Advanced Search
Hits
24855
Tanggal Dimuat: 2009/02/18
Ringkasan Pertanyaan
Al-Qur’an ditinjau dari tiga aspek merupakan mukjizat, 1. Lafaz; 2. Kandungan; 3. Pembawanya. Seberapa besar kadar Ilahiah yang ditunjukkan masing-masing dari ketiga sisi ini?
Pertanyaan
Al-Qur’an ditinjau dari tiga aspek merupakan mukjizat, 1. Lafaz; 2. Kandungan; 3. Pembawanya. Seberapa besar kadar Ilahiah yang ditunjukkan masing-masing dari ketiga sisi ini?
Jawaban Global
Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda memilih jawaban detil
Jawaban Detil

Secara umum, sebagian aspek kemukjizatan (i’jaz) menunjukkan bahwa al-Qur’an tidak pada zaman pewahyuannya, tidak pada zaman lainya, tidak dapat bersumber dari selain-Nya dan hanya bersumber dari Tuhan. Sebagaimana kemukjizatan kefasihan al-Qur’an tidak terkhusus pada ruang dan waktu tertentu maka jenis kemukjizatan ini tidak dapat dilakukan oleh siapa saja, tidak pada masa pewahyuannya juga tidak di masa akan datang. Namun dari sebagian aspek kemukjizatan al-Qur’an menunjukkan bahwa pada masa itu al-Qur’an tidak dapat bersumber dari selain Tuhan, seperti aspek kedua, dimensi kemukjizatan kandungan al-Qur’an (dengan asumsi seluruh ilmu dan pengetahuan al-Qur’an sekarang juga telah dikenal dan dapat diakses oleh seluruh manusia).

Dari sisi lain, sebagian aspek ini terkait dengan masalah tipologi pembawanya. Artinya bahwa baik pada masa lampau, masa kini atau masa datang, pembawanya yang tidak pernah mengenyam pendidikan tidak mampu membawa kitab semacam ini, sementara pada sebagian dimensi kemukjizatan al-Qur’an diperkenalkan sebagai mukjizat sejarah untuk setiap masa, seluruh semesta, pada setiap ruang dan waktu, sedemikian sehingga selamanya tidak seorang pun manusia yang mampu menghadirkan kitab semacam ini.

Kini mari kita saksikan seberapa besar kadar keilahiaan al-Qur’an dapat dibuktikan dan ditetapkan dari masing-masing tiga dimensi kemukjizatan.

Kemukjizatan dari sudut pandang pembawanya hanya dapat menetapkan bahwa kandungan al-Qur’an berasal dari sisi Tuhan, adapun persoalan bahwa lafaz-lafaz bersumber darinya tidak dapat dibuktikan dan tetapkan.[1]

Apabila disebutkan bahwa Nabi Saw tidak dapat menghadirkan lafaz-lafaz ini dari sisinya, atau redaksi-redaksi sedemikian ia gunakan, maka lafaz-lafaz dan redaksi serta susunannya juga bercorak Ilahi, kita akan berkata bahwa masalah ini kembali kepada permasalahan kefasihan dan elokuensi al-Qur’an yang sejatinya adalah kemukjizatan elokuensi al-Qur’an. Lalu kesimpulannya ia tidak dapat dipandang sebagai kemukjizatan dari aspek pembawanya. Kecuali diklaim bahwa kendati kita tidak dapat menetapkan bahwa kefasihan tersebut mustahil bersumber selain dari Tuhan, namun setidaknya, bagi Rasulullah Saw hal sedemikian mustahil adanya.

Dengan bersandar kepada aspek ini dapat kita ambil kesimpulan bahwa lafaz-lafaz, redaksi-redaksi dan susunan-susunan al-Qur’an juga bersumber dari Allah Swt.

Empat aspek yang disebutkan terkait kemukjizatan kandungan al-Qur’an,[2] yang dapat ditetapkan hanyalah corak Ilahianya kandungan al-Qur’an.

Namun aspek kemukjizatan lafaz al-Qur’an ini – kemukjizatan elokuensi dan bilangan – menetapkan bahwa lafaz-lafaz dan susunan-susunan al-Qur’an juga bersumber dari Allah Swt.[3]

Demikian juga corak Ilahiahnya sebagian ayat yang bertautan satu dengan yang lain dan sejatinya yang membentuk satu struktur dapat ditetapkan. Di samping itu, bagaimana dapat dibuktikan dan ditetapkan bahwa pengumpulan ayat-ayat al-Qur’an secara berurutan (meski tidak memiliki satu struktur) dan mengemukanya surah-surah, dan juga pengumpulan dan kemunculan al-Qur’an yang kini ada di tangan kita adalah berasal dari Tuhan?

Jawaban dari pertanyaan ini biasanya mengedepan pada pembahasan yang disebut sebagai “sejarah al-Qur’an.”[4] Sebagian Ahlussunnah dan kebanyakan kaum orientalis mengklaim poin ini bahwa pengumpulan ayat-ayat dan munculnya surah-surah, dan pengumpulan surah-surah serta munculnya al-Qur’an yang kini ada di tangan kita dilakukan setelah wafatnya Nabi Saw.[5][]

Referensi untuk kajian lebih jauh :

Mahdi Hadavi Tehrani, Mabâni Kalâmi Ijtihâd



[1]. Sebagian orang juga menerima ucapan ini dan berkata: "Kendati kandungan al-Qur'an bersumber dari Tuhan (bercorak Ilahi) namun lafaz-lafaznya berasal dari Nabi Saw sendiri. Padahal ulama Islam semenjak dahulu hingga sekarang meyakini bahwa perbedaan antara hadis Qudsi dan al-Qur'an terdapat pada poin ini dimana kandungan hadis Qudsi berasal dari Tuhan dan lafaz-lafaznya dari manusia, Nabi Muhammad Saw. Sementara al-Qur'an lafaz-lafaznya juga bersumber dari Tuhan.

[2]. Lihat indeks Kemukjizatan al-Qur'an.

[3]. Barangkali sebab penegasan ulama kita, semenjak dahulu hingga sekarang, terkait dengan kemukjizatan elokuensi al-Qur'an adalah mereka melihat terangnya petunjuknya.

[4]. Sebagai contoh Anda dapat merujuk kepada kitab-kitab seperti, Abu Abdillah Zenjani, Târikh al-Qur'ân; Mahmud Ramyar, Târikh-e Qur'ân; Sayid Muhammad Baqir Hujjati, Pazuhesy dar Târikh Qur'ân; Sayid Muhammad Ridha Jalali Na'ini, Târikh-e Jam'e Qur'ân Karim.

[5]. Lihat, indeks Pengumpulan Qur'an, dan Mahdi Hadavi Tehrani, Mabani Kalami Ijtihad, hal. 52-53, Muassasah Farhangi Khane-ye Kherad, Qum, cetakan pertama, 1377 S 

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Apakah yang dimaksud dengan manusia diuji dengan kekurangan harta (kekurangan hasil panen)?
    13626 Ujian dan Cobaan Ilahi 2015/07/23
    Sebagian mufassir berkeyakinan bahwa yang dimaksud dengan kekurangan harta adalah hilangnya buah-buahan, kekurangan lahan pertanian dan pohon-pohonan. Kaum Mukminin dikarenakan sibuk dalam berperang dan berjihad dengan musuh maka mereka kewalahan dalam mengurus lahan pertanian dan kebunnya atau karena adanya hama atau bencana alam sehingga menyebabkan tiadanya hasil ...
  • Bagaimana seseorang yang selama hidupnya berada dalam kesesatan dan dosa, namun melalui perantara kebaikan dan doa orang lain, tiba-tiba kondisinya berubah di akhirat meski tanpa peran langsungnya?
    18512 Teologi Lama 2009/11/10
    Permasalahan yang menjadi pertanyaan ini tidak dapat diterima seratus persen dan juga tidak dapat ditolak seratus persen, melainkan bergantung pada jenis dosa yang dilakukan dan siapa pelakunya.  Seperti misalnya pelaku dosa syirik, yang tidak sedikitpun akan mendapatkan ampunan. Begitu juga dengan dosa yang  berkaitan dengan "hak-hak manusia" (haqqunnas)  tidak ...
  • Apa hukumnya jual-beli barang-barang yang keuntungannya digunakan untuk mendukung Zionisme?
    4843 Transaksi dengan Non-Muslim dan Lembaga-lembaga Non-Islam 2012/09/08
    Imam Khomeini Qs dan para Marja Agung taklid lainnya berkata, “Wajib bagi setiap Muslim untuk tidak membeli dan menggunakan barang-barang yang keuntungan produksi dan belanjanya disalurkan ke para zionis yang memerangi Islam dan kaum Muslimin.” Demikian juga wajib bagi setiap orang untuk tidak mengimpor dan mendistribusi barang-barang ...
  • Apakah masalah ini ada benarnya? Tatkala Dajjal muncul para pendukungnnya adalah orang-orang yang mencintai Utsman?
    4621 Teologi Lama 2010/06/07
    Dengan mengkaji dalam kitab-kitab riwayat Syiah dan Sunni, kesimpulan yang dapat ditarik adalah bahwa riwayat yang menyebutkan “In kharaja al-Dajjal taba’ahu man kana yuhibbu Utsman.” (Tatkala Dajjal muncul maka para pendukungnnya adalah 0raong-orang yang mencintai Utsman) yang termaktub dalam kitab Mizân al-I’tidâl yang merupakan salah satu kitab ...
  • Apa perbedaan antara wilâyah fakih mutlak dan wilâyah fakih?
    5486 Hukum dan Yurisprudensi 2009/08/09
    Kekuasaan-kekuasaan wali fakih dapat dikaji dalam dua poros sebagai berikut:Wali fakih memiliki wilâyah atas orang-orang.Wali fakih memiliki penguasaan/wewenang atas pelbagai urusan.Apabila kekuasaan wali fakih kita pandang tidak terbatas pada beberapa orang tertentu (seperti orang gila, anak yatim dan sebagainya) dan wewenangnya tidak terbatas pada ...
  • Apa yang menjadi falsafah berkurban di musim haji?
    6073 Hukum dan Yurisprudensi 2011/12/03
    Seluruh instruksi dan hukum Islam ditetapkan berdasarkan hikmah atau hikmah-hikmah yang sangat subtil dan berguna bagi umat manusia. Di antara instruksi dan hukum Islam yang hukumnya wajib bagi para haji pada hari raya Idul Adha di padang Mina adalah berkurban. Sebagian hikmah berkurban pada musim haji adalah ...
  • Bagaimana manusia bisa sampai pada kesempurnaan?
    8735 Akhlak Praktis 2009/09/22
    1.     Jawaban untuk pertanyaan di atas bisa diklasifikasikan dalam empat bahasan, yaitu: a. Definisi dari kata "sempurna" dan perbedaannya dengan kata "lengkap"; b. Kesempurnaan manusia; c. Kesempurnaan manusia dari perspektif Islam; dan d. Jalan ...
  • Apakah orang biasa dapat menjadi maksum atau tidak?
    9331 Teologi Lama 2009/05/10
    “Kemaksuman” yang bermakna keterjagaan dari perbuatan dosa dan kelupaan memiliki tingkatan-tingkatan. Tingkatan tertinggi kemaksuman hanya dikhususkan untuk para Nabi dan para wasi mereka. Kemaksuman bagi mereka dapat ditetapkan dengan argumen al-Quran, hadis dan pelantikan mereka sebagai “khalifatullah” untuk memimpin manusia. Adapun kemaksuman bagi selain mereka, meskipun dalam ...
  • Apa hukumnya bagi orang yang sedang junub dan haid ketika membaca al-Qur’an?
    7199 Akhlak Praktis 2010/11/11
    Tidak diharamkan bagi seorang junub dan haid membaca al-Qur’an. Hanya saja dimakruhkan bagi seorang junub untuk membaca al-Qur’an lebih dari tujuh ayat dari surah-surah yang tidak ada kewajiban sujud di dalamnya.[1] Demikian juga makruh hukumnya bagi seorang wanita haid membaca al-Qur’an.[2]
  • Apa yang dimaksud dengan fajar sadik dan fajar kazib?
    16702 Hukum dan Yurisprudensi 2010/01/09
    Fajar sadik dan fajar kazib keduanya merupakan terminologi fikih-astronomi yang dimaksud dari keduanya adalah waktu-waktu khusus pada waktu dini hari. Subuh (fajar) kazib tiba seiring dengan datangnya cahaya putih pada bagian Timur bumi. Pada waktu ini shalat subuh tidak dapat dikerjakan. Masa tibanya subuh (fajar) sadik adalah ...

Populer Hits