Advanced Search
Hits
3763
Tanggal Dimuat: 2010/08/12
Ringkasan Pertanyaan
Apa sajakah yang mengancam konsep Mahdawiyat?
Pertanyaan
Apa sajakah yang berpotensi dapat mengancam konsep Mahdawiyat pada masa ini dan masa mendatang yang merupakan era kemunculan? Mohon hal tersebut dijelaskan dengan menyebutkan literaturnya.
Jawaban Global

Bahaya-bahaya potensial yang akan mengancam dan merupakan momok bagi konsep Mahdawiyat sangatlah banyak, di sini kami hanya akan menyinggung tiga hal penting saja sebagai berikut:

  1. Jika hukum terbaik jatuh ke tangan para pelaku kriminal yang tak benar, jika barang paling berharga jatuh dalam cengkeraman orang yang tak berhak, maka kita tidak akan pernah mendengar berita lagi tentang hukum terbaik tersebut dan juga tidak akan pernah mendengar apa-apa lagi tentang barang yang paling berharga tersebut. Demikian juga, konsep Mahdawiyat tidak akan terkecualikan dari kaidah dan hukum ini, para pengklaim dusta, yang tak lain adalah mereka yang rusak, menyimpang dan tak berhak, dengan bersandar pada mutiara berharga konsep Mahdawiyat, telah menempatkan konsep ini bersama kebusukan-kebusukan klaimnya, meletakkannya dalam posisi yang terancam dan membuatnya menjadi sasaran empuk serangan para Wahabi dan musuh-musuh Syiah .
  2. Jahil: salah satu persoalan yang senantiasa mengancam kebenaran adalah kebodohan dan ketiadaan informasi para saudara kita. Kebodohan merupakan hal yang sangat merusak. Saat ini kita bisa menyaksikan dengan jelas bahaya para saudara kita yang tak memiliki informasi dan jahil, dan bagaimana dengan mengatas namakan penantian mereka berdiam diri dan bungkam dalam menghadapi segala kezaliman dan aniaya. Atau sekali-sekali dengan melihat beberapa indikasi dan tanda-tanda lahiriah kemunculan, mereka akan memberikan waktu yang jelas terhadap kemunculan Imam Mahdia Ajf dalam waktu dekat, dimana penentuan seperti ini, selain dicela dalam riwayat-riwayat kita, bahkan bisa menyebabkan keputus asaan para penanti beliau yang sejati.
  3. Materialistis: tak diragukan lagi, pecinta sejati tak hanya tak merasa asing terhadap yang dicintainya, yang sudah barang tentu ia akan menyesuaikan diri dan menyerupakan diri dengan yang dicintainya. Oleh karena itu dikatakan bahwa penanti sang Mushlih (Reformer Agung yang Saleh), haruslah orang yang saleh.

Penantian biasanya mengilustrasikan tentang keadaan seseorang yang kuatir dengan keadaan yang ada dan berupaya untuk membuat kondisi yang lebih baik, misalnya, seorang pasien yang menanti kesembuhan, atau seorang ayah yang menanti kembalinya sang putra dari perjalanan, mereka sedih dan khawatir dengan penyakit yang dideritanya dan keterpisahannya dari sang anak, dan akan berupaya untuk memperoleh kondisi yang lebih baik.

Jawaban Detil

Untuk memperoleh jawaban yang komprehensip, kami memandang perlu untuk terlebih dahulu mendefinisikan konsep Mahdawiyat, setelah itu baru menganalisa faktor-faktor yang secara praktis bisa mengancamnya.

Yang dimaksud dengan konsep Mahdawiyat (Mahdiism) adalah: Percaya terhadap keberadaan dan wujud Imam Mahdi Ajf sebagai Imam Keduabelas yang saat ini berada dalam tirai kegaiban karena maslahat dan atas perintah Ilahi. Beliau akan muncul pada suatu hari kelak setelah dunia dipenuhi oleh tirani untuk kemudian memenuhi dunia ini dengan keadilan dan kesejahteraan. Saat ini, para pengikut dan Syiahnya tengah menanti datangnya hari seperti ini.

Perawi berkata, aku bertanya kepada Imam Ridha As tentang penantian faraj (kemunculan Imam Mahdi Ajf), beliau bersabda, “Faraj merupakan salah satu dari pembuka, dan betapa indahnya bersabar dan menunggu kemunculan (Imam Mahdi Ajf).”[1]

Seluruh fenomena di alam memiliki kekurangan dan momok yang menjadi sumber bagi kerusakannya.[2] Oleh karena itu, untuk mempertahankan segala fenomena ini, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengenal momok dan kekurangan ini, kemudian selanjutnya berupaya untuk menghilangkan dan melenyapkannya. Persoalan yang menjadi ancaman bagi konsep Mahdawiyat tak lain adalah momok yang mampu menjadi gangguan setiap fenomena, dan faktor-faktor ini sangatlah banyak, dimana kami hanya akan menyinggung tiga hal penting secara ringkas sebagaimana berikut.

  1. Dalam sebuah riwayat, Imam Ali As bersabda, “Untuk segala sesuatu terdapat kekurangan, dan kekurangan dari kebaikan adalah teman yang buruk.”[3]

Jika hukum yang terbaik diletakkan di tangan para pembuat kriminal yang tak layak, atau jika barang yang berharga jatuh di cengkeraman tangan yang tak berhak, maka kita tidak akan pernah lagi mendengar tentang hukum yang terbaik tersebut, demikian juga dengan barang yang berharga. Konsep Mahdawiyat pun tak terkecualikan dari kaidah dan hukum ini, para pengklaim bohong, yang tak lain adalah orang-orang rusak, sesat dan tak berhak, telah bersandar pada mutiara Mahdawiyat sangat berharga ini dan meletakkannya dalam posisi yang terancam dengan klaim-klaim busuknya, mereka ini telah menjadikan konsep mulia ini sebagai sasaran empuk bagi para Wahabi dan musuh-musuh Syiah.

Tentunya, klaim-klaim itu sendiri merupakan dalil atas hakikat akidah ini, karena imitasi dan kepalsuan senantiasa mengekor hakikat dan realitas, dan jika tidak demikian, sebagaimana halnya uang kertas 7 ribuan yang tidak akan pernah dipalsukan (karena realitas uang kertas 7000 tidak ada), maka demikian pula (jika realitas Mahdawiyat tidak ada) tidak akan pernah ada klaim Mahdawiyat.

  1. Jahil: salah satu hal yang selalu mengancam hakikat adalah kejahilan dan ketiadaan informasi pada saudara kita, dimana ini bisa menjadi sebuah persoalan yang membahayakan.

Imam Ali As bersabda, “Terdapat dua orang yang mematahkan punggungku: alim yang tidak memiliki ikatan, dan orang jahil yang senantiasa beribadah; yang satu membuka tirai akidah manusia dan merusaknya, sedangkan yang lain telah menipu manusia dengan ibadahnya yang bodoh.”[4]

Saat ini, dengan jelas kita bisa menyaksikan bahayanya saudara yang jahil dan tak memiliki pengetahuan, yang dengan mengatasnamakan penantian (intizhâr) telah sangat merugikan pemikiran Mahdawiyat, mereka yang hanya diam terbungkam dalam menghadapi kezaliman dan aniaya atas nama penantian. Atau mereka yang beberapa waktu sekali, menentukan tanggal kemunculan beliau dalam waktu dekat, dengan melihat beberapa tanda-tanda kemunculan, dimana penentuan ini sangat dicela dalam riwayat-riwayat kita, bahkan bisa menciptakan kebekuan dan keputus asaan bagi para penantinya.

Fadhl bin Yasar mengatakan, aku bertanya kepada Imam Baqir As, Adakah waktu yang tertentu untuk hal (kemunculam Imam Zaman) ini? Beliau menjawab, “Waktu yang mereka tentukan adalah bohong –saya ulang lagi- waktu yang mereka tentukan adalah bohong. Dahulu Musa As keluar dari kaumnya untuk ajakan Tuhan dan menjanjikan tiga puluh hari kepada mereka, namun ketika Tuhan menambahkan sepuluh hari atasnya, para kaumnya mengatakan, “Apa yang dijanjikan oleh Musa kepada kita telah mengalami penyimpangan “, lalu mereka pun melakukan apa yang telah mereka lakukan.”[5]

  1. Materialis atau menyembah dunia: Tak diragukan lagi bahwa pecinta yang hakiki, tidak saja tidak akan asing dari yang dicintanya, bahkan sangat pasti ia akan menyesuaikan diri dan menyerupakan diri dengannya.[6] Oleh karena itu sehingga dikatakan bahwa penanti Mushlih (Sang Refomer Agung yang Saleh), haruslah orang yang saleh.

Penantian, biasanya dikatakan pada kondisi seseorang yang sedih dan tak nyaman dengan keadaan yang ada dan berupaya untuk membuat kondisi yang lebih baik, misalnya seorang pasien atau penderita penyakit yang tengah menunggu kesembuhannya, atau seorang ayah yang tengah menunggu kepulangan putranya dari perjalanan, maka mereka ini akan sedih dengan penyakitnya dan keterpisahannya dari sang anak dan berupaya untuk membuat keadaan menjadi lebih baik.

Demikian juga seorang pedagang yang sedih dengan keadaan pasar dan tengah menunggu tenangnya kembali krisis ekonomi, maka ia akan memiliki kedua keadaan ini, yaitu “kekhawatiran dengan kondisi yang ada” dan “upaya untuk membuat kondisi lebih baik”.

Oleh itu, masalah penantian terhadap pemerintahan Mahdi yang hak dan adil, demikian juga penantian terhadap bangkitnya reformer dunia, pada dasarnya merupakan gabungan dari dua unsur: unsur penafian dan unsur pembuktian. Unsur penafian tak lain adalah kekhawatiran dengan kondisi yang ada, sedangkan unsur pembuktiannya adalah keinginan untuk membuat kondisi menjadi lebih baik. Dan jika kedua dimensi ini telah menyatu dalam ruh insan secara mengakar, maka hal ini akan menjadi dua sumber perilaku yang mengakar pula. Kedua akar perilaku ini adalah meninggalkan segala bentuk kerjasama dan harmonisasi dengan unsur-unsur kezaliman, kerusakan dan bahkan melawan dan berseteru dengan mereka, ini dari satu sisi, sementara memperbaiki diri, meningkatkan solidaritas dan mempersiapkan kesiapan jasmani, ruhani, materi dan maknawi untuk terciptanya pemerintahan tunggal dunia, merupakan sisi yang lain.

Jika kita cermati, akan kita lihat bahwa kedua dimensi di atas adalah konstruktif dan bisa menjadi faktor penggerak dan motivator bagi kesadaran dan kebangkitan.[7] [iQuest]

Untuk telaah lebih jauh, kami persilahkan Anda untuk menelaah beberapa indeks berikut:

Tanda-tanda Kemunculan, 1392 (Site: 1414)

Tanda-tanda Kemunculan Imam Zaman, 6115 (Site: id6325)

Penentuan Masa Kemunculan Imam Zaman, 8529 (Site: 8908)

 


[1]. Sayyid Muhammad Ibrahim Burujerdi, Tafsîr Jâmi’, jil. 3, hal. 293 dan 294, Intisyarat-e Shadr, Teheran, Cetakan Keenam, 1366 S.

[2]. Abu al-Qasim Paibandeh, Nahj al-Fashâhah, Majmu-e Kalimâte Qishâr Hadhrat Rasûl Saw, hal. 623, Hadis 2255, Nasyr Dunyaye Donesh, Teheran, Cetakan Keempat , 1382 S.

[3]. Abdulwahid bin Muhammad Tamimi Amadi, Ghurar al-Hikam wa Durar al-Kilam, hal. 431, 9843, Intisyarate Daftar Tablighat, Qo, 1366 S.

[4]. Abu Al-Fatah Karajaki, Ma’danu al-Jawâhir, hal. 26, Kitabkhaneh Murtadhawiyah, Teheran, 1394 S.

[5]. Sayyid Ahmad Fahri Zanjani, Ghaibat Nu’mâni, hal. 346 dan 347, Nasyr Dar al- Kutub al-Islamiyyah, Teheran, Cetakan Keempat 4, 1362 S.

[6]. Terdapat sebuah syair yang dinisbatkan kepada Imam Shadiq As, demikian

لو کان حبّک صادقاً لأطعته    لأنّ المحبّ لمن یحبّ مطیع.

[7]. Makarim Syirazi, Nashir, Tafsîr Nemune, jil. 7, hal. 381 dan 382, Nasyr Dar al-Kutub al-Islamiyyah, Teheran, cet. 1, 1374 S.

 

Terjemahan dalam Bahasa Lain
Komentar
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
contoh : Yourname@YourDomane.ext
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat
Silahkan Masukkan Redaksi Pertanyaan Dengan Tepat

Menu

Pertanyaan-pertanyaan Acak

  • Apakah para ulama Syiah memandang kufur orang yang berpandangan bahwa Tuhan turun ke muka bumi?
    5964 Teologi Lama 2010/04/29
    Terdapat beberapa riwayat dari para Imam Syiah yang menjelaskan secara logis ihwal absurdnya keyakinan terhadap turunnya Tuhan ke muka bumi. Riwayat-riwayat tersebut tidak menyinggung tentang kekufuran bagi orang yang berpandangan sedemikian. Keyakinan terhadap turunnya Tuhan ke muka bumi merupakan hasil dari kesimpulan keliru atas riwayat yang telah ...
  • Dapatkah Anda jelaskan mengapa Imam Sajjad As mengecam Syiahnya sendiri?
    3621 Imam Sajjad As 2012/11/17
    Kecaman dan celaan Imam Sajjad As tentu tidak mengarah kepada orang-orang Syiah sejati dan loyal kepada Ahlulbait As. Kecaman dan celaan Imam Sajjad As ini ditujukan kepada orang-orang yang kendati memililiki secuil kecintaan kepada Ahlulbait As dan memandang kebenaran mereka sebagai sesuatu yang pasti, namun mereka tidak ...
  • Apa perbedaan antara salat-salat mustahab yang dikerjakan pada hari-hari dalam seminggu dan salat Dhuha yang dipandang sebagai bid’ah?
    7148 Hukum dan Yurisprudensi 2011/07/18
    Shalat Dhuha dalam pandangan Syiah adalah sebuah bid’ah kecuali pada hari Jum’at yang mendapat pengecualian dalam hal ini. Sebagian Ahlusunnah memandang shalat Dhuha sebagai bid’ah, namun salat-salat yang dikerjakan dalam seminggu sesuai dengan susunan dan urutan nama hari bukanlah bid’ah bahkan tergolong sebagai perbuatan mustahab. Karena Sayid Ibnu Thawus ...
  • : Apakah dalam pandangan ajaran-ajaran Islam juga menyoroti masalah hak-hak makhluk-makhluk lainnya selain manusia?
    5161 Dirayah al-Hadits 2012/01/30
    Dalam literatur-literatur agama, terdapat banyak riwayat yang dapat disimpulkan bahwa hak-hak tidak semata-mata menyangkut manusia, melainkan juga mencakup makhluk-makhluk Tuhan lainnya. Hak-hak tersebut harus dipenuhi sebagaimana hak-hak yang berhubungan dengan manusia. Sebagai contoh, pada “Man La Yahdhuruhu al-Faqih” dalam sebuah bagian dengan judul “Haq al-Dâbba ‘ala Shahibihi” (Hak-hak hewan ...
  • Mengapa thawaf nisa' itu wajib dilakukan?
    6687 Hukum dan Yurisprudensi 2010/11/09
    Berdasarkan pandangan fikih Syiah Imamiyah, thawaf nisa' itu merupakan salah satu kewajiban dalam ibadah haji (haji qirân, ifrad dan tamattu')[1] dan umrah mufradah. Dan hanyalah dalam umrah tamattu' tidak diwajibkan melakukan  thawaf nisa’. Sesuai dengan nukilan beberapa riwayat menybutkan bahwa barang siapa yang tidak melakukan ...
  • Kapan kita dibolehkan bertayammum?
    1860 شرایط انتقال به تیمم 2014/04/14
    Kita hanya dapat membersihkan diri dari junub dengan melakukan mandi janabah namun dalam beberapa perkara kita dapat mengganti mandi wajib dengan bertayammum[1] sebagaimana berikut: Ketika tidak ada kemungkinan memperoleh air. Waktu tidak mencukupi untuk melakukan mandi wajib dan dengan melakukannya akan ...
  • Apa batasan dan kriteria keharaman dan kenajisan minuman beralkohol menurut fikih Ja’fari?
    9423 Hukum dan Yurisprudensi 2009/08/17
    Alkohol putih dan medis yang merupakan alkohol murni dan banyak digunakan pada praktik-praktik kedokteran adalah suci. Kecuali alkohol tersebut diambil dari khamar atau bir dimana dalam hal ini alkohol tersebut adalah najis. Adapun bahan pembersih yang lainnya yang mengandung alkohol dan banyak digunakan pada pusat-pusat medis adalah suci. Demikian ...
  • Surah manakah yang tatkala diturunkan terdapat tujuh puluh ribu malaikat yang menyampaikan ucapan selamat tinggal kepadanya?
    5961 Tafsir 2012/01/30
    Sesuai dengan apa yang termaktub dalam literatur-literatur riwayat tipologi seperti ini telah dideskripsikan bagi surah al-An’am (6). Imam Shadiq As dalam hal ini bersabda, “Surah al-An’am (6) telah diturunkan dan diwahyukan dalam satu waktu; (sementara pada saat diturunkan) terdapat tujuh puluh ribu malaikat yang mengucapkan selamat tinggal ...
  • Apa makna “Al-Salâm ‘Alaika Ya TsâraLlahi wabna Tsârihi wa al-Witra al-Mautur? Apakah menuntut darah bukan merupakan sebuah tindakan balas dendam?
    6564 Teologi Lama 2011/02/12
    Berdasarkan ragam makna “tsâr” dan “witr” dalam penggunaan bahasa. Sehubungan dengan redaksi kalimat “Al-Salâm ‘Alaika Ya TsâraLlâhi wabna Tsârihi wa al-Witra al-Mautur” juga terdapat ragam makna atasnya yang mana makna yang paling sesuai adalah sebagai berikut: “Salam padamu wahai yang terbunuh yang akan dituntut darahnya oleh Tuhan dan putra ...
  • Apa manfaat belajar IPTEK (ilmu pengetahuan teknologi) untuk dunia akhirat?
    20276 فضایل اخلاقی 2013/11/27
    Agama Islam menilai belajar dan menuntut ilmu pengetahuan adalah salah satu faktor yang dapat membuat manusia berkembang, dinamis dan menyempurna. Rasulullah Saw dalam hal ini bersabda, “Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina (titik terjauh dunia). Lantaran setiap Muslim diwajibkan untuk menuntut ilmu.”[1] Layanan ...

Populer Hits

Jejaring