Advanced Search
Hits
15630
Tanggal Dimuat: 2011/12/21
Ringkasan Pertanyaan
Apa yang menjadi hikmah Ilahi ketika Dia memberikan anak atau tidak memberikan anak?
Pertanyaan
Apa yang menjadi hikmah Ilahi ketika Dia memberikan anak atau tidak memberikan anak? Setelah istri saya hamil untuk yang ketiga kalinya, kali ini kami juga berhadapan dengan selaksa persoalan dan bahkan boleh jadi berujung pada kematiannya. Apakah mungkin Allah Swt enggan mengaruniai kami seorang anak atau kami telah melakukan dosa dan harus menebus kesalahan kami sehingga persoalan-persoalan tersebtu dapat diselesaikan? Tolong berikan bimbingan pada kami.
Jawaban Global

Allah Swt Mahamengetahui dan Mahabijaksana. Sunnah Ilahi menyatakan bahwa segala sesuatu harus terjadi melalui kanal hukum sebab-akibat. Di antara sunnah Ilahi tersebut adalah reproduksi manusia yang memiliki selaksa sebab-sebabnya tersendiri. Sepanjang perjalanan sejarah terdapat manusia yang hidup di muka bumi ini yang setelah mengikat tali pernikahan, baik secara keseluruhan atau untuk masa yang cukup lama, tidak dikaruniai keturunan. Di antara orang-orang ini, kita menjumpai sebagian nabi ulul azmi Ilahi seperti Nabi Ibrahim As yang sama sekali tidak pernah melakukan dosa sepanjang hidupnya.

Supaya seorang pasangan (manusia atau selain manusia) dapat melahirkan keturunan dan memiliki anak, bahan-bahan, pendahuluan-pendahuluan, syarat-syarat, sebab-sebab diperlukan sehingga dapat tersedia pada suatu masa tertentu dengan mekanisme dan jarak waktu tertentu sedemikian sehingga apabila dalam silsilah ini, bahkan salah satu darinya yang hilang atau tidak sesuai, maka seorang anak atau anak sehat tidak akan lahir. Karena itu, pasangan yang belum dikaruniai keturunan harus mencari dan menyempurnakan mata rantai terputus dari silsilah mata rantai sebab-akibat dan syarat-syarart ini.

Jawaban Detil

Allah Swt adalah Mahamengetahui dan Mahabijaksana. Dan tentu saja segala perbuatan-Nya berdasarkan hikmah dan kebijaksanaan. Untuk mengatur dan menata alam semesta yang maha luas dan seluruh makhluk yang hidup di dalamnya, Allah Swt menetapkan seperangkat prinsip dan hukum kausalitas di dalamnya. Sunnah Ilahi menyatakan bahwa segala sesuatu harus terjadi melalui kanal hukum sebab-akibat.

Sepanjang perjalanan sejarah terdapat manusia yang hidup di muka bumi ini yang setelah mengikat tali pernikahan, baik secara keseluruhan atau untuk masa yang cukup lama, bahkan sampai pada usia renta dan senja, mereka belum dikaruniai seorang pun keturunan. Di antara orang-orang ini, kita menjumpai sebagian nabi ulul azmi Ilahi seperti Nabi Ibrahim As yang sama sekali tidak pernah melakukan dosa sepanjang hidupnya. Allah Swt mengisahkan tuturan Nabi Ibrahim dengan firman-Nya, “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Isma‘il dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar doa dan segala permohonan.” (Qs. Ibrahim [22]:39)

Dengan memperhatikan masalah ini dan selaksa masalah lainnya, tiada seorang pun yang berhak berkata bahwa mereka yang belum atau tidak dikaruniai anak disebabkan oleh dosa-dosa mereka. Apakah (naudzubiLlah) Nabi Ibrahim adalah seorang pendosa sehingga pada masa rentanya baru kemudian dikaruniai anak? Tentu saja tidak demikian. Demikian juga, kebanyakan para hamba saleh Tuhan dan orang-orang budiman yang tidak melakukan dosa sepanjang hayat di kandung badan namun tidak dikaruniai keturunan. Dari sisi lain, kebanyakan orang kafir, para tiran dan penjahat yang kita kenal yang memiliki banyak anak. Karena itu, setiap orang yang dikaruniai anak tidak dapat menjadi dalil atas kebaikan mereka demikian juga orang-orang yang tidak dikaruniai anak adalah petunjuk bahwa mereka adalah para pendosa.

Supaya seorang pasangan (manusia atau selain manusia) dapat melahirkan keturunan dan memiliki anak, bahan-bahan, pendahuluan-pendahuluan, syarat-syarat, sebab-sebab diperlukan sehingga dapat tersedia pada suatu masa tertentu dengan mekanisme dan jarak waktu tertentu sedemikian sehingga apabila dalam silsilah ini, bahkan salah satu darinya yang hilang atau tidak sesuai, maka seorang anak atau anak sehat tidak akan lahir. Karena itu, pasangan yang masih belum dikaruniai keturunan harus mencari dan menyempurnakan mata rantai terputus dari silsilah mata rantai sebab-akibat dan syarat-syarat ini bahkan kalau diperlukan harus berobat secara benar. Boleh jadi masalahnya tertelak pada produksi sperma dan ovum atau kelemahan sperma atau bersumber dari ketidakmampuan fisik wanita mengandung dan membesarkannya dalam rahim atau dari banyak sisi lainnya. Masing-masing dari masalah ini juga memiliki hikmah tersendiri dan masing-masing memiliki cara pengobatannya sendiri-sendiri.

Untunglah hari ini, dengan kemajuan ilmu pengetahuan Kedokteran, sebagian besar masalah infertilitas dan kemandulan pasangan suami-istri telah dapat diatasi dan banyak pasangan suami-istri yang sebelumnya tidak mampu memiliki keturunan kini, alhamdulillah, telah dikaruniai anak-anak. Dan semoga, insya Allah, di masa-masa mendatang, segala penyakit yang hingga kini belum lagi dikenal dapat didiagnosa dan cara penyembuhannya dapat ditemukan. Namun harus diakui bahwa masih banyak hal-hal yang masih bersifat misteri dan tidak dapat diketahui hingga kini.

Namun mengingat bahwa Allah Swt Mahapengasih dan Pemurah kepada seluruh hambanya, menebus kekurangan hamba ini dalam bentuk yang lain. Cukup bagi orang-orang seperti ini bersendirian dengan Tuhan dan merenungkan betapa banyak anugerah dan karunia yang diberikan Allah Swt kepadanya sehingga ia tahu bahwa, “Apabila Allah Swt menutup sebuah pintu, karena beberapa hikmah tertentu, maka gerbang rahmat Ilahi lainnya akan terbuka lebar baginya.”

Sekiranya manusia berpandangan positif atas segala peristiwa dan kenyataan yang ada di sekelilingnya, alih-alih menyesali anugerah yang tidak diperoleh, ada baiknya ia bersyukur atas segala karunia yang ada dan kemudian mengeruk anugerah-anugerah lainnya yang lebih besar dalam kehidupannya. [iQuest]

Untuk telaah lebih jauh silahkan lihat beberapa indeks terkait, “Ujian dan Azab Ilahi dan Tips Untuk Mengenalinya, Pertanyaan 5348 (Site: 5569). Indeks: Syarat-syarat dan Tips Supaya Doa Terkabulkan, Pertanyaan 2145 (Site: 2269)

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits