Advanced Search
Hits
11658
Tanggal Dimuat: 2011/12/17
Ringkasan Pertanyaan
Dalam perjalanan menuju Allah, hijab-hijab nurâni yaitu para Imam maksum menjadi penyebab melambungnya manusia menuju Allah? Seberapa penting jarak kedekatan kepada mereka dalam perjalanan menuju Allah ini?
Pertanyaan
Dalam perjalanan menuju Allah, hijab-hijab nurâni yaitu para Imam maksum menjadi penyebab melambungnya manusia menuju Allah? Seberapa penting jarak kedekatan kepada mereka dalam perjalanan menuju Allah ini?
Jawaban Global

Redaksi hijab nurâni (cahaya) yang dapat disaksikan pada ungkapan-ungkapan irfani bermakna dari setiap tingkatan dalam pelbagai tingkatan sair dan suluk ruhani dimana persinggahan seorang salik (pejalan) pada salah satu tingkatan ini bermakna halangan dan rintangan untuk menanjak ke tingkatan-tingkatan yang lebih tinggi; sejatinya segala jenis perhatian mandiri terhadap pelbagai faktor penyempurna spiritual disebut sebagai hijab nurâni (cahaya).

Jelas bahwa penyebutan hijab-hijab nurâni atas para Imam maksum dalam artian ini mengandung makna negatif; dan tidak dapat dikatakan bahwa para Imam maksum di samping merupakan hijab-hijab nurâni juga merupakan faktor penyebab melambungnya dan menanjaknya manusia naik ke jenjang-jenjang yang lebih tinggi.

Hanya saja harap dicermati bahwa dalam riwayat-riwayat disebutkan atas nama-nama dan sifat-sifat Ilahi atau entitas Rasulullah Saw dan lain sebagainya sebagai hijab nurâni. Tentu saja secara prinsip tidak mengandung makna negatif yang menjadi sorotan riwayat semacam ini. Melainkan yang dimaksud adalah bahwa mereka adalah ayat-ayat yang menunjukkan Kebenaran (Haq) dan sebab kesempurnaan, ““Setiap kali kilat itu menyinari (jalan) mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan apabila kegelapan menimpa mereka, mereka berhenti.” (QS. Al-Baqarah [2]: 20)

Namun bagaimanapun manifestasi (tajalli) dan penampakan cahaya mutlak Ilahi karena intensitas dan kekuatan, tidak mungkin dapat terjadi tanpa melintasi hijab-hijab ini, dan di samping itu terdapat entitas-entitas lainnya karena infirmitas (dha’f) dan ketidakmampuan tanpa perantara atau perantara-perantara tidak mampu mencerap dan memahami cahaya mutlak. Sehinga dengan demikian, mereka harus menanjak dan melambung melalui kanal eksistensial nama-nama dan sifat-sifat, Rasulullah Saw dan Ahlulbait As. Oleh karena itu, mereka dapat disebut sebagai hijab tanpa mengandung makna negatif sebagaimana yang disebutkan.

Adapun sehubungan dengan tawassul (berperantara) seberapa berpengaruh dalam mengantarkan manusia mendekat kepada Allah Swt, Anda dapat jumpai dengan merujuk pada jawaban-jawaban yang tersedia pada site Islam Quest ini.

Jawaban Detil

Kalimat hijab secara leksikal disebut sebagai pakaian yang menjadi penghalang dan pembatas antara subyek yang menyaksikan dan obyek yang ingin disaksikan. Karena itu, segala sesuatu yang menghalangi seseorang menyaksikan sesuatu yang lainnya disebut sebagai hijab. [1]

Pada ayat-ayat al-Qur’an kalimat hijab beserta rangkaian derivasinya disebutkan kira-kira sebanyak delapan kali. Demikian juga dalam riwayat, disebutkan redaksi kalimat hijab juga, banyak dijumpai, yang bermakna sesuatu yang menghalangi terlihatnya atau terpahamkannya sesuatu lainnya.

Redaksi-redaksi kalimat seperti ghita, qufl ‘ala   al- qalb, satr, akinnah, thab’ juga digunakan semakna dan sinonim dengan kalimat hijab. Demikian juga hij â l yang bermakna pengantin perempuan memahamkan makna hijab; karena pada umumnya pengantin perempuan duduk di balik tirai dan memiliki hijab supaya tidak terlihat oleh non-mahram.

Kasyf, syuhud, mu’ â yinah, absh â r dan bashirat masing-masing digunakan sebagai lawan kata dari hijab. Dengan demikian kita dapat mengatakan bahwa seseorang yang telah sampai pada derajat kasyf dan syuhud ia tidak lagi memiliki hijab dan kesemuanya berada dalam hijab tidak kuasa menyaksikan keindahan absolut Tuhan.

Sayid ‘Alikhan Kabir juga berkata, “Hijab , pluralnya hajb , bermakna pakaian dan aslinya adalah sebuah benda yang menjadi penghalang di antara dua benda lainnya. Hijab juga digunakan untuk makna selain makna benda; misalnya terkadang disebutkan, “Ketidakmampuan adalah sebuah hijab antara manusia dan sampainya ia kepada maksud dan tujuan. Atau maksiat adalah hijab antara hamba dan Tuhannya. Hakikat hijab antara manusia dan Tuhan adalah bahwa manusia salik, memiliki maqam-maqam dan derajat-derajat yang masing-masing, sebelum sampai kepada Allah Swt – adalah hijab-hijab yang menghalanginya. Mengingat bahwa maqam-maqam dan derajat-derajat manusia adalah tidak terbata s maka tingkatan-tingkata hijab juga tidak terbatas. [2]

 

Beberapa Bagian dan Jenis Hijab

Hijab terdiri dari beberapa jenis dan bagian. Namun kita hanya akan menyinggung dua jenis hijab di sini yaitu hijab zhulm â ni dan hijab nurâni:

 

Hijab-hijab Zhulm â ni

Dalam sebuah hadis popular disebutkan bahwa Innall â ha saba’ina alf hij â bin min nur wa zhulum â t [3]   ( Sesungguhnya Tuhan memiliki tujuh puluh ribu hijab dari cahaya [ nur ] dan kegelapan [ zhulumât ]) . Sesuai dengan tuntutan hadis mulia ini, para arif besar membahas hijab-hijab nurâni (cahaya) dan hijab-hijab zhulumât (kegelapan) sehingga setelah memperkenalkan dan mengenal hijab-hijab ini, mereka berusaha menyingkap dan me nghelanya.

Karena dalam pandangan para arif, kata “ribuan” merupakan kata kiasan dari sebuah universal, seolah-olah setiap universal memiliki ribuan obyek partikular, dan satu hari universal di sisi Tuhan adalah ribuan tahun partikular duniawi di sisi kita. Karena itu, apabila tujuh puluh hijab nurâni dan zhulumât disebutkan sebagai hijab-hijab universal sejatinya telah menjelaskan obyek hadis di atas.

Hijab-hijab zhulumât (kegelapan) adalah obyek “al-zhulm zhulumât yaum al-qiyamah” sebagaimana banyaknya hijab bersumber dari kesatuan dan alam-alam kegelapan adalah hijab dari alam cahaya dan kudus, hijab-hijab ini juga membatasi manusia dalam alam materi dan empirik serta melalaikannya untuk memperhatikan alam malakut (alam atas dan meta-empirik) .

 

Hijab-hijab Nurâni

Redaksi hijab nurâni (bercahaya) yang dapat disaksikan pada ungkapan-ungkapan irfani bermakna dari setiap tingkatan dalam pelbagai tingkatan sair dan suluk ruhani dimana persinggahan seorang salik (pejalan) padanya bermakna halangan untuk menanjak ke tingkatan-tingkatan yang lebih tinggi; [4] sejatinya segala jenis perhatian mandiri terhadap pelbagai faktor penyempurna spiritual disebut sebagai hijab nurâni (cahaya). [5] Jelas bahwa penyebutan hijab-hijab nurâni atas para Imam maksum dalam artian ini mengandung makna negatif; dan tidak dapat dikatakan bahwa para Imam maksum di samping merupakan hijab-hijab nurâni juga merupakan penyebab melambungnya dan menanjaknya manusia naik ke jenjang-jenjang yang lebih tinggi.

Namun harap dicermati bahwa dalam riwayat-riwayat disebutkan atas nama-nama dan sifat-sifat Ilahi atau entitas Rasulullah Saw dan lain sebagianya sebagai hijab nurâni yang tentu saja secara prinsip tidak mengandung makna negatif yang menjadi sorotan riwayat semacam ini. Melainkan yang dimaksud adalah bahwa mereka adalah ayat-ayat yang menunjukkan Kebenaran (Haq) dan sebab kesempurnaan , ““Setiap kali kilat itu menyinari (jalan) mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan apabila kegelapan menimpa mereka, mereka berhenti.”   (Qs. Al-Baqarah [2]:20)

Namun bagaimanapun, manifestasi (tajalli) dan penampakan cahaya mutlak Ilahi karena intensitas dan kekuatan, tidak mungkin dapat terjadi tanpa melintasi hijab-hujiab, dan di samping itu terdapat entitas-entitas lainnya karena infirmitas dan ketidakmampuan tanpa perantara atau perantara-perantara tidak mampu mencerap dan memahami cahaya mutlak. Sehinga d engan demikian, mereka harus menanjak dan melambung melalui kanal eksistensial nama-nama dan sifat-sifat, Rasulullah Saw dan Ahlulbait As. Oleh karena itu, mereka dapat disebut sebagai hijab tanpa mengandung makna negatif sebagaimana yang disebutkan.

Bagaimanapun, apa yang penting bagi kita adalah mengetahui bahwa hijab-hijab nurâni kendati menunjukkan Tuhan dan semakin bercahaya semakin menunjukkan segala sesuatu yang lebih baik kepada kita . Hanya saja tetap hanya pada batasan menunjukkan Tuhan min warâ al-hijab dan sekali-kali Tuhan tidak dapat dijumpai tanpa tirai dan penghalang; karena pengantin wanita senantiasa mendiami tirai gaib dan tiada satu pun mata hati mahram yang kuasa melihatnya. Dia senantiasa suci dan kudus yang tidak satu pun akal dan hati yang tidak memiliki kesucian dan kekudusan yang mampu menyaksikan jamal dan jalal -N ya yang sedemikian mempesona.

Adapun sehubungan dengan tawassul seberapa berpengaruh dalam mengantarkan manusia mendekat kepada Allah Swt, Anda dapat jumpai dengan merujuk pada jawaban-jawaban 6671 (Site: 6778) dan 542 (Site: 590) serta 7753 (Site: 7866) yang tersedia pada site ini. [iQuest]

 



[1] . Majma al-Bahrain , jil. 2, hal. 34.

[2] . Riy â dh al-S â likin , jil. 2, hal. 29, sehubungan dengan ulasan doa kedua, Talkhish al-Riyadh aw Tuhfat al-Thalibin, jil. 1, hal. 142.

[3] . Bih â r al-Anw â r , jil., 55, hal. 45.

[4] . Ahmad Abidi, Du Mâhnâme Ayine Pazyuhesy, No. 79, Hijâb-ha-ye Nurâni wa Zhulmâni az Didgâh-e Imâm Khomeini, 48-59.

[5] . “Bil ismi lladzi ihtijabta bihi.” Bihar al-Anwar, jil. 18, hal. 427. “Muhammad ShallalLlahu ‘alaihi wa Alihi HijabulLLah.” Ibid, jil. 58, hal. 42. “Al-Imam HijabuLLah wa Ayatullah.” Ibid, jil. 3, hal. 102. AmaraLlahu Ba’dha al-Malaikata hatta yahjubuhu.” Ibid, jil. 61, hal. 53; jil. 58, hal. 256. Awwala ma khalaqaLlahu hajbahu.” Ibid, jil. 36, hal. 342.

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Klasifikasi Topik

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Apa perbedaan antara Mistisme Timur dan Mistisme Islam?
    10836 Irfan Teoritis
    Di belahan Timur Asia terdapat ragam tradisi mistisme (irfan) seperti mistisme Hindu, mistisme Budha, mistisme Jain, mistisme China, mistisme Zen yang kesemuanya berada pada satu hukum. Perbedaan antara mistisme Islam dan mistisme Timur dapat dikaji dan ditelusuri dari dua sisi: Pertama, dari sisi internal dan kedua dari sisi eksternal. Dari ...
  • Apakah falsafah dan tujuan pengulangan dari sebagian kata, kalimat dan ayat-ayat al-Quran?
    12313 Tafsir
    Tujuan pengulangan dan penegasan/penekanan suatu perkara adalah untuk menunjukkan pentingnya perkara tersebut. Dengan kata lain tujuan pengulangan ini adalah untuk menggiring pendengar supaya menaruh perhatian khusus terhadap perkara yang dimaksud. Sebagai contoh, berdasarkan pendapat sebagian mufassir falsafah pengulangan ayat «فَبِأَیِّ آلاءِ رَبِّکُما تُکَذِّبانِ» pada surah al-Rahman ...
  • Bagaimana pandangan Islam terhadap masalah hak asasi manusia yang banyak dibicarakan oleh masyarakat dunia sekarang?
    80729 Kalam Jadid
    Mengingat bahwa agama Islam merupakan agama universal dan penutup agama-agama Ilahi, maka Islam memiliki agenda bagi seluruh dimensi kehidupan manusia baik kehidupan personal, sosial dan lain sebagainya. Di antara agenda tersebut adalah hak asasi manusia dan pelbagai tantangan yang dihadapi pada masyarakat dewasa ini. Masalah ini dengan mengakui hak-hak ...
  • Siapa istri Nabi Ibrahim yang pertama? Mengapa Nabi Ibrahim menikah untuk yang kedua kalinya dengan mempersunting Siti Hajar?
    76935 Sejarah Para Pembesar
    Istri pertama Nabi Ibrahim As adalah Sarah. Putra pertama Nabi Ibrahim adalah Ismail As dari istri kedua yang bernama Hajar. Mengingat bahwa untuk beberapa lama Nabi Ibrahim tidak dikarunia seorang anak dari istri pertama, Sarah menyerahkan budak perempuannya yaitu Hajar kepada Nabi Ibrahim dan darinya lahirlah keturunan Nabi Ibrahim. ...
  • Apakah Ja’dah memiliki anak dari Imam Hasan As?
    10388 Sejarah Para Pembesar
    Ja’dah adalah putri dari Asy’ats bin Qais Kindi. Asy’ats adalah orang yang terkenal pada masa awal kedatangan Islam dan termasuk orang munafik yang paling berbahaya pada masa itu. Sesuai dengan catatan Baladzuri, Ja’dah, berkat kelicikan ayahnya, berhasil dipersunting oleh Imam Hasan Mujtaba As.[1]Dalam ...
  • Apakah ucapan ini “Nabi Muhammad Saw menciptakan Adam As dengan izin Allah Swt” ada benarnya?
    11406 Teologi Lama
    Seluruh eksisten di alam ini memiliki dua entitas. Pertama entitas ilmi (konsep) dan disebut sebagai entitas cahaya di sisi Allah Swt. Kedua, entitas aini (luaran) seperti entitas di alam materi bagi eksisten-eksisten material. Adanya entitas nuri (cahaya) Rasulullah Saw pada entitas ilmi tersebut lantaran keuniversalan ...
  • Apa itu Iktikaf?
    19175 Akhlak Teoritis
    Iktikaf  secara leksikal bermakna bermukim dan berdiam di suatu tempat untuk mengerjakan suatu urusan. Iktikaf secara teknikal (terminologis) dalam syariat Islam bermakna bermukim dan berdiam di suatu tempat suci untuk ber-taqarrub kepada Allah Swt. Iktikaf tidak terkhusus agama Islam saja, melainkan terdapat juga pada agama-agama Ilahi yang ...
  • Kapankah awal waktu shalat Ashar?
    8219 Hukum dan Yurisprudensi
    Awal waktu shalat Ashar adalah awal waktu fadhilah (utama) itu sendiri yang jatuh setelah waktu khusus shalat Zuhur. ...
  • Apa hukumnya menyimpan benda-benda pusaka,seperti keris dan sebagainya?
    10853 Menjalankan Peraturan
    Pada dasarnya tidak ada masalah; namun apabila ada peraturan-peraturan yang mengatur hal ini maka setiap orang harus menjalankan peraturan-peraturan tersebut. Lampiran-lampiran: Jawaban Marja Agung Taklid terkait dengan pertanyaan ini adalah sebagai berikut:[1] Ayatullah Agung Khamenei (Mudda Zhilluhu al-‘Ali): Pada dasarnya tidak ada ...
  • Apakah wanita yang datang bulan (haid) pada masa haidnya dapat sujud dan berdzikir?
    1685 Haid dan Nifas
    Wanita haid dapat melakukan sujud dan mengucapkan dzikir. Dan bahkan dianjurkan (mustahab) wanita haid pada waktu salat membersihkan darahnya dan mengganti pembalut dan kapasnya kemudian berwudhu, apabila ia tidak mampu berwudhu maka ia dapat bertayammum lalu duduk menghadap kiblat di tempat salatnya dan mulai berdzikir, doa dan ...

Populer Hits