalam dunia yang tak dikenal.

Terdapat sebuah bahaya yang secara umum mengancam para  pengikut kepada pengalaman-pengalaman irfan dan peroalan-persoalan ruh dalam bentuk tradisional dan modern, dimana masalah-masalah seperti ini sejak dahulu juga telah ada dalam jalur irfan.

Oleh itu, untuk bergerak di jalur irfan (atau berupaya untuk memperoleh pengalaman-pengalaman spiritual), tolok ukur dan bimbingan Imam Maksum As atau para arif sempurna yang telah menyelesaikan perjalanan menuju Allah, merupakan sebuah keniscayaan; dan selain ini, terdapat kemungkinan terjadinya banyak penyimpangan yang pada akhirnya akan merugikan dan menimbulkan bahaya yang lebih banyak daripada manfaatnya. [iQuest]

 


[1]. Untuk informasi lebih detil, silahkan lihat indeks, Reinkarnasi dalam Pandangan Islam, Pertanyaan 8130 (Site: id8198)

[2]. Syaikh Mahmud Syabesytari, Gulsyan-e Râz.

[3]. Ibid.

 

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits

  • Ayat-ayat mana saja dalam al-Quran yang menyeru manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya?
    260135 Tafsir 2013/02/03
    Untuk mengkaji makna berpikir dan berasionisasi dalam al-Quran, pertama-tama, kita harus melihat secara global makna “akal” yang disebutkan dalam beberapa literatur Islam dan dengan pendekatan ini kemudian kita dapat meninjau secara lebih akurat pada ayat-ayat al-Quran terkait dengan berpikir dan menggunakan akal dalam al-Quran. Akal dan pikiran ...
  • Apakah Nabi Adam merupakan orang kedelapan yang hidup di muka bumi?
    245827 Teologi Lama 2012/09/10
    Berdasarkan ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini. Kedua: Sebelum Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia ...
  • Apa hukumnya berzina dengan wanita bersuami? Apakah ada jalan untuk bertaubat baginya?
    229702 Hukum dan Yurisprudensi 2011/01/04
    Berzina khususnya dengan wanita yang telah bersuami (muhshana) merupakan salah satu perbuatan dosa besar dan sangat keji. Namun dengan kebesaran Tuhan dan keluasan rahmat-Nya sedemikian luas sehingga apabila seorang pendosa yang melakukan perbuatan keji dan tercela kemudian menyesali atas apa yang telah ia lakukan dan memutuskan untuk meninggalkan dosa dan ...
  • Ruh manusia setelah kematian akan berbentuk hewan atau berada pada alam barzakh?
    214491 Teologi Lama 2012/07/16
    Perpindahan ruh manusia pasca kematian yang berada dalam kondisi manusia lainnya atau hewan dan lain sebagainya adalah kepercayaan terhadap reinkarnasi. Reinkarnasi adalah sebuah kepercayaan yang batil dan tertolak dalam Islam. Ruh manusia setelah terpisah dari badan di dunia, akan mendiami badan mitsali di alam barzakh dan hingga ...
  • Dalam kondisi bagaimana doa itu pasti dikabulkan dan diijabah?
    175835 Akhlak Teoritis 2009/09/22
    Kata doa bermakna membaca dan meminta hajat serta pertolongan.Dan terkadang yang dimaksud adalah ‘membaca’ secara mutlak. Doa menurut istilah adalah: “memohon hajat atau keperluan kepada Allah Swt”. Kata doa dan kata-kata jadiannya ...
  • Apa hukum melihat gambar-gambar porno non-Muslim di internet?
    171197 Hukum dan Yurisprudensi 2010/01/03
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Apakah praktik onani merupakan dosa besar? Bagaimana jalan keluar darinya?
    167600 Hukum dan Yurisprudensi 2009/11/15
    Memuaskan hawa nafsu dengan cara yang umum disebut sebagai onani (istimna) adalah termasuk sebagai dosa besar, haram[1] dan diancam dengan hukuman berat.Jalan terbaik agar selamat dari pemuasan hawa nafsu dengan cara onani ini adalah menikah secara syar'i, baik ...
  • Siapakah Salahudin al-Ayyubi itu? Bagaimana kisahnya ia menjadi seorang pahlawan? Silsilah nasabnya merunut kemana? Mengapa dia menghancurkan pemerintahan Bani Fatimiyah?
    157666 Sejarah Para Pembesar 2012/03/14
    Salahuddin Yusuf bin Ayyub (Saladin) yang kemudian terkenal sebagai Salahuddin al-Ayyubi adalah salah seorang panglima perang dan penguasa Islam selama beberapa abad di tengah kaum Muslimin. Ia banyak melakukan penaklukan untuk kaum Muslimin dan menjaga tapal batas wilayah-wilayah Islam dalam menghadapi agresi orang-orang Kristen Eropa.
  • Kenapa Nabi Saw pertama kali berdakwah secara sembunyi-sembunyi?
    140494 Sejarah 2014/09/07
    Rasulullah melakukan dakwah diam-diam dan sembunyi-sembunyi hanya kepada kerabat, keluarga dan beberapa orang-orang pilihan dari kalangan sahabat. Adapun terkait dengan alasan mengapa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi pada tiga tahun pertama dakwahnya, tidak disebutkan analisa tajam dan terang pada literatur-literatur standar sejarah dan riwayat. Namun apa yang segera ...
  • Kira-kira berapa usia Nabi Khidir hingga saat ini?
    133676 Sejarah Para Pembesar 2011/09/21
    Perlu ditandaskan di sini bahwa dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tegas nama Nabi Khidir melainkan dengan redaksi, “Seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Qs. Al-Kahfi [18]:65) Ayat ini menjelaskan ...