Advanced Search
Hits
8683
Tanggal Dimuat: 2011/09/20
Ringkasan Pertanyaan
Sebagian orang yang menjalani program sair dan suluk irfani mengklaim bahwa manusia dengan berdzikir maka ia tidak lagi harus berwudhu atau mandi ketika ingin mengerjakan salat. Apakah hal seperti ini dapat dibenarkan?
Pertanyaan
Sebagian yang menjalani program sair dan suluk mengklaim bahwa manusia dengan berdzikir dapat sampai pada makam thahir (suci) sehingga tidak lagi memerlukan lagi wudhu atau ghusl (mandi) untuk mengerjakan shalat. Apakah hal seperti ini dapat dibenarkan?
Jawaban Global

Sampainya seseorang pada maqam tinggi irfan tidak dapat menjadi dalil bahwa ia tidak lagi harus mengerjakan ibadah-ibadah lahir. Dengan mengkaji kehidupan para nabi dan para imam, yang tentu saja tiada seorang pun yang dapat mengklaim lebih unggul dari mereka, kita saksikan bahwa mereka senantiasa mengerjakan ibadah-ibadah lahir ini dalam bentuk terbaik dan mereka menganjurkan umatnya untuk melakukan hal yang sama bahkan termasuk pekerjaan-pekerjaan mustahab (yang dianjurkan dan berbuah pahala).

Jawaban Detil

Untuk menyempurnakan ucapan Anda harus dikatakan bahwa sebagaimana orang-orang yang mengklaim keabsahan salat tanpa wudhu terdapat orang lain yang mengklaim bahwa dengan sampainya ia pada tingkatan tertinggi irfan (hakiki) maka ia tidak lagi perlu mengerjakan salat . Tentu hal ini melebihi dari sekedar wudhu atau tanpa wudhu untuk mengerjakan salat .

Nah untuk menjawab pertanyaan Anda, pertama-tama kami ingin mengajukan dua pertanyaan yang berbeda! Pertama, apakah para nabi dan imam As telah sampai pada maqam yang Anda sebut sebagai maqam th â hir [1] atau tidak?

Kedua, apakah dengan bersandar pada literatur, Anda telah pernah mempelajari satu tingkatan dari kehidupan mereka yang mengisahkan bahwa orang-orang besar ini meninggalkan ibadah-ibadah lahir seperti wudhu dan mandi (ghusl)? Anggaplah bahwa orang yang memberikan jawaban adalah seorang Muslim yang meyakini al-Qur’an dan riwayat-riwayat, jawabannya terhadap pertanyaan pertama adalah positif (iya). Dan jawabannya atas pertanyaan kedua adalah negatif. Dan setiap kaum Muslimin yang mengklaim sebaliknya harus membeberkan jawaban yang bersandar pada literatur yang dapat dipertahankan dari literatur-literatur standar Islam baginya. Dan kami memohon apabila Anda mendapatkan literatur tentang hal tersebut tolong Anda sebutkan sehingga kami dapat menggunakannya sebagai referensi.

Untuk menjelaskan lebih jauh atas masalah ini harus dikatakan bahwa kendati di kalangan kaum Muslmiin jelas dan terang bahwa Rasulullah Saw telah sampai pada ma q a m dan tingkatan tertinggi dan terunggul irfani namun pertanyaan kami adalah apakah mungkin seseorang yang belum sampai pada maqam seperti ini namun demikian Allah Swt memperkenalkan beliau sebagai sebaik-baik teladan (uswah) [2] dan menugaskan orang-orang beriman tanpa tedeng aling-aling untuk mentaati perintah-perintah dan larangan-larangannya. [3]

Dari satu sisi, kita tahu bahwa orang-orang yang melontarkan klaim-klaim seperti ini, apa pun dalilnya yang boleh jadi salah satu dari dalil tersebut adalah adanya ketakutan dari reaksi negatif dari para pengikutnya; tentu tidak memandang diri mereka lebih unggul daripada para nabi dan imam dan hanya mengungkapkan bahwa kami telah sampai pada satu titik subtil yang tidak mampu dicapai oleh orang lain!

Ada baiknya kita menyebutkan hal ini bahwa kita tidak mengingkari bahwa Allah Swt menganugerahkan kepada sebagian orang kemampuan khusus karena penghambaan mereka secara tulus, namun karena hanya Tuhan yang mengetahui pada hakikatnya siapa saja yang tersesat dan siapa saja yang berjalan di jalan lurus [4] maka untuk menerima ucapan-ucapan sebagian orang kita harus mencocokkannya dengan al-Qur’an dan Sunnah dan apabila tidak sesuai maka kita harus berpikir dua kali untuk menerimanya.

Dalam hal ini, harus kita ketahui bahwa sepanjang perjalanan sejarah, terdapat kesimpulan-kesimpulan yang diambil secara keliru dari agama yang kebanyakan dari kesimpulan tersebut adalah kesimpulan personal dari pengetahuan-pengetahuan agama sehingga sebagian orang, setelah mengemukakan sebuah teori, mereka tidak mau repot-repot   memikirkan apakah teori tersebut se laras dengan hal-hal pasti yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah.

Penyimpangan-penyimpangan seperti ini terkadang menunjukkan dirinya pada hal-hal ritual (sebagaimana yang Anda kemukakan dalam pertanyaan) dan terkadang pada bidang-bidang ekonomi dan juga pada bidang-bidang lainnya.

Adapun sekaitan dengan apakah taklif wudhu dan ghusl (mandi) akan gugur ketika seseorang telah sampai pada maqam th â hir harus kami katakan bahwa kami dengan bersandar pada literatur-literatur standar agama meyakini keharusan dari dua amalan ini.

Nah ketika seseorang mengemukakan sebuah persoalan kepada kita bahwa kita dapat meninggalkan wudhu dan mandi pada beberapa kondisi tertentu misalnya setelah sampai pada maqam thah â rat (kesucian) maka d alam kondisi ini kita harus meminta dia untuk menjelaskan dalil-dalil kepercayaan ini dan mengemukakannya di hadapan para ahli agama untuk mencari tahu benar atau salahnya kepercayaan ini. Pada masalah terkait, Anda hanya mengemukakan klaim orang tersebut namun tidak menjelaskan dalil atas klaim tersebut .

Sekarang tiba gilirannya kita mengkaji klaim ini dengan meninjau secara selintasan literatur-literatur Islam dalam masalah ini:

Dari satu sisi harus kita ketahui bahwa kesucian lahir seseorang akan berpengaruh secara langsung terhadap kesucian batinnya sebagaimana yang kita baca pada ayat 11 surah al-Anfal yang turun berkenaan dengan perang Badar, “ (Ingatlah) ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman dari-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikanmu dengan hujan itu dan menghilangkan darimu gangguan-gangguan setan (kesucian batin).”  

D ari satu sisi juga harus dikatakan bahwa sesuai dengan ayat-ayat dan riwayat-riwayat, setiap orang beriman akan sampai pada satu derajat spritual dan tidak ada yang namanya maq â m th â hir yang menyebabkan gugurnya kewajiban lahir seorang Muslim.

Karena itu, tiada seorang pun hamba mukmin yang najis sehingga wudhu dapat menghilangkan kenajisan batinnya. Mengutip sabda Imam Shadiq As, “Wudhu merupakan sebuah taklif dari taklif-taklif yang dianugerahkan Tuhan sehingga dengan perantara wudhu orang-orang taat dan bermaksiat akan dikenali dan tiada satu pun yang dapat menajiskan seorang beriman.” [5]

Silahkan Anda cermati riwayat ini. Imam Shadiq As menjelaskan bahwa tiada satu pun yang menajiskan orang beriman meski kita tahu bahwa dalam kebanyakan urusan badan dan raga orang-orang beriman akan menjadi najis dengan najis-najis lahir. Berdasarkan hal ini, sabda Imam Shadiq dalam riwayat ini adalah berkenaan dengan najis batin. Artinya setiap mukmin dengan imannya akan sampai pada maqam kesucian spiritual dan berdasarkan hal ini, wudhu tidak diwajibkan baginya untuk menyingkirkan kenajisan spiritualnya . Wudhu sebuah taklif terpisah yang dimaksudkan untuk menguji manusia dan hingga saat ini tetap diwajibkan dan tidak ada kaitannya dengan takaran kesucian spiritual manusia.

Boleh jadi dengan dalil syubha ini seseorang bernama Hasan bin Ubaid menulis surat kepa d a Imam Shadiq As dan dalam surat itu ia bertanya bahwa Amirul Mukminin Ali As memandikan (mandi jenazah) Rasulullah Saw pasca wafatnya apakah beliau sendiri melalukan mandi (karena telah menyentuh jenazah)? Imam Keenam mengetahui poin yang terkandung dalam pertanyaan tersebut dan menjawab demikian, “Rasulullah Saw di samping suci (th â hir ) juga mensucikan (muthahhir) yang lain. Namun demikian, Amirul Mukminin Ali As tetap mandi dan juga sunnah atas mandi seperti ini diberlakukan.” [6]

Kita saksikan bahwa meski Rasulullah Saw atau pun Amirul Mukminin Ali As berada pada tingkat tertinggi maqam kesucian namun Imam Ali As untuk mentaati titah Allah Swt, di samping beliau memandikan Rasulullah Saw dan juga mandi setelah itu. Beliau tidak mengklaim bahwa karena telah sampai pada maqam tertinggi maka keduanya tidak lagi perlu mandi.

Dalam kitab-kitab riwayat dan sejarah kaum Muslimin, baik Syiah dan Sunni; kita jumpai banyak hal tentang wudhu, mandi (ghusl) dan tayammum Rasulullah Saw, para Imam Maksum As dan para sahabatnya yang tidak mungkin dijelaskan semuanya di sini .   Setelah merujuk pada literatur-literatur standar, k ita tidak menemukan satu pun riwayat atau kisah sejarah yang mengisahkan bahwa mereka meninggalkan amalan-amalan ini.

Terlepas dari masalah ini, apakah Anda pernah berpikir bahwa dalam klaim tersebut (yang boleh jadi tidak ada sandarannya ) terdapat tipologi apa yang terpendam yang dengan bersandar padanya kita melanggar perintah-perintah tegas Allah Swt dan Rasulullah Saw dalam al-Qur’an dan riwayat-riwayat?  

Berdasarkan hal ini, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa beramal pada instruksi-instruksi Islam adalah wajib bagi semua dan kita tidak dapat menerima klaim seperti ini. Namun demikian apabila seseorang melontarkan klaim seperti ini mengemukakan dalil tertentu kepada Anda, dengan mengirimkan dalil tersebut ke site ini atau merujuk kepada para pakar agama Anda dapat mengkajinya kemudian.

Dalam pada itu, untuk telaah lebih jauh terkait dengan tipologi-tipologi irfan Islam Anda dapat merujuk pada dua pertanyaan 1223 (Site: 1220) dan 6124 (Site: 6337) pada site ini . [IQuest]



[1] . Maqam ini disebut sebagai maqam sakar di kalangan para arif sebagai lawan dari orang-orang yang meyakini “shaw” (mengamalkan syariat dengan cermat dan teliti ).

 

[2] . Sesungguhnya pada (diri) Rasulullah itu terdapat suri teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.   (Qs. Al-Ahzab [33]:21)

[3] . Apa yang diberikan rasul kepadamu, maka terimalah dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah .” (Qs. Al-Hasyr [59]:7)

[4] . Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.   (Qs. Al-Najm [ 53 ]:30)

[5] . Muhammad bin al-Hasan, Hurr al-Amili, Was â il al-Syiah , jil. 1, hal. 484, Riwayat 1282, Muassasah Ali al-Bait, Qum, 1409 H.

[6] . Ibid , jil. 3, hal. 291, Riwayat 3677.

 

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits

  • Ayat-ayat mana saja dalam al-Quran yang menyeru manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya?
    260147 Tafsir 2013/02/03
    Untuk mengkaji makna berpikir dan berasionisasi dalam al-Quran, pertama-tama, kita harus melihat secara global makna “akal” yang disebutkan dalam beberapa literatur Islam dan dengan pendekatan ini kemudian kita dapat meninjau secara lebih akurat pada ayat-ayat al-Quran terkait dengan berpikir dan menggunakan akal dalam al-Quran. Akal dan pikiran ...
  • Apakah Nabi Adam merupakan orang kedelapan yang hidup di muka bumi?
    245831 Teologi Lama 2012/09/10
    Berdasarkan ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini. Kedua: Sebelum Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia ...
  • Apa hukumnya berzina dengan wanita bersuami? Apakah ada jalan untuk bertaubat baginya?
    229709 Hukum dan Yurisprudensi 2011/01/04
    Berzina khususnya dengan wanita yang telah bersuami (muhshana) merupakan salah satu perbuatan dosa besar dan sangat keji. Namun dengan kebesaran Tuhan dan keluasan rahmat-Nya sedemikian luas sehingga apabila seorang pendosa yang melakukan perbuatan keji dan tercela kemudian menyesali atas apa yang telah ia lakukan dan memutuskan untuk meninggalkan dosa dan ...
  • Ruh manusia setelah kematian akan berbentuk hewan atau berada pada alam barzakh?
    214496 Teologi Lama 2012/07/16
    Perpindahan ruh manusia pasca kematian yang berada dalam kondisi manusia lainnya atau hewan dan lain sebagainya adalah kepercayaan terhadap reinkarnasi. Reinkarnasi adalah sebuah kepercayaan yang batil dan tertolak dalam Islam. Ruh manusia setelah terpisah dari badan di dunia, akan mendiami badan mitsali di alam barzakh dan hingga ...
  • Dalam kondisi bagaimana doa itu pasti dikabulkan dan diijabah?
    175843 Akhlak Teoritis 2009/09/22
    Kata doa bermakna membaca dan meminta hajat serta pertolongan.Dan terkadang yang dimaksud adalah ‘membaca’ secara mutlak. Doa menurut istilah adalah: “memohon hajat atau keperluan kepada Allah Swt”. Kata doa dan kata-kata jadiannya ...
  • Apa hukum melihat gambar-gambar porno non-Muslim di internet?
    171207 Hukum dan Yurisprudensi 2010/01/03
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Apakah praktik onani merupakan dosa besar? Bagaimana jalan keluar darinya?
    167606 Hukum dan Yurisprudensi 2009/11/15
    Memuaskan hawa nafsu dengan cara yang umum disebut sebagai onani (istimna) adalah termasuk sebagai dosa besar, haram[1] dan diancam dengan hukuman berat.Jalan terbaik agar selamat dari pemuasan hawa nafsu dengan cara onani ini adalah menikah secara syar'i, baik ...
  • Siapakah Salahudin al-Ayyubi itu? Bagaimana kisahnya ia menjadi seorang pahlawan? Silsilah nasabnya merunut kemana? Mengapa dia menghancurkan pemerintahan Bani Fatimiyah?
    157668 Sejarah Para Pembesar 2012/03/14
    Salahuddin Yusuf bin Ayyub (Saladin) yang kemudian terkenal sebagai Salahuddin al-Ayyubi adalah salah seorang panglima perang dan penguasa Islam selama beberapa abad di tengah kaum Muslimin. Ia banyak melakukan penaklukan untuk kaum Muslimin dan menjaga tapal batas wilayah-wilayah Islam dalam menghadapi agresi orang-orang Kristen Eropa.
  • Kenapa Nabi Saw pertama kali berdakwah secara sembunyi-sembunyi?
    140501 Sejarah 2014/09/07
    Rasulullah melakukan dakwah diam-diam dan sembunyi-sembunyi hanya kepada kerabat, keluarga dan beberapa orang-orang pilihan dari kalangan sahabat. Adapun terkait dengan alasan mengapa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi pada tiga tahun pertama dakwahnya, tidak disebutkan analisa tajam dan terang pada literatur-literatur standar sejarah dan riwayat. Namun apa yang segera ...
  • Kira-kira berapa usia Nabi Khidir hingga saat ini?
    133678 Sejarah Para Pembesar 2011/09/21
    Perlu ditandaskan di sini bahwa dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tegas nama Nabi Khidir melainkan dengan redaksi, “Seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Qs. Al-Kahfi [18]:65) Ayat ini menjelaskan ...