Advanced Search
Hits
10380
Tanggal Dimuat: 2012/08/05
Ringkasan Pertanyaan
Apakah postulat filsafat berbeda dengan postulat agama?
Pertanyaan
Salam sejahtera. Terima kasih telah membuka ruang pada site ini untuk mengajukan beberapa pertanyaan agama. Saya ingin bertanya apakah postulat filsafat berebda dengan postulat agama?
Jawaban Global

Dalam menjawab pertanyaan ini kami akan menyebutkan beberapa poin sebagai berikut:

  1. Definisi kata “din” (agama):

Agama (din) bermakna, patuh, tunduk, mengikut, taat, berserah diri dan perolehan ganjaran. Dalam al-Qur’an terkadang disebut sebagai aturan-aturan, dustur dan keputusan-keputusan yang dibuat manusia[1] dan terkadang digunakan untuk agama-agama batil. Misalnya sekumpulan aturan dan hukum yang dibuat oleh penguasa Qithbiyan atas Bani Israel[2] atau atas aturan-aturan para perompak dan para penyembah berhala Arab,[3] hal-hal ini disebut sebagai agama (din).

Dari sudut pandang al-Qur’an agama adalah seperangkat keyakinan, akhlak dan aturan yang berguna untuk pembinaan manusia dan pengelolaan pelbagai urusan sosial. Sejatinya, agama merupakan bahasa terang penciptaan dimana bagian fundamentalnya termasuk ilmu tentang manusia, alam semesta dan pengetahuan tentang  metode dan pendekatan sampainya manusia kepada kebahagiaan abadi. Agama yang benar adalah agama yang ditata dan diatur oleh Allah Swt.[4] Karena hanya Dia yang mengetahui seutuhnya alam dan manusia dan aturan yang diterapkan berdasarkan pengetahuan valid tentang segala kemampuan dan potensi yang terdapat pada manusia.[5]

Dengan demikian yang kami maksud dengan agama adalah terkhusus agama-agama Ilahi yang dapat ditinjau pada tingkatan dan derajat yang beragam:

  1. Agama nafsul amr. Artinya apa yang terdapat pada ilmu Tuhan dan kehendak Rabbani untuk memandu manusia ke arah kebahagiaan. Karena substansi manusia adalah satu maka resep untuk meraih kebahagiaan juga adalah satu. Dan kesimpulannya universalitas agama dan tidak mengikut pada kondisi ruang dan waktu.
  2. Agama mursal (yang diturunkan). Artinya apa yang datang dari Tuhan untuk memandu manusia disampaikan kepada para rasul dimana pada satu sisi sumbernya adalah agama nafs al-amr dan atas alasan ini mengandung unsur-unsur universalitas. Dari sisi lain, sesuai dengan generasi dimana agama ini diutus kepada mereka. Dengan memperhatikan kondisi ruang dan waktu orang-orang yang diserunya (mad’u) maka ia mengandung unsur-unsur situasional dan kondisional.
  3. Agama maksyuf (yang disingkap). Artinya apa yang datang dari agama nafs al-amr atau agama mursal dengan merujuk kepada akal atau naql (Qur’an dan Sunnah) yang menjadi jelas bagi manusia.
  4. Agama yang terlembagakan. Artinya bagian dari agama yang disingkap yang menjadi umum dan terlembagakan dan berbentuk ajaran kolektif manusia.[6]
  1. Kata filsafat juga memiliki makna yang beragam: Cinta kepada pengetahuan, ilmu terhadap hakikat-hakikat segala sesuatu, usaha rasional dan argumentatif untuk memahami realitas-realitas alam eksistensi, ilmu universal.[7]
  2. Menjelaskan hubungan agama dan filsafat bergantung pada penentuan makna agama dan filsafat; misalnya apabila postulat kita maknai sebagai titik mula (starting point) penelitian  dan agama bermakna fitri yaitu jalan untuk sampai kepada Tuhan kemudian mendefinisikan filsafat sebagai cinta kepada pengetahuan maka dapat kita katakan bahwa esensi filsafat memiliki kesatuan dengan esensi agama. Karena itu, postulat yaitu titik mula penelitian dan gerakan akan menjadi satu pada keduanya; filsafat dan agama.

Adapun apa yang dimaksud dengan postulat tunggal di sini memerlukan pembahasan yang terpisah (mencakup iman dan cinta kepada pengetahuan dan lain sebagianya).

Namun apa yang terdapat pada alam eksternal, filsafat keluar dari esensi aslinya disusul dengan terdegradasinya agama dari esensi fitrahnya menjadi etika-etika mazhab dan taklid. Sebagai hasilnya masing-masing mengambil jalan dan metodenya sehingga postulat dari keduanya berbeda satu sama lain.

Sebagai contoh, filsafat karena hubungannya terlepas dari fitrah agama, maka pada akhirnya berusaha, berada pada tataran menetapkan atau menolak Tuhan dan menjadikan proposisi-proposisi pikiran (internal) sebagai postulatnya. Agama fitri secara asasi tidak meragukan keberadaan Tuhan. Agama menyatakan bahwa Tuhan lebih dekat dan lebih esensial dari manusia sendiri ketimbang kepada dirinya. Tujuan agama adalah bersua dengan Tuhan bukan menetapkannya. Mereka yang mengingkari Tuhan adalah orang-orang kafir yaitu orang yang menutupi hakikat.

Karena itu, sepanjang terma filsafat dan agama digunakan pada esensi aslinya maka keduanya memiliki kesatuan; akal dan agama adalah satu. Namun tatkala menyimpang dari esensinya maka keduanya saling berseberangan, seperti pertentangan antara para penyokong akal dan penyokong nukilan (naql).

Dewasa ini kebanyakan filsafat dan penelitian filsafat postulatnya bukan semata-mata berkisar ihwal Tuhan, bahkan berbicara tentang tiadanya Tuhan; karena Tuhan bukan merupakan perkara internal pikiran. Namun postulat agama – agama yang bermakna fitrah yang sejatinya berkaitan dengan hati manusia –adalah  iman yang berpijak pada pengetahuan tentang Tuhan. Karena itu, kita menyaksikan adanya kontradiksi antara filsafat dan agama.

Dari satu sisi, agama adalah ikutan pikiran yang merupakan salah jenis filsafat analitik atau filsafat mental yang berada dalam bentuk lain dan dijelaskan dengan terma-terma lainnya. Akar jenis agama taklidi seperti ini bukan hati dan iman kalbu, melainkan semata-mata perkara mental (dzihni). Karena itu keduanya diragukan dan dalam terminologi al-Quran disebut sebagai “zhan”.  “Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu buat-buat; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, sedang sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.” (Qs. Al-Najm [53]:23) [iQuest]

 


[1]. Maka mulailah Yusuf (memeriksa) karung-karung mereka sebelum (memeriksa) karung saudaranya sendiri, kemudian dia mengeluarkan piala raja itu dari karung saudaranya. Demikianlah Kami tunjukkan jalan keluar kepada Yusuf. Yusuf tidak mungkin dapat mengambil saudaranya menurut undang-undang raja (Mesir), kecuali Allah menghendakinya. Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki, dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui.” (Qs. Yusuf [12]:76)

[2]. “Dan berkata Firaun (kepada pembesar-pembesarnya), “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Tuhan-nya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.” (Qs. Al-Ghafir [40]:26)  

[3]. (Jika demikian), untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku.” (Qs. Al-Kafirun [109]:6)

[4]. “Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong.” (Qs. Al-Nashr [110]:2); Dan perangilah mereka itu sehingga tidak ada fitnah (syirik) lagi dan (sehingga) agama itu hanya semata-mata untuk Allah. (Qs. Al-Baqarah [2]:193); Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah (kemusyrikan) dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” (Qs. Al-Anfal [8]:39) “Katakanlah, “Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan. Luruskanlah muka (diri)mu di setiap masjid (dan pada saat melaksanakan ibadah) dan sembahlah Allah dengan memurnikan agama(mu) kepada-Nya.” (Qs. Al-‘Araf [7]:29); “Perangilah orang-orang yang telah diberikan al-Kitab yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian, yang tidak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan rasul-Nya, dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah). Dia-lah yang telah mengutus rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. ”  (Qs. Al-Taubah [9]:29 & 33); “Kekuasaan Allah) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah adalah Tuhan Yang Maha Hak, sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah adalah batil, dan sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Qs. Al-Hajj [22]:62)  

[5]. Abdullah Jawadi Amuli, Syari’at dar Aini Ma’rifat, hal. 93-97. Mahdi Hadawi Tehrani, Bawârha wa Pursesyhâ, hal. 16-17. 

[6]. Diadaptasi dari Pertanyaan 111.  

[7]. Diadaptasi dari Pertanyaan 9771.

 

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Jumlah Komentar 0
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
<< Libatkan Saya.
Silakan masukkan jumlah yang benar dari Kode Keamanan

Pertanyaan-pertanyaan Acak

Populer Hits

  • Ayat-ayat mana saja dalam al-Quran yang menyeru manusia untuk berpikir dan menggunakan akalnya?
    259834 Tafsir 2013/02/03
    Untuk mengkaji makna berpikir dan berasionisasi dalam al-Quran, pertama-tama, kita harus melihat secara global makna “akal” yang disebutkan dalam beberapa literatur Islam dan dengan pendekatan ini kemudian kita dapat meninjau secara lebih akurat pada ayat-ayat al-Quran terkait dengan berpikir dan menggunakan akal dalam al-Quran. Akal dan pikiran ...
  • Apakah Nabi Adam merupakan orang kedelapan yang hidup di muka bumi?
    245601 Teologi Lama 2012/09/10
    Berdasarkan ajaran-ajaran agama, baik al-Quran dan riwayat-riwayat, tidak terdapat keraguan bahwa pertama, seluruh manusia yang ada pada masa sekarang ini adalah berasal dari Nabi Adam dan dialah manusia pertama dari generasi ini. Kedua: Sebelum Nabi Adam, terdapat generasi atau beberapa generasi yang serupa dengan manusia ...
  • Apa hukumnya berzina dengan wanita bersuami? Apakah ada jalan untuk bertaubat baginya?
    229507 Hukum dan Yurisprudensi 2011/01/04
    Berzina khususnya dengan wanita yang telah bersuami (muhshana) merupakan salah satu perbuatan dosa besar dan sangat keji. Namun dengan kebesaran Tuhan dan keluasan rahmat-Nya sedemikian luas sehingga apabila seorang pendosa yang melakukan perbuatan keji dan tercela kemudian menyesali atas apa yang telah ia lakukan dan memutuskan untuk meninggalkan dosa dan ...
  • Ruh manusia setelah kematian akan berbentuk hewan atau berada pada alam barzakh?
    214293 Teologi Lama 2012/07/16
    Perpindahan ruh manusia pasca kematian yang berada dalam kondisi manusia lainnya atau hewan dan lain sebagainya adalah kepercayaan terhadap reinkarnasi. Reinkarnasi adalah sebuah kepercayaan yang batil dan tertolak dalam Islam. Ruh manusia setelah terpisah dari badan di dunia, akan mendiami badan mitsali di alam barzakh dan hingga ...
  • Dalam kondisi bagaimana doa itu pasti dikabulkan dan diijabah?
    175603 Akhlak Teoritis 2009/09/22
    Kata doa bermakna membaca dan meminta hajat serta pertolongan.Dan terkadang yang dimaksud adalah ‘membaca’ secara mutlak. Doa menurut istilah adalah: “memohon hajat atau keperluan kepada Allah Swt”. Kata doa dan kata-kata jadiannya ...
  • Apa hukum melihat gambar-gambar porno non-Muslim di internet?
    170983 Hukum dan Yurisprudensi 2010/01/03
    Pertanyaan ini tidak memiliki jawaban global. Silahkan Anda pilih jawaban detil ...
  • Apakah praktik onani merupakan dosa besar? Bagaimana jalan keluar darinya?
    167401 Hukum dan Yurisprudensi 2009/11/15
    Memuaskan hawa nafsu dengan cara yang umum disebut sebagai onani (istimna) adalah termasuk sebagai dosa besar, haram[1] dan diancam dengan hukuman berat.Jalan terbaik agar selamat dari pemuasan hawa nafsu dengan cara onani ini adalah menikah secara syar'i, baik ...
  • Siapakah Salahudin al-Ayyubi itu? Bagaimana kisahnya ia menjadi seorang pahlawan? Silsilah nasabnya merunut kemana? Mengapa dia menghancurkan pemerintahan Bani Fatimiyah?
    157465 Sejarah Para Pembesar 2012/03/14
    Salahuddin Yusuf bin Ayyub (Saladin) yang kemudian terkenal sebagai Salahuddin al-Ayyubi adalah salah seorang panglima perang dan penguasa Islam selama beberapa abad di tengah kaum Muslimin. Ia banyak melakukan penaklukan untuk kaum Muslimin dan menjaga tapal batas wilayah-wilayah Islam dalam menghadapi agresi orang-orang Kristen Eropa.
  • Kenapa Nabi Saw pertama kali berdakwah secara sembunyi-sembunyi?
    140313 Sejarah 2014/09/07
    Rasulullah melakukan dakwah diam-diam dan sembunyi-sembunyi hanya kepada kerabat, keluarga dan beberapa orang-orang pilihan dari kalangan sahabat. Adapun terkait dengan alasan mengapa melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi pada tiga tahun pertama dakwahnya, tidak disebutkan analisa tajam dan terang pada literatur-literatur standar sejarah dan riwayat. Namun apa yang segera ...
  • Kira-kira berapa usia Nabi Khidir hingga saat ini?
    133542 Sejarah Para Pembesar 2011/09/21
    Perlu ditandaskan di sini bahwa dalam al-Qur’an tidak disebutkan secara tegas nama Nabi Khidir melainkan dengan redaksi, “Seorang hamba diantara hamba-hamba Kami yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.” (Qs. Al-Kahfi [18]:65) Ayat ini menjelaskan ...