Advanced Search
Hits
8343
Tanggal Dimuat: 2012/03/14
Ringkasan Pertanyaan
Apakah hadis-hadis kitab al-Kâfi dapat dijadikan sebagai ulasan dan tafsir ayat-ayat al-Qur’an?
Pertanyaan
Bukankah orang-orang Syiah berkata kebanyakan riwayat-riwayat yang dinukil dalam kitab al-Kâfi tergolong sebagai riwayat-riwayat dhaif (lemah) dan kita tidak memiliki kitab sahih selain al-Qur’an? Kalau memang demikian lantas mengapa mereka berdusta dengan menyebut al-Kâfi adalah ulasan dan tafsir al-Qur’an sementara mereka sendiri berkata bahwa kebanyakan riwayat-riwayatnya adalah riwayat-riwayat lemah?
Jawaban Global

Muhaddis (ahli hadis) besar Muhammad bin Ya’qub Kulaini Ra adalah salah seorang fakih besar Syiah dan ahli hadis Syiah Imamiyah yang paling dapat dipercaya. Beliau hidup pada masa ghaibat sughra Imam Mahdi Ajf dan penyusun kitab al-Kâfi.

Atas dasar itu kebanyakan riwayat-riwayatnya memiliki nilai konsideran yang tinggi (baca: sahih). Meski sebagaimana kumpulan riwayat-riwayat lainnya sebagian riwayat-riwayat dalam al-Kâfi juga memiliki konsideran yang rendah (baca: dhaif).

Sesuai dengan pandangan Syiah dan Sunni, terdapat banyak hadis sahih dari Rasulullah Saw dan para Imam Maksum As pada kitab-kitab riwayat yang kebanyakan merupakan ulasan dan tafsiran ayat-ayat al-Qur’an. Kebanyakan hadis-hadis al-Kâfi juga berada pada tataran menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an.

Jawaban Detil

Untuk menjawab pertanyaan ini pertama-tama kami akan menjelaskan secara ringkas tentang al-Kâfi kemudian membahas tentang standar riwayat-riwayat yang termaktub di dalamnya.

 

Identitas dan Signifikansi Kitab al-Kâfi

Penyusun kitab ini adalah muhaddis (ahli hadis) besar Muhammad bin Ya’qub Kulaini Ra yang merupakan salah seorang pembesar fakih Syiah dan yang paling dapat diandalkan (muatstsaq) sebagai ahli hadis Syiah yang hidup pada masa ghaibat sughra Imam Zaman Ajf dan sebelum wafatnya deputi khusus terakhir Imam Mahdi Ajf yang meninggal dunia pada tahun 328 H.

Kitab ini sendiri merupakan sebuah ensiklopedi dan terdiri dari beberapa jilid. Kitab al-Kâfi merupakan salah satu kitab terpenting riwayat Syiah dan salah satu dari empat kitab (kutub al-arba’ah) primer Syiah (al-Kâfi, Tahdzib al-Ahkâm, al-Istibshâr, Man Lâ Yahdhuruhu al-Faqih) adalah himpunan hadis-hadis yang dikumpulkan oleh mendiang Kulaini Ra sepanjang dua puluh tahun lamanya. Kitab ini mencakup riwayat-riwayat dari Rasulullah Saw dan Ahlulbait Nabi As. Dalam kitab tersebut disebutkan pelbagai pengetahuan dan ajaran Islam. Kitab ini disuguhkan dengan sistematika yang apik.

Kitab ini terdiri dari tiga bagian: Ushûl al-Kâfi, Furu’ al-Kâfi dan Raudhah al-Kâfi. Metode yang diterapkan oleh Kulaini Ra dalam kitab al-Kâfi adalah dengan menyebutkan seluruh silsilah sanad hadis secara utuh. Meski, terkadang beliau tidak menyebutkan silsilah sanad hadis pada awal-awalnya dan hal itu disebabkan oleh karena pada sanad riwayat-riwayat sebelumnya telah disebutkan.

Mengingat bahwa kitab al-Kâfi ini memiliki jarak minimal dengan sumber-sumber primer dan standar Syiah dan langsung mengambil darinya, maka ia memiliki tingkat akurasi yang tinggi. Di samping itu memiliki konsideran khusus di kalangan Syiah sepanjang lebih dari ribuan tahun lamanya senantiasa mendapatkan perhatian khusus ulama dan fukaha Syiah. Ulama Syiah senantiasa menjadikan al-Kâfi sebagai sandara dalam buku-buku mereka. 

Syahid al-Tsani Ra berkata, “Hadis-hadis al-Kâfi lebih banyak dari kumpulan hadis-hadis Shihah Sittah (enam kitab hadis) Ahlusunnah, karena jumlah hadis al-Kâfi terdiri dari 16199 dan kumpulan hadis-hadis Shihah Sittah sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Ibnu Atsir dalam Jâmi’ al-Ushûl-nya adalah terdiri dari 9483 hadis.[1]

Ucapan-ucapan dan tuturan-tuturan ulama Syiah terkait dengan standarnya kitab ini dan hadis-hadis yang termaktub di dalamnya lebih rinci daripada apa yang dapat diungkapkan dalam tulisan pendek ini. Di sini kami hanya akan menyebutkan beberapa dari ucapan ulama tersebut sebagai berikut:

Syaikh Mufid, sehubungan dengan kitab ini, berkata, “Al-Kâfi merupakan kitab terbaik dan paling berguna di antara kitab-kitab Syiah.”[2]

Muhammad bin Makki yang lebih dikenal sebagai Syahid al-Awwal Ra terkait dengan kitab al-Kâfi berkata, “Kitab al-Kâfi dalam hadis merupakan sebuah kitab yang tidak ada duanya dalam Syiah.”[3]

Allamah Faidh Kasyani Ra berkata, “Al-Kâfi merupakan kitab riwayat yang paling berharga, paling meyakinkan, paling sempurna dan paling inklusif di antara kitab-kitab Syiah karena mencakup seluruh prinsip (ushul) dan kosong dari pelbagai tambahan.”[4]

Allamah Majlisi Ra berkata, “Kitab al-Kâfi merupakan kitab yang paling sempurna dan paling lengkap di antara kitab-kitab ushul dan kitab terbesar dan terbaik di antara kitab-kitab yang telah ditulis dalam Syiah.”[5]

Kesimpulan dari beberapa ucapan ulama besar ini adalah bahwa dikenal dalam Syiah bahwa kebanyakan para periwayat al-Kâfi memiliki tingkat konsideran yang tinggi (baca: sahih). Meski sebagaimana kitab himpunan riwayat yang lain juga memiliki periwayat yang tingkat konsiderannya rendah (baca:dhaif).

Syiah meyakini bahwa satu-satunya kitab yang dapat diandalkan dan dijadikan sebagai nara-sumber utama segala yang disampaikannya adalah al-Qur’an. Selesai.

Hanya saja kita tidak boleh lantaran sebagian riwayat lemah yang dapat diidentifikasi dengan kriteria-kriteria yang terdapat dalam ilmu Rijal kita kemudian menafikan riwayat-riwayat standar. Kitab al-Kâfi adalah kitab yang kebanyakan riwayatnya adalah riwayat standar. Apakah ada masalah bahwa kebanyakan riwayat standar ini menjelaskan, mengurai dan menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an, sebagiamana sesuai dengan pendapat Syiah dan Sunni, hadis-hadis standar lainnya dari Rasulullah Saw dan para Imam Maksum As dalam kumpulan-kumplan riwayat yang kebanyakan menjelaskan, mengurai dan menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an..

Jelas bahwa hadis-hadis standar ini merupakan sebaik-baik jalan untuk menafsirkan al-Qur’an karena Rasulullah Saw dan Ahlulbaitnya As merupakan orang yang paling mengetahui Kitabullah dan ajaran-ajarannya. [iQuest]

 

 


[1]. Al-Madkhal ila ‘Ilm al-Rijâl wa al-Dirâyah, hal. 138.  

[2]. Software Dirâyat al-Nûr.

[3]. Bihâr al-Anwâr, jil. 25, hal. 67.  

[4]. Bihâr al-Anwâr, jil. 25, hal. 67.  

[5]. Mir’ât al-‘Uqûl, jil. 1, hal. 3.

 

 

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits